cerita rakyat daerah manggarai

Tibalahmasa kemarau yang amat panjang. Oleh karena lamanya musim kemarau itu, banyak orang terancam kelaparan. Kemarau yang luar biasa itu dipertanyakan oleh masyarakat kepada Mosalaki sebagai ketua adat. Kemudian disimpulkan pula oleh masyarakat bahwa kemarau panjang yang mengancam itu akibat adanya kesalahan dan dosa warga masyarakat pula. PasarRakyat itu diharapkan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Nusa Tenggara Timur, Jumat (18/6/2021) (ilustrasi). Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Timur, NTT, mengoptimalkan pasar rakyat di Kecamatan Lamba Leda Utara untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah tersebut. Ceritadari Kabupaten Ngada. WATU RERE. kisah dari So'a-Flores (Kab. Ngada) Watu Rere adalah seorang perempuan. Waktu itu semua nona-nona di alam kampung berkumpul untuk pergi bekerja berkelompok. Dalam kelompok itu (untuk) bekerja kebun, mereka setuju : "Kalau orang lain pergi bekerja kebun, bekerja sewa, kita membawa nasi sayur". KesultananBima. Pada tahun 1722, Sultan Goa dan Bima berunding. Hasil perundingan, daerah Manggarai diserahkan kepada Sultan Bima sebagai mas kawin. Sementara itu, di Manggarai muncul pertentangan antara Cibal dan Todo. Tak pelak, meletus pertempuran di Reok dan Rampas Rongot atau dikenal dengan Perang Rongot, yang dimenangkan Cibal. Ceritarakyat yang dikemas dalam drama, musik, dan tari ini menyuguhkan budaya dan kearifan masyarakat NTT yang memesona. (KOMPAS/SUSI IVVATY) JAKARTA, KOMPAS — Cerita rakyat dari Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, dikemas dalam bentuk drama musikal oleh Institut Musik Daya Indonesia. Lagu-lagu daerah khas Nusa Tenggara Timur, seperti "Ayam mình đã không yêu xin đừng tìm nhau. Dahulu disebuah dusun kecil bernama Ndoso, hiduplah seorang gadis cantik jelita bernama Nggérang. Dinamakan Nggerang karena kulitnya putih serta berambut pirang. Nggerang dipercayakan sebagai hasil dari perkawinan silang resmi antara manusia dengan makhluk halus dari alam lain, dalam bahasa setempat dinamakan kakartana atau darat atau juga disebut ata pelsina. Ayah Nggerang bernama Awang dan ibunya bernama Hendang. Hnedang ibunda Nggerang dipercayakan berasal dari alam lain atau darat atau kakartana dalam bahsa setempat. Namun, Putri Nggerang ditinggalkan ibunya semasa dia masih balita bukan karena meninggal secara jasmaniah melainkan karena ayah Nggerang, Awang telah melanggar pantangan sebanyak sebanyak tiga kali. Bagi Hendang itu adalah jumlah ayng tidak lumrah lagi. Kisah ini terjadi ketika Hendang pergi timba air, Nggérang yang masih bagi bayi dijaga dan digendong bapaknya memberi pesan kepada Awang. “jika anak ini menangis janganlah kau dendangkan lagu ini ipung setiwu, paké sewaé, téu sa ambong ikan kecil sekolam, katak sesungai, tebu serumpun. Namun ketika Hendang sedang pergi timba air yang cukup jauh dari rumah, Nggérang pun menangis. Lalu, Awang berupaya menghentikan tangisan anaknya Nggérang dengan mendendangkan banyak lagu namun tidak membuat ia berhenti menangis. Bahkan tangisannya menjadi semakin keras dank keras. Banyak sudah lagu didendangkan oleh Awang namun, Nggérang tak juga berhenti menangis, dan baru berhenti menangis ketika mendendangkan lagu ipung setiwu, paké se waé, téu se ambong ikan kecil sekolam, katak sesungai, tebu serumpun; lagu terlarang tersebut memang dilarang dan menjadi pantangan bagi Hendang, namun suaminya Awang tidak memahami sedikitpun larangan tersebut. Awang sama sekali tidak memahami larang untuk tidak menyanyikan lagu itu. Sebenarnya arti dari lagu itu adalah bahwa, mereka berasal dari dua alam berbeda yang dipersatukan melalui perkawinan. Pelanggaran pertama, dan kedua bagi Hendang masih dapat diingatkan berulang kali, Awang masih juga melanggarnya untuk yang ketiga yang ketiga-kalinya, tiada lagi kata ibunda putri Nggérang pergi meninggalkan kedua orang terkasihnya Awang suaminya sertaNggérang anaknya di dusun Ndoso. Perpisahan ini bukanlah perpisahan untuk sesaat, namun meninggalkan sumai serta Putri tercintanya yang masih bayi dengan tetesan airmata menggalir dipipinya. “Kau telah melanggar pantangan kita, meskipun aku telah mengingatkan kau berulang kali. Sekarang tidak ada maaf lagi, kita berdua terpaksa harus berpisah” kata Hendang. “Aku kembali ke rumah orang tuaku, sementara Nggérang sebagai buah hati kita tinggal bersamamu sebagai paca mas kawin atas diri saya, harap dipelihara dengan baik.”begitulah pesan hendang kepada suaminya deiringi isak tangis yang itu juga merupkan tangisan untuk yang teraklhir kali baginya. Mendengar pesan tersebut, Awang tidak bisa menjawab dan tidak berdaya, karena seketika itu Hendang berubah wujud menjadi seekor népa ular sawah, dan ketika di pegang sangat licin, sehingga dengan mudah ia pergi meninggalkan dusun Ndoso, untuk selamanya, karena setelah itu ia tidak pernah muncul lagi. Sepeninggal ibunya Hendang, Putri Nggerang diasuh oleh empat saudaranya; satu laki-laki dtiga wanita, anak dari istri ayanhanya yang pertama bernama Tana. Ayahnya beristri dua yaitu Hendang yang berasal dari alam seberang dan Tana manusia biasa. Pada saat Putri Nggerang menginjak usia remaja, kecantikannya semakin terlihat dan sangat memikat banyak hati para pemuda. Karena kecantikannya yang tiada taranya itu, banyak raja raja ingin meminangnya diantara Mori Reok atau Raja Reok dan raja banyak raja raja yang meminangnya yang tidak hanya kaya tapi juga berparas menawan Nggerang menolaknya tanpa satupun diantaranya dapat memikat hatinya. Bahkan raja Bima dari pulau lain yang sedang berkuasa kala itu yang terletak diujung Timur pulau Sumbawa. Pulau berbeda dengan Nggerang. Nggerang gadis cantik nan aneh ini memang memiliki sesuatu yang ajaib dalam dirinya. Ini memang sangat mungkin karena memang dia adalah hasil dari perkawinan Tentang raja Bima, , konon ceritanya ia selalu melihat cahaya yang terpancar ke langit yang berasal dari daerah tersebut sesungguhnya berasal dari kulit emas putri Nggérang yang tumbuh pada punggung bagian atas, berbentuk bulat dan besarnya seukuran bulatan mata gung. Sultan Bimapun mengutus seorang abdi kerajaan bersama beberapa orang prajurit kerajaan ke Manggarai yang terletak diujung barat pulau Flores guna melacak cahaya dilacak dan yakin cahaya tersebut dimiliki oleh seorang putri cantik dan masih remaja bernama Nggérang yang tinggal di dusun Sultan Bima mempersiapkan diri untuk berangkat ke Manggarai untuk meminang putri Nggérang. Ketika Sultan Bima tiba di Ndoso, meskipun masyarakat menerimanya dengan baik. Namun sangat disayangkan, ketika Sultan Bima menyampaikan isi hatinya untuk meminang putri Nggérang yang cantik dan masih remaja itu, Nggerang menolaknya tanpa syarat. Raja Bima menjadi sakit hati dan dendam kepada Nggerang Lantaran Cintanya ditolak Putri oleh Nggerang tanpa syarat. Raja Bima lalu mengancam dengan mengirimkan magic magic ke dusun Ndoso. Seluruh dusun Ndoso diselimuti awan tebal kehitam-himan. Fenemona inipun hingga saat ini masih dikenal dengan sebuta rewung taki tana literally “Jika Nggerang tidak juga sedia menerima pinanganku, awam ini tak akan berhenti.”Ancam Mori Dima atau Raja Bima. Bagi orang setempat fenomena awan tebal yang meyentuh tanah itu sangatlah membahayakan kehidupan mereka. Karena mereka tidak bisa berbuat apaapa dalam kondisi salam seperti itu. “ Oh…Molas Nggerang terimalah saja lamaran itu supaya awan ini segera hilang dan kami bisa bekerja lagi” jeritan penduduk setempat. Namun bagi Nggerang, awan tebal itu bukanlah demi ancaman tak digubris oleh Putri Nggerang hingga akhirnya raja Bima tak sabar lagi ingin membunuh Putri berbekal sebagai raja berkuasa atas tanah manggarai termasuk Ndoso saat itu, Sultan Bima menyuruh orang tua Nggerangmembunh Putri Nggerang dan kulitnya genderang di bawa ke Bima dan satu genderang disimpan di Ndoso. Bagi Orang tua Nggerang meskipun permintaan Sultan Bima tersebut terasa karena ini permintaan Sultan Bima yang juga sebagai Raja yang berkuasa di daerah Manggarai ketika itu, maka orang tua putri Nggérang pun tidak bisa menolak. Berbagai usaha dilakukan oleh orang tua putri Nggérang, seperti memotong kerbau, kemudian kambing, dan kulitnya dibuatkan genderang, tetapi tidak mengeluarkan bunyi seperti yang diinginkan dan cahaya yang memancar ke langit pun tidak hilang; tetap kelihatan dari kerajaan terus-menerus dpaksa oleh Sultan Bima, akhirnya pada suatu hari orang tua Nggerang yang bernama Awang mengajak putri Nggérang mencari kutu rambutnya dan Nggerang menyetujui niat ayahnya tanpa menyangka bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Bersamaan dengan itu Awang mencabut beberapa helai rambutnya dan disimpan dalam tabung kecil, dan hal tersebut tidak menimbulkan efek atau pengaruh apa-apa. Kemudian ia mencungkil kulit emas yang berbentuk bulat sebesar mata gung dipunggungnya agar tidak memancarkan cahaya lagi, namun seketika itu putri Nggérang meninggal. Sadar bahwa Putrinya telah meninggal, maka Awang mencungkil sekalian kulit punggung bersama kulit emas dan kulit perutnya untuk dibuatkan genderang. Jadi, sesungguhnya ada dua gendrang yang dihasilkan dari kulit tubuh Putri Nggerang; Satu yang dibuat dari kulit emas di punggung Ngerang dikirim ke para pembawa, bukanya mereka bawa ke bima melainkan ke Sumbawa dikarenakan arus deras si selat Gili Banta. Jadi, gengrang tang terbuat dari kulit emas it keberadaanya bukan di Bima melainkan di Sumbawa hingga saat ini. Sementara satunya lagi yang terbuatdari kulit perut disimpan di Ndoso. Namun, selang beberapa hari setelah Nggerang meninggal, beberapa pemuda dari Todo dengan rombongan yang cukup banyak datang ke Ndoso meminta gendrang tersisa itu dengan sebagian kulit emas dari punggung ditanamkan di bukit Tingku Romot dekat Reo*** Indonesia menjadi tempat subur untuk tumbuhnya cerita-cerita berbau mistis yang membuat bulu kuduk merinding. Salah satunya yang paling fenomenal adalah tentang kereta hantu manggarai’ yang kisahnya pasti sudah tak asing lagi bagi orang Jakarta, Bogor, dan sekitarnya. Apalagi bagi penumpang langganan KRL di jalur Jakarta-Bogor, hampir semuanya pasti pernah mendengar kisah ini. Kisah kereta hantu diceritakan dalam beberapa versi, mulai dari kereta yang menghilang sendiri, kereta yang melaju kosong tanpa penumpang dan masinis, hingga kejadian terbaru yang paling menggemparkan yakni melajunya KRL misterius yang tidak masuk dalam jadwal. Peristiwa ini mencuat ke permukaan setelah beberapa orang mengaku melihat kereta ini, bahkan bisa dibilang banyak saksi mata yang menyaksikan laju dari KRL misterius ini. Sutrisno, adalah salah satu saksi mata yang memastikan melihat kereta tersebut. Ia tak lain adalah petugas penjaga pintu perlintasan Kereta Api di area Bukit Duri, Jakarta Selatan. Di hari itu, Sutrisno kebagian bertugas pada malam hari. Ia dikagetkan oleh suara sirine pintu perlintasan yang tiba-tiba berbunyi, tanda hendak ada kereta api melintas. Hal ini dirasa sangat aneh, karena saat itu jam masih menunjukkan pukul pagi dan belum ada kereta api yang dijadwalkan melintas. Belum hilang rasa heran Sutrisno, tiba-tiba sebuah rangkaian kereta melaju di hadapannya dari arah Bogor. Bertambah lagi keheranannya saat melihat secara langsung bahwa kereta yang menarik 4 gerbong itu tidak tampak satu orangpun di dalamnya, baik penumpang atau masinis. Gerbong kereta pun terlihat dalam kondisi gelap, padahal harusnya lampu dalam garbing dinyalakan jika kereta api melintas di saat hari gelap. Zainal Abidin, selaku Kepala Bagian Hubungan Masyarakat PT KA Daop Jabotabek juga mengaku terheran-heran dibuatnya. Zainal mengemukakan bahwa teknis jadwal operasional kereta tersebut harusnya baru diberangkatkan pada pukul pagi, dan anehnya lagi LA tersebut meluncur tanpa adanya pasokan aliran listrik sama sekali. Kisah yang kurang lebih serupa juga pernah diceritakan oleh salah seorang warga bernama Slamet. Ketika itu, Slamet dihampiri oleh seorang pemuda yang mengaku mahasiswa dan baru turun dari KA pada pukul malam. Pemuda itu tampaknya sedang kebingungan mencari angkutan berupa becak, ojek, atau angkot, karena hari sudah terlalu malam. Awalnya Slamet merasa heran karena merasa tidak ada kereta yang berhenti di Stasiun Depok saat pemuda ini turun. Slamet yang sudah hapal tentang jadwal KRL mengatakan bahwa jadwal terakhir KRL dari Jakarta di Depok adalah pukul malam, setelah itu tidak ada lagi KRL yang melintas sesudahnya. Setelah mendengar penjelasan dari Slamet, pemuda ini semakin yakin bahwa kereta yang dinaikinya bukan kereta biasa. Mahasiswa ini bercerita kepada Slamet tentang beberapa keanehan di kereta yang dinaikinya barusan. Diantaranya keadaan gerbong kereta yang sangat sunyi, dan semua penumpang yang ada di kereta tersebut tampak menggunakan baju putih. Saat berada di dalam kereta, pemuda ini sempat meminjam Koran pada seorang penumpang lain di kereta dan lupa mengembalikannya karena terburu-buru turun di Stasiun Depok Baru. Koran ini masih dibawa oleh si pemuda tersebut. Demi meyakinkan dirinya dan pemuda yang ada di depannya, Slamet lalu menghampiri Arief Rachman Hakim, penjaga perlintasan kereta di jalan. Ia kemudian menceritakan hal yang dialami oleh pemuda tersebut kepada Arief. Saat Slamet memperlihatkan Koran yang dibawa pemuda tadi, betapa terkejutnya mereka karena Koran tersebut ternyatan terbitan tahun 1953. Si Pemuda yang awalnya yakin dan bersikeras bahwa Ia menaiki sebuah kereta akhirnya terkulai lemas menyadari kereta yang ditumpanginya benar-benar adalah Kereta Hantu. JAKARTA, - Kawasan Manggarai dan Jalan Sultan Agung dikenal sebagai salah satu titik kemacetan di DKI Jakarta. Namun, siapa sangka bahwa Jalan Sultan Agung yang memanjang di depan Pasar Rumput menyimpan sejarah kelam perbudakan di Batavia nama Jakarta pada era kolonial pada tahun 1800-an. Tak banyak yang tahu bahwa Jalan Sultan Agung dulunya bernama Jan Pieterzoon Coenstraat Jalan Jan Pieterzoon Coen yang diambil dari nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda Coenstraat adalah musuh bebuyutan dari Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja legendaris Kesultanan Mataram Islam. Seorang penulis sejarah, Alwi Shahab mengatakan, nama Jan Pieterzoon Coenstraat Jalan Jan Pieterzoon Coen diganti menjadi Jalan Sultan Agung ketika militer Jepang mulai berkuasa di Indonesia. “Kalau enggak salah itu terjadi pada 1943,” ujar penulis sejarah Jakarta itu kepada Historia. Baca juga 5 Gereja yang Berperan dalam Penyebaran Kristen di Batavia Kawasan Manggarai yang berada berdekatan dengan Jalan Sultan Agung dikenal sebagai pusat penjualan budak di Batavia pada tahun 1800-an. Bahkan, kata Alwi, nama "Manggarai" mengacu pada daerah Manggarai di Nusa Tenggara Timur NTT yang menjadi asal mayoritas para budak belian. Para budak itu didatangkan oleh Belanda yang bermula pada saat Pieterzoon Coenstraat menaklukkan Jayakarta sebelum berubah menjadi Batavia pada tahun 1619. Ketika Pieterzoon Coenstraat tiba di Jayakarta, kawasan Manggarai dihuni sedikit penduduk, bahkan nyaris tanpa penduduk. Sebab, orang-orang Jawa dan Sunda yang tadinya tinggal di Jayakarta, telah menghindar dan memilih pergi ke selatan Jakarta yakni Jatinegara Kaum. “Sedangkan untuk membangun Batavia pasca penaklukan, orang-orang Belanda itu memerlukan tenaga kerja,” tulis Alwi Shahab dalam Kisah Betawi Tempo Doeloe Robin Hood Betawi. Itulah sebabnya, Pieterzoon Coenstraat memerintahkan anak buahnya untuk mendatangkan tawanan perang dari berbagai daerah seperti Manggarai, Bali, Bugis, Arakan, Makassar, Bima, Benggala, Malabar, dan Kepulauan Koromandel India. Baca juga Jalan Raden Saleh di Cikini Favorit Pelancong pada Zaman Batavia, Kini Langganan Kasus Praktik Aborsi Mereka kemudian dijadikan budak untuk bekerja dalam berbagai proyek pembuatan benteng, loji, jalan, dan rumah-rumah pejabat Hindia Penjualan Budak Perdagangan budak di Batavia terus berkembang pesat. Selain untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, para budak perempuan juga didatangkan untuk memenuhi nafsu bejat kaum laki-laki kolonial dan mitra bisnis mereka. “Lelaki di Batavia Belanda, Tionghoa, Melayu dan Arab “membutuhkan” budak untuk kawin, sebab wanita Belanda, Tionghoa dan Arab asli hampir tidak ada,” tulis Adolof Heuken SJ dalam Historical Sites of Jakarta. Harga setiap budak awalnya ditentukan oleh usia dan tenaga. Namun, pada abad ke-18, harga jual budak perempuan menjadi lebih tinggi dua sampai tiga kali lipat dari harga jual budak laki-laki. Menurut Heuken, kenaikan harga budak perempuan disebabkan permintaan budak perempuan terutama dari kalangan pebisnis Tionghoa yang mulai meningkat. Baca juga Jejak Pangeran Diponegoro di Batavia, Hampir Sebulan Menunggu Keputusan Pengasingan Para pebisnis tersebut memerlukan budak perempuan untuk memenuhi nafsu bejat mereka dan mengatur rumah tangga. Untuk orang-orang Eropa, mereka lebih menyukai budak perempuan dari Nias dan Bali. Walaupun kekuasaan Pieterzoon Coen telah berakhir, penjualan budak di Batavia masih terus dilakukan. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal van der Parra 1761-1755, kurang lebih budak didatangkan setiap tahunnya. Kepemilikan budak bahkan menjadi gengsi tersendiri bagi orang-orang Belanda dan menjadi tolak ukur kejayaan dan kemakmuran. Salah satu orang kaya asal Belanda yakni Van Riemsdijk 1782, dia memiliki 200 budak di rumahnya di Batavia. Jika ditotalkan, harga seluruh budak adalah rijksdaalder. “Kehidupan para budak seringkali sangat berat mereka disiksa dengan kejam jika bersalah, walau kesalahan itu tak seberapa…” ungkap Heuken. Hingga tahun 1814, ada orang berstatus budak di Batavia. Baru 46 tahun kemudian, perbudakan secara resmi dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda. Baca juga Alun-alun Bekasi Menyimpan Kisah Tuntutan Rakyat Pisahkan Diri dari Batavia Meski demikian, penjualan orang terus berlanjut di pedalaman Nusantara hingga akhir abad ke-19. Hendi Jo Artikel di atas telah tayang sebelumnya di dengan judul "Batavia Kota Budak". Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

cerita rakyat daerah manggarai