cerita seks di bioskop
CeritaSeks Imajinasi Diperkosa Setelah Dihipnotis Di Bioskop - Jari pria itu secara perlahan membuka mulut bibir vagina istrinya, aku dapat merasakan tiap sentuhannya. Dengan sangat amat perlahan jari itu menembus masuk ke dalam liang kewanitaannya. Aku harus berpegangan erat pada rak (tempat digelarnya baju-baju obral) agar tidak jatuh.
CeritaSex ini berjudul " Ketika Nonton Film Bioskop Bersama " Cerita Dewasa, Cerita Hot, Cerita Sex Panas,Cerita Sex Bokep,Kisah Seks, Kisah Mesum, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex Janda,Jilbab,Terbaru 2019. SodokBelakang - Kali ini saya akan menceritakan kisah hubunganku dengan Rina, gadis dari Bukittinggi. Kami ketemu ketika aku nongkrong di salah satu Studio 21 di Jakarta.
CeritaSex Pengalaman aneh di bioskop - aku dan pacarku (Michael) menonton film Lord Of The Ring 3 di sebuah mall besar di Jakarta Barat. Film dimulai sekitar jam 4 sore. Karena keberuntungan saja, kami dapat tiket pada kursi deretan paling atas (berkat mengantri 5 jam sebelumnya) walau berada di hampir pojok kanan.
CeritaDewasa - Suatu ketika saat di kos gak ada yang di kerjakan sungguh bete banget hati itu teman temanku aku telpon gak di angkat, ya sudahlah karena tempat kosku dengan Mall memakan waktu 10 menit jadi berencana pergi kesana saja barang kali dapat kenalan dan bisa di traktir dari tadi siang aku belum makan maka perutku jadi keroncongan.
Akhirnyatak sabar tangan Bella memandu senjataku, setelah sampai di pintu kemaluannya, kutekan kuat, Bella membuka pahanya lebar-lebar dan senjataku melesak ke dalam kemaluannya Kepala senjataku sudah berada di dalam celahnya, hangat dan menggigit Kutahan pantatku, aku menikmati remasan kemaluannya di batanganku Perlahan kutekan pantatku, senjataku amblas sedalam-dalamnya Gigi Bella yang runcing tertancap di lenganku saat aku mulai menaikturunkan pantatku dengan gerakan teratur
mình đã không yêu xin đừng tìm nhau. Cerita Sex – setelah sebelumnya ada kisah Nafsu Birahi Ngentot Dengan Mama Dirumah Tante, kini ada Mesum Dengan Wanita Pegawai Kantor Di Bioskop. selamat membaca dan menikmati sajian khusus bacaan terbaru cerita sex bergambar yang hot dan di jamin seru meningkatkan nafsu birahi seks ngentot. Di kantor itu aku baru diterima sebagai pegawai tetap, sebagaimana biasanya proses beradaptasi dan berkenalan dengan pegawai yang lainnya, ada salah satu pegawai wanita yang tadinya sih biasa-biasa saja, tidak menarik perhatianku namanya Riri bukan nama sebenarnya dalam perjalanan waktu kami sedikit akrab karena kebetulan dia duduk di samping meja kerjaku. Dari ceritanya ternyata dia hanya part time karena di rumah tidak ada kerjaan, lagi pula dia baru datang ke Jakarta ikut suami, tubuhnya kecil mungil putih agak sintal aku taksir umurnya baru tiga puluhan lebih dikit, dia selalu memperhatikan setiap gerakku dan suka curi pandang, kalau aku tatap dia tersenyum sedikit menggoda, karena itu aku coba berani bercanda mulai dari yang ringan sampai nyerempet-nyerempet porno, dia selalu menanggapi, suatu saat aku bilang.. “Ri, pergelangan kakimu seksi lho, coba aku pegang boleh nggak”. “Boleh, kenapa gitu”, jawabnya. Aku lingkarkan jari tanganku dan kuukur, ternyata jempol dan jari tengahku bisa ketemu dan di belakang mata kakinya ada lekukan yang tegas. “Wah, gila ini perempuan pasti suaminya beruntung”. Aku memang pernah dapat info bahwa ciri wanita yang demikian, istilah dengan teman temanku pokoknya tidak habis tiga ribu deh, saking enaknya hal ini yang bikin aku ingin mencoba kalau bisa. Kesempatan itu datang waktu