cerita dewasa bu haji
NgentotDengan Ibu Haji. Pada waktu KKN di suatu daerah terpencil di Jawa Tengah (Di suatu desa kecil yang belum terjangkau angkutan dari arah kota, bahkan untuk mencapai jalan raya yang dilalui mobil angkutan, harus berjalan kaki selama 2 jam), kukira warganya masih terbelakang dan kurang pergaulan. Maklum di salah satu dusun, yang dihuni
Bergegasaku membasuh muka dan menggosok gigi. Selepas itu aku keluar rumah untuk melakukan pemanasan. Saat melakukan pemanasan, lewat lah istri tetanggaku namanya kak Nguyen, Cantik badannya putih bersih, bibirnya yang seksi, hidung mancung, dada besar sekitar ukuran 36B, walaupun di tengah hamil 6 bulan, tetap saja terlihat sangat menggoda
Usiaku42 tahun. Suamiku namanya Prasojo, umur 47 tahun, seorang pegawai pemerintahan di kota B. Aku bahagia dengan suami dan kedua anakku. Suamiku seorang laki-laki yang gagah dan bertubuh besar, biasalah dulu dia seorang tentara. Penampilanku sendiri walaupun sudah berumur tapi sangat terawat karena aku rajin ke salon, fitnes dan yoga.
BercintaDengan Bu Haji Ibu Kostku Yang Sexy. Kumpulan Cerita Hot 21+ - Perkenalkan gua Steve. Langsung aja. Waktu itu gua berumur 18 tahun dan kuliah semester 1. Gua asalnya dari Jakarta dan kuliah di Kota Padang, kota syariah. Kayak anak kos biasanya, awal ngekos di kota ini gua dapat kos-kosan yg gak nyaman.
ayolah bunikmati saja!! Jawabku. Mendadak matanya tertuju pada kontolku yang berada ditengah-tengah bulatan toketnya, aku si pemuas nafsu jepit dan aku tekan-tekan dengan kedua toketnya sambil meremas dan memilin putingnya. Praktis hanya kedua kakinya yang meronta, sedang tubuh atasnya tidak karena kedua tangannya aku tindih dengan lututku.
mình đã không yêu xin đừng tìm nhau. Biasanya kembang disuatu kompleks adalah seorang gadis SMU ato kuliah yang memang lagi mekar-mekarnya, tapi beda dengan kompleks dimana aku tinggal. Ya, dikompleks ini yang menjadi kembang adalah ibu RW yang tinggal disebelah rumahku. Mungkin sebagian besar pembaca tidak percaya, tapi memang tante lia, bu rw tetanggaku itu bagaikan magnet bagi semua laki-laki dikompleks ini. Aku gak bisa mendeskripsikan secara tepat mengapa tante lia bisa begitu mempesona. Memang secara fisik tante lia jauh diatas perempuan rata-rata. Kulitnya putih seperti kebanyakan wanita sunda, tapi kulitnya mulus tak bercacat. Sebenarnya aku gak tau pasti gimana kulit ditubuhnya, tapi yang pasti kulit yang membalut betis indahnya mulus tak bercacat, aku bisa memastikan itu sebab aku sering mengagumi betis bulir padi itu saat tante lia keluar rumah memakai celana selutut kesayangannya. Tubuhnya tidak terlalu gemuk tapi juga tidak terlalu kurus, makanya payudara sedangnya sangat cocok mengimbangi pinggul dan pantatnya yang sedikit tonggeng. Tapi selain fisiknya yang memang cantik dan berbody aduhai, tante lia punya sesuatu yang memancar dari dirinya. Mungkin kalau orang bilang tante lia punya inner beauty yang sangat kuat. Senyum selalu menghiasi bibir mungilnya, keramahannya menanggapi lawan bicaranya, tawa lepasnya yang segar dan keanggunannya menghela rambut yang selalu dibiarkan terurai itu... Hmmmm... sosok wanita idaman setiap pria. Sebenarnya tante lia punya seorang anak perempuan yang bernama sarah yang sudah duduk di kelas 2 SMU. Jelas sarah mewarisi kecantikan ibunya, tapi inner beauty tante lia memang susah untuk ditandingi. Aku sangat akrab dengan tante lia, sebab selain memang bertetangga, dulu aku berusaha untuk mendekati sarah dari ibunya . Tapi sepertinya usaha itu gagal. Hubunganku dengan sarah gak lebih dari cuma say hello, tapi sebaliknya dengan ibunya, tante lia senang sekali mengajak aku mengobrol. Bahkan tante lia melarang aku untuk membayar iuran warga yang memang ditanganinya untuk beberapa bulan sekaligus. Aku diwajibkan untuk membayar per bulan. Alasan dia sih untuk ngembangin silaturahmi, makanya setiap aku membayar iuran warga, pasti tante lia mengajakku mengobrol terlebih dahulu, hasilnya minimal 1 jam aku tertahan dirumahnya. Dua bulan lalu, saat aku hendak membayar iuran warga, aku mendatangi rumah tante lia. Aku mendapati rumahnya kosong. "Pada kemana tan ?" tanyaku saat kami mengobrol diruang tamu. "Oh... Sarah sama papanya lagi ke sukabumi, kerumah neneknya" jawab tante lia. "Kok tante gak ikut ?" tanyaku. "Maunya sih, tapi besok ibu-ibu pkk ada kegiatan, gak enak kalo tante gak dateng" jelas tante lia. Aku cuma mengangguk tanda mengerti. Setelah itu kami mengobrol seru seperti kebiasaanku kalau berkunjung kerumahnya. Sampai tante lia menanyakan hal pribadi padaku. "Rian, kapan nih kamu menikah ?" tanya tante lia menyelidiki. "He..he..he.. kapan ya tan ?" jawabku setengah becanda. "Masih belom punya calon nih tan" lanjutku. "Ah masa sih kamu gak punya calon. Kan kamu lumayan ganteng, materi juga udah lumayan, mo nunggu apa lagi" tanya tante lia lagi. "Maunya sih secepetnya, udah gak tahan" jawabku sambil tertawa, tante lia ikutan tertawa. "Tapi mo gimana lagi, emang belom ada calonnya" kataku meneruskan. "Emang kamu mo cari cewek kayak gimana ?" tanya tante lia. "Kayak gimana ya ? Mungkin kayak tante lia ini lah" jawabku bercanda. Sebenernya aku berharap dengan jawaban itu tante lia mau menawarkan anaknya sarah ke aku . Tapi jawaban sungguh diluar dugaan. "Kayak tante ??? Emang tante masih cantik ya sampe brondong kayak kamu mimpiin dapet istri kayak tante" jawab tante lia sambil tersenyum genit. Sebenarnya aku sedikit kecewa atas reaksinya, tapi berhubung sudah terlanjur, aku teruskan saja. "Tentu aja tan, cowok mana sih di kompleks ini yang gak ngakuin kalo tante perempuan paling cantik disini" kataku sedikit menggombal Tante lia terseyum kecil, mukanya sedikit memerah, mungkin dia malu. "Masa sih Rian, tante kan udah tua" kata tante lia. "Hmm.. walau tante udah punya anak gadis, tapi menurutku tante masih terlihat seperti anak gadis. Jujur kalo melihat tante sama sarah, saya sering menganggap tante adek kakak sama sarah" lanjutku, dalam hati aku heran kenapa aku jadi merayu gitu. "Masa sih tante masih kayak anak gadis, badan tante udah kendor sana-sini begitu" jawab tante lia yang kemudian berdiri dan memperhatikan tubuhnya sendiri. Dasternya ditarik kebelakang agar melekat ketubuhnya, hasilnya tubuh aduhainya tercetak. Terlihat jelas lekuk pinggul dan dadanya. Kemudian dia berputar-putar sambil mengamati tubuhnya, tentu aja mataku juga ikut mengamati atau lebih tepatnya menikmati tubuhnya. Apalagi karena dasternya ditarik, terlihat pangkal pahanya yang putih mulus. Mungkin kalau ditarik sedikit lagi celana dalamnya juga ikut terihat. "Gak usah khawatir tante. Tante emang gak kalah sama anak gadis. Jujur aja saya juga sering bayangin tante sebelum tidur..." damn... aku nyesel banget ngomong kayak gitu, tapi wtf lah, udah terlanjur "Masa sih kamu bayangin tante ?" tanyanya dengan muka tidak percaya. "Masa sih tante bisa merangsang kamu ?" tanya lagi. Aku cuma terdiam malu. "Tapi kamu gak usah jawab deh, tuh adek kamu udah ngejawab sendiri" kata tante lia sambil ketawa. Damn, gundukan penisku yang menegang dibalik celanaku ternyata terlihat sama dia aku cuma tersipu malu. "Gak usah malu gitu yan" kata tante lia yang kemudian duduk disebelahku. "Kamu kan udah gede, wajar kalo terangsang sama cewek" lanjut tante lia yang kemudian mengelus penisku dari luar celana. Aku menepisnya, tapi sayang tangan tante lia sudah mencengkram penisku dari luar. "Hmmm... punya kamu gede juga ya" kata tante lia yang kemudian meremas-remas penisku dan sesekali mengocoknya, aku meringis keenakkan. Setelah beberapa lama, aku berkata "Udah tan, nanti ada orang" katakuku dengan agak gugup, soalnya ruang tamu ada dibagian depan, orang bisa aja tiba-tiba melongok melalui jendela. "Ya udah, kalo gitu kekamar tante yuk" ajak tante lia. Aku cuma terdiam. "Kalo mau, tante tunggu didalam ya" ajaknya sambil tersenyum genit. Kemudian dia berdiri berjalan menuju kamarnya. Sesaat aku terdiam, jujur dalam hati aku ingin segera menyusulnya, tapi dipikiranku masih ada yang mengganjel. Ada sesuatu yang melarangku mengikutinya kekamar. Tapi pikiran itu gak lama, nafsuku menguasai semua pikiranku. Aku segera beranjak. Aku buka perlahan pintu kamarnya dengan sangat gugup. Setelah dibuka aku melihat tante lia sedang duduk dipinggir tempat tidurnya sambil membuka-buka majalah. Melihat aku masuk tante lia tersenyum senang kemudian berdiri menyambutku. "Tante kira kamu gak mau" kata tante lia yang kemudian memelukku. Aku membalas memeluknya erat sambil mengelus-elus punggungnya. Sambil memeluk aku cium keningnya. Menerima kecupanku, dia memandangku mesra, kemudian meyodorkan bibirnya sambil matanya terpejam. Melihat gerakannya, aku mengerti, aku kecup bibirnya lembut. Kecupannku diikuti oleh kecupan-kecupan lain dibibirnya. Awalnya ciumanku ke bibir mungil tante lia pelan dan lembut. Tapi lama-lama ciuman itu menjadi lebih liar, apalagi aku dan tante lia saling menggesek-gesekan tubuh satu sama lain. Saat lidahku menelusuri rongga mulut dan lidahnya, tanganku tak lupa penyelusuri tubuhnya. Awalnya tanganku mengelus-elus punggung dan rambutnya. Tapi kemudian tanganku turun ke pantatnya. Aku meremas-remas pantat bulat tante lia dan sesekali aku mendorong pantat itu agar kemaluannku tergesek dimemeknya. Walau masih dari luar tapi cukup membangkitkan birahi. "Crop.............Crooop.........Croooop" cuma suara itu yang terdengar mengiringi sedotan-sedotan ciuman kami. Kadang tante lia menggumam kecil saat pantatnya ditekan kearah penisku. Sambil berciuman, aku dorong tubuh tante lia kearah tempat tidur. Saat kakinya menyetuh pinggir tempat tidur, tante lia terduduk. Aku tidak melepas ciumanku, aku terbungkuk mengikuti tubuhnya. Aku dorong tante lia lagi ketengah tempat tidur, sebab aku ingin bercumbu sambil tiduran. Tante lia mengerti, dia bergeser ketengah tempat tidur dan terlentang disana. Aku segera menindihnya dan meneruskan ciumanku. Pada posisi yang lebih menguntungkan itu, aku mengarahkan tanganku kepayudaranya. Aku meremas daging kenyal itu. Hmm.... benar-benar masih kencang payudara tante lia ! Setelah meremas-remas payudaranya beberapa kali, aku menarik dasternya keatas, dan tanganku mulai meremas payudaranya dari luar BHnya. Untung dia pakai BH yang lembut, sehingga remasanku bisa maksimal walau masih dari luar. Aku mengangkat BH tersebut keatas, terlihatlah kedua puting hitam tante lia. Ciuman aku pindahkan dari bibir ke puting sebelah kanan. Sambil menyedot dan sesekali menjilat puting kanan, payudara kiri tante lia aku remas-remas. Kadang aku hanya memutar-mutar puting kiri tersebut. Bosan dengan yang kanan, aku berpindah ke yang kiri. Selama aku menyedot-nyedot payudaranya tante lia hanya merem-melek keenakkan. Bibir bawahnya digigit, entah mengapa, mungkin supaya suara dia tidak keluar. Sambil memegangi BHnya supaya tidak turun, tante lia mulai meracau. "Ah..ah..ah.. enak sayang, enak..." "Klik..." aku buka pengait BH yang ada dibelakang tubuhnya. Segera setelah itu aku dorong daster beserta BHnya keatas dan melepasnya. Makanya aku suka banget cewek pake daster, gampang banget dibugilin Setelah dasternya tersingkir, tante lia merems-remas sendiri payudaranya, sambil menatap lemah padaku seakan berharap mulutku menggantikan peran tanggannya. Aku menanggapinya dengan menciumi lagi pentil payudaranya, bergantian kiri dan kanan "shhh.....ahhhh....ahh...." cuma itu yang terdengar dari mulut tante lia. Tangan tante lia kemudian menarik kaosku keatas, dia berusaha untuk membukanya, aku membantunya, aku lepas kaosku. Setelah kaosku terbuka aku menindih lagi tubuh dan mencium bibirnya sambil menggesekkan dadaku ke payudaranya. Tapi tante lia yang sudah tinggal CD itu tidak berhenti, dia membuka ikat celana pendekku dan mendorongnya kebawah. Aku buka celana pendekku sehingga kami sama-sama tinggal celana dalam. Aku menindihnya kembali dan mencium bibirnya. Tanganku tidak lupa bergerayangan meremas-remas payudaranya. Dengan hanya celana dalam, aku menggesek-gesekkan penisku yang sudah tersembul sedikit ke vaginanya. Tante lia meresponnya dengan menggerak-gerakkan pinggulnya. Tanganku yang meremas-remas payudaranya sesekali mengelus tubuhnya dari atas kebawah. Sampai bawah, aku elus-elus paha dalammnya agak lama. Kata orang paha dalam termasuk darah sensitif diluar vagina. Beberapa kali mengelus-elus paha dalamnya, aku naikkan elusanku kearah selangkangannya. Saat menyentuh cdnya, terasa cd tersebut sudah basah dan lembab. Sepertinya tante lia sudah terangsang hebat. "Ah...ah..ah... " rintih tante lia saat aku mengelus-elus vaginanya dari luar. Tanpa diduga tante lia membalasnya dengan menarik penisku keluar. Dengan mengocok penisku tante lia membuka cdnya dari pinggir. Kemudian dia mengarahkan penisku ke vaginanya. Aku mengerti maksudnya. Dengan satu tangan dia masih menahan cdnya dari samping. Aku menyapukan kepala penisku ke permukaan vaginanya, terasa sudah basah disana. Kemudian aku menekan sedikit penisku kevaginanya. "Agh..... ayo sayang masukin" kata tante lia. Kemudian aku mendorong lagi hingga masuk semuanya. "Ohhhh.. enak banget sayang, enak banget sayang" tante lia meracau sambil memejamkan matanya. Kepalanya terdongak saat aku masukkan penisku seluruhnya. Sebenarnya lucu juga posisi kami saat itu. Aku dan dia masih paka celana dalam !! udah gak tahan lagi soalnya Aku mulai memaju mundurkan penisku. "aghhhhh....aghhh....agh..." rintih tante tergetar menerima pompaanku. Karena keenakan tante lia melepaskan pegangan celana dalamnya sehingga menjepit penisku dari samping. Aku berhentikan pompaanku. Saat aku berhenti tante lia menatapku dengan tatapan marah, sepertinya dia tidak rela pompaanku terhenti. "Sebentar tante, kita buka celana dalam aja, sakit soalnya" Aku segera bangkit melepaskan cdku dan cd tante lia yang terkulai. Selesai membuka cd aku posisikan badanku diantara selangkangannya yang terbuka lebar. Dengan tanganku aku mengarahkan penisku ke vaginanya. Saat tepat didepan vaginanya, aku dorong penisku kencang. "Hghghhhhh...." rintih tante lia saat penisku masuk ke memeknya. "Enak yan... kontol kamu gede banget" katanya sambil melingkarkan kakinya ketubuhku. Aku mulai lagi pompaanku. Kadang aku pompa cepat, kadang aku pompa lambat. Kadang saat pompanku lambat, tiba-tiba aku dorong keras. Tante lia cuma bisa merintih-rintih keenakan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya kesana kemari. "Kamu hebat ya, kamu udah gagahin aku" kata tante lia disela-sela pompaanku. Aku cuma tersenyum, aku sedang berkonsentrasi menikmati gesekkan penisku di dinding vaginanya. "Sebentar ya, aku mo pipis" tiba-tiba kata tante lia. "Mo pipis apa emang mo orgasme" tanyaku sedikit kecewa. "Enggak yan, emang mo pipis" jawab tante lia. wah payah nih, masa ada interupsi begitu. Aku cabut penisku dari memeknya dan bangkit. Tapi dia masih tiduran. "Katanya mo pipis tan ?" tanyaku kecewa. "Gendong dong ya..." katanya manja. Hmm.. sebenernya aku sedikit marah, tapi akhirnya aku gendong juga. Secepetnya dia pipis, secepet itu juga ngentotnya dilanjutin kan ? Aku mengangkatnya dan menggendongnya dengan mendekapnya didepan, tangannya dikalungkan keleherku sedang kakinya dilingkarkan ketubuhku. Penisku tepat dibawah vaginanya, tapi tidak dimasukkan. Baru beberapa langkah tante lia berkata "Kok gesekan kontol kamu enak banget sih yan, masukkin dong" katanya manja. Penisku yang memang masih berdiri tegak aku arahkan ke vaginanya. Dia mengangkat tubuhnya sedikit agar aku mudah memasukkan penisku. "Ahhhh..." rintihnya panjang saat penisku masuk ke memeknya. Tapi kemudian dia malah menaik-turunkan tubuhnya sehingga penisku dan memeknya bergesekkan lagi. "Katanya mo pipis ?" tanyaku sambil menahan nikmat. "Entar deh yan, lagi enak banget." jawab tante lia nakal. Akhirnya aku bawa tante lia kembali tempat tidur, kurebahkan dipinggir. Dengan tetap penisku di vaginanya aku bawa tubuh tante lia ketengah. Aku pompa lagi memek tante lia, aku memompa maksimal agar kita sama-sama orgasme sebelum dia mo pipis lagi. Tapi baru beberapa tusukan tubuh tante lia menegang dan vaginanya terasa banjir. dia menggigit bibirnya. "Tante dah sampe ya..." tanyaku. "Iya..." katanya malu. "Maaf ya tante duluan" Aku pompa lagi memek tante lia. Dengan cairan vaginanya yang banyak, memeknya terasa licin dan nikmat. "Crot..crot..crot" tak lama akupun menyemburka spermaku ke vaginanya. Tubuhku ambruk memeluknya, tapi kemudian posisi kemi bertukar, dia tiduran diatas dadaku. Akupun mengelus-elus kepalanya mesra. "Rian... kenapa sih kamu susah banget ngerti kalo tante suka kamu. Dari dulu tante udah pake baju seksi depan kamu, tapi kamu gak respon" tanyanya sambil tiduran didadaku. "Ya udah, yang penting sekarang tante tau kalo aku sayang tante" jawabku sambil mengecup kepalanya. Dia membalas dengan mencium dadaku. Kemudian kami berdua
Namaku Roy, usiaku 25 tahun bekerja di perusahaan swasta di daerah ibu kota. Istriku bernama Santi berusia 22 tahun dan baru lulus kuliah. Istriku berasal dari daerah Jawa barat tepatnya Sukabumi, sementara aku berasal dari Bekasi tak jauh dari tempat tinggal ku sekarang. Istriku berasal dari keluarga yang agamis, orangtuanya memiliki pesantren yang terkenal disana. Bapak mertuaku bernama haji mahmud, seorang pengusaha mebel dan memiliki lahan luas di Sukabumi. Ibu mertuaku bernama Elsie Sukaesih, meskipun berusia 40 tahun namun body nya masih padat dan sekel, payudara yang tegak membulat dan pantat yang menungging meski perutnya agak sedikit buncit dan pahanya yang padat. Aku terkesima dengan Bu Hajjah saat pertama kali aku berjumpa dengannya, aura sexy sangat terpancar dari tubuhnya. Hajjah Elsie sendiri orangnya supel dan suka becanda, berbeda dengan pak haji mahmud yang serius dan tidak banyak bicara. Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain. Mulustrasi Bu Hajjah Elsie Aku sudah menikah dengan istriku sekitar 2 tahun namun belum di karuniai anak, ibu mertuaku suka becanda pada anak nya agar dia bisa cepat memiliki momongan bahkan dia pernah berkata mau mewakili istriku untuk di buatkan anak oleh ku. Meski pak haji dan istriku tidak menganggap serius namun senyuman ibu mertuaku dan kedipan matanya padaku saat sedang bercanda memiliki arti khusus sendiri buat saja hal yang aku inginkan namun tidak untuk istriku dan bapak mertuaku terjadi, suatu hari saat aku mengunjungi rumah mertuaku, ibu mertuaku meminta tolong untuk di ambilkan handuk oleh ku. Namun saat aku mengantarkan handuk dia membuka lebar pintu kamar mandi nya dan seluruh tubuh telanjangnya terlihat oleh kenapa nak Roy liatin ibu kayak gitu? Jarang liat Santi telanjang? Pantesan ga dapet anak terus hihihi....Aku ehhh.... Buu engga Buu... badan ibu semok....Elsie masa sih??? Bu Elsie malah berkata demikian sambil memainkan payudaranya, Akupun meremas selangkangan ku akibat dari apa yang dia ehhh... Si aa malah sange, udah ahh nanti ibu di perkosa hihihi.....Bu Hajjah menutup pintu kamar mandinya, akupun jadi salah tingkah apakah dia menggoda ku atau dia becanda dengan ku. Setelah itu Bu Hajjah malah terang-terangan menceritakan kejadian barusan di depan istriku dan suaminya saat makan malam, hal itu malah dijadikan bahan candaan untuk sampai di rumah kejadian tersebut terus terbayangkan oleh ku, Bu haji memang suka vulgar ketika becanda, namun gaya berpakaiannya sewajarnya saja, tidak menunjukkan kepribadian yang binal. Pikiran kotor terus membayangi ku, bagaimana membuat Hajah menjadi nakal dan berpenampilan lebih macam taktik ku pelajari, hingga aku tidak sengaja menguping istriku yang sedang telponan dengan ibu nya, sayup-sayup terdengar rupanya suaminya tidak bisa ereksi akibat penyakit gula darah. Akupun berencana akan memasukkan obat perangsang agar Bu haji sange terus apalagi usia dia sedang mengalami puber kedua.
Usia Bu Harjono sebenarnya tidak muda lagi. Mungkin menjelang 50 tahun. Sebab suaminya, Pak Harjono yang menjabat Ketua RT di kampungku, sebentar lagi memasuki masa pensiun. Aku mengetahui itu karena hubunganku dengan keluarga Pak Harjono cukup dekat. Maklum sebagai tenaga muda aku sering diminta Pak Harjono untuk membantu berbagai urusan yang berkaitan dengan kegiatan berbeda dengan suaminya yang sering sakit-sakitan, sosok istrinya wanita beranak yang kini menetap di luar Jawa mengikuti tugas sang suami itu, jauh berkebalikan. Kendati usianya hampir memasuki kepala lima, Bu Har begitu biasanya aku dan warga lain memanggil sebagai wanita belum kehilangan daya beberapa kerutan mulai nampak di wajahnya. Tetapi buah dadanya, pinggul dan pantatnya, sungguh masih mengundang pesona. Aku dapat mengatakan ini karena belakangan terlibat perselingkuhan panjang dengan wanita berpostur tinggi besar tersebut. Kisahnya berawal ketika Pak Harjono mendadak menderita sakit cukup masuk rumah sakit dalam keadaan koma dan bahkan berhari-hari harus berada di ruang ICU Intensive Care Unit sebuah RS pemerintah di kotaku. Karena ia tidak memiliki anggota keluarga yang lain sementara putri satu-satunya berada di luar Jawa, aku diminta Bu Har untuk membantu menemaninya selama suaminya berada di RS menjalani aku tidak bisa menolak karena memang masih menganggur setamat SMA setahun lalu.? Kami bapak-bapak di lingkungan RT memita Mas Rido mau membantu sepenuhnya keluarga Pak Harjono yang sedang tertimpa musibah. Khususnya untuk membantu dan menemani Bu Har selama di rumah sakit. Mau kan Mas Rido,?? Begitu kata beberapa anggota arisan bapak-bapak kepadaku saat menengok ke rumah Pak Nandang, seorang warga yang dikenal dermawan secara diam-diam menyelipkan uang Rp 100 ribu di kantong celanaku yang katanya untuk membeli rokok agar tidak menyusahkan Bu Har. Dan aku tidak bisa menolak karena memang Bu Har sendiri telah memintaku untuk menemaninya. Hari-hari pertama mendampingi Bu Har merawat suaminya di RS aku dibuat mondar-mandir menebus obat atau membeli berbagai keperluan lain yang dibutuhkan. bahkan kulihat wanita itu tak sempat mandi dan sangat kelelahan. Mungkin karena tegang suaminya tak kunjung siuman dari kondisi komanya. Menurut dokter yang memeriksa, kondisi Pak Harjono yang memburuk diduga akibat penyakit radang lambung akut yang akibat komplikasi dengan penyakit diabetis yang diidapnya cukup lama, daya tahan tubuhnya menjadi melemah. Menyadari penyakit yang diderita tersebut, yang kata dokter proses penyembuhannya dapat memakan waktu cukup lama, berkali-kali aku meminta Bu Har untuk bersabar. Sudahlah bu, ibu pulang dulu untuk mandi atau dua hari saya lihat ibu tidak sempat mandi. Biar saya yang di sini menunggui Pak Har,? kataku menenangkan. Saranku rupanya mengena dan diterima. Maka siang itu, ketika serombongan temannya dari tempatnya mengajar di sebuah SLTP membesuk oh ya Bu Har berprofesi sebagai guru sedang Pak Har karyawan sebuah instansi pemerintah, ia meminta para pembesuk untuk menunggui mau pulang dulu sebentar untuk mandi diantar Nak Rido. Sudah dua hari saya tidak sempat mandi,? katanya kepada rekan-rekannya. Dengan sepeda motor milik Pak Har yang sengaja dibawa untuk memudahkan aku kemana-mana saat diminta tolong oleh keluarga itu, aku pulang memboncengkan Bu Har. Tetapi di perjalanan dadaku sempat mengerem mendadak motor yang kukendarai karena nyaris menabrak becak, tubuh wanita yang kubonceng tertolak ke depan. Akibatnya di samping pahaku tercengkeram tangan Bu Har yang terkaget akibat kejadian tak terduga itu, punggungku terasa tertumbuk benda empuk. Tertumbuk buah dadanya yang kuyakini ukurannya cukup pikiran nakalku jadi mulai liar. Sambil berkonsentrasi dengan sepeda motor yang kukendarai, pikiranku berkelana dan mengkira-kira membayangkan seberapa besar buah dada milik wanita yang memboncengku. Pikiran kotor yang semestinya tidak boleh timbul mengingat suaminya adalah seorang yang kuhormati sebagai Ketua RT di nyeleneh itu muncul, mungkin karena aku memang sudah tidak perjaka lagi. Aku pernah berhubungan seks dengan seorang WTS kendati hanya satu kali. Hal itu dilakukan dengan beberapa teman SMA saat usai pengumuman hasil Ebtanas. Setelah mengantar Bu Har ke rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahku, aku pamit pulang mengambil sarung dan baju untuk lama-lama nak Rido, ibu cuma sebentar kok mandinya. Lagian kasihan teman-teman ibu yang menunggu di rumah sakit,? katanya. Dan sesuai yang dipesannya, aku segera kembali ke rumah Pak Har setelah mengambil sarung dan baju. Langsung masuk ke ruang dalam rumah Pak Har. Ternyata, di meja makan telah tersedia segelas kopi panas dan beberapa potong kue di piring mengetahui aku yang datang, terdengar suara Bu Har menyuruhku untuk menikmati hidangan yang disediakan. Maaf Nak Rido, ibu masih mandi. Sebentar lagi selesai,? suaranya terdengar dari kamar mandi di bagian belakang. Tidak terlalu lama menunggu, Ia keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke kamarnya lewat di dekat ruang makan tempatku minum kopi dan makan itu ia hanya melilitkan handuk yang berukuran tidak terlalu besar untuk menutupi tubuhnya yang basah. Tak urung, kendati sepintas, aku sempat disuguhi pemandangan yang mendebarkan. Betapa tidak, karena handuk mandinya tak cukup besar dan lebar, maka tidak cukup sempurna untuk dapat menutupi ketelanjangan benar seperti dugaanku, buah dada Bu Har memang berukuran besar. Bahkan terlihat nyaris memberontak keluar dari handuk yang melilitnya. Bu Har nampaknya mengikat sekuatnya belitan handuk yang dikenakanannya tepat di bagian dadanya. Sementara di bagian bawah, karena handuk hanya mampu menutup persis di bawah pangkal paha, kaki panjang wanita itu sampai ke pangkalnya sempat menarik tatap ketika ia hendak masuk ke kamarnya, dari bagian belakang terlihat mengintip buah pantatnya. Pantat besar itu bergoyang-goyang dan sangat mengundang saat ia melangkah. Dan ah… yang tak kalah syur, ia tidak mengenakan celana dalam. Bicara ukuran buah dadanya, mungkin untuk membungkusnya diperlukan Bra ukuran 38 atau wanita yang telah berumur, pinggangnya memang tidak seramping gadis remaja. Tetapi pinggulnya yang membesar sampai ke pantatnya terlihat membentuk lekukan menawan dan sedap dipandang. Apalagi kaki belalang dengan paha putih mulus miliknya itu, sungguh masih menyimpan magnit. Maka degup jantungku menjadi kian kencang terpacu melihat bagian-bagian indah milik Bu cuma sekilas, begitu aku membatin. Tetapi ternyata tidak. Kesempatan kembali terulang. Belum hilang debaran dadaku, ia kembali keluar dari kamar dan masih belum mengganti handuknya dengan pakaian. Tanpa mempedulikan aku yang tengah duduk terbengong, ia berjalan mendekati almari di dekat tempatku sana ia mengambil beberapa barang yang diperlukan. Bahkan beberapa kali ia harus membungkukkan badan karena sulitnya barang yang dicari seperti ia sengaja melakukan hal ini. Tak urung, kembali aku disuguhi tontonan yang tak kalah mendebarkan. Dalam jarak yang cukup dekat, saat ia membungkuk, terlihat jelas mulusnya sepasang paha Bu Har sampai ke yang sempurna, putih mulus dan tampak masih kencang. Dan ketika ia membungkuk cukup lama, pantat besarnya jadi sasaran tatap mataku. Kemaluannya juga terlihat sedikit mengintip dari celah pangkal pahanya. Perasaanku menjadi tidak karuan dan badanku terasa panas dingin dibuatnya. Apakah Bu Har menganggap aku masih pemuda ingusan?Hingga ia tidak merasa canggung berpakaian seronok di hadapanku? Atau ia menganggap dirinya sudah terlalu tua hingga mengira bagian-bagian tubuhnya tidak lagi mengundang gairah seorang laki-laki apalagi laki-laki muda sepertiku? Atau malah ia sengaja memamerkannya agar gairahku terpancing? Pertanyaan-pertanyaan itu serasa berkecamuk dalam terus berlanjut ketika kami kembali berboncengan menuju rumah sakit. Dan yang pasti, sejak saat itu perhatianku kepada Bu Har berubah total. Aku menjadi sering mencuri-curi pandang untuk dapat menatapi bagian-bagian tubuhnya yang kuanggap masih aduhai. Apalagi setelah mandi dan berganti pakaian, kulihat ia mengenakan celana dan kaos lengan panjang ketat yang seperti hendak mencetak jadi kian terbakar kendati tetap kupendam dalam-dalam. Dan perubahan yang lain, aku sering mengajaknya berbincang tentang apa saja di samping selalu sigap mengerjakan setiap ia membutuhkan bantuan. Hingga hubungan kami semakin akrab dari waktu ke waktu. Sampai suatu malam, memasuki hari kelima kami berada di rumah sakit, saat itu hujan terus mengguyur sejak sore orang-orang yang menunggui pasien yang dirawat di ruang ICU, sejak sore telah mengkapling-kapling teras luar bangunan ICU. Maklum, di malam hari penunggu tidak boleh memasuki bagian dalam ruang ICU. Dan pasien biasanya memanfaatkan teras yang ada untuk tiduran atau duduk mengobrol. Dan malam itu, karena guyuran hujan, lahan untuk tidur jadi menyempit karena pada beberapa bagian tempias oleh air aku dan Bu Har yang baru mencari kapling setelah makan malam di kantin, menjadi tidak kebagian tempat. Setelah mencari cukup lama, akhirnya aku mengusulkan untuk menggelar tikar dan karpet di dekat bangunan kamar mayat. Aku mengusulkan itu karena jaraknya masih cukup dekat dengan ruang ICU dan itu satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk berteduh kendati cukup gelap karena tidak ada penerangan di Bu Har menolak, karena posisinya di dekat kamar mayat. Namun akhirnya ia menyerah setelah mengetahui tidak ada tempat yang lain dan aku menyatakan siap berjaga sepanjang malam.? Janji ya Rid setelah cukup akrab Bu Har tidak mengembel-embeli sebutan Nak di depan nama panggilanku, kamu harus bangunkan ibu kalau mau kencing atau beli ibu takut ditinggal sendirian,? katanya.? Wah, persediaan rokokku lebih dari cukup kok bu. Jadi tidak perlu kemana-mana lagi,? jawabku. Nyaman juga ternyata menempati kapling dekat kamar mayat. Bisa terbebas dari lalu-lalang orang hingga bisa beristirahat cukup tenang. Dan kendati gelap tanpa penerangan, bisa terbebas dari cipratan air hujan karena tempat kami menggelar tikar dan karpet terlindung oleh tembok setinggi sekitar setengah tiduran agak merapat karena sempitnya ruang yang ada, Bu Har mengajakku ngobrol tentang banyak hal. Dari soal kerinduannya pada Dewi, anaknya yang hanya bisa pulang setahun sekali saat lebaran sampai ke soal penyakit yang diderita Pak Harjono. Menurut Bu Har penyakit diabetis itu diderita suaminya sejak delapan tahun karena penyakit itulah penyakit radang lambung yang datang belakangan menjadi sulit disembuhkan.? Katanya penyakit diabetes bisa menjadikan laki-laki jadi impotensi ya Bu??? Kata siapa, Rid??? Eh… anu, kata artikel di sebuah koran,? jawabku agak tergagap. Aku merasa tidak enak berkomentar seperti itu terhadap penyakit yang diderita suami Bu Har.?Rupanya kamu gemar membaca ya. Benar kok itu, makanya penyakit kencing manis di samping menyiksa suami yang mengidapnya juga berpengaruh pada istrinya. Untung ibu sudah tua,? ujarnya lirih. Merasa tidak enak topik perbincangan itu dapat membangkitkan kesedihan Bu Har, akhirnya aku memilih diam. Dan aku yang tadinya tiduran dalam posisi telentang, setelah rokok yang kuhisap kubuang, mengubah posisi tidur memunggungi wanita kendati sangat senang bersentuhan tubuh dengan wanita itu, aku tidak mau dianggap kurang ajar. Sebab aku tidak tahu secara pasti jalan pikiran Bu Har yang sebenarnya. Tetapi baru saja aku mengubah posisi tidur, tangan Bu Har terasa mencolek pinggangku.? Tidurmu jangan memunggungi begitu. Menghadap ke sini, ibu takut,?katanya lirih. Aku kembali ke posisi semula, tidur telentang. Namun karena posisi tidur Bu Har kelewat merapat, maka saat berbalik posisi tanpa sengaja lenganku menyenggol buah dada wanita itu. Memang belum menyentuh secara langsung karena ia mengenakan daster dan selimut yang menutupi tubuhnya. Malangnya, Bu Har bukannya menjauh atau merenggangkan tubuh, tetapi malah semakin merapatkan tubuhnya ke anak kecil yang ketakutan saat tidur dan mencari perasaan aman pada ibunya. Akhirnya, dengan keberanian yang kupaksakan - karena ku yakin saat itu Bu Har belum pulas tertidur - aku mulai mencoba-coba. Seperti yang dimauinya, aku mengubah kembali posisi tidur miring menghadapinya. Jadilah sebagian besar tubuhku merapat ketat ke tubuhnya hingga terasa kehangatan mulai menjalari di situ aku berbuat seolah-olah telah mulai lelap tertidur sambil menunggu reaksinya. Reaksinya, Bu Har terbangkit dan menarik selimut yang dikenakannya. Selimut besar dan tebal itu ditariknya untuk dibentangkan sekaligus menutupi tubuhku. Jadilah tubuh kami makin berhimpitan di bawah satu ketika aku nekad meremas telapak tangannya dan ia membalas dengan remasan lembut, aku jadi mulai berani beraksi lebih jauh. Kumulai dengan menjalari pahanya dari luar daster yang dikenakannya dengan telapak tanganku. Ia menggelinjang, tetapi tidak menolakkan tanganku yang mulai nakal itu. Malah posisi kakinya mulai direnggangkan yang memudahkanku menarik ke atas bagian bawah ketika usapan tanganku mulai menjelajah langsung pada kedua pahanya, kuketahui secara pasti ia tidak menolaknya. Tanganku malah dibimbingnya untuk menyentuh kemaluannya yang masih tertutup celana dalam. Seperti keinginanku dan juga keinginannya, telapak tanganku mulai menyentuh dan mengusap bagian membusung yang ada di selangkangan wanita mendesah lirih saat usapan tanganku cukup lama bermain di sana. Juga saat tanganku yang lain mulai meremasi buah dadanya dari bagian luar Bra dan dasternya. Sampai akhirnya, ketika tanganku yang beroperasi di bagian bawah telah berhasil menyelinap ke bagian samping celana dalam dan berhasil mencolek-colek celah kemaluannya yang banyak ditumbuhi rambut, dia dengan suka rela memereteli sendiri kancing bagian depan seperti wanita yang hendak menyusui bayinya, dikeluarkannya payudaranya dari Bra yang membungkusnya. Layaknya bayi yang tengah kelaparan mulutku segera menyerbu puting susu sebelah kiri milik Bu Har. Kujilat-jilat dan kukulum pentilnya yang terasa mencuat dan mengeras di mulutku. Bahkan karena gemas, sesekali kubenamkan wajahku ke kedua payudara wanita berukuran besar dan agak mengendur namun masih menyisakan kehangatan. Sementara Ia sendiri, sambil terus mendesis dan melenguh nikmat oleh segala gerakan yang kulakukan, mulai asyik dengan mainannya. Setelah berhasil menyelinap ke balik celana pendek yang kukenakan, tangannya mulai meremas dan meremas penisku yang memang telah teman-temanku, senjataku tergolong long size, hingga Ia nampak keasyikkan dengan temuannya itu. Tetapi ketika aku hendak menarik celana dalamnya, tubuhnya terasa menyentak dan kedua pahanya dirapatkan mencoba menghalangi maksudku.? Mau apa Rid… jangan di sini ah nanti ketahuan orang,? katanya lirih.?Ah, tidak apa-apa gelap kok. Orang-orang juga sudah pada tidur dan tidak bakalan kedengaran karena hujannya makin besar.? Hujan saat itu memang semakin deras. Entah karena mempercayai omonganku. Atau karena nafsunya yang juga sudah memuncak terbukti dengan semakin membanjirnya cairan di lubang kemaluannya, ia mau saja ketika celananya kutarik ke ia menarik celana dalamnya ketika aku kesulitan melakukannya. Ia juga membantu membuka dan menarik celana pendek dan celana dalam yang kukenakan. Akhirnya, dengan hanya menyingkap daster yang dikenakannya aku mulai menindih tubuhnya yang berposisi mengangkang. Karena dilakukan di dalam gelap dan tetap dibalik selimut tebal yang kupakai bersama untuk menutupi tubuh, awalnya cukup sulit untuk mengarahkan penisku ke lubang berkat bimbingan tangan lembutnya, ujung penisku mulai menemukan wilayah yang telah membasah. Slep? penis besarku berhasil menerobos dengan mudah liang sanggamanya. Aku mulai menggoyang dan memaju-mundurkan senjataku dengan menaik-turunkan pantatku. Basah dan hangat terasa setiap penisku membenam di sambil terus meremasi kedua buah dadanya secara bergantian, sesekali bibirnya kulumat. Maka ia pun melenguh tertahan, melenguh dan mengerang tertahan. Ah, dugaanku memang tidak meleset tubuhnya memang masih menjanjikan kehangatan. Kehangatan yang prima khas dimiliki wanita berpengalaman. Dihujam bertubi-tubi oleh ketegangan penisku di bagian kewanitannya, Ia mulai mengimbangi besar besarnya mulai digerakkan memutar mengikuti gerakan naik turun tubuhku di bagian bawah. Memutar dan terus memutar dengan gerak dan goyang pinggul yang terarah. Hal itu menjadikan penisku yang terbenam di dalam vaginanya serasa diremas. Remasan nikmat yang melambungkan jauh anganku entah sesekali otot-otot yang ada di dalam vaginanya seolah menjepit dan mengejang.? Ah… ah.. enak sekali. Terus, ah.. ah,?? Aku juga enak Rid, uh.. uh? uh. Sudah lama sekali tidak merasakan seperti ini. Apalagi punyamu keras dan penjang. Auh… ah.. ah,? Sampai akhirnya, aku menjadi tidak tahan oleh goyangan dan remasan vaginanya yang kian kian naik ke ubun-ubun dan seolah mau meledak. Gerakan bagian bawah tubuhku kian kencang mencolok dan mengocok vaginanya dengan penisku.? Aku tidak tahan, ah.. ah.. Sepertinya mau keluar, shhh, ah… ah,?? Aku juga Rid, terus goyang, ya.. ya… ah,? Setelah mengelojot dan memuntahkan segala yang tak dapat kubendungnya, aku akhirnya ambruk di atas tubuh wanita cukup banyak menyembur di dalam lubang kenikmatannya. Begitupun Ia, setelah kontraksi otot-otot yang sangat kencang, ia meluapkan ekspresi puncaknya dengan mendekap erat tubuhku. Dan bahkan kurasakan punggungku sempat tercakar oleh kuku-kukunya. Cukup lama kami terdiam setelah pertarungan panjang yang melelahkan.?Semestinya kita tidak boleh melakukan itu ya Rid. Apalagi bapak lagi sakit dan tengah dirawat,? kata Ia sambil masih tiduran di dekatku. Aku mengira ia menyesal dengan peristiwa yang baru terjadi itu.? Ya Maaf… soalnya tadi…?? Tetapi tidak apa-apa kok. Saya juga sudah lama ingin menikmati yang seperti sejak 5 tahun lebih Pak Har terkena diabetis, ia menjadi sangat jarang memenuhi kewajibannya. Bahkan sudah dua tahun ini kelelakiannya sudah tidak berfungsi lagi. Cuma, kalau suatu saat ingin melakukannya lagi, kita harus hati-hati. Jangan sampai ada yang tahu dan menimbulkan aib diantara kita,?ujarnya lirih. Plong, betapa lega hatiku saat itu. Ia tidak marah dan menyesal dengan yang baru saja terjadi. Dan yang membuatku senang, aku dapat melampiaskan hasrat terpendamku kepadanya. Kendati aku merasa belum puas karena semuanya dilakukan di kegelapan hingga keinginanku melihat ketelanjangan tubuhnya belum seperti yang dipesankannya, aku berusaha mencoba bersikap sewajar mungkin saat berada diantara orang-orang. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang luar biasa diantara kami. Kendati aku sering harus menekan keinginan yang menggelegak akibat darah mudaku yang gampang panas saat berdekatan sejak itu lokasi teras di belakang kamar mayat menjadi saksi sekitar tiga kali hubungan sumbang kami. Hubungan sumbang yang terpaksa kuhentikan seiring kedatangan Bu Hartini, adik Pak Harjono yang bermaksud menengok kondisi sakit kakaknya. Hanya terus terang, sejak kehadirannya ada perasaan kurang senang pada sejak Ia ada yang menemani merawat suaminya di rumah sakit, kendati aku tetap diminta untuk membantu mereka dan selalu berada di rumah sakit, aku tidak lagi dapat menyalurkan hasrar seksualku. Hanya sesekali kami pernah nekad menyalurkannya di kamar mandi ketika hasrat yang ada tak dapat pun secara kucing-kucingan dengan Bu Tini dan segalanya dilaksanakan secara tergesa-gesa hingga tetap tidak memuaskan kami berdua. Sampai suatu ketika, saat Pak Har telah siuman dan perawatannya telah dialihkan ke bangsal perawatan yang terpisah, Bu Tini menyarankan kepada Ia untuk tidur di rumah.?Kamu sudah beberapa hari kurang tidur Mbak, kelihatannya sangat kelelahan. Coba kamu kalau malam tidur barang satu dua hari di rumah hingga istirahat yang cukup dan tidak jatuh sakit. Nanti kalau kedua-duanya sakit malah merepotkan. Biar yang nunggu Mas Har kalau malam aku saja diteman Dik Rido kalau mau?ujarnya. Ia setuju dengan saran adik iparnya. Ia memutuskan untuk tidur di rumah malam itu. Maka hatiku bersorak karena terbuka peluang untuk menyetubuhinya di rumah. Tetapi bagaimana caranya pamit pada Bu Tini? Kalau aku ikut-ikutan pulang untuk tidur di rumah apa tidak mengundang kecurigaan? Aku jadi berpikir keras untuk menemukan jalan baru merasa plong setelah muncul selintas gagasan di benakku. Sekitar pukul malam, lewat telepon umum kutelepon rumahnya. Wanita itu masih terjaga dan menurut pengakuannya tengah menonton televisi. Maka nekad saja kusampaikan niatku kepadanya. Dan ternyata ia memberi sambutan cukup baik.?Kamu nanti memberi tanda kalau sudah ada di dekat kamar ibu ya. Nanti pintu belakang ibu bukakan. Dan sepeda motornya di tinggal saja di rumah sakit biar tidak kedengaran tetangga. Kamu bisa naik becak untuk pulang,? katanya berpesan lewat telepon. Untuk tidak mengundang kecurigaan, sekitar pukul aku masuk ke bangsal tempat Pak Har dirawat menemani Bu Tini. Namun setengah jam sesudahnya, aku pamit keluar untuk nongkrong bersama para Satpam rumah sakit seperti yang biasa kulakukan setelah kedatangan Bu Tini. Di depan rumah sakit aku langsung meminta seorang abang becak mengantarku ke kampungku yang berjarak tak lebih dari satu berjalan sesuai rencana. Setelah kuketuk tiga kali pintu kamarnya, kudengar suara Ia berdehem. Dan dari pintu belakang rumah yang dibukakannya secara pelan-pelan aku langsung menyelinap masuk menuju ruang tengah rumah tersebut. Rupanya, bertemu di tempat terang membuat kami sama-sama selama ini kami selalu berhubungan di tempat gelap di teras kamar mayat. Maka aku hanya berdiri mematung, sedang Ia duduk sambil melihat televisi yang masih dinyalakannya. Cukup lama kami tidak saling bicara sampai akhirnya Ia menarik tanganku untuk duduk di sofa di sampingnya. Setelah keberanianku mulai bangkit, aku mulai berani menatapi wanita yang duduk di ternyata telah siap tempur. Terbukti dari daster tipis menerawang yang dikenakannya, kulihat ia tidak mengenakan Bra di baliknya. Maka kulihat jelas payudaranya yang membusung. Hanya, ketika tanganku mulai bergerilya menyelusuri pangkal paha dan meremasi buah dadanya ia menolak halus.? Jangan di sini Rid, kita ke kamar saja biar leluasa,?katanya lirih. Ketika kami telah sama-sama naik ke atas ranjang besar di kamar yang biasa digunakan oleh suami dan dia, aku langsung menerkamnya. Semula Ia memintaku mematikan dulu saklar lampu yang ada di kamar itu, tetapi aku menolaknya. Saya ingin melihat semua milikmu,? kataku.? Tetapi aku malu aku sudah tua,.? Persetan dengan usia, dimataku, Ia masih menyimpan magnit yang mampu menggelegakkan darah mudaku. Sesaat aku terpaku ketika wanita itu telah melolosi dasternya. Dua buah gunung kembarnya yang membusung nampak telah menggantung. Tetapi tidak kehilangan daya pikatnya. Buah dada yang putih mulus dan berukuran cukup besar itu diujungnya terlihat kedua pentilnya yang berwarna dan sangat menantang untuk diremas. Maka setelah aku melolosi sendiri seluruh pakaian yang kukenakan, langsung kutubruk wanita yang telah tiduran dalam posisi menelentang. Kedua payudaranya kujadikan sasaran remasan kedua tanganku. Kukulum, kujilat dan kukenyot secara bergantian susu-susunya yang besar melihat dari dekat keindahan buah dadanya membuat aku seolah kesetanan. Dan Ia, wanita berhidung bangir dengan rambut sepundak itu menggelepar. Tangannya meremas-remas rambut kepalaku mencoba menahan nikmat atas perbuatan yang tengah kulakukan. Dari kedua gunung kembarnya, setelah beberapa saat bermain di sana, dengan terus menjulurkan lidah dan menjilat seluruh tubuhnya kuturunkan perhatianku ke bagian perut dan di bawah ketika lidahku terhalang oleh celana dalam yang masih dikenakannya, aku langsung memelorotkannya. Ah, vaginanya juga tak kalah indah dengan buah dadanya. Kemaluan yang besar membusung dan banyak ditumbuhi rambut hitam lebat itu, ketika kakinya dikuakkan tampak bagian dalamnya yang memerah. Bibir vaginanya memang nampak kecoklatan yang sekaligus menandakan bahwa sebelumnya telah sering diterobos kemaluan bibir kemaluan itu belum begitu menggelambir. Dan kelentitnya, yang ada di ujung atas, uh… mencuat menantang sebesar biji jagung. Tak tahan cuma memelototi lubang kenikmatan wanita itu, mulailah mulutku yang bicara. Awalnya mencoba membaui dengan hidungku. Ah, ada bau yang meruap asing di dan membuatku tambah terangsang. Dan ketika lidahku mulai kumainkan dengan menjilat-jilat pelan di seputar bibir vaginanya besar itu, Ia tampak gelisah dan menggoyang-goyang kegelian.? Ih… jangan diciumi dan dijilat begitu Rid. Malu ah, tapi, ah.. ah.. ah,? Tetapi ia malah menggoyangkan bagian bawah tubuhnya saat mulutku mencerucupi liang kian kencang dan terus mengencang. Sampai akhirnya diremasnya kepalaku ditekannya kuat-kuat ke bagian tengah selangkannya saat kelentitnya kujilat dan kugigit kecil. Rupanya ia telah mendapatkan orgasme hingga tubuhnya terasa mengejang dan pinggulnya menyentak ke atas.? Seumur hidup baru kali ini vaginaku dijilat-jilat begitu Rid, jadinya cepat gantian deh Aku mainkan punyamu,? ujarnya setelah sebentar mengatur nafasnya yang memburu. Aku dimintanya telentang, sedang kepala dia berada di bagian bawah tubuhku. Sesaat, mulai kurasakan kepala penisku dijilat lidah basah milik wanita itu. Bahkan ia mencerucupi sedikit air maniku yang telah keluar akibat nafsu yang ada senasi tersendiri oleh permainan lidahnya itu dan aku menggelinjang oleh permainan wanita itu. Namun sebagai anak muda, aku merasa kurang puas dengan hanya bersikap pasif. Terlebih aku juga ingin meremas pantat besarnya yang montok dan seksi. Hingga aku menarik tubuh bagian bawahnya untuk ditempatkan di atas persetubuhan yang kata orang disebut sebagai permainan 69. Kembali vaginanya yang berada tepat di atas wajahku langsung menjadi sasaran gerilya mulutku. Sementara pantat besarnya kuremas-remas dengan gemas. Tidak hanya itu jilatan lidahku tidak berhenti hanya bermain di seputar kemaluannya. Tetapi terus ke atas dan sampai ke lubang ia telah membersihkannya dengan sabun baik di kemaluannya maupun di anusnya. Maka tak sedikit pun meruap bau kotoran di sana dan membuatku kian bernafsu untuk menjilat dan mencoloknya dengan ujung lidahku. Tindakan nekadku rupanya membuat nafsunya kembali naik ke ubun-ubun. Maka setelah ia memaksaku menghentikan permainan 69, ia langsung mengubah posisi dengan telentang aku tahu pasti wanita itu telah menagih untuk disetubuhi. Ia mulai mengerang ketika batang besar dan panjang milikku mulai menerobos gua kenikmatannya yang basah. Hanya karena kami sama-sama telah memuncak nafsu syahwatnya, tak lebih dari 10 menit saling genjot dan menggoyang dilakukan, kami telah sama-sama di kasur empuk ranjang kenikmatannya. Ranjang yang semestinya tabu untuk kutiduri bersama wanita itu. Malam itu, aku dan dia melakukan persetubuhan lebih dari tiga kali. Termasuk di kamar mandi yang dilakukan sambil berdiri. Dan ketika aku memintanya kembali yang keempat kali, ia menolaknya halus.?Tubuh ibu cape sekali Rid, mungkin sudah terlalu tua hingga tidak dapat mengimbangi orang muda sepertimu. Dan lagi ini sudah mulai pagi, kamu harus kembali ke rumah sakit agar Bu Tini tidak curiga,? katanya. Aku sempat mencium dan meremas pantatnya saat Ia hendak menutup pintu belakang rumah mengantarku indah dan nikmat rasanya. Usia Pak Har ternyata tidak cukup panjang. Selama sebulan lebih dirawat di rumah sakit, ia akhirnya meninggal setelah sebelumnya sempat dibawa RS yang lebih besar di Semarang. Di Semarang, aku pun ikut menunggui bersamanya serta Bu Tini selama seminggu. Juga ada Mbak Dewi dan suaminya yang menyempatkan diri untuk hubunganku dengan keluarga itu menjadi kian akrab. Namun, hubungan sumbangku dengannya terus berlanjut hingga kini. Bahkan kami pernah nekad bersetubuh di belakang rumah keluarga itu, karena kami sama-sama horny sementara di ruang tengah banyak sanak famili dari keluarganya yang menginap. Entah kapan aku akan menghentikannya, mungkin setelah gairahnya telah benar-benar padam.
Cerita Sex Terbaru – setelah sebelumnya ada kisah Kakak Ipar Jadi Orgasme Setelah Kuperkosa, kini ada cerita seks bergambar Kenikmatan Bersama Mama Temanku Yang Seksi. selamat membaca dan menikmati. Perkenalkan namaku Jacky teman-teman biasanya memanggilku Jack. Umurku 29 tahun. Postur tubuhku standar bule. Tinggi 185 cm, berat 82 kg. Wajahku biasa-biasa saja. Sekarang aku bekerja di salah satu perusahaan garmen di Medan, bagian marketing. Aku tinggal sendiri di sebuah tempat kost di Medan karena orangtuaku tinggal di Pematang Siantar. Awal cerita, aku berkenalan dengan seorang cowok sebut saja Hendrik. Kebetulan Hendrik satu kantor denganku dan dia adalah manager saya. Sejak perkenalan itu, akhirnya kami semakin akrab dan akhirnya bersahabat. Itu karena kami mempunyai banyak persamaan pada diri masing-masing. Kami suka clubbing dugem. Setiap malam minggu kami selalu menghabiskan waktu untuk dugem bersama cewek kami masing-masing. Yah, double date begitulah. Hendrik termasuk keluarga orang berada. Itu terlihat dari rumahnya yang megah dan beberapa mobil mewah yang nongkrong di garasinya. Maklumlah, orang tuanya pengusaha furniture antik untuk dikirim keluar negeri tapi dia lebih suka bekerja di luar daripada membantu orang tuanya. Pertama kali aku main ke rumahnya, aku dikenalkan kepada Mamanya kebetulan waktu itu Papanya nggak ada karena pergi ke Yogya untuk mencari barang-barang antik. “Ma, kenalin ini teman kerja Hendrik, Namanya Jack”, kata Hendrik sambil memeluk pinggang Mamanya. “Saya Jack, Tante”, ujarku. Ibunya berkata, “Merry. Panggil saja Tante Merry. Silakan duduk”. “Makasih Tante”. Wow, halus banget tangannya.. Rajin pedicure nih. Setelah aku duduk, Hendrik berkata, “Jack, kamu ngobrol dulu sama mamaku. Aku mau mandi dulu. Gerah nih abis mancing. Kalo kamu pengen mandi juga, pake aja kamar mandi di kamarku. Aku mandi di atas. OK?” “Gak deh, nanggung ntar juga pulang”, jawabku. Posisi dudukku dengan Mamanya berseberangan di sofa antara meja kaca. Gila!, aku nggak nyangka Mamanya sexy banget.. Sebagai gambaran buat para pembaca, umurnya kira-kira 41 tahun, wajahnya cantik keibuan, kulitnya putih bersih dengan rambut ikal sebahu, postur tubuhnya ideal tidak terlalu gemuk. Ukuran payudaranya kira-kira 36B, bentuknya bulat pula. Enak banget nih kalo diisep, pikirku. Memecah sepi, iseng-iseng aku bertanya, “Oom kemana Tante?”, padahal aku sudah tahu dari Hendrik kalau Papanya sedang ke Yogya. “Kebetulan Oom pergi ke Yogya lagi cari barang-barang antik. Soalnya ada pesanan dari Malaysia. Mungkin sebulan lagi urusannya selesai. Sekarang cari barang-barang antik agak susah. Nggak kayak dulu”, jawabnya. “Jack satu kantor sama Hendrik?”, tanyanya lagi. “Iya Tante, tapi Hendrik manager saya sedangkan saya bagian marketing. Kebetulan saya sama Hendrik suka mancing. Jadi sering ngumpul”, jawabku. “Oo.. Begitu” “Tante mau nanya nih, teman Jack ada yang punya barang antik nggak?” “Wah, kalo itu saya kurang tau Tante. Tapi mungkin nanti saya bisa tanya ke teman-teman” “OK. Tante ngerti. Gini aja, seandainya ada teman kamu yang punya barang antik, telepon Tante ke nomor ini.. sambil memberikan sebuah kartu nama lengkap dengan nomor HP nanti kamu pasti dapat komisi dari Tante, gimana?” “Siip deh Tante..”, wah, lumayan nih bisnis kecil-kecilan. Setelah berbasa-basi, Hendrik datang sambil berkata.. “Keliatannya seru, lagi ngobrolin apaan nih?” “Ini.. Mama lagi ngomongin bisnis sama Jack. Gimana? Udah segeran?” “Udah dong Ma..” “Ntar sore anterin Mama belanja ke Club Store ya.. Stok di kulkas sudah mulai habis tuh. Jack ikut?” “Nggak deh Tante. Makasih. Soalnya banyak tugas yang belum selesai dikerjain. Lagian saya belum mandi” “Ok, deh Drik, aku pulang dulu udah sore nih”, jam di tanganku menunjukan angka 610 menit. “Ok hati-hati Jack.. Sampai ketemu besok di kantor” “Permisi Tante” “Iya.. hati-hati ya Jack.. Inget telepon Tante kalo ada barang antik OK?” Setelah aku start motorku, aku langsung pulang. Sesampainya di rumah aku langsung mandi karena badan rasanya lengket semua. Sejak saat itu aku sering membayangkan Tante Merry, walaupun aku sudah punya cewek yang sering kuentot. Terkadang aku ngentot cewekku tapi aku membayangkan sedang ngentot Tante Merry. Sampai colipun aku tetap membayangkan dia. Puas rasanya. Walaupun aku merasa sedikit berdosa sama Hendrik. Ternyata nafsu mengalahkan segalanya. Aku juga termasuk orang yang pandai menyembunyikan sesuatu. Selang empat hari dari perkenalan itu, aku tidak melihat Hendrik di kantor. Untuk mencari tahu, aku telepon Hendrik ke HP-nya. “Drik, kamu hari ini nggak masuk kenapa? Sakit atau ngentot?”, candaku. “Gila kamu ngatain aku ngentot.. Aku lagi dalam perjalanan ke Yogya nih. Sorry aku nggak sempat ngasih tau kamu. Buru-buru sih”, jawabnya dari seberang telepon. “Ngapain kamu ke Yogya?”, tanyaku lagi. “Kemarin malam Papaku nelpon, aku disuruh bawain laptop yang isinya katalog. Buku katalog yang dia bawa kurang lengkap” “Ngapain susah-susah. Paketin aja kan beres?” “Wah, resiko Jack. Lagian sekalian aku liburan di sini. Yah, sambil cari memek barulah.. Rugi dong aku udah minta cuti 2 minggu cuma buat jalan-jalan” “Nggak ngajak-ngajak malah bikin ngiler aja” “Sorry banget Jack.. Hahahaha..” setelah itu telepon ditutup. Sialan, pikirku. Bengong di kantor.. Tiba-tiba terbayang lagi Tante Merry. Aku ada akal nih.. Semoga berhasil. Iseng-iseng aku SMS ke nomor HP Tante Merry, pura-pura menanyakan Hendrik. Isi SMS nya begini, “Tante, ini Jack. Hendrik kok ga msk kantor? Sakit ya? Tadi saya tlp ke hpnya tp ga nyambung2″ Setelah beberapa detik SMS terkirim, HP-ku berdering.. Kulihat nomornya, ternyata dari no telepon rumah Hendrik. Yes! Teriakku dalam hati. Tanpa basa-basi, langsung aku angkat. “Hallo..” ucapku. “Hallo, ini Jack?” “Iya.. Ini Tante Merry ya?” “Lho kok tau?” “Nomor telepon rumah Tante tercatat di sini. Hendrik sakit ya Tante?” “Lho, kamu nggak dikasih tau sama Hendrik kalo dia ke Yogya?” “Hah, ke Yogya? aku pura-pura kaget Yang bener Tante. Kapan berangkatnya?” “Kamu kok kaget banget sih. Berangkatnya tadi pagi banget sama Rudy. Rudy bekerja sebagai asisten Papanya Mungkin karena buru-buru jadi nggak sempat ngasih tau Jack”. “Kira-kira kapan pulangnya Tante?” “Yah, mungkin 2 minggu lagi. Sekalian refreshing katanya”. “Wah, kasihan yah Tante jadi kesepian..” “Iya nih.. Jack ke sini dong. Temenin Tante ngobrol. Itu juga kalo Jack nggak sibuk.” Horee!! Sorakku dalam hati. Kesempatan emas nih.. Gak boleh disia-siakan. “Hmm, gimana ya..pura-pura berpikir OK deh Tante. Lagian saya nggak sibuk ini. Jam berapa Tante? Sekalian saya mau belajar bisnis sama Tante”. “Bener nih Jack nggak sibuk? Kalo Jack mau, dateng aja jam 6 sore. Gimana?” “OK Sampai ketemu nanti. Saya urus kerjaan dulu”. “OK Tante tunggu ya.. Bye..” Setelah menutup telepon aku bergegas pulang dan mandi. Karena waktu sudah menunjukkan angka 455 menit. Jam 550 menit aku sudah sampai di rumahnya. Di pintu gerbang, ternyata aku sudah disambut oleh seorang pembantu. Pembantu itu bertanya.. “Mas Jacky, ya?” “Iya. Kok Mbak tau?” “Tadi Ibu bilang kalo ada tamu yang namanya Jack suruh masuk aja. Gitu. Ayo silakan masuk Mas”. “Terima kasih Mbak”. “Sama-sama” Begitu masuk, langsung kuparkirkan motorku di garasi berjejer dengan mobilnya. Lalu aku melangkah menuju ruang tamu. Tante Merry sudah duduk di sofa. “Sore, Tante.. aku sempat kaget begitu lihat Tante Merry yang sedang mengenakan pakaian senam dan keringat membercak di antara belahan payudaranya. Apalagi putingnya terlihat menonjol karena tidak pakai BH. Bentuknya masih mengkal, jadi gemas liatnya. Sesekali aku menelan ludah karenanya. “Ayo, masuk aja Jack. Silakan duduk. Sorry Tante masih keringatan. Jangan malu-malu. Anggap aja rumah sendiri. Ternyata kamu tepat waktu. Tante suka orang yang selalu tepat waktu”. “Kebetulan aja Tante..” “Jack, Tante bisa minta tolong nggak?” “Tolongin apa Tante?” “Tolong pijatin kaki Tante ya.. Sebentar aja. Tadi Tante aerobik nggak pemanasan dulu jadinya kaki Tante kram”. “Boleh deh. Tapi saya nggak jago pijat lho Tan”. Tanpa berkata apa-apa, Tante Merry merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya kemudian kakinya diletakkan di atas pahaku. Dia sengaja melebarkan sedikit kakinya sehingga aku dapat melihat bulu-bulu memeknya yang terjepit di antara selangkangannya. Kontolku sedikit mengeras dibuatnya, ditambah bau keringat bercampur bau memek yang khas. Oh.. Aromanya semakin terasa.. Aku mulai memijat betisnya. Oh mulus sekali kulitnya. Sekitar 5 menit memijat betisnya, tanganku naik ke pahanya. Mulanya dia diam saja. Lalu aku beranikan diri menaikkan pijatanku ke pangkal pahanya. “Hmm.. Enak Jack. Kamu pinter.. Ya.. Di situ Jack..” Aku sengaja meremas-remas pahanya semakin naik hingga jari kelingkingku menggesek-gesek memeknya yang masih dibalut baju senam itu. Aku pura-pura tak merasakannya. Mendapat pelakuan seperti itu, dia malah melebarkan pahanya namun matanya masih terpejam. Nafasnya pun sudah tidak beraturan. Melihat dia sudah bernafsu aku menghentikan pijatanku. Lalu dia membuka matanya.. “Kok berhenti Jack? Jack capek ya?”. Dari tatapan matanya seolah dia ingin aku agar tidak berhenti menggesek-gesekkan jariku di memeknya. “Nggak Tan. Cuma kalo posisinya gini kurang nyaman aja. Lagian nggak ada yang ditonton. Kan nggak semangat” “Ya udah, kita pindah aja ke kamar Tante. Disana ada TV-nya. VCD juga ada, jadi kamu mijatnya kan bisa sambil nonton”, lalu Tante menarik tanganku menuju lantai atas ke kamarnya. “Nah, ini kamar Tante. Tante rebahan dulu, kamu pasang VCD-nya”, wow, kamarnya luas. Mungkin 3 kali luas kamar kostku. Lengkap dengan home theaternya. “Pilih aja film yang kamu suka”, Tante menyuruhku sambil rebahan di springbednya. Sedang asyik-asyiknya memilih-milih, tanpa sengaja kulihat sebuah CD yang diletakkan di bawah VCD player. Setelah kulihat ternyata CD BF bertuliskan Vivid. “Kalo nonton yang ini boleh nggak?” tanyaku sambil menunjukkan CD-nya ke Tante Merry. “Oh itu. Boleh aja. Tapi pijatnya tetap konsentrasi ya..?” “Beres..”, jawabku sambil memasukkan CD ke playernya. Dengan posisi tubuhnya tengkurap menghadap TV, dan aku duduk di sebelahnya. “Tadi kan udah paha, sekarang tolong pijatin punggung Tante yah. Pijatan kamu enak Jack” Aku mulai meletakkan jari-jariku di punggungnya dan meremas-remas, sedang dia asyik menonton VCD yang aku putar. Pas adegan cewek bule yang memeknya dihisap dan dijilati oleh cowok negro, aku pura-pura bertanya.. “Tan, kalo cewek dijilatin gitunya enak ngga sih?” “Tante sendiri nggak tau rasanya. Soalnya sama Oom nggak pernah digituin. Lagian jijik ah..” “Ah, masa sih Tan? Kata teman saya rasanya jilatin memek itu enak-enak asin. Banyak cewek yang suka kalo memeknya dijilatin”, ujarku sambil tanganku meremas-remas pantatnya. “Emangnya kamu nggak pernah? Kenapa nggak cobain punya pacarmu?” “Coba kalo saya punya pacar, mungkin saya nggak penasaran kaya gini” Aku berpura-pura tidak pernah mencobanya, padahal sudah sering. “Tante juga penasaran sih pengen dijilatin. Tapi Oom nggak bakal mau deh”, mendengar kata-katanya aku langsung nekat meremas payudaranya dari belakang dan kudekatkan bibirku di telinganya.. “Jack mau jilatin memek Tante sekarang”, ujarku sambil memasukkan lidahku di telinganya, kujilat cupingnya.. Dia hanya mendesah.. “Ohh.. Jack.. Hmmpp..” Sebelum dia berkata apa-apa, kusumbat bibirnya dengan bibirku. Sekejap kemudian dia lalu dia membalikkan badannya. Kami berciuman dengan ganasnya. Lidahnya menyapu setiap dinding-dinding mulutku. “Sejak pertama saya melihat Tante, saya sering membayangkan bersetubuh dengan Tante, abis Tante sexy banget sih”, sambungku. “Ah masa sih Tante sesexy itu?” “Serius Tan” Sambil terus berciuman, tangan kananku menjelajah ke selangkangannya. Dia semakin agresif menyedot bibirku. Ciumanku turun ke lehernya, kujilat lehernya.. “Sshh.. Jack.. Ahh.. Shh..” tangan kanannya mulai meraih batangku yang sedari tadi sudah mengeras.. Kurasakan nafasnya sudah mulai tak teratur. “Keluarin kontollmuu Jack.. Ahh..” dia berhasil mengeluarkan kontolku dan mengocoknya.. Aku hanya bisa menikmatinya. “Taantee.. Eenaak baangeett.. Ahh.. Shh..” Kubuka bajunya hingga tersingkaplah dua bukit kembar dengan puting berwarna coklat. Kuhisap puting payudaranya yang kiri. Dia semakin keras mengocok kontolku. “Sabar yah Tante, saya bukain dulu baju Tante..” “Iya.. Ahh.. Stt..” Setelah membuka bajunya, kini yang terlihat hanya tubuh sexy Tante Merry dengan gundukan bukit berbulu yang terlihat sedikit mengeluarkan cairan. Tanpa menunggu lagi, aku membuka semua pakaianku sehingga aku telanjang bulat. “Wow.. Lumayan juga kontol kamu Jack”, ujarnya sambil memegang kontolku. “Punya Oom nggak segini besar..”, dipandanginya kontolku dengan tatapan heran. “Ini juga belum maksimal Tante.. Daripada cuma diliatin, isep dong Tan. Ntar tambah panjang” Dengan posisi aku berdiri menghadap ranjang dan Tante Merry menungging di atas kasur, dia dengan lahap menghisap kontolku. Dijilatinnya lubang kencingku, sedang tangan kirinya memijat-mijat buah pelirku. “Hmm.. Terus Tan. Enak.. Ohh.. Aagak keraas Taan..” Setelah 5 menit menjilati kontolku, aku menyuruhnya rebahan. Kubuka kakinya lebar-lebar hingga tercium aroma yang lezat sekali. “Mau diapain Jack?” “Tante tenang aja. Yang penting Tante puas.. Jack udah nggak sabar pengen jilatin memek Tante” “Emang kamu nggak jijik?” “Justru saya suka banget. Abis memek Tante bersih. Merah lagi” Tanpa menunggu pertanyaan yang akan dilontarkannya lagi, aku langsung menjulurkan lidahku menuju lubang memeknya. Dia hanya bisa melenguh.. “Ooh.. Sshhtt.. Jack..”, desahnya sambil tangannya menjambak rambutku. Mungkin karena baru pertama kalinya dia merasakan sensasi seperti itu. Memeknya terasa asin di lidahku dan cairan yang keluar lumayan banyak. Tak kusia-siakan cairan itu mengalir begitu saja. Aku menyedotnya hingga terasa cairan kental asin melewati lidah hingga tenggorokanku. Setelah puas membersihkan cairannya, lalu lidahku menuju klitorisnya. Jambakan di rambutku bertambah keras dan desahannya semakin menjadi.. “Teeruus.. Di siituu.. Saayaanghh.. Oohh good.. Saayaanghh.. Saayyaanghh.. Ohh.. Enaak.. Sthhsstthh..” Sekarang dia tidak lagi memanggilku Jack, tapi sayang. Aku semakin cepat menggerakkan lidahku berputar-putar di klitorisnya dan sesekali aku menyedotnya dengan keras. Beberapa detik kemudian kurasakan badannya bergetar dan kedua tangannya menekan kepalaku ke memeknya sehingga aku sedikit susah bernafas. Mungkin dia sudah mau keluar, pikirku. Aku semakin kuat menjilatinya hingga tanpa sadar dia berteriak.. “Ahh.. Saayaanghh.. Taanntee.. Mauu keelluuaarr.. Ahh..” Ada cairan yang keluar dari memeknya. Kujilat dan kutelan lagi karena rasanya enak dan aku menyukainya. Lalu aku bangun. Kulihat wajahnya tersenyum puas. “Makasih Sayang, sekarang masukin kontolmu, Sayang. Tante sudah nggak tahan” “OK Tante”, jawabku. Lalu dibimbingnya kontolku menuju lubang tempat lahirnya sahabatku itu. Begitu masuk rasanya hangat sekali. Dan tidak lebar seperti yang pernah kubayangkan. “Ohh.. Memek Tante enak banget.. Masih keset. Kaya perawan..”, mendengar ucapanku dia tersenyum. “Sekarang puas-puasin ngentot Tante yah!” Aku mulai memaju mundurkan pantatku. Sleep.. Slepph.. Sleepph, bunyi di antara selangkangan kami. Tante Merry semakin meracau.. “Kkoonntooll.. Enaakk.. Sodok yang keraas saayaang.. Tante mau keluar lagii.. Ahh” Kuturuti permintaannya hingga kontolku terasa mentok di perutnya. Lalu tubuh Tante Merry mengejang untuk yang kedua kalinya. Setelah 30 menit mengocok kontolku di dalam memeknya, kontolku terasa geli-geli nikmat. Sedetik kemudian tanpa sadar gerakan badanku semakin cepat. “Taanntee.. Saayyaa.. Mauu.. Keelluuaarr.. Ahh..” “Keeluuariin di daalaam saayaangh..” Tangannya menahan gerakan pantaku. Akhirnya.. crroot.. crroott.. croott.. Kontolku terasa meledak. Lalu kutindih tubuhnya. Kami berpelukan selama beberapa menit. “Makasih ya sayang, udah puasin Tante. Ini rahasia kita berdua OK?” “Saya juga senang bisa puasin Tante. Kapan saja Tante mau, saya siap” Setelah itu aku mandi karena jam sudah menunjukkan pukul 930. Selesai mandi aku langsung pulang. Sejak saat itu aku sering making love dengan Tante Merry. Kalau dia sedang horny, dia jemput aku dengan menelepon terlebih dahulu untuk check-in di hotel atau bungalow. Sampai dengan saat ini 2 bulan sejak pertama mengentot Mamanya Hendrik masih belum mengetahui apa yang terjadi antara aku dengan Mamanya. TAMAT by – Cerita Dewasa, Cerita Seks Hot, Cerita Mesum, Cerita Panas Indonesia, Cerita Ngentot, Kisah Pengalaman Seks, Cerita Porno, Cerita Bokep Seru 2020 kenikmatan bersama tante girang nikmat ngentot mama temanku cerita ml sama mama teman kuentot memek mama temanku mama temanku yang seksi dan sintal
- Mereka yang berseragam dengan tulisan "Petugas Jamaah Haji Indonesia 2023" di Dua Kota Suci "Haramain" punya banyak cerita suka dan duka. Sukanya tambah kenalan, dukanya justru jadi cerita lucu. Cerita dokter Ratna Juwita, misalnya. Petugas Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji PKP3JH Sektor Khusus Masjid Nabawi ini, membagikan ceritanya di selasar Posko Sektor Khusus Nabawi, Sabtu 10/6/2023 malam. Menurutnya, keahliannya sebagai dokter umum di Rumah Sakit Haji Pondok Gede, Jakarta, dimanfaatkan hanya sesekali. "Kita tak hanya mengurusi jamaah kelelahan, mimisan, atau yang dehidrasi. Urusan pulsa roaming, video call anak, cucu di Tanah Air, hingga urusan cari hotel pondokan, pun harus kita bisa," ujar dr Ratna. Menurutnya kebabanyakan yang datang mengadukan masalahnya adalah jamaah kategori lanjut usia, 65 tahun ke atas. Dan...tak lama kemudian, cerita dokter Ratna terbukti. Seorang jamaah dari Rokan Hulu, Riau, pun datang mendekat ke posko di depan pintu 22 Masjid Nabawi. "Ini bagaimana Bu Petugas. Saya baru beli pulsa Arab, Katanya bisa Video Call sama cucu, tapi saya takbisa.." ujar jamaah, yang belakangan teridentifikasi bernama Penghiutan Nasution Abdul Manaf. Usia jamaah asal kampung perkebunan Sawit Rantau Kasih, 70 km dari Pekanbaru itu, sudah 73 tahun. Bagi generasi millenial, masalah aduan Penghiutan Nasution, sejatinya simpel. Namun karena yang datang adalah generasi yang lahir di penghujung "Kolonialisme", masalah itu jadi rumit. Peladang sawit dari Tapanuli Selatan itu, ternyata tak tahu menggunakan aplikasi instant chatting dan VoiP call bawaan WhatsApp.
cerita dewasa bu haji