cerita di perkosa pacar
PerkosaDulu Lalu Jadi Pacar Hai nama saya Jeffrey. Saya tinggal di Jakarta. Tepatnya di Jakarta Selatan. Ini adalah cerita pada saat saya kelas 1 SMP. Seperti biasa saya pergi ke sekolah di Jakarta Selatan (lupa nama sekolahnya). Kami berpacaran diam-diam di tempat les. Walaupun sudah pacaran, kami tetap les di satu tempat. Saya selalu
Ceritadi perkosa pacar sendiri Fuck Movies. Popular; Top Rated; Length; HD 11:19. ASIANSEXDIARY Big Dick Cums Deep Inside Maids Pussy. 100% HD 8:23. TONS OF WARM STICKY WHITE CUM SQUIRTING PUSSY. 100% HD 8:00. Young teen cheats on girlcrony Poor Rachael Madori. - Rachael Rae. 40% HD 8:00.
Pertamatama kugosokkan rintisan besar itu ke klitoris Sinta , setelah sekitar 5 menit Sinta tak tahan, lalu perlahan kumasukkan jauh ke dalam liang vagina Sinta yang masih sempit agar Sinta bisa melihatnya dari wajahnya. . ekstasi yang ditekan.
cat/xnxx-anak-smp-diperkosa-ayah1. anak smp karaoke lagu lagi syantik Supp 2Qh09ST. fucking indian indian porn indian desi village sex. crot di dalam indonesia terbaru bokep indonesia anak smp. Gadis binal dibawah umur sudah jago sex. Missing: teman.
CeritaSeks - Di perkosa adikku dan teman2nya. Suatu hari, ketika aku pulang kuliah sore, aku menyempatkan diri ke kamar adikku mau mencari buku komik kesukaanku yang baru dipinjam tiga hari oleh adikku. Saat mencari-cari aku tidak sengaja menemukan beberapa VCD Porno di meja belajarnya dicampur dengan CD CD PSnya, aku kaget bukan main
mình đã không yêu xin đừng tìm nhau. HondaQQ – Sengaja aku menyamarkan nama-nama yang tertulis di dalam kisahku ini untuk menjaga segala kemungkinan adanya orang-orang yang ingin mendapatkan keuntungan dari kejadian ini, saya memohon agar alamat e-mail ini disamarkan. Disamping itu aku juga takut kalau-kalau temen, pacar, juga temen pacarku yang secara langsung terlibat dalam kejadian ini malah bisa menjadi bumerang untuk menuntutku. Kejadian ini berawal sekitar bulan September 1999 yang lalu. Tanggal berapa tepatnya aku sudah lupa. Aku mempunyai seorang teman yang sangat dekat denganku, sebut saja namanya Heri. Aku dan Heri sama-sama kuliah di kota Yogyakarta pada sebuah universitas swasta yang sama pula. Karena kami satu kampus, maka kami sering bertemu baik waktu kuliah maupun di luar lingkungan kampus. Begitu akrabnya kami sampai urusan mencari cewek pun kami sering pergi berdua. Hingga suatu saat Heri bener-bener jatuh cinta dengan seorang gadis yang juga kuliah di salah satu akademi di kota Y juga, hubungan kami jadi agak renggang. Entahlah sejak berpacaran dengan Erika, nama pacarnya Heri itu, Heri begitu cemburuan. Memang harus kuakui kalau Erika memang termasuk cantik. Disamping itu Erika memang terlalu cantik untuk ukuran temanku, Heri itu. Padahal kalau menurutku, sih adalah hal yang biasa kalau cowok jelek pacarnya cantik. Kuharap temen-temen pembaca juga setuju. Kukatakan Erika cantik bukanlah penilaianku secara subjektif. Teman-temanku yang lain juga bilang begitu. Bagi kaum lelaki yang memandang mata Erika boleh jadi langsung birahi. Percaya atau tidak mata Erika begitu sayu seolah-olah minta digituin ditambah lagi dengan bibirnya yang seksi dan suka digigit-gigit kalau Erika sedang gemes. Tapi memang Erika cewek matre. Dasarnya aku berkata demikian karena sebelum pacaran dengan Heri, Erika punya pacar yang jauh lebih ganteng dari temanku, Heri. Erika juga pernah bilang kepadaku kalau lebih baik cowok nggak usah ganteng tapi kaya dibanding cowok ganteng tapi kere. Nah, lho.. Pagi itu aku kebetulan ada perlu sama Heri mengenai masalah kuliah. Aku mengendarai sepeda motor menuju kost Heri yang jaraknya kira-kira 2 km dari kontrakanku. Sesampainya di kost Heri, aku melihat garasi tempat mobil Heri biasa diparkir dalam keadaan kosong yang menandakan Heri sedang keluar. Namun aku tidak mengurungkan niatku untuk bertemu dengan Heri. Setelah aku memarkir sepeda motor teman yang kupinjam, aku masuk menuju ruang tamu yang pada saat itu pintunya dalam keadaan terbuka langsung menuju ke kamar Heri. Di dalam rumah itu ada 4 kamar dan kamar Heri yang paling pojok. Masing-masing kamar kelihatan tertutup pertanda tidak ada kehidupan di dalam rumah itu. Aku ingin menulis pesan di pintu kamar Heri karena memang aku sangat perlu dengannya. Samar-samar terdengar suara televisi dari dalam kamar Heri pertanda ada seseorang di dalam kamarnya. Aku memastikan kalau yang di dalam kamar itu adalah Erika, pacar Heri. Aku mengetuk pintu perlahan sambil memanggil nama temanku. Tidak beberapa lama kemudian pintu dibuka kira-kira sekepalan tangan dan kulihat wajah Erika nongol dari celah pintu yang terbuka. “Eh, Mas Doni.. Herinya kuliah Mas,” jawabnya sebelum aku bertanya. Entah mengapa pikiranku jadi negatif ketika menatap mata Erika yang sayu itu. Aku sambil tersenyum menatapnya. “Jam berapa pulangnya, Ka?” tanyaku sekedar berbasa-basi. “Mungkin jam 2 nanti, tapi mungkin bisa lebih lama, soalnya Heri sering molor sih waktunya,”´ jawabnya agak kesal. Saat itu kira-kira jam 10 pagi berarti Heri pulang kira-kira 4 atau 5 jam lagi, pikirku nakal. Aku mencoba mencari bahan pembicaraan yang kira-kira bisa memperpanjang obrolan kami agar aku bisa lebih dekat dengannya. Agak lama aku terdiam. Aku memandang matanya, bibirnya yang basah. Bibirnya yang dipoles warna merah menambah sensual bibirnya. Semakin lama aku melihatnya semakin aku terangsang. Sungguh, jantungku deg-degan saat Erika tidak berkedip sekejap pun membalas tatapan mataku. “Anak-anak ke mana semua, Ka?” tanyaku menanyakan anak-anak kost yang lain setelah agak lama kami terdiam. “Mas Doni mau cari Heri atau..” kata-katanya terputus tapi aku bisa menerjemahkan kelanjutan kalimatnya dari senyuman di bibirnya. Akhirnya aku memutuskan untuk to the point aja. “Aku juga pengen ketemu denganmu, Ka!” jawabku berpura-pura. Dia tertawa pelan, “Mas Doni kenapa, sih?” Dia memandangku. “Boleh aku masuk, Ka? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,” jawabku lagi. “Sebentar, ya Mas Don, kamarnya berantakan!” Erika lalu menutup pintu di depanku. Tidak beberapa lama berselang pintu terbuka kembali lalu dia mempersilakan aku masuk ke dalam kamar. Aku duduk di atas kasur yang digelar di atas lantai. Erika masih sibuk membereskan pakaian-pakaian yang bertebaran di atas sandaran kursi belajar. Aku menatap tubuh Erika yang membelakangiku. Saat itu dia mengenakan kaos ketat warna kuning yang memperlihatkan pangkal lengannya yang mulus. Aku memandang pinggulnya yang ditutup oleh celana pendek. Tungkainya panjang serta pahanya bulat dan mulus. Kemaluanku jadi tegang memandang semuanya ditambah khayalanku seandainya aku membelai-belai kedua pangkal pahanya. Kemudian Erika duduk di sampingku. Lututnya ditekuk sehingga celananya agak naik ke atas membuat pahanya semakin terpampang lebar. Kali ini tanpa malu-malu aku menatapnya dengan sepengetahuan Erika. Dia mencoba menarik turun agak ke bawah ujung celananya untuk menutupi pahanya yang sedang kunikmati. “Mas Doni mau bicara apa, sih?” katanya tiba-tiba. Saat itu otakku berpikir cepat, aku takut kalau sebenarnya aku tidak punya bahan pembicaraan yang berarti dengannya. Soalnya dalam pikiranku saat itu cuma khayalan-khayalan untuk bersetubuh dengannya. “Mmm.. Ka.. aku beberapa hari ini sering bermimpi,” kataku berbohong. Entah dari mana aku mendapatkan kalimat itu, aku sendiri tidak tahu tetapi aku merasa agak tenang dengan pernyataan itu. “Mimpi tentang apa, Mas?” Kelihatannya dia begitu serius menangapiku dilihat dari caranya memandangku Di Agen Domino 99. “Tentang kamu, Ka,” jawabku pelan. Bukannya terkejut, malah sebaliknya dia tertawa mendengar bualanku. Sampai-sampai Erika menutup mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar terlalu keras. “Emangnya Mas Doni mimpi apa sama aku?” tanyanya penasaran. “Ya.. biasalah, kamu juga pasti tahu,” jawabku sambil tertunduk. Tiba-tiba dia memegang tanganku. Aku benar-benar terkejut lalu menolehnya. “Mas Doni ini ada-ada saja, Mas Doni kan sudah punya pacar, lagian aku juga kan sudah punya pacar, masa masih mau mimpi-mimpiin orang lain?” “Makanya aku juga bingung, Ka. Lagian kalaupun bisa aku sebenarnya nggak ingin bermimpi tentang kamu, Ka,” jawabku. Kami sama-sama terdiam. Kuremas jemari tangannya lalu perlahan kuangkat menuju bibirku. Dia memperhatikanku pada saat aku melabuhkan ciuman mesra ke punggung tangannya. Aku menggeser posisi dudukku agar lebih dekat dengan tubuhnya. Aku memandangi wajahnya. Mata kami berpandangan. Wajahku perlahan mendekati wajahnya, mencari bibirnya, semakin dekat dan tiba-tiba wajahnya berpaling sehingga mulutku bendarat di pipinya yang mulus. Kedua tanganku kini bergerak aktif memeluk tubuhnya. Tangan kananku menggapai dagunya lalu mengarahkan wajahnya berhadapan dengan wajahku. Kuraup mulutnya seketika dengan mulutku. Erika menggeliat pelan sambil menyebutkan namaku. “Mas Don, cukup Mas!” tangannya mencoba mendorong dadaku untuk menghentikan kegiatanku. Aku menghentikan aksiku lalu pura-pura meminta maaf kepadanya. “Maafin aku, Ka.. aku nggak sanggup lagi jika setiap malam memimpikan dirimu.” Aku pura-pura menunduk lagi seolah-olah menyesali perbuatanku. “Aku mengerti Mas Don, Aku juga nggak bisa menyalahkan Mas Doni karena mimpi itu.” Aku menatap wajahnya lagi. Ada semacam kesedihan di wajahnya hanya saja aku tak tahu apa penyebabnya. Pipinya masih kelihatan memerah bekas cumbuanku tadi. “Aku juga ingin membantu Mas Doni agar tidak terlalu memikirkanku, tapi..”´ kalimatnya terputus. Dalam hati aku tersenyum dengan kalimat ingin membantu yang diucapkannya. “Ka, aku cuma ingin pergi berdua denganmu, sekali saja.. agar aku bener-bener bisa melupakanmu,” kataku memohon. “Kita kan sama-sama sudah punya pacar, Mas Don, nanti kalau ketahuan gimana?” ´ Nah, kalau sudah sampai disini aku merasa mendapat angin. Kesimpulannya dia mau asal jangan sampai ketahuan sama pacarnya. Batinku tertawa penuh kemenangan. “Seandainya ketahuan aku akan bertanggung jawab, Ka” setelah itu aku memeluknya lagi. Dan kali ini dia benar-benar pasrah dalam pelukanku. Malah tangannya ikut mambalas memeluk tubuhku. Telapak tanganku perlahan mengelus punggungnya dengan mesra sementara bibirku tidak tinggal diam menciumi pipi lalu turun ke lehernya yang jenjang. Erika mendesah. Kuciumi kulitnya dengan penuh nafsu. Mulutku meraup bibirnya. Erika diam saja. Kulumat bibirnya lalu kujulurkan lidahku perlahan seiring mulutnya mempersilakan lidahku untuk menjelajah rongga mulutnya. Nafasnya mulai tidak teratur ketika lidahku memilin lidahnya. Kesempatan ini kugunakan untuk membelai buah dadanya. Perlahan telapak tanganku kutarik dari punggungnya melalui ketiaknya. Tanpa berhenti membelai telapak tanganku kini sudah berada pada sisi buah dadanya. Aku benar-benar berahi saat itu. Apalagi aku sudah sering membayangkan kesempatan seperti saat ini bersamanya. Kini telapak tanganku sudah berada di atas gundukan daging di atas dadanya. Besar juga pikirku, kalau tidak salah dari kebiasaan tanganku menggenggam payudara cewekku mencoba menduga-duga payudaranya ukuran 34. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, justru yang seperti ini yang paling nikmat. Pada saat tanganku mulai meremas buah dadanya yang sebelah kanan tangan Erika mencoba menahan aksiku. Payudaranya masih kencang dan padat membuatku semakin bernafsu untuk meremas-remasnya. “Mas Don, jangan sekarang Mas..” “Aku takut..” katanya berulang kali. Aku juga merasa tindakanku saat itu betul-betul nekat, apalagi pintu kamar masih terbuka setengah. Jangan-jangan ada anak kost lain yang melihat perbuatan kami. Wah, bisa gawat jadinya. Aku akhirnya berdiri dari tempat dudukku untuk menenangkan suasana. Soalnya bagaimanapun juga Erika sudah bisa kunikmati, tinggal menunggu waktu yang tepat. Lagian aku bukanlah tipe laki-laki yang suka terburu-buru dalam berbagai hal, khususnya dalam masalah seks. Aku kini duduk di kursi menghadap Erika sedangkan Erika masih di atas kasur sambil memperbaiki rambut dan kaosnya kuningnya yang agak kusut. “Mas Doni mau ngajakku ke mana, sih,” Erika menatap wajahku. “Pokoknya tempat di mana tidak ada orang yang bisa mengganggu ketenangan kita, Ka,” jawabku sambil memandang permukaan dadanya yang baru saja kuremas-remas. Erika duduk sambil bersandar dengan kedua tangan di belakang untuk menahan tubuhnya. Payudaranya jadi kelihatan menonjol. Aku memandang nakal ke arah buah dadanya sambil tersenyum. Kakinya diluruskan hingga menyentuh telapak kakiku. “Tapi kalau ketahuan.. Mas Doni yang tanggung jawab, ya” katanya mencoba menuntut pernjelasanku lagi. Aku mengangguk. “Terus kapan jalan-jalannya, Mas Don?” “Gimana kalo besok sore jam 4?” tanyaku. “Ketemu di mana?” tanyanya penasaran. “Kamu telepon aku dari wartel lalu aku akan menjemputmu di wartel itu, gimana?” tanyaku lagi. Dia tersenyum menatapku, “Wah, Mas Doni ternyata pintar banget untuk urusan begituan.” Aku tertawa. “Tapi aku nggak mau kalau Mas Doni nidurin aku,” tegasnya. Aku terkejut namun pura-pura mengiyakan, soalnya tadi aku merasa besok aku sudah bisa menikmati kehangatan tubuh Erika. Makanya besok sengaja aku memilih waktu sore hari karena aku ingin mengajaknya menginap. Namun aku diam saja, yang penting dia sudah mau aku ajak pergi, tinggal penyelesaiannya saja. Lagian ngapain dia mesti minta tanggung jawab seandainya aku tidak berbuat apa-apa dengannya, pikirku lagi. Ah, lihat besok sajalah. Akhirnya aku mesti pulang ke rumah, di samping memang Erika juga menyuruhku segera pulang karena dia juga takut kalau tiba-tiba Heri memergoki kami sedang berdua di kamar. Namun sebelum pulang aku masih sempat menikmati bibir Erika sekali lagi waktu berdiri di samping pintu. Aku malah sempat menekan tubuh Erika hingga punggungnya bersandar di dinding. Kesempatan ini kugunakan untuk menekan kejantananku yang sedari tadi butuh penyaluran ke selangkangannya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena situasinya memang tidak memungkinkan. Di rumah aku gelisah terus. Kemaluanku tegang terus membayangkan apa yang telah dan bakal aku lakukan terhadap Erika. Akhirnya sore itu aku menjemput pacarku Era untuk melampiaskan nafsuku yang sudah tidak terkendali lagi. Bersama Era aku mencoba berfantasi sedang bersetubuh dengan Erika. Untung saja Era tidak tahu kalau sebenarnya aku sedang membayangkan Erika karena pada saat orgasme mulutku mengerang memanggil nama Erika. Besoknya, aku merasa waktu begitu lama berjalan. Hingga tiba jam 4 sore aku menanti telepon dari Erika. Aku mulai gelisah ketika 15 menit berlalu Erika belum menelepon juga. Aku mulai menghitung detik-detik yang berlalu hingga hampir setengah jam, namun tiba-tiba.. teleponku berbunyi. Seketika aku berlari menuju ruangan telepon. Dari seberang sana aku mendengar suara Erika yang kunanti-nantikan. Erika meminta maaf sebelumnya dan menyuruhku untuk menjemputnya di wartel dekat pertigaan menuju kampusku. Aku langsung menyambar kunci mobil lalu bergegas menuju wartel tempat di mana Erika sedang menungguku. Aku memarkir mobil di depan wartel itu, dan tak lama berselang kulihat Erika dengan memakai kaos ketat warna orange bertuliskan Mickey Mouse di bagian dadanya serta celana jeans warna abu-abu. Erika langsung naik ke atas mobil setelah memastikan tidak ada orang lain yang mengenalnya di tempat itu. Aku tersenyum memandangnya. Erika kelihatan begitu cantik hari ini. Bibirnya hari ini dipoles warna silver, bikin jantung ini semakin deg-degan. Segera kutancap gas menuju arah KG yang berhawa sejuk kira-kira 30 km dari kota Y. Selama di perjalanan aku dan Erika bercerita tentang Heri dan Era, pacarku. Sampai di KG aku mengajak Erika makan pada sebuah rumah makan yang nuansa romantisnya sangat terasa. Aku tanpa canggung lagi memeluk pinggang Erika pada saat kami memasuki rumah makan tersebut. Erika juga melingkarkan tangannya di pinggangku. Setelah memesan makanan dan minuman aku memeluknya lagi. Tanganku bergerilya di sekitar pinggangnya yang terbuka. Suasana lesehan yang ruangan yang dibagi-bagi beberapa tempat di rumah makan itu membuat aku bisa bertindak leluasa kepada Poker Online. “Tadi malam mimpi lagi, nggak?” tanyanya. “Nggak, tapi aku sempat membayangkanmu waktu aku lagi main sama Era,” jawabku tanpa malu-malu. Erika tertawa, sambil tangannya mencubit pinggangku. Hari sudah agak malam ketika kami meninggalkan tempat itu. Setelah berputar-putar di sekitar lokasi pegunungan, akhirnya aku memutuskan untuk menyewa sebuah kamar pada sebuah penginapan. Semula Erika menolak soalnya dia takut kalau kami tidak bisa menahan diri. Aku akhirnya meyakinkan Erika bahwa sebenarnya aku cuma ingin berdua saja dengannya, sambil memeluk tubuhnya, itu saja. Akhirnya Erika mengalah. Dalam kamar penginapan itu Erika tampak jadi pendiam. Dia duduk di atas kursi sementara aku di atas tempat tidur. Aku mencoba menghiburnya dengan bertanya tentang kuliah serta keluarganya termasuk hubungannya dengan Heri. Selama aku bertanya dia cuma menjawab ya dan tidak, cuma itu yang keluar dari mulutnya. “Mas Doni pasti menganggap aku cewek murahan, ya kan?” akhirnya dia berbicara juga jadinya. Ternyata Erika masih belum bisa menerima perlakuanku dengan membawanya ke dalam penginapan ini. Namun aku tidak menyesal karena dalam pikiranku sebenarnya dia sudah tahu apa yang bakalan terjadi sejak kejadian kemarin pagi di kamar Heri. Tinggal bagaimana caranya aku menyeretnya ke atas ranjang tanpa ada pemaksaan sedikitpun. “Ka, aku sudah bilang sejak kemarin kalau aku ingin berduaan saja bersamamu, memelukmu tanpa ada rasa takut, dan kurasa di sinilah tempatnya,” jawabku mencoba memberikan pengertian kepadanya. “Tapi apa Mas Doni sanggup untuk tidak melakukannya?” Erika menatapku tajam. “Kalau kamu gimana?” aku malah balik bertanya. “Aku tanya Mas Doni, kok malah balik nanya ke aku?” tanyanya agak ketus. “Aku sanggup, Ka” tegasku. Akhirnya dia tersenyum juga. Erika lalu berjalan ke arahku menuju tempat tidur lalu duduk di sampingku. Aku lalu merangkul tubuhnya lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. “Janji ya, Mas Don!” ujarnya lagi. Aku mengangguk. Aku kini memeluk tubuh Erika dengan posisi menyamping sedang Erika menghadap langit-langit kamar. Kucium pipinya sambil jemariku membelai-belai bagian belakang telinganya. Matanya terpejam seolah menikmati usapan tanganku. Kupandangi wajahnya yang manis, hidungnya yang mancung lalu bibirnya. Tak tahan berlama-lama menunggu akhirnya aku mencium bibirnya. Kulumat mesra lalu kujulurkan lidahku. Mulutnya terbuka perlahan menerima lidahku. Lama aku mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Lidahnya begitu agresif menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai nafas kami berdua menjadi tidak beraturan. Sesaat ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi dan lagi. Tangan kiriku yang bebas untuk melakukan sesuatu terhadap Erika kini mulai kuaktifkan. Kubelai pangkal lengannya yang terbuka. Kubuka telapak tanganku sehingga jempolku bisa menggapai permukaan dadanya sambil membelai pangkal lengannya. Bibirku kini turun menyapu batang lehernya seiring telapak tanganku meraup buah dadanya. Erika menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik mentari. Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutnya di saat lidahku menjulur menikmati batang lehernya yang jenjang. “Mas Don, jangan..!” Erika mencoba menarik telapak tanganku yang kini sedang meremas-remas buah dadanya. Aku tidak peduli lagi. Lagian dia juga tampaknya tidak sungguh-sungguh untuk melarangku. Hanya mulutnya yang melarang sedang tangannya cuma memegang pergelangan tanganku sambil membiarkan telapak tanganku terus mengelus dan meremas buah dadanya yang montok membusung. Suasana alam pegunungan yang dingin saat ini sangat kontras dengan keadaan di dalam kamar tempat kami bergumul. Aku dan Erika mulai kegerahan. Aku akhirnya membuka kaosku sehingga bertelanjang dada. “Ka, aku ingin melihat buah dadamu, Sayang..” ujarku sambil mengusap bagian puncak payudaranya yang menonjol. Dia menatapku. Mestinya aku tidak perlu memohon kepadanya karena saat itupun aku sudah membelai dan meremas-remas buah dadanya, tapi entah kenapa aku lebih suka jika Erika membuka kaosnya sendiri untukku. “Tapi janji Mas Don ya, cuma yang ini aja,” katanya lagi. Aku cuma mengangguk, padahal aku tidak tahu apa yang mesti kujanjikan lagi. Erika akhirnya membuka kaos ketat warna orange-nya di depanku. Aku terkagum-kagum menatap gundukan daging di dadanya yang tertutup oleh BH berwarna hitam. Payudara itu begitu membusung, menantang. Buah dada Erika naik turun seiring dengan desah nafasnya yang memburu. Sambil berbaring Erika membuka pengait BH-nya di punggungnya. Punggungnya melengkung indah. Aku menahan tangan Erika ketika dia mencoba untuk menurunkan tali BH-nya dari atas pundaknya. Justru dengan keadaan BH-nya yang longgar karena tanpa pengait seperti itu membuat payudaranya semakin menantang. Payudaranya sangat montok sama seperti yang selama ini kubayangkan. “Buah dadamu bagus, Ka” aku mencoba mengungkapkan keindahan pada tubuhnya. “Pantes si Heri jadi tergila-gila sama Erika,” pikirku. Perlahan aku menarik turun cup BH-nya. Mata Erika terpejam. Perhatianku terfokus ke puting susunya yang berwarna kecoklatan. Lingkarannya tidak begitu besar sedang ujungnya begitu runcing dan kaku. Kuusap putingnya lalu kupilin dengan jemariku. Erika mendesah. Mulutku turun ingin mencicipi buah dadanya. “Egkhh..” rintih Erika ketika mulutku melumat puting susunya. Kupermainkan dengan lidah dan gigiku. Sekali-sekali kugigit putingnya lalu kuisap kuat-kuat sehingga membuat Erika menarik rambutku. Puas menikmati buah dada yang sebelah kiri, aku mencium buah dada Erika yang satunya yang belum sempat kunikmati. Rintihan-rintihan dan desahan kenikmatan silih berganti keluar dari mulut Erika. Sambil menciumi buah dada Erika, tanganku turun membelai perutnya yang datar, berhenti sejenak di pusarnya lalu perlahan turun mengitari lembah di bawah perut Erika. Kubelai pahanya sebelah dalam terlebih dahulu sebelum aku memutuskan untuk meraba bagian kewanitaannya yang masih tertutup oleh celana jeans ketat yang dikenakan Erika. Aku secara tiba-tiba menghentikan kegiatanku lalu berdiri di samping ranjang. Erika tertegun sejenak memandangku, lalu matanya terpejam kembali ketika aku membuka jeans warna hitam yang kukenakan. Sengaja aku membiarkan lampu yang menyala terang agar aku bisa melihat secara jelas detil dari setiap inci tubuh Erika yang selama ini sering kujadikan fantasi seksku. Aku masih berdiri sambil memandang tubuh Erika yang tergolek di ranjang, menantang. Kulitnya yang tidak terlalu putih membuat mataku tak jemu memandang. Perutnya begitu datar. Celana jeans ketat yang dipakainya telihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekukan pantatnya yang sempurna. Puas memandang tubuh Erika, aku lalu membaringkan tubuhku di sampingnya. Kurapikan untaian rambut yang menutupi beberapa bagian pada permukaan wajah dan leher Erika. Kubelai lagi buah dadanya. Kucium bibirnya sambil kumasukkan air liurku ke dalam mulutnya. Erika menelannya. Tanganku turun ke bagian perut lalu menerobos masuk melalui pinggang celana jeans Erika yang memang agak longgar. Jemariku bergerak lincah mengusap dan membelai selangkangan Erika yang masih tertutup celana dalamnya. Erika menahan tanganku ketika jari tengah tanganku membelai permukaan celana dalamnya tepat diatas kemaluannya, basah. Aku terus mempermainkan jari tengahku untuk menggelitik bagian yang paling pribadi tubuh Erika. Pinggul Erika perlahan bergerak ke kiri, ke kanan dan sesekali bergoyang untuk menetralisir ketegangan yang dialaminya. “Mas Don, nanti kita terlalu jauh, Mas..” ujarnya perlahan sambil menatap sayu ke arahku. Melihat matanya yang sayu ditambah dengan rangsangan yang dialami Erika menambah redup bola matanya. Swear, aku semakin bernafsu melihatnya. Aku menggeleng lalu tersenyum. Dibilang begitu aku malah menyuruh Erika untuk membuka celana jeans yang dipakainya. Tangan kanan Erika berhenti pada permukaan kancing celananya. Kelihatannya dia ragu-ragu. Aku lalu berbisik mesra ke telinganya kalau aku ingin memeluknya dalam keadaan telanjang seperti yang selama ini aku mimpikan. Erika lalu membuka kancing dan menurunkan reitsliting celana jeans-nya. Celana dalam hitam yang dikenakannya begitu mini sehingga rambut-rambut keriting yang tumbuh di sekitar kemaluannya hampir sebagian keluar dari pinggir celana dalamnya. Aku membantu menarik turun celana jeans Erika. Pinggulnya agak dinaikkan ketika aku agak kesusahan menarik celana jeans Erika. Posisi kami kini sama-sama tinggal mengenakan celana dalam. Tubuhnya semakin seksi saja. Pahanya begitu mulus. Memang harus kuakui tubuhnya begitu menarik dan memikat, penuh dengan sex appeal. Erika menarik selimut untuk menutupi permukaan tubuhnya. Aku beringsut masuk ke dalam selimut lalu memeluk tubuh Erika. Kami berpelukan. Kutarik tangan kirinya untuk menyentuh batang kejantananku. Dia terkejut mendapatkan kemaluanku yang tanpa penutup lagi. Memang sebelum masuk ke dalam selimut, aku sempat melepaskan celana dalamku tanpa sepengetahuan Erika. Aku tersenyum. “Oh..” Erika semakin kaget ketika tangannya menyentuh kemaluanku yang tegang. “Kenapa, Ka?” tanyaku pura-pura tidak mengerti. Padahal aku tahu dia pasti terkejut karena merasakan kejantananku yang kokoh. Erika tersenyum malu. Kemaluanku yang panjangnya kira-kira 18 cm serta agak gemuk membuat Erika malu tapi mau, ditambah takut, mungkin. Erika mulai berani membelai dan menggenggam kejantananku. Belaiannya begitu mantap menandakan Erika juga begitu piawai dalam urusan yang satu ini. “Tangan kamu pintar juga ya, Ka,”´ ujarku sambil memandang tangannya yang mengocok senjataku. “Ya, mesti dong!” jawabnya sambil cekikikan. “Mas Doni sama Era satu minggu bisa main berapa kali, Mas?” tanyanya sambil terus mengurut-urut batang zakarku. “Setiap ketemu pasti main, kalau kamu sama Heri?” aku malah balik bertanya. Mendapat pertanyaan seperti itu entah kenapa nafsuku tiba-tiba semakin liar namun aku tetap bertahan untuk sementara waktu sebelum menyetubuhinya. Erika akhirnya bercerita kalau Heri ternyata suka main perempuan, padahal bukankah sudah ada dirinya? Mau berapa kali Heri meminta, Erika pasti melayaninya. Akhirnya aku jelaskan kalau cowok memang begitu. Sudah dari sononya. Sama seperti aku, kenapa masih menginginkan Erika padahal Era siap melayaniku setiap waktu. Sambil memberikan perjelasan begitu jari-jariku yang nakal masuk dari samping celana dalam langsung menyentuh bukit kemaluan Erika yang sudah basah. Telunjukku membelai-belai klitorisnya sehingga Erika keenakan. “Kamu biasa ngisep nggak, Ka?” tanyaku tanpa malu-malu lagi. Erika tertawa sambil mencubit batang kemaluanku. Aku meringis. “Kalo punya Mas Doni mana bisa?” ujarnya. “Kenapa memangnya?” tanyaku penasaran. “Nggak muat di mulutku,” selesai berkata demikian Erika langsung tertawa kecil. “Kalau yang dibawah, gimana?” tanyaku lagi sambil menusukkan jari tengahku ke dalam lubang kemaluannya. Erika merintih sambil menahan tanganku. Jariku sudah tenggelam ke dalam liang senggamanya. Aku merasakan liang kewanitaannya berdenyut menjepit jariku. Uh,pasti nikmat sekali kalau kemaluanku yang diurut, pikirku. Matanya memandang tajam ke arah DominoQQ Online. Kenapa, sayang?” aku bertanya sambil menarik tanganku dari liang kewanitaannya. Aku tahu dia marah. Tapi kenapa? Ini anak, kok aneh banget, jual mahal lagi, pikirku. Atau dia ingat Heri lalu merasa bersalah? Terus ngapain dia mau kucumbuin sejak kemarin? “Mas Doni kan sudah janji untuk tidak melakukannya, kan?” tiba-tiba Erika berbicara. Aku terdiam. “Aku tadi nggak mau kita masuk ke penginapan, karena aku takut kita nggak bisa menahan keinginan untuk melakukannya, Mas Don,” tambahnya memberikan pengarahan kepadaku. “Bagaimanapun juga khusus untuk yang satu ini tidak dapat aku berikan buat Mas Doni. Bukan hanya Mas Doni, aku juga sebenarnya sudah nggak tahan. Aku nggak munafik, Mas Don. Tapi.. kumohon Mas Doni mau mengerti sampai saatnya aku benar-benar siap,” sambil berkata demikian Erika mencium keningku. Aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Dalam posisi yang sudah sama-sama telanjang kecuali Erika yang masih mengenakan celana dalamnya, berdua di dalam sebuah kamar lagi dapat dibayangkan apa sebenarnya yang bakal terjadi. Tetapi kali ini tidaklah demikian. Bayanganku tentang kenikmatan saat bersetubuh dengan Erika sirna sudah, atau setidaknya tidak dapat kurasakan saat ini. Tapi sampai kapan? Aku jadi berpikiran untuk memaksanya saja tetapi hal itu bertentangan dengan hati nuraniku. Akhirnya aku cuma bisa pasrah dan diam. Kemaluanku yang tadi kurasakan tegang tiba-tiba jadi lemas dalam genggaman Erika. Erika meminta maaf kepadaku menyadari kalau aku kecewa dengan pernyataannya. Merasa aku sudah tak mungkin bisa untuk melanjutkan permainan lagi aku akhirnya meminta ijin kepada Erika untuk mandi. Sungguh aku kecewa sekali. Di kamar mandi lama aku terdiam. Aku memandang tubuhku di depan cermin. Kemudian kuguyur tubuhku dengan air yang mengalir dari shower di atas kepalaku. Aku ingin mendinginkan suhu tubuhku. Tiba-tiba aku merasakan tubuh yang memelukku dari belakang. Aku terkejut namun cuma sesaat setelah menyadari Erika di belakangku. Dia tersenyum memandangku. Eh, lagi-lagi sungguh aku masih kesel nih, gumamku. Tapi aku mencoba membalas senyumannya. “Aku ingin mandi bersama Mas Doni,” pintanya manja. Kutarik tubuhnya untuk berhadapan denganku. Masih di bawah guyuran air yang mengalir dari shower aku menangkap lengannya lalu memandang tajam ke arahnya. Berulang kali tangannya mencoba mengusap wajahnya dari guyuran air. Rambutnya yang basah menambah seksi wajahnya. Perlahan tanganku menangkap buah dadanya dan meremasnya kuat. Erika meringis. Bukannya melarang, Erika malah mengambil sabun lalu menyabuni tubuhku. Mula-mula dada, punggung lalu menuju kemaluanku. Aku merasa aneh atas sikapnya yang berubah-ubah dan suka menggoda. Diusapnya lembut batang kemaluanku yang sedikit demi sedikit mulai mengeras kembali. Tangannya yang penuh busa sabun begitu kreatif mengocok batang kejantananku sehingga aku merasa keenakan. Aku tidak hanya tinggal diam, kubalas menyabuni sekujur tubuh Erika. Aku mengikuti setiap gerakan yang dibuatnya terhadap tubuhku lalu kupraktekkan kepadanya. Aku membalikkan tubuh Erika membelakangiku. Sengaja kubiarkan tubuhnya di depanku agar aku dapat melihat bagian depan tubuhnya pada permukaan cermun di depannya. Aku melihat wajah Erika pada permukaan cermin, Mata kami beradu pandang sementara tanganku membelai-belai buah dadanya yang montok. Kupermainkan puncak payudaranya dengan jemariku, sementara tanganku yang satunya mulai meraba bulu-bulu lebat di sekitar liang kewanitaan Erika. Dengan sedikit membungkukkan tubuh, kuraba permukaan liang kewanitaan Erika. Jari tengahku mempermainkan klitorisnya yang mengeras terkena siraman air. Batang kemaluanku kini sudah siap tempur dalam genggaman tangan Erika, sementara liang kewanitaan Erika juga sudah mulai mengeluarkan cairan kental yang kurasakan dari jemari tanganku yang mengobok-obok kemaluan Erika. Aku membalikkan tubuh Erika kembali sehingga berhadap-hadapan denganku. Kupeluk tubuh Erika sehingga batang kemaluanku menyentuh pusarnya. Tanganku membelai punggung lalu turun meraba pantatnya yang montok. Erika membalas pelukanku dengan melingkarkan tangannya di pundakku. Kedua telapak tanganku meraih pantat Erika, kuremas dengan sedikit agak kasar lalu kuangkat agak ke atas agar batang kemaluanku tepat mengenai liang kewanitaannya. Kaki Erika kini tak lagi menyentuh permukaan lantai kamar mandi. Kaki Erika dengan sendirinya mengangkang ketika aku mengangkat pantatnya. Meski agak susah namun aku tetap berusaha agar batang kemaluanku bisa masuk merasakan jepitan liang kewanitaan Erika. Kurasakan kepala batang kemaluanku sudah menyentuh bibir liang kewanitaan Erika. Kutekan perlahan seiring menarik pantatnya ke tubuhku. Erika menggeliat. Aku merasa kesulitan untuk memasukkan batang batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaan Erika berhubung karena kelaminku yang terus-terusan basah terkena air shower. Kuangkat tubuh Erika ke luar dari kamar mandi. Bagaimanapun juga aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, apalagi Erika hanya diam saja ketika aku berusaha menyusupkan batang kemaluanku ke liang senggamanya. Erika melingkarkan kedua kakinya di pinggangku pada saat aku membawanya menuju tempat tidur. Kubaringkan tubuhnya di atas kasur menyusul tubuhku di atasnya tanpa mempedulikan butiran-butiran air yang masih menempel di sekujur tubuh kami hingga membasahi permukaan kasur. Kuciumi lagi lehernya yang jenjang lalu turun melumat buah dadanya. Telapak tanganku terus membelai dan meremas setiap lekuk dan tonjolan pada tubuh Erika. Aku melebarkan kedua pahanya sambil mengarahkan batang kemaluanku ke bibir kemaluan Erika. Erika mengerang lirih. Matanya perlahan terpejam. Giginya menggigit bibir bawahnya untuk menahan laju birahinya yang semakin kuat. Aku menatap mata Erika penuh nafsu seakan memohon kepadanya untuk memasuki tubuhnya. “Aku ingin mengentotmu, Ka” bisikku pelan, sementara kepala kemaluanku masih menempel di belahan liang kewanitaan Erika. Sengaja aku memilih kata mengentot agar kesan joroknya lebih terasa. Kata ini ternyata membuat wajah Erika memerah. Mungkin dia jarang mendengarnya padahal aku begitu sering mengungkapkannya kepada setiap wanita yang kusetubuhin. Kupastikan Erika malu mendengarnya. Aku berhenti sesaat untuk menunggu jawaban darinya, sebab bagaimana pun aku tidak mau melakukannya tanpa persetujuan darinya. Aku bukan tipe cowok yang demikian. Bagiku seks adalah kesepakatan, sepakat berdasarkan kesadaran tanpa adanya unsur pemaksaan. Erika menatapku sendu lalu mengangguk pelan sebelum memejamkan matanya. Bukan main senangnyahatiku, akhirnya.. “yes!”. Aku akan memperlakukannya dengan hati-hati sekali begitu dalam pikiranku. Kini aku berkonsentrasi penuh dengan menuntun batang kemaluanku yang perlahan menyusup ke dalam liang kewanitaan Erika. Terasa seret, memang, namun aku malah semakin menyukainya. Perlahan namun pasti batang kemaluanku membelah liang kewanitaannya yang ternyata begitu kencang menjepit batang kemaluanku. Liang kewanitaan Erika begitu licin hingga agak memudahkan batang kemaluanku untuk menyusup lebih ke dalam. Erika memeluk erat tubuhku sambil membenamkan kuku-kukunya di punggungku hingga aku agak kesakitan. Namun aku tak peduli. “Mas Don, gede banget, ohh..” Erika menjerit lirih. Tangannya turun menangkap batang kemaluanku. “Pelan Maas,” ujarnya berulang kali, padahal aku merasa aku sudah melakukannya dengan begitu pelan dan hati-hati. Mungkin karena lubang kemaluannya baru kali ini dimasuki oleh batang kemaluan seperti milikku ini. Soalnya aku tahu pasti ukuran batang kemaluan Heri, pacar Erika tidaklah sebesar yang kumiliki. Makanya Erika agak kesakitan. Akhirnya batang kemaluanku terbenam juga di dalam kewanitaan Erika. Aku berhenti sejenak untuk menikmati denyutan-denyutan yang timbul akibat kontraksi otot-otot dinding kewanitaan Erika. Denyutan itu begitu kuat sampai-sampai aku memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang begitu sempurna. Kulumat bibir Erika sambil perlahan-lahan menarik batang kemaluanku untuk selanjutnya kubenamkan lagi. Aku menyuruh Erika membuka kelopak matanya. Erika menurut. Aku sangat senang melihat matanya yang semakin sayu menikmati batang kemaluanku yang keluar masuk dari dalam kemaluannya. “Aku suka memekmu, Kaa.. memekmu masih rapet, Sayang” ujarku sambil merintih keenakan. Sungguh, liang kewanitaan Erika enak sekali. “Ihh.. Mas Doni ngomongnya vulgar banget,” balasnya sambil tersipu malu lalu mencubit pinggangku. “Tapi enak kan, Sayang?” tanyaku lalu dijawab Erika dengan anggukan kecil. Aku menyuruh Erika untuk menggoyangkan pinggulnya. Erika langsung mengimbangi gerakanku yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangnya. “Suka batang kemaluanku, Ka?” tanyaku lagi. Erika hanya tersenyum. batang kemaluanku seperti diremas-remas ditambah jepitan liang senggamanya yang sepertinya punya kekuatan magis untuk menyedot batang kemaluanku. Pintar juga dia menggoyang, batinku. “Ohh.. hh..” aku menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat. Aku mencoba mengangkat dadaku, membuat jarak dengan dadanya dengan bertumpu pada kedua tanganku. Dengan demikian aku semakin bebas dan leluasa untuk mengeluar-masukkan batang kemaluanku ke dalam liang senggama Erika. Kuperhatikan batang kemaluanku yang keluar masuk dari dalam liang senggamanya. Dengan posisi seperti ini aku merasa begitu jantan. Erika semakin melebarkan kedua pahanya sementara tangannya melingkar erat di pinggangku. Gerakan naik turunku semakin cepat mengimbangi goyangan pinggul Erika yang semakin tidak terkendali. “Ka.. enak banget, sayang, kamu pintar, Sayang..” ucapku keenakan. “Aku juga, Mas Don..” jawabnya mali-malu. Erika merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan. Berulang kali mulutnya mengeluarkan kata, “aduh” yang diucapkan terputus-putus. Aku merasakan liang senggama Erika semakin berdenyut sebagai pertanda Erika akan mencapai puncak pendakiannya. Aku juga merasakan hal yang sama dengannya, namun aku mencoba bertahan dengan menarik nafas dalam-dalam lalu bernafas pelan-pelan untuk menurunkan daya rangsangan yang kualami. Aku tidak ingin segera menyudahi permainan ini hanya dengan satu posisi saja. Aku mempercepat goyanganku ketika kusadari Erika hampir mencapai orgasmenya. Kuremas buah dadanya kuat seraya mulutku menghisap dan menggigit puting susu Erika. Kuhisap dalam-dalam. “Ohh.. hh.. Mas Donii..” jerit Erika panjang. Aku membenamkan batang kemaluanku kuat-kuat ke liang senggamanya sampai mentok agar Erika mendapatkan kenikmatan yang sempurna. Tubuhnya melengkung indah dan untuk beberapa saat lamanya tubuhnya kejang. Kepalaku ditarik kuat terbenam diantara buah dadanya. Pada saat tubuhnya menyentak-nyentak aku tak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi. “Kaa.. aakuu.. keluaarr, Saayang.. Ohh.. hh..” jeritku. Aku ingin menarik keluar batang kemaluanku dari dalam liang senggamaknya. Namun Erika masih merasakan orgasmenya sehingga pinggangku serasa dikunci oleh kakinya yang melingkar di pinggangku. Saat itu juga aku memuntahkan cairan hangat dari batang kemaluanku. Kurasakan tubuhku bagai melayang terbang, tidak berbobot. Aku tak sempat menarik keluar batang kemaluanku lagi karena secara spontan Erika juga menarik pantatku kuat ke tubuhnya. Mulutku yang berada di belahan dada Erika kuhisap kuat hingga meninggalkan bekas merah pada kulitnya. Telapak tanganku mencengkram buah dada Erika. Kuraup semuanya sampai-sampai Erika kesakitan. Aku tak peduli lagi. Spermaku akhirnya muncrat membasahi lubang sorganya. Aku merasakan nikmat yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggul Erika pada saat aku mengalami orgasme. Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Erika. Batang kemaluanku masih berada di dalam liang kenikmatan Erika. Erika mengusap-usap permukaan punggungku. “Kamu menyesal, Ka?” ujarku sambil mencium pipinya. Erika menggeleng pelan sambil membalas membelai rambutku. Aku tersenyum kepadanya. Erika membalas. Kusandarkan kepalaku di dadanya. Jam telah menunjukkan pukul 1700 dan aku mesti menjemput Era, kekasihku dan begitu pula dengan Erika yang mesti menemani Heri. Sebelum berpisah, kami berciuman untuk beberapa saat. Baca Juga Berita Baca Berita >>>KLIK DAFTAR<<< Kepoin Promo HondaQQ *Bonus Rollingan Dibagikan Setiap 7 Hari Sekali *Bonus Refferal 20% Seumur Hidup Secara Otomatis *Bonus Extra Refferal 10% Yang Dibagikan Setiap Awal Bulan *Bonus Extra Turnover Dibagikan Setiap 15 Hari Sekali Sesuai TOBettingan Yang Di Terapkan Sebagai Berikut – TurnOver 10Juta = FreeChips Rp. – TurnOver 25Juta = FreeChips Rp. – TurnOver 50Juta = FreeChips Rp. – TurnOver 100juta = FreeChips Rp. – TurnOver 200Juta = FreeChips Rp. *Minimal Deposit Dan Withdraw Hanya Rp. Link -Http// -Http// -Htpp// BBM D8D14919 WA +85569718027 Email CshondaQQ
Cerita 69 - Kuperkosa Adik Pacarku Yang Montok - Ini merupakan sebuah cerita yang pernah terjadi pada bulan januari tahun lalu ketika aku punya pacar, dan pacarku juga memiliki adik yang sangat seksi sekali sama dengan akaknya. Tapi pacaarku tidak pernah memberiku suatu kenikmatan yang sangat berlebih dibandingkan dengan adiknya yang sengaja aku perkosa saja demi memuaskan hasrat birahiku kali ini memang merupakan kenikmatan seks dari adik pacarku yang seksi dan bergairah sekali. Begini awal kisanya dari cerita bebas kali ini, kisah kali ini merupakan kisah nyataku bersama dengan seorang cewek sebut saja namanya putri, Putri adalah adik dari cewekku, cewekku itu telah mengkhianatiku sehingga timbul niatan yang tidak baik didiriku untuk membalas, tetapi karena aku dengan cewekku beda kota, jadinya niat itu agak sulit terwujud, namun putri adik dari cewekku itu kebetulan kuliah di adalah kota tempat tinggalku, dengan banyak hiruk pikuk banyak anak sekolah. Putri berumur 19 tahun, dan aku sendiri berumur 24 tahun. Putri menganggapku sebagai kakakknya, karena dari dulu putri sangat menginginkan punya kakak laki2, sedangkan mereka hanya 2 bersodara, begitu juga aku yang menginginkan seorang adik cewek, pada mulanya kami sering pergi bareng, bahkan putri pernah menunggui aku ketika aku mengalami sakit parah di RS, tetapi kembali lagi bahwa tidak ada niatan dan rasa apa-apa, karena kami selalu menganggap bahwa kami adalah saudara iya Putri cewek dengan tinggi sekitar 165cm, dengan berat 45 kg, cukup kurus memang, wajah spesifik khas orang jawa, ya mirip-mirip Anggun C. Sasmi dengan potongan rambut pendek lah… tonjolan di dadanya tampaknya cukup kecil dengan ukuran mengetahui aku dikhianati oleh cewekku, maka timbul niatan didalam hatiku untuk membalas cewekku itu, namun aku bingung bagaimana caranya, disaat aku melamun mencari cara untuk membalas, tiba-tiba terdengar bunyi dering SMS, yang ternyata dari putri, putri pingin tanya tugas ujian yang akan ditempuhnya, maklum karena aku adalah asisten dosen, sehingga putri sering banyak tanya ke aku. Lalu aku menjawab sms tsb “ ya udah kamu ke sini aja, nanti aku ajarin, kira-kira 1 jam lagi ya, karena aku mau mandi dulu”, karena saat itu Putri mau datang, aku bergumam kalau “ Nah ini aja cara untuk balas dendam ke Tyas nama kakak dari putri ” dengan cepat aku siapkan handycam dan aku pasang sedemikian rupa sehingga tidak kelihatan oleh orang yang tidak tahu, kemudian aku langsung keluar naik motor membeli obat peangsang untuk persiapan sudah dilakukan, tinggal menunggu kesempatan saja. Tepat jam 2 siang dirumahku, “ting-tong” bel berbunyi, pintu dibukakan oleh adikku, Putri kupersilakan masuk, tetapi aku masih bingung bagaimana akan menikmati tubuh Putri, karena ortu dan adikku ada dirumah, sambil berpikir keras mencari cara, ternyata tiba-tiba ada telepon dari nenekku kalau ada rapat keluarga mendadak membahas masalah warisan, biasanya ortuku selalu mengajakku untuk nyopir, tetapi karena sedang ada putri, maka akhirnya adikku yang menyopir. “Kebetuan sekali” gumamku, sambil menutup pagar setelah mereka pergi, aku menyiapkan segelas teh yang tentunya udah kuberi dengan obat perangsang yang tadi aku beli. Dosisnya kuberi agak banyak untuk jaga-jaga kalau putri minum sedikit, karena putri sangat haus, maka putri langsung menghabiskan teh itu, karena kebanyakan dosis putri malah pusing dan langsung tipikal orang yang tidak bergairah jika menyetubuhi cewek yang lagi tidur, maka aku ambil seutas tali, tangan kiri dan kanan aku ikat di pojok tempat tidur, kaki aku biarkan saja, supaya nanti ada sedikit usaha untuk menikmati tubuhnya..setelah persiapan selesai, Putri aku bangunkan dengan memerciki air ke wajahnya, akhirnya putri terbangun, putri berteriak “ Mas apa2an ini??!!??”, “gak apa-apa Put, kamu belom pernah ngrasain surga dunia kan?.Kamu akan aku kasih gratis put, kamu harusnya bangga lho put, soalnya gak semua cewek bisa nikmatin kaya gini, cewek2 lain tunggu mereka nikah” jawabku…lalu putri memohon” Aku mau diapakan mas? Jangan mas” mulutnya langsung kubekap dengan bibirku, aku ciumi bibirnya secara liar, tampaknya putri belum terangsang dan masih menolak membalas ciumanku, langsung aku cium lehernya dengan liar, putri agak sedikit merasa geli campur kenikmatan, dengan tangan yang terikat putri tetap berteriak “ Jangan Mmmmaaasshh, mmmhhh, ahhhh, janghhggaannn” karena putri mulai mendesah, tanganku mulai bergerilya, mula-mula aku remas-remas punggungnya, sambil tetap kuciumi leher dan tengkuknya, tanganku masih memain2kan punggungnya biar tali Bhnya lepas, dan tak lama setelah itu tali Bhnya pun udah tidak tahu lagi apa yang putri teriakkan, karena diriku udah terkubur oleh nafsu, perlahan-lahan tanganku mulai kedepan sambil tetap meremas, namun kupindah kebelakang lagi, dengan permainan lidahku dilehernya, tampaknya udah membuat Putri lupa ingatan, mungkin karena pengaruh perangsang tadi, Putri tanpa sengaja mendesah, “ Janggann mmmassshh, mmmppphhh, jaangann, jangan, hentikaann, ahhh, jangan hentikan, ahh teruss” tanpa sengaja Putri berusaha untuk memutar badannya, tampaknya malah putri yang menginginkan payudaranya diremas, karena dari tadi aku hanya meremas punggungnya, aku bergumam “ bentar lagi kena kamu “ akhirnya putri udah tidak tahan memutar dadanya langsung diarahkan ke tanganku, tetapi tetap kupermainkan putri, tidak langsung aku pegang payudaranya. Karena pengaruh obat perangsang tadi, putri malah memohon dengan suara memelas “ please mas….tolong aku…, pegang susuku, remas, dan cium…tolong mas…jangan hentikan….” Putri masih kupermainkan, payudaranya tidak langsung aku pegang, setelah berkali-kali aku mendengar rintihannya, langsung kulepas kaosnya, pada mulanya aku bingung gimana cara melepasnya, karena tangannya terikat, tanpa pikir panjang langsung aku ambil gunting di dekat kasur, yang rencananya akan digunakan untuk aku gunting bajunya dan Bhnya, karena aku udah tidak tahan lagi, langsung aku jilat putingnya yang kanan, dan yang kiri aku remas, sambil aku mainkan putingnya dengan jari, Putri yang saat itu masih terhanyut dalam obat perangsang tiba-tiba agak tersadar dan berteriak “ mas…kenapa ahh mas ahh lakukan ini?? Ahh..ahh” kujawab “ karena aku sayang kamu, jadi kuberi kamu kenikmatan yang cewek lain gak bisa nikmatin, bahkan mbak kamu aja gak pernah lho…”Sambil bergantian kiri kanan menjilat putingnya, tanganku yang satunya lagi bergerilya kebawah, Putri saat itu masih memakai celana jeans. Aku buka pengait di jeansnya, terlihat saat itu putri masih agak memberontak, karena meskipun fisiknya menerima rangsangan yang hebat, namun hatinya masih menolak karena disetubuhi orang yang putri anggap kakak kandungnya sendiri, kakinya berusaha menendang2, tetapi justru itu memudahkan bagiku untuk melepas jinsnya, dengan cepat aku tarik jinsnya sehingga putri kini hanya tinggal menggunakan celana dalam saja..sambil menjilati putingnya, dengan cepat kutarik cdnya dengan cepat, bahkan mungkin cdnya robek karena aku menariknya putri udah telanjang bulat, melihat putri telanjang bulat, aku langsung bangun dan memandangi wajah putri dengan tangan terikat, tanpa benang sehelaipun, putri saat itu langsung menangis, mungkin merasa malu karena tubuhnya yang telanjang bulat dilihat oleh cowok yang dianggapnya kakak sendiri. Dengan cepat aku langsung melepas seluruh pakaianku sehingga aku juga telanjang bulat, melihat aku telanjang, putri langsung menjerit, dan merem melek, liat penisku. Penisku sih kayaknya standar saja, karena ukurannya 14 cm, tapi karena putri itu dasarnya orang yang tidak aneh2, dan bisa dikatakan lugu, maka dia tetap memohon “ mas…jangan mas, aku itu sayang mas, dan kuanggap sebagai kakakku sendiri, kenapa mas tega lakukan ini??”… “ Put…aku juga sayang kamu, makanya kamu kuberi hadiah yang tidak bakal terlupakan, sudah kamu nikmatin aja ya put” bibirku langsung cepat melumat bibirnya dengan memeras dan memilin putting susunya, putri mulai mengerang “ ahhh…ahh…mmmhhh”ciumanku mulai menurun ke arah putting susunya, dan mulai kebawah lagi hingga ke liang kenikmatannya, sambil tetap memeras dan memilin2 mencoba menjilat vaginanya jujur aja saat itu aku juga baru pertama kali melakukannya pertama aku juga agak jijik dan sedikit mual, tetapi karena reaksi yang diterima putri menunjukkan respon positif dengan mendesah agak keras, maka aku juga semakin berani menjilat-jilat kekiri dan kekanan di lubang kenikmatannya. Putri saat itu udah merem melek merasakan nikmat, sambil terus mendesah “mmmphhh….ahhhh….ammpphh…aahhh…mmmphh” karena merasa udah sedikit aman, aku mencoba melepas ikatan tali ditangannya, untuk melihat respon dia yang sudah yang dilakukan sama putri secara tidak sengaja malah membimbing tanganku untuk memilin2 putingnya sambil berteriak “terrusss maasss….mmmpphhh,,,..aahhh…” selama 15 menit aku jilat lubang kenikmatannya tiba-tiba dia memegang tanganku dengan kencang sekali, tubuhnya kaku, dan dia menggelinjang hebat sambil berteriak “ kepalanya jangan disitu mas…..aku mau ngeluarin…” aku gak perduli dan tetap menjilat2, sampai akhirnya dia orgasme banyak sekali sampai mulutku blepotan terkena cairan kenikmatannya..”ahhh…ahhh…ahhh” dia berteriak sambil saat setelah putri orgasme dengan hebat, putri langsung memeluk badanku, tampaknya putri udah tidak perduli lagi…langsung kesempatan itu aku lakukan dengan berusaha memasukkan penisku kedalam vaginanya, karena dia habis orgasme, maka vaginanya masih terdapat banyak cairan, karena aku udah tidak tahan lagi, sambil memeras dan menjilat putingnya, aku mencoba memasukkan penisku, “ Putri yang saat itu udah mulai sadar dari kenikmatannya langsung berteriak “ Jangan dimasukkan mas…aku mohon, aku lakukan apapun biar mas bisa merasakan enak, apapun mas…” “bener nih??” tanyaku “ Iya mas, apapun, aku juga janji gak bakal cerita sama siapapun mas…”Setelah itu aku cium bibirnya dengan penuh kelembutan, putri pun mau membalas ciumanku, kujulurkan lidahku di bibirnya, dan dia membalas dengan saling menjulurkan lidah, kami saling berciuman hebat selama 10 menit, sambil berciuman tanganku tetap meremas dan memilin putting susunya, sehingga putri udah mulai terangsang kembali, sambil terus mendesah aku terus menciumi lehernya hingga kebawah, tampaknya Putri udah mulai tidak perduli atas perkosaan yang dialaminya, mungkin karena pengaruh obat perangsang, putri terus mendesah, dan mendesah, desahan-desahan yang kudengar sangat membuat nafsuku semakin tinggi, aku mulai semakin turun menjilat vaginanya kembali, dan vaginanya udah mulai basah kembali, karena sudah mulai terangsang, aku mencoba kembali untuk memasukkan penisku, putri agak tersentak kaget “ Mas aku mohon..jangan mas”, “Cuma menggesek-gesek kok put, gak apa2, gak bakalan masuk”, jawabku..lalu putri mengiyakan, dengan menggesek-gesekan penisku ke lubang kenikmatannya, membuatku leluasa menciumi lehernya sambil meremas dan memilin putingnya, kadang aku memberhentikan gesekanku, tetapi malah putri menggoyang pinggulnya supaya klitorisnya mengenai penisku, dan hal tersebut berlangsung selama 15 menit, karena putri sudah tidak tahan atas rangsangan yang begitu secara tidak sadar putri terlena dan berbisik kepadaku “ Mas…akkhhh akkuu, uddaah gak tahaan..akkhhh, massukkin aja mas…sssshhh” mendapat lampu hijau aku langsung mencoba untuk masukin, karena aku pada dasarnya juga belum melakukan seperti itu, maka aku coba masukin secara pelan-pelan, lubangnya sempit sekali, karena memang putri masih perawan. Aku coba terus menerus dan berusaha sekuat tenaga, Putri berteriak “ Pelan-pelan Mas”.Selama hampir 5 menit aku mencoba juga belum masuk2, akhirnya dengan perjuangan sekuat tenaga blessshhh, penisku berhasil masuk ke vaginanya, putri mem*kik “ Ahhh… sakit mas“, keluar darah segar dari vagina putri tanda keperawanannya telah bobol. “ Sakitnya cuma sebentar sayang, habis itu enak sekali” jawabku, aku terus memompa batang penisku di lubang kenikmatan putri, aku merasakan penisku dipijit-pijit oleh lubang kenikmatannya, rasanya nikmat sekali, benar-benar merasakan surga dunia, Putri pun juga tampak menikmatinya sambil mendesah “ Ahhhkk…ahhh…ahh…teruss mass..ssshh…mmmhh, jangann berrhenti…ahhkk, ennaakk sekali mass…”, “sepeti surga dunia kan put?” tanyaku.. “ Iyyaa…ahhkk..masshh..” jawab putri..Aku terus memompa dengan sangat cepat sekali, sampai payudara putri bergerak naik turun..suatu pemandangan yang sungguh indah melihat Putri telanjang bulat sedang aku setubuhi..setelah 25 menit aku memompa, tiba-tiba badan putri kembali kaku, mengejang, dan menggelinjang dengan hebat tanda putri sudah mau orgasme…langsung kupercepat kocokanku supaya aku juga dapat ngluarin bareng.. tetapi karena putri udah tidak tahan maka dia berteriak “ Maasss…..eennaakk sekaalii…aku mau keluarin” putri orgasme untuk yang kedua kalinya, aku merasakan ada cairan panas di kepala penisku, aku tetap mengocok tubuh putri sehingga selang beberapa saat aku juga mau orgasme ” Put aku juga mau keluar…” kataku, langsung aku keluarkan di dalam rahim Putri, putri merasakan ada cairan hangat yang masuk kerahimnya, setelah orgasme, kami berdua saling berpelukan cukup lama, dan aku membiarkan penisku berada di liang vaginanya…Entah apa yang berada di dalam pikiran putri, sehingga dia hanya terdiam seribu bahasa, lalu aku kecup keningnya sambil berkata “ Gimana Put? Enak kan ? “ dia mengangguk dengan mata yang agak sembab, mungkin dalam hati kecilnya dia agak menyesal atas apa yang terjadi, tetapi dia tidak bisa menahan keinginan fisik dan nafsunya untuk disetubuhi..akhirnya kami tertidur dalam keadaan telanjang, sampai akhirnya kami kaget dengan bunyi bel tanda ortuku dan adikku pulang..Saat itu kami panik, kami berdua masih telanjang, sedangkan baju putri udah robek semua terkena gunting…cdnya juga udah robek..Setelah pintu digedor beberapa lama namun kami tidak membukakan karena masih bingung akan pakai pakaian apa putri nanti, putri langsung kusuruh sembunyi di lemari pakaian, dan aku pura2 dari kamar mandi. “ Kenapa pintunya lama sekali dibuka ? “ tanya ayahku, “ Oh maaf, tadi aku baru mandi pap “. “Lho Putri mana ? kok motornya masih disini ?” tanya ibuku. “ Oh tadi ketempat temennya di dekat sini aku yang anterin mam, terus nanti aku jemput. Lho papa mama kok udah pulang ?“ tanyaku “ Oh ini ada yang ketinggalan berkas sertifikat rumah, bentar lagi juga berangkat “ Jawab ayahku. “ Yes “ gumamku dalam hati, masih ada kesempatan untuk bisa lepas dari masalah ini. Setelah ortuku berangkat, aku buka pintu lemari, dan aku bilang ke Putri kalau semuanya sudah aman. Aku kembali mencium keningnya, mulut kami saling berpagutan dan akhirnya saling bersetubuh kembali sampai 1 jam lamanya, entah berapa kali dia orgasme, yang jelas aku merasakan orgasme sampai 3 kali, putri tampaknya benar-benar menikmati persetubuhan ini. Setelah itu akhirnya putri pulang dengan pinjam kaosku, setelah kejadian itu kami tidak pernah saling kontak, dan komunikasi. Tapi setelah kejadian itu, Putri malah punya pacar, dan dia membuka diri untuk berhubungan dengan cowok, tidak seperti dulu yang tidak bisa menerima cowok, mungkin karena ketagihan kali ya?Tetapi setiap mengingat desahan dan goyangan putri membuatku langsung dibakar nafsu..Putri benar-benar hebat untuk pengalaman pertamaku, aku menyesal kenapa dia tidak kujadikan pacar saja, karena kalo dia pacarku bisa jadi aku merasakan kenikmatan setiap saat.
kali ini menceritakan pengalaman Sex Perkosaan yang dialami oleh wanita malang yang bernama Mirna oleh puluhan kuli bangunan. Nasib malang ini dialami Mirna yang saat itu baru duduk dibangku kelas 1 SMA. Kisah ini berawal dari Mirna yang sedang menunggu Bus didepan proyek yang biasa ditumpanginya. Singkat cerita karena bus tidak kunjung datang dan hujan…Cerita Dewasa Mirna Di Perkosa Puluhan Kuli Post navigation
Raya masih berjoget dengan bebasnya, tak menghiraukan puluhan pria yang sudah melingkari dirinya dengan tatapan penuh nafsunya. Ia terus melompat lompat di tengah² laki² itu dengan riangnya, seolah beban fikirannya hilang terbawa dentuman musik Dj yang terdengar. Sesekali Raya menerima gelas demi gelas wine dari lelaki yg mengelilinginya, di minumnya sekali tenggak sampai tandas tak tersisa, ia tak peduli gimana yang akan terjadi nanti, yang pasti sekarang saatnya bahagia dan tanpa beban apapun yang tersisa. Sorakan sorakan terus terdengar seiring gelapnya malam karna matahari yang sudah berpulang dan tergantikan oleh ribuan bintang di langit. Semakin malam semakin ramai pula pengunjung, Raya masih terus berjoget sempoyongan karna pusing yang sudah melanda kepalanya, jika di ingat² udah ada belasan wine yang ia minum dan masuk ke perutnya, membuat semua tubuhnya terasa ringan tanpa beban. ***** Mondy membanting pintu mobilnya dengan keras,ia berlari memasuki ruangan yang sudah tak asing baginya, matanya menelanjangi setiap orang yang ada di ruangan berisik nan memabukkan itu. Ia sedikit berdesak²an dengan org untuk menuju teman²nya yanng sudah menunggu di meja bar. Kabar yang ia dengar tadi benar² membuat fikirannya kacau,nggk tau apa dan knp? "Woy" teriak Mondy tepat di telinga temannya yang asik tersenyum menatap ke arah lain tanpa mengetahui keberadaannya. "Anjiiir,kaget gue" kata teman Mondy mengulurkan segelas wine ke arah Mondy. Mondy menerimanya dan menenggaknya dengan habis. "Tuh,lihat seksi kan" Mondy mengikuti arah tunjuk temannya, di mana ada seorang wanita yang berjoget dengan bebasnya di kelilingi puluhan pria dengan nafsunya. "Dia kan cewek yang tadi siang, gila liar bener tuh cewek,gue aja nafsu lihatnya" kata teman Mondy dengan tertawa menatap Raya yang masih berjoget ria dengan laki² yang masih mengelilinginya. Mondy menatap dengan seksama ke arah Raya, di mana kerlap kerlip lampu sedikit menghalangi penglihatannya. Pose berdiri sambil bersandar di meja bar dengan kedua tangan yang ia kantongi membuat wanita di sekitarnya berharap untuk one night stand dengannya. "Kembarannya kali" celetuk Mondy asal seraya menatap Raya yang masih asik dengan dunianya. "Masak sih?tp kg mirip banget?" tanya teman Mondy menimpali sembari ikutan menatap ke arah Raya. "Lo tadi apain tuh cewek?" tanya Bayu menatap selidik ke arah Mondy "Nggk gue apa²in" jawab Mondy menghisap rokok yang ada di cepitan jari telunjuk dan tengahnya,menghisap dan meniupnya ke atas menghasilkan kepulan asap ke atas Mondy memutar matanya menatap sahabatnya satu lagi,senyumnya terukir saat melihat Rio yang asik terbaring di sofa dengan beberapa wanita yang mengelilinginya,jujur jika di bandingkan sama dirinya,Rio emanglah raja bangshat. "Anjirrr dia mabok" teriak Bayu yang langsung membuat Mondy kembali memutar matanya Di tatapnya Raya yang semakin liar dalam gerakannya,di tambah tangan² lelaki yang sudah sengaja menyenggol² lengan,pantat,serta pinggang ramping Raya. Mondy mematikan putung rokoknya dengan injakan sepatunya setelah menjatuhkan rokokny begitu saja,tatapan marah ia arahkan ke arah Raya yang seolah tak peduli dengan berbagai pria hidung belang di sekitarnya. "Dasar,tadi sok sokan suci" geram Mondy pelan seraya berjalan menghampiri di mana Raya yang masih berjoget dengan liarnya "Misi misi,cewek ini udah punya saya" kata Mondy sopan kepada pria² yang ada di sekitar Raya,tangannya bergerak cepat menarik pinggang ramping Raya. "Huuuuu" sorakan tak terima dari puluhan pria itu membuat Mondy tersenyum kemenangan Di tatapnya Raya yang masih terus bergerak liar di tengah tangannya yang melingkar di pinggangnya. "Huh" Mondy menonyor jidat Raya asal membuat Raya yang memang sudah mabuk berat hanya tertawa² garing karna tonyoran Mondy "Anjiiir,kaki gueeee" teriak Mondy saat Raya masih melompat lompat nggk jelas hingga heels tinggi nan lancipnya jatuh terkena kaki Mondy yang di lapisi sepatu tipis Dengan gemas Mondy menggendong Raya keluar club tanpa memperdulikan teriakan Bayu yang selalu kepo. ****** Mondy membanting tubuh ringan Raya ke ranjang apartemennya,di lepasnya jaket yang melekat di tubuhnya,di pandanginya Raya yang masih menggeliat² tak sadar seolah menggoda Mondy untuk menidurinya. Mondy duduk di samping ranjang dengan senyum devilnya,di usapnya wajah Raya dengan hati² tanpa perlu membangunkannya,hingga tangan mungil Raya yg menggenggam erat pergelangan tangannya dengan mata yang terbuka. "Hahaha,kenapa?Ayah mau nampar Raya?iya?tampar tampar" kata Raya mengigau tak jelas seraya memukul²kan tangan Mondy ke pipinya "Oh atau ayah mau mencabuli anak ayah sendiri?kelihatan dari wajah ayah,ayah nggk puas kan sama simpanan ayah?iya kan?" teriak Raya tertawa miris "Oh yaaa,Raya bukan anak ayah lagi,Raya cuma punya bunda,dan nggk pernah punya ayah yg errrrrr errrrr errrr" kata² Raya terhenti saat nafasnya sudah kembali beraturan,matanya kembali terpejam "Sial,nafsu gue ilang tiba²" kata Mondy mendesis dan berdiri menjauhi Raya ******* "Hoammmm" Raya merentangkan tangannya seraya membuka matanya saat sebuah percikan air mengenai mukanya Di lihatnya dengan detail laki² yang ada di depannya,laki² yang berdiri dengan setelan kolornya tanpa baju yang berarti betelanjang dada,dengan tangan yang bergerak mengusap² rambutnya yang basah "Lo perkosa gue?" tanya Raya antara sadar dan tidak "Heh gue nanya sama lo" teriak Raya kesal saat tak ada sahutan dari lawan bicaranya "Lo nanya sama gue?" tanya laki² itu membuat Raya menggigit giginya sendiri "Iyalah siapa lagi" jawab Raya ketus "Emang lo telanjang?sampai gue perkosa lo?atau ada bercak darah di daleman lo?atau lo udah nggk perawan kali" hawab Mondy ngasal menjatuhkan pantatnya di sofa yang menghadap ke Raya Raya mencebikkan bibirnya kesal,di bukanya selimut yg menutupi tubuhnya,di intipnya pakaian yang ia kenakan. "Gue telanjang" teriak Raya duduk dan menutupi dadanya dengan selimut "Coba buka gue mau lihat,kalau bicara yang bener" kata Mondy melirik ke arah kaki polos Raya "Anjiiir,mata loo" teriak Raya kesal "Gue nggk telanjang sih,tp cuma pakai daleman doang,terus baju gue kemana?" tanya Raya "Lhah,siapa suruh lo malem2 ngigau kepanasan,ya gue lepas lah", jawab Mondy asal "Gila" desis Raya geram "Gue mainin bentar juga" ceplos Mondy yang langsung mendapat lemparan bantal dari Raya "Enggak lah,ya kali gue main sama cewek mabuk,enakan juga sadar sama sadar" kata Mondy lagi "Syukur deh" kata Raya bersyukur seraya berdiri merentangkan tangannya untuk merenggangkan otot²nya,membuat Mondy melotot tak percaya ke arah Raya,di mana ia bisa melihat tubuh polos Raya yang hanya mengenakan pakaian dalam saja. "Lo gila,tutup" teriak Mondy melemparkan bantal tadi ke arah Raya "Bodo amat,setelah gue lihat² lo nggk nafsu deh sama gue" kata Raya lagi dengan senyum devilnya "Gue manusia normal bodoh" teriak Mondy lagi "Hahh bodo amatlah" kata Raya lagi dan membanting dirinya sendiri untuk kembali tidur tengkurap tanpa selimut yang menutupi tubuhnya. TBC
Cerita SMA Pertama Kali Aku Di Perkosa – setelah sebelumnya ada , kini ada cerita seks bergambar . selamat membaca dan dewasa hot kali ini menceritakan kebiadaban teman sekolah yang telah memperkosa teman sendiri di sekolah. cerita sex SMA ngentot di sekolah ini merupakan kejadian yang benar-benar dialami oleh siswa sma. wanita tersebut memang sangat cantik dan tubuhnya yang aduhai membuat mata lekaki tertarik untuk merasakan betapa hangatnya tubuh gadis tersebut. dari pada lama-lama langsung saja kita baca cerita sex SMA berikut. SMA Pertama Kali Aku Di Perkosa Di SekolahNamaku risa atau biasanya dipanggil icha. aku memiliki wajah yang sedikit indo didukung dengan badanku yang kata teman2ku seksi. aku baru saja lulus smu. cerita ini adalah pengalaman sewaktu aku masih duduk di bangku sma kelas 1. Hari ini pelajaran yang diberikan belum terlalu banyak karena kami masih dalam tahap2 transisi dari murid smp menjadi murid smu. Tak terbayang olehku dapat masuk ke smu yang masih tergolong favorit di ibu kota ini. impianku sejak dulu adalah memakai seragam putih abu2 karena seragam ini memiliki model rok yang lebih membuatku kelihatan teman2 baruku ada seorang cowok yang amat menarik perhatianku, sebut saja namanya indra. membayangkan wajahnya saja bisa membuatku terangsang. aku sering melakukan masturbasi sambil membayangkan indra. walaupun sering bermasturbasi tapi saat itu aku belum pernah bercinta atau ngentot, bahkan petting jg belum. entah setan apa yang masuk ke dalam otakku hari itu karena aku berencana untuk menyatakan cinta kepada indra. maka saat istirahat aku memanggil indra, “dra, gw gk tau gmn ngomongnya…” aku benar2 kalut saat itu ingin mundur tapi udah telat. “dra gw sayang ma elo, lo mau kan jd cowo gw?” aku merasa amat malu saat itu, rasanya seperti ditelanjangi di kelas paling tidak sampai SEKARANG aku masih memakai seragam lengkap. indra hanya tersenyum, “nanti aja ya gw jawabnya pas pulang”.selama jam pelajaran pikiranku tak menentu, “gimana kalo indra gak mau?” dalam hatiku “pasti gw jd bahan celaan!” berbagai pertanyaan terus mengalir di otakku. untungnya pelajaran belum begitu maksimal. bel pulang pun berdering, jantungku berdegup cepat. aku hanya duduk menunggu di bangkuku, aku tidak memiliki keberanian untuk menghampiri indra dan menanyakan jawabannya. saat kelas sudah berangsur sepi indra menghampiriku “bentar ya cha, gw dipanggil bentar” katanya. aku menunggu sendirian di kelas. “jangan2 indra ingin agar sekolah sepi dan mengajakku bercinta?” kepalaku penuh pertanyaan, hingga aku sama sekali tidak dapat berpikir sehat. dalam penantianku tiba2 ada orang datang. aku kecewa karena bukan indra yang datang melainkan malik dan ardy dari kelas I-3. mereka menghampiriku, malik didepanku dan ardy disampingku. perlu diketahui mereka bisa dikatakan sangat jauh dari tampan. dengan kulit yang hitam dan badan yang kurus kering, aku rasa akan menyulitkan mereka untuk mendapatkan pacar di sekolah ini. “lagi nungguin indra cha?” kata malik. “koq tau?” kataku “tadi indra cerita.” apa2an nih indra pake cerita segala dalam hatiku. “lo suka ma indra ya cha?” tanya malik lagi. aku cuma diam saja. “koq diem?” kata ardy. “males aja jawabnya” katakuperasaan bt mulai menjalar tapi aku harus menahan karena pikirku ardy dan malik adalah teman indra. “koq lo bisa suka ma indra sih cha?” tanya ardy tapi kali ini sambil merapatkan duduknya kepadaku dan menaruh tangannya di pahaku. “indra ganteng n gak kurang ajar kayak lo!” sambil menepis tangannya dari pahaku. “kurang ajar kaya gimana maksud lo?” tanya ardy lagi sambil menaruh tangannya lg di pahaku dan mulai mengelus2nya “ya kayak gini!” jawabku sambil menunjuk tangannya tapi tidak menepisnya karena aku mulai terangsang dan berpikir mungkin mereka disuruh indra. “tapi enak kan?” kali ini malik ikut bicara. ardy mulai mengelus2 pangkal pahaku. aku pura2 berontak padahal dalam hati aku ingin dia melanjutkannya. “udah jangan sok berontak” kata malik sambil menunjukkan cengiran lebarnya. makin lama usapannya membuatku membuka lebar pahaku. “td bilang kita kurang ajar, eh sekarang malah ngangkang.” “nantangin yah?” kata malik. dia menggeser bangku di depan mejaku dan mulai masuk ke kolong mejaku. sekarang ardy berganti mengerjai payudaraku, tangan kirinya mengusap payudara kananku sedangkan mulutnya menciumi dan menghisap payudara kiriku sehingga seragamku basah tepat di daerah payudaranya saja. malik yang berada di kolong meja menjilat2 paha sampai pangakal pahaku dan sesekali lidahnya menyentuh memekku yang masih terbungkus cd tipisku yang berwarna putih. perbuatan mereka membuatku menggelinjang dan sesaat membuatku melupakan melepas kancing kemeja seragamku satu persatu dan kemudian melempar seragam itu entah kemana. merasa kurang puas ia pun melepas dan melempar bra ku. lidahnya menari2 di putingku membuatnya menjadi semakin membesar. “ough dy udah dong, gimana nanti kalo ketauan” kataku “tenang aja guru dah pada pulang” kata malik dari dalam rokku. sedangkan ardy terus mengerjai kedua payudaraku memilinnya, meremas, memghisap, bahkan sesekali menggigitnya. aku benar2 tak berdaya saat ini, tak berdaya karena nikmat. aku merasakan ada sesuatu yang basah mengenai vaginaku, aku rasa malik menjilatinya. aku tak dapat melihatnya karena tertutup oleh mereka sungguh membuatku melayang. aku merasa kemaluanku sudah amat basah dan malik menarik lepas cdku dan melemparnya juga. ia menyingkap rokku dan terus menjilati kemaluanku. tak berapa lama aku merasa badanku menegang. aku sadar aku akan orgasme. aku merasa amat malu karena menikmati permainan ini. aku melenguuh panjang, setengah berteriak. aku mengalami orgasme di depan 2 orang buruk rupa yang baru aku kenal. “hahahaha..” mereka tertawa berbarengan. “ternyata lo suka juga yah?” kata ardy sambil tertawa. “jelas lah” sambung malik “smp dia kan dulu terkenal pecunnya” kata2 mereka membuat telingaku panas. kemudian mereka mengangkatku dan menelentangkanku di lantai. mereka membuka pakainnya “oh..” ini pertama kalinya aku melihat penis secara langsung. biasanya aku hanya melihat di film2 porno. malik membuka lebar pahaku dan menaruh kakiku di atas pundaknya. pelan2 ia memasukkan penisnya ke liang senggamaku. “ough, sakit lik” teriakku “tenang cha, entar juga lo keenakan” kata malik ” ketagihan malah “sambung ardy”perlahan2 ia mulai menggenjotku, rasanya perih tapi nikmat. sementara ardy meraih tanganku dan menuntunnya ke penis miliknya. ia memintaku mengocoknya. malik memberi kode kepada ardy, aku tidak mengerti maksudnya. ardy mendekatkan penisnya kemulutku dan memintaku mengulumnya. aku mejilatinya sesaat dan kemudian me masukkannya ke mulutku. “isep kontol gw kuat2 cha” katanya. aku mulai menghisap dan mengocoknya dengan mulutku. tampaknya ini membuatnya ketagihan. ia memaju mundurkan pingangnya lebih cepat. disaat bersamaan malik menghujamkan penisnya lebih dalam. “mmmffhh” aku ingin berteriak tapi terhalang oleh penis ardy. rupanya arti dr kode mereka ini, agar aku tak berteriak. aku sadar ke virginanku diambil mereka, oleh orang yang baru beberapa hari aku kenal. “ternyata masih ada juga nak smp sb yang masih virgin” “memek cewek virgin emang paling enak” kata malik. dia menggenjotku semakin liar, dan tanpa sadar goyangan pinggulku dan hisapanku terhadap penis ardy jg semakin cepat. tak lama aku orgasme untuk yang kedua kalinya. akupun menjadi sangat lemas tapi karena goyangan malik malik semakin liar aku pun juga tetap bergoyang dan meghisap dengan liarnya. tak lama malik menarik keluar penisnya dan melenguh panjang disusul derasnya semprotan maninya ke perutku. ia merasa puas dan 45 menit aku menghisap penis ardy tapi ia tak kunjung orgasme juga. ia mencabut penisnya dari mulutku, aku pikir ia akan orgasme tapi aku salah. ia telentang dan memintaku naik diatasnya. aku disetubuhi dengan gaya woman on top. aku berpegangan pada dadanya agar tidak jatuh, sedangkan ardy leluasa meremas susuku. sekitar 10 menit dengan gaya ini tiba2 malik mendorongku dan akupun jatuh menindih ardy. malik menyingkap rokku yang selama bergaya woman on top telah jatuh dan menutupi bagian bawahku. ia mulai mengorek2 lubang anusku. aku ingin berontak tapi aku tidak ingin saat ini selesai begitu saja. jadi aku biarkan ia mengerjai liang duburku. tak lama aku yang sudah membelakanginya segera ditindih. penisnya masuk ke dalam anusku dengan ganas dan mulai mengaduk2 duburku. tubuhku betul2 terasa penuh. aku menikmati keadaan ini. sampai akhirnya ia mulai memasukkan penuh penisnya ke dalam anusku. aku merasakan perih dan nikmat yang tidak karuan. jadilah aku berteriak2 sekeras2nya. aku yang kesakitan tdk membuat mereka iba tetapi malah semakin bersemangat menggenjotku. sekitar 15 menit mereka membuatku menjadi daging roti lapis dan akhirnya aku orgasme lagi untuk yang kesekian kalinya. kali ini aku berteriak amat keras dan kemudian jatuh lemas menindih ardy. saat itu penjaga sekolah masuk tanpa aku sadar dan menonton aku yang sedang dikerjai 2 orang biadab mereka semakin buas menandakan mereka akan segera orgasme. aku yang sudah lemas hanya bisa pasrah saja menerima semua perlakuan ini. tak lama mereka berdua memelukku dan melenguh panjang mereka menyemprotkan maninya di dalam kedua liangku. aku dapat merasakan cairan itu mengalir keluar karena memekku tidak cukup menampungnya. mereka mencabut kedua penis mereka. aku yang lemas dan hampir pingsan langsung tersadar begitu mendengar ardy berkata “nih giliran pak maman ngerasain icha” aku melihat penjaga sekolah itu telah telanjang bulat dan penisnya yang lebih besar dari ardy dan malik dengan gagahnya mengangkangiku seakan menginginkan lubang untuk dimasuki. ia menuntun penisnya kemulutku untuk kuhisap. aku kewalahan karena ukurannya yang sangat besar. melihat aku kewalahan tampaknya ia berbaik hati mencabutnya. tetapi sekarang ia malah membuatku menungging. ia mengorek2 kemaluanku yang sudah basah sehingga makin lama akupun mengangkat pantatku. aku sungguh takut ia aku bisa sedikit lega saat penisnya menyentuh bibir kemaluanku. dua jarinya membuka memekku sedangkan penisnya terus mencoba memasukinya. entah apa yang aku pikirkan, aku menuntun penisnya masuk ke memekku. ia pun mulai menggoyangnya perlahan. aku secara tak sadar mengikuti irama dari goyangannya. rokku yag tersinggkap dibuka kancingnya dan dinaikkannya sehingga ia melepas rok abu2ku melalui kepalaku. saat ini aku telah telanjang bulat. tangannya meremas payudaraku dan terus menggerayangi tubuhku. disaat2 kenikmatan aku tak sengaja menoleh dan melihat indra duduk di pojok. dewi teman sebangkuku mengoralnya yang lebih mengagetkan ia memegang handycam dan itu mengarah ke diriku. aku kesal tapi terlalu horny untuk berontak. akhirnya aku hanya menikmati persenggamaan ini sambil direkam oleh orang yang aku maman semakin ganas meremas dadaku gerakannya pun semakin cepat. tapi entah kenapa dari tadi aku selalu lebih dulu orgasme dibandingkan mereka. aku berteriak panjang dan disusul pak maman yang menjambak rambutku kemudian mencabut penisnya dan menyuruhku menghisapnya. ia berteriak tak karuan. menjambakku, meremas2 dadaku sampai akhirnya ia menembakan maninya di mulutku. terdengar entah malik, ardy, atau indra yang berteriak telan semuanya. aku pun menelannya. mereka meninggalkanku yang telanjang di kelas sendirian. setelah mereka pergi aku menangis sambil mencari2 seragamku yang mereka lempar dan berserakan di ruang kelas. aku menemukan bra ku telah digunting tepat di bagian putingnya dan aku menemukan cdku di depan kelas telah dirobek2. sehingga aku pulang tanpa cd dan bra yang robek bagian putingnya. di dekat tasku ada sepucuk memo yang bertuliskan. “Terima Kasih, teman-teman gue BOLEH PAKE BADAN LO, LO LEBIH COCOK JADI PECUN gue DARIPADA JADI CEWEk gue.” Tertanda Indra. lihat juga bacaan sex seru menarik lainnya yang tak kalah serunya untuk dibaca .TAMAT by –cerita aku di perkosa disekolahcerita memperkosa cewek sekolahcerita seks kunikmati diriku diperkosacerita pemerkosaan di sekolah
cerita di perkosa pacar