dia bilang dia mau mengundurkan diri, aku tawarkan.. “Kita rayakan perpisahan dengan jalan berdua mau nggak”. Eh, ternyata ia bersedia, lalu sepulang kantor kuajak dia nonton bioskop, aku pilih cerita film yang sepi penontonnya dan memilih tempat strategis, singkat cerita aku cuma sempat nonton seperempat cerita, karena kuberanikan pipiku kusentuhkan ke pipinya yang akhirnya berlabuh di bibirnya, terasa bergetar bibirnya yang tipis dan lembut itu. Tanganku mulai membelai dan dia diam saja aku tahu dia menahan nafas ketika tanganku mulai mengunjungi sudut cita-cita laki-laki, semula pahanya bertahan namun renggang juga, lalu jemariku menerobos dari celah celana dalamnya, semula cuma lembab tapi sedikit sentuhan di titik celah bibir kemaluannya terasa licin dan segera membasahi permukaan dari bawah sampaihingga ke atas, kutekan sambil kugesek clitorisnya. Wow, kini clitorisnya mulai mengeras. “Pulang yuk”, bisiknya, aku setuju. “Pulang ke mana?”, pancingku. “Ke motel, yuk”, katanya. Amboi hatiku deg-degan badanku agak demam karena membayangkan apa yang akan terjadi. “Kamu nakal ya”, ujarnya sambil mencubit burungku. Aku tak bisa mengelak karena kedua tanganku memegang stir mobil. Dalam perjalan itu ruitsleting celanaku dibukanya dan dengan sigap dikeluarkannya rudalku, tanpa canggung diselusupkan kepalanya diantara stir dan perutku, dihisap dan dijilatnya. “Aah, gila kamu”, kataku. “Biar saja, rasakan pembalasanku, balasan yang tadi di bioskop”, katanya. Di motel, dia yang menyerangku. “Sekarang kamu harus bertanggung jawab, dan harus dituntaskan di sini ya”, katanya sambil mendengus bernafsu. “Tenang, tenang pasti, aku kan juga siap”, kataku. “Ayo buktikan”, katanya sambil meremas rudalku yang juga sudah siap launching. Kulepas bajunya dan Bra, dan bukit susunya seperti tidak berubah walau tanpa BH kencang tergantung di dadanya dengan puting coklat mengeras, sambil kuhisap kumainkan lidahku berputar, dia merengek seperti anak kecil kegelian, kubuka roknya sekaligus celana dalamnya, kuturunkan ciumanku ke arah pusarnya dan kujilat lagi sekitar pusarnya. Aku sengaja berhenti di situ walau aku tahu dia ingin lanjut, aku berdiri dan kini ganti dia yang melucuti pakaianku seperti yang kulakukan padanya, dia lakukan padaku tapi dia teruskan dengan menjilat penisku. Wuiih, rasanya, mulutnya kecil, giginya kecil rasanya geli sekali, ini permainan lihai rupanya, akupun tidak mau kalah. Ditariknya tanganku ke ranjang dan rupanya dia sudah ingin dimasuki oleh penisku, tapi tidak aku turuti, aku ajak dia main 69 dulu, kumainkan clitorisnya dengan lidahku, kuputar dan kupijat bagian sisi clitorisnya yang basah dan mengeras. Tiba-tiba dia merenggang dan mengerang panjang terasa clitorisnya juga mengeras kejang, rupanya dia orgasme duluan tapi dia tidak bilang, Bukit bibir vaginanya kulihat mengembang, sambil kubiarkan dia istirahat untuk orgasmenya yang ke dua kuciumi paha bagian dalamnya, dia hanya bisa bilang, “Mas, mas”. Kini ujung rudalku kuletakan di gerbang vaginanya yang mulai basah lagi, dia menarik pantatku agar segera merasakan batangku yang sudah seperti kayu, kuturuti tapi aku masukan dengan perlahan sekali, aku ingin menikmati perjalanan batang penisku ke dalam lubangnya itu mili demi milimeter sepanjang batangku dan itu aku rasakan sangat licin, lengket pulen dan nikmat sekali, cairan vaginanya tidak banjir tapi agak lengket inilah rasa vagina perempuan dengan ciri pergelangan kaki kecil dan dekok. Begitu perlahan dan Gentle aku masukan batangku sehingga terasa denyutan dinding vaginanya melumat batang penisku, setengah batangku masuk, kuperintahkan dia agar melakukan penarikan otot vagina dan anusnya seperti orang habis selesai berak, dan dia lakukan, Auu.., batangku serasa tersedot ke dalam, kutarik cepat batangku dia merengek lagi. “Mas masukin doong”. Begitu lagi kulakukan sampai beberapa kali sampai dia menggeram karena nikmatnya, Teknik separoh masuk, tarik kemudian tusuk habis ini kulakukan berulang sampai dia bilang.. “Ampuun Mas”, dan pada saat kubenam habis batang penisku dan aku goyang angka 8, kurasa kepala penisku menyentuh mulut rahimnya dan dia muncratkan orgasme yang ke-2, shhah kepala penisku diguyurnya geli ngilu jadi satu, akupun tak tahan lagi. Pantatku dikepitnya keras-keras seperti tidak mau dilepaskan, kami lemas dan berkeringat, dia bisikkan ke telingaku.. “Mas Kamu hebat kayak superman”. Pagi hari di kantor aku datang lebih dahulu, tidak lama kemudian dia baru muncul sambil tersenyum malu penuh arti, pada kesempatan jam istirahat makan siang dia curi bisik padaku.. “Mas, aku nggak jadi mengundurkan diri”, sambil tersenyum nakal. “Lho, lalu”, kataku. “Besok kita nggak usah nonton, tapi langsung ke tempat nikmat.., aku kangen Mas”, sambil berlalu. “Besok ya Mas”. “Ya.., ya.., yaa..”, jawabku. dan seterusnya kami selalu berbuat mesum kapanpun kami suka. TAMAT Mesum Dengan Wanita Pegawai Kantor Di Bioskop by – Cerita Dewasa, Cerita Seks Hot, Cerita Mesum, Cerita ngewe, Cerita Panas, Cerita Ngentot, Kisah Pengalaman Seks, Cerita Porno, Cerita Bokep indo.
Bokeptetangga – Cerita Seks BERCINTA DENGAN Awal aku mengenalnya pada saat dia mengundang perusahaan tempatku bekerja untuk memberikan penjelasan lengkap mengenai produk yang akan dipesannya. Sebagai marketing, perusahaan mengutusku untuk menemuinya. Pada awal pertemuan siang itu, aku sama sekali tidak menduga bahwa Ibu Bella yang kutemui ternyata pemilik langsung perusahaan. Wajahnya cantik, kulitnya putih laksana pualam, tubuhnya tinggi langsing Sekitar 175 cm dengan dada yang menonjol indah. Dan pinggulnya yang dibalut span ketat membuat bentuk pinggangnya yang ramping kian mempesona, juga pantatnya wah sungguh sangat montok, bulat dan masih kencang. Sepanjang pembicaraan dengannya, konsentrasiku tidak 100%, melihat gaya bicaranya yang intelek, gerakan bibirnya yang sensual saat sedang bicara, apalagi kalau sedang menunduk belahan buah dadanya nampak jelas, putih dan besar Di sofa yang berada di ruangannya yang mewah dan lux, kami akhirnya sepakat mengikat kontrak kerja. Sambil menunggu sekretaris Ibu Bella membuat kontrak kerja, kami mengobrol kesana-kemari bahkan sampai ke hal yang agak pribadi. Aku berani bicara kearah sana karena Ibu Bella sendiri yang memulai. Dari pembicaraan itu, baru kuketahui bahwa usianya baru 25 tahun, dia memegang jabatan direktur sekaligus pemilik perusahaan menggantikan almarhum suaminya yang meninggal karena kecelakaan pesawat. “Pak gala sendiri umur berapa”, bisiknya dengan nada mesra “Saya umur 26 tahun, Bu!” balasku “sudah berkeluarga?”, pertanyaannya semakin menjurus, aku sampai GR sendiri. “Belum, Bu!” Tanpa kutanya, Ibu Bella menerangkan bahwa sejak kematian suaminya setahun lalu, dia belum mendapatkan penggantinya. “Ibu cantik, masih muda, saya rasa seribu lelaki akan berlomba mendapatkan Ibu bella”, aku sedikit memujinya. “Memang, ada benarnya juga yang Bapak Gala ucapkan, tapi mereka rata-rata juga mengincar kekayaan saya”, nadanya sedikit merendah. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, Ibu Bella bangkit berdiri membukakan pintu, ternyata sekretarisnya telah selesai membuat kontrak kerjanya. “Kalau begitu, saya permisi pulang, Bu!, semoga kerjasama ini dapat bertahan dan saling menguntungkan”, aku segera pamit dan mengulurkan tangan. “Semoga saja”, tangannya menyambut uluran tanganku. “Terima kasih atas kunjungannya, Pak Gala ” Cukup lama kami bersalaman, aku merasakan kelembutan tangannya yang bagaikan sutera, namun sebentar kemudian aku segera menarik tanganku, takut dikira kurang ajar. Namun naluri laki-lakiku bekerja, dengan halus aku mulai merancang strategi mendekatinya. “Oh ya, Bu Bella, sebelum saya lupa, sebagai perkenalan dan mengawali kerjasama kita, bagaimana kalau Ibu Bella saya undang untuk makan malam bersama”, aku mulai memasang jerat. “Terima kasih”, jawabnya singkat. “Mungkin lain waktu, saya hubungi Pak Gala, untuk tawaran ini ” “Saya tunggu, Bu permisi” Aku tak mau mendesaknya lebih lanjut. Aku segera meninggalkan kantor Ibu Bella dengan sejuta pikiran menggelayuti benakku. Sepanjang perjalanan, aku selalu terbayang kecantikan wajahnya, postur tubuhnya yang ideal. Ah kayaknya semua kriteria cewek idaman ada padanya. Tak terasa satu bulan sejak pertemuan itu, meskipun aku sering mampir ke tempat Ibu Bella dalam kurun waktu tersebut, tapi tidak kutemui tanda-tanda aku bisa mengajaknya sekedar Dinner. Meskipun hubunganku dengannya menjadi semakin akrab. Menginjak bulan ke-2, akhirnya aku bisa mengajaknya keluar sekedar makan malam. Aku ingat sekali waktu itu malam Minggu, kami bagai sepasang kekasih, meskipun pada awalnya dia ngotot ingin menggunakan mobilnya yang mewah, akhirnya dia bersedia juga menggunakan mobil Katanaku yang bisa bikin perut mules. Beberapa kali malam Minggu kami keluar, sungguh aku jadi bingung sendiri, aku hanya berani menggenggam jarinya saja, itupun aku gemetaran, degup-degup di jantungku terasa berdetak kencang padahal hubungan kami sudah sangat dekat, bahkan aku dan dia sama-sama saling memanggil nama saja, tanpa embel-embel Pak atau Bu. Sampai pada malam Minggu yang kesekian kalinya, kuberanikan diri untuk memulainya, waktu itu kami di dalam bioskop Dalam keremangan, aku menggenggam jarinya, kuelus dengan mesra, kelembutan jarinya mengantarkan desiran-desiran aneh di tubuhku, kucoba mencium tangannya pelan, tidak ada respon, kulepas jemari tangannya dengan lembut. Kurapatkan tubuhku dengan tubuhnya, kupandangi wajahnya yang sedang serius menatap layar bioskop. Dengan keberanian yang kupaksakan, kukecup pipinya Dia terkejut, sebentar memandangku Aku berpikir pasti dia akan marah, tapi respon yang kuterima sungguh membuatku kaget Dengan tiba-tiba dia memelukku, mulutnya yang mungil langsung menyambar mulutku dan melumatnya. Sekian detik aku terpana, tapi segera aku sadar dan balas melumat bibirnya, ciumannya makin ganas, lidah kami saling membelit mencoba menelusuri rongga mulut lawan Sementara tangannya semakin kuat mencengkram bahuku Aku mulai beraksi, tanganku bergerak merambat ke punggungnya, kuusap lembut punggungnya, bibirku yang terlepas menjalar ke lehernya yang jenjang dan putih, aku menggelitik belakang telinganya dengan lidahku. “Bella, aku sayang kamu”, kubisikkan kalimat mesra di telinganya. “Gal, akupun sayang kamu”, suaranya sedikit mendesah menahan birahinya yang mulai bangkit. Dan saat tanganku menyusup ke dalam blousnya, erangannya semakin jelas terdengar Aku merasakan kelembutan buah dadanya, kenyal. Kupilin halus putingnnya, sementara tanganku yang satunya menelusuri pinggangnya dan meremas-remas pinggulnya yang sangat bahenol. Segera kubuka kancing blous bagian depannya, suasana bioskop yang gelap sangat kontras sekali dengan buah dadanya yang putih Perlahan kukeluarkan buah dadanya dari branya, kini di depanku terpampang buah dadanya yang sangat indah, kucium dan kujilat belahannya, hidungku bersembunyi diantara belahan dadanya, lidahku yang basah dan hangat terus menciumi sekelilingnya perlahan naik hingga ke bagian putingnya. Kuhisap pelan putingnya yang masih mungil, kugigit lembut, kudorong dengan lidahku Bella semakin meracau Tanganya menekan kuat kepalaku saat putingnya kuhisap agak kuat Sementara aku merasakan gerakan di celanaku semakin kuat, senjataku sudah menegang maksimal. Cerita Seks BERCINTA DENGAN Awal aku mengenalnya pada saat dia mengundang perusahaan tempatku bekerja untuk memberikan penjelasan lengkap mengenai produk yang akan dipesannya. Tanganku yang satunya sudah bergerak ke pahanya, spannya kutarik ke atas hingga batang pahanya tampak mulus, putih Kubelai, kupilin pahanya sementara mulutku mengisap terus puting buah dadanya kiri dan kanan Dan saat jariku sampai di pangkal pahanya, aku menemukan celana dalamnya Perlahan jari-jariku masuk lewat celah celana dalamnya, kugeser ke kiri, akhirnya jari-jariku menemukan rambut kemaluannya yang sangat lebat. Dengan tak sabar, kugosokkan jariku di klitorisnya sementara mulutku masih asyik menjilati puting buah dadanya yang semakin mencuat ke atas pertanda gairah nya sudah memuncak, meskipun jari-jariku sedikit terhalang celana dalamnya tapi aku masih dapat menggesek klitorisnya, bahkan dengan cepat kumasukkan jariku ke dalam celahnya yang lembat, terasa agak basah Jariku berputar-putar di dalamnya, sampai kutemukan tonjolan lembut bergerigi di dalam kemaluannya, kutekan dengan lembut G-spotnya itu, kekiri dan kekanan perlahan. “Achh Gala aku sudah nggak tahan Terus Gal oh ” Suaranya makin keras, birahinya sudah dipuncak. Tangannya menekan kepalaku ke buah dadanya hingga aku sulit bernafas, sementara tangan yang satunya menekan tanganku yang di kemaluannya semakin dalam. Akhirnya kurasakan seluruh tubuhnya bergetar, kuhisap kuat puting susunya, kumasukkan jariku semakin dalam. “Ahh oh Gal aku ke lu ar ” Kurasakan jariku hangat dan basah “Makasih Gal, sudah lama aku tak merasakan kenikmatan ini ” Aku hanya bisa diam, menahan tegangnya senjataku yang belum terlampiaskan tapi rupanya Bella sangat pengertian Dengan lincahnya dibukanya reitsleting celanaku, jari-jarinya mencari senjataku. Aku membantunya dengan menggerakan sedikit tubuhku Saat tangannya mendapatkan apa yang dicarinya, sungguh reaksinya sangat hebat “Oh besar sekali Gal aku suka aku suka barang yang besar ” Bella seperti anak kecil yang mendapatkan permen. Senjataku yang sudah kaku perlahan dikocoknya, aku merasakan nikmat atas perlakuannya, sementara tangannya asyik mengocok batang senjataku, tangan satunya membuka kancing bajuku, mulutnya yang basah menciumi dadaku dan menjilati putingku, sesekali Bella menghisap putingku. Aliran darahku semakin panas, gairah ku makin terbakar Aku merasakan spermaku sudah mengumpul di ujung, sementara kepala senjataku semakin basah oleh pelumas yang keluar. “Bella, aku sudah nggak tahan ” “Tahan sebentar, Gal ” Bella melepaskan jilatan lidahnya di dadaku dan langsung memasukkan senjataku ke dalam mulutnya, aku merasakan kuluman mulutnya yang hangat dan sempit Kulihat mulutnya yang mungil sampai sesak oleh kemaluanku Bella semakin kuat mengocok batang senjataku ke dalam mulutnya. Akhirnya kakiku sedikit mengejang untuk melepaskan spermaku “Awas Bell, aku mau keluar ” kutarik rambutnya agar menjauh dari batang senjataku, tapi Bella malah memasukkan senjataku ke dalam mulutnya lebih dalam, aku tak tahan lagi, kulepaskan tembakanku, 7 kali denyutan cukup memenuhi mulutnya yang mungil dengan spermaku. Bella dengan lahap langsung menelannya dan membersihkan cairan yang tertinggal di kepala senjataku dengan lidahnya Aku menarik nafas panjang mengatur degup jantungku yang tadi sangat cepat. Setelah lampu menyala kembali pertanda pertunjukan telah usai, kami sudah rapi kembali Kulihat jam di pergelangan tanganku menunjukan pukul 10 00 malam. Aku langsung mengantarnya pulang, dalam perjalanan kami tak banyak bicara, kami saling memikirkan kejadian yang baru saja kami alami bersama. Sampai di rumahnya yang mewah di bilangan Pluit, aku langsung ditariknya menuju kamar pribadinya yang sangat luas “Gal, saya belum puas, kita teruskan permainan yang tadi ” Tangannya langsung membuka kancing bajuku dan mulai membangkitkan gairah ku, sementara pikiranku semakin bingung, kenapa Bella yang tadinya kalem bisa berubah ganas begini? Tapi pikiranku kalah dengan gairah yang mulai berkobar di dadaku, terlebih saat tangannya dengan lihai mengusap dadaku Bagai musafir seluruh tubuhku dicium dan dijilatinya dengan penuh nafsu Aku pun tak mau kalah sigap, di ranjangnya yang empuk kami bergulat saling memilin, melumat, dan saling menghisap. Saat pakaian kami mulai tertanggal dari tempatnya Kami saling melihat, aku melihat kesempurnaan tubuhnya, apalagi di daerah selangkangannya yang putih bersih, sangat kontras dengan bulu kemaluannya yang sangat hitam dan lebat Dan Bella memandangi senjataku yang mengacung menunjuk langit-langit kamar Hanya sebentar kami berpandangan, aku langsung meraih tubuhnya dan memapahnya ke ranjang. Kuletakkan hati-hati tubuhnya yang gempal dan lembut, aku mulai menciumi seluruh tubuhnya, lidahku menari-nari dari leher sampai ke jari-jari kakinya Kuhisap puting buah dadanya yang kemerahan, kujilat dan sesekali kugigit mesra Ssementara tanganku yang lain meremas-remas pinggul dan pantatnya yang sangat kenyal. Pergulatan kami semakin seru, kini posisi kami berbalikan seperti angka 69, kami saling menghisap puting dada Saat aku memainkan puting dadanya yang sudah mencuat, lidahnya menjilati putingku Aku turun menjilati perutnya, kurasakan juga perutku dijilati dan akhirnya lidah kami saling menghisap kemaluan. Aku merasakan hangat di kepala senjataku saat lidahku menari-nari menelusuri celah kemaluannya, lidahku semakin dalam masuk ke dalam celah kewanitaannya yang telah basah, kuhisap klitorisnya kuat-kuat, kurasakan tubuhnya bergetar hebat. Lima belas menit sudah kami saling menghisap, nafsuku yang sudah di ubun-ubun menuntut penyelesaian Segera aku membalikkan tubuhku Kini kami kembali saling melumat bibir, sementara senjataku yang sudah basah oleh liurnya kuarahkan ke celah pahanya, sekuat tenaga aku mendorongnya namun sulit sekali Tubuh kami sudah bersimbah peluh. Akhirnya tak sabar tangan Bella memandu senjataku, setelah sampai di pintu kemaluannya, kutekan kuat, Bella membuka pahanya lebar-lebar dan senjataku melesak ke dalam kemaluannya Kepala senjataku sudah berada di dalam celahnya, hangat dan menggigit Kutahan pantatku, aku menikmati remasan kemaluannya di batanganku Perlahan kutekan pantatku, senjataku amblas sedalam-dalamnya Gigi Bella yang runcing tertancap di lenganku saat aku mulai menaikturunkan pantatku dengan gerakan teratur. Remasan dan gigitan liang kewanitaannya di seluruh batang senjataku terasa sangat nikmat Kubalikan tubuhnya, kini tubuh Bella menghadap ke samping Senjataku menghujam semakin dalam, kuangkat sebelah kakinya ke pundakku Batang senjataku amblas sampai mentok di mulut rahimnya Puas dari samping, tanpa mencabut senjataku, kuangkat tubuhnya, dengan gerakan elastis kini aku menghajarnya dari belakang. Tanganku meremas bongkahan pantatnya dengan kuat, sementara senjataku keluar masuk semakin cepat Erangan dan rintihan yang tak jelas terdengar lirih, membuat semangatku semakin bertambah Ketika kurasakan ada yang mau keluar dari kemaluanku, segera kucabut senjataku “Pllop ” terdengar suara saat senjataku kucabut, mungkin karena ketatnya lubang kemaluan Bella mencengkram senjataku “Achh, kenapa Gal aku sedikit lagi”, protes Bella. Dia langsung mendorong tubuhku, kini aku telentang di bawah, dengan sigap Bella meraih senjataku dan memasukkannya ke dalam lubang sorganya sambil berjongkok. Kini Bella dengan buasnya menaikturunkan pantatnya, sementara aku di bawah sudah tak sanggup rasanya menahan nikmat yang kuterima dari gerakan Bella, apalagi saat pinggulnya sambil naik-turun digoyangkan juga diputar-putar, aku bertahan sekuat mungkin. Satu jam sudah berlalu, kulihat Bella semakin cepat bergerak, cepat hingga akhirnya aku merasakan semburan hangat di senjataku saat tubuhnya bergetar dan mulutnya meracau panjang “Oh aku puas Gal, sangat puas ” tubuhnya tengkurap di atas tubuhku, namun senjataku yang sudah berdenyut-denyut belum tercabut dari kemaluannya. Kurasakan buah dadanya yang montok menekan tubuhku seirama dengan tarikan nafasnya. Setelah beberapa saat, aku sudah merasakan air maniku tidak jadi keluar, segera kubalikkan tubuhnya kembali. Kini dengan gaya konvensional aku mencoba meraih puncak kenikmatan, kemaluannya yang agak basah tidak mengurangi kenikmatan. Aku terus menggerakkan tubuhku Perlahan gairah nya kembali bangkit, terlebih saat batang senjataku mengorek-ngorek lubang kemaluannya kadang sedikit kuangkat pantatku agar G-spotnya tersentuh Kini pinggul Bella yang seksi mulai bergoyang seirama dengan gerakan pantatku Jari-jarinya yang lentik mengusap dadaku, putingku dipilin-pilinnya, hingga sensasi yang kurasakan tambah gila. Setengah jam sudah aku bertahan dengan gaya konvensional Perlahan aku mulai merasakan cairanku sudah kembali ke ujung kepala senjataku Saat gerakanku sudah tak beraturan lagi, berbarengan dengan hisapan Bella pada putingku dan pitingan kakinya di pinggangku, kusemprotkan air maniku ke dalam kemaluannya, kami berbarengan orgasme. Agen Judi Online Sejak kejadian itu, kami sering melakukannya. Aku baru tahu bahwa gairah nya sangat tinggi, selama ini dia bersikap alim, karena tidak mau sembarangan main dengan cowok. Dia mau denganku karena aku sabar, baik dan tidak mengejar kekayaannya. Apalagi begitu dia tahu bahwa senjataku dua kali lipat mantan suaminya, tambah lengket saja gairah nya. Cerita Seks BERCINTA DENGAN, Cerita Seks BERCINTA DENGAN, Cerita Seks BERCINTA DENGAN, Cerita Seks BERCINTA DENGAN,
Pada akhir Januari 2004, aku dan pacarku Michael menonton film Lord Of The Ring 3 di sebuah mall besar di Jakarta Barat. Film dimulai sekitar jam 4 sore. Karena keberuntungan saja, kami dapat tiket pada kursi deretan paling atas berkat mengantri 5 jam sebelumnya walau berada di hampir pojok kanan. Film ini sangat digandrungi anak-anak muda saat itu, jadi kami perlu memesannya jauh sebelum film dimulai. Aku sebenarnya kurang begitu suka film seperti ini namun karena pacarku terus membujuk, akhirnya aku ikut saja. Lagipula aku merasa tidak rugi berada di dalam bioskop selama 3 jam lebih karena memang selama itulah durasi film tersebut. Cerita sex terbaru hanya ada di Setelah duduk di dalam bioskop, kami membuka perbekalan’ kami berhubung selama 3 jam ke depan kami akan terpaku di depan layar. Aku mengeluarkan popcorn dan minuman yang telah kami beli di luar. Michael duduk di sebelah kiriku. Dua bangku paling pojok di sebelah kananku masih kosong. Beberapa menit kemudian, trailer film-film sudah mulai diputar. Menjelang film Lord Of The Ring dimulai, seorang pria bersama pacarnya duduk di sebelah kananku. Aku hanya dapat melihatnya samar-samar karena suasana di dalam ruangan itu sangat gelap. Pria itu duduk tepat di sebelah kananku dan pacarnya di sebelah kanan pria itu. Mereka pun mengeluarkan makanan dan minuman untuk disantap selama film diputar. Sepuluh menit berlalu setelah film tersebut berjalan. Aku sekilas melihat pria di sebelahku menaruh tangan kirinya di alas lengan di antara kursi kami berdua. Sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan pacarnya. Ia mengenakan sebuah cincin dengan hiasan batu cincin besar yang sangat mencolok di jari tengah tangan kirinya. Dan di jari manisnya ia mengenakan sebuah cincin yang sangat sederhana. Menurut analisaku pria ini telah menikah. Selain dari cincin yang kuduga adalah cincin pernikahan, aku juga melihat sekilas wajah pria itu. Kulitnya lebih hitam dari kulitku yang putih aku dari keturunan chinese. Dari wajahnya aku memperkirakan umurnya sekitar 35-an. Akan tetapi aku tidak sempat melihat wanita yang datang bersamanya istrinya?. Pikiranku menduga-duga apakah pria ini sedang berselingkuh dengan wanita lain. Namun segera aku tepis pikiran itu dan mengatakan pada diriku sendiri bahwa pria itu sedang bersama istrinya dan tidak perlu aku berprasangka buruk terhadap mereka. [+/-] tutup/baca lebih jauh… Aku kembali berkonsentrasi pada film di layar di hadapanku sambil menikmati kudapan. Sesekali Michael juga meraup popcorn yang kupegangi itu. Michael begitu serius menonton. Memang ia sangat menyukai film yang merupakan akhir dari 2 seri sebelumnya. Setengah jam kemudian, semua makanan dan minuman yang kami beli tadi sudah habis. Boleh dikatakan film itu sangat tegang. Dengan adegan perang yang sangat seru, mataku mau tidak mau terpaku pada layar. Pada satu adegan yang mengejutkan, aku sampai terlonjak dan berteriak. Michael meraih tangan kiriku dan menggenggamnya dengan lembut. Aku pun semakin mendekatkan diri padanya karena memang pada dasarnya aku takut menonton adegan perang. Dari ujung mataku, aku merasakan pria di sebelahku memandangi kami atau aku?. Karena pria itu hanya sebentar saja memandangi kami, aku tak menggubrisnya. Akan tetapi makin lama, pria itu semakin sering dan semakin lama memandangi kami. Aku menyempatkan diri untuk melirik ke arahnya dan benar dugaanku bahwa pria itu memang memandangi kami, atau lebih tepatnya ia memandangi aku. Walau merasa risih, aku memutuskan untuk mengacuhkan pria itu. Untunglah film itu terus menerus mengetengahkan adegan-adegan yang seru sehingga aku dapat dengan mudah melupakan pria itu. Film telah berlangsung hampir setengahnya. Michael berkata bahwa ia ingin buang air kecil. Dalam gelap, ia meninggalkanku kebetulan film bukan sedang adegan yang seru. Setelah Michael hilang dari pandanganku, tiba-tiba pria itu menepuk lenganku dan berkata, “Sudah baca bukunya?” Aku terlonjak karena kaget tiba-tiba diajak ngobrol seperti itu di tengah pemutaran film. Seingatku aku tidak pernah berbicara dengan orang asing di dalam bioskop apalagi saat film sedang berlangsung. Aku mengira-ngira apa yang dimaksud dengan pertanyaan pria itu. Aku rasa ia menanyakan tentang buku Lord Of The Ring 3. Aku menjawab singkat, “Belum.” Entah mengapa jantungku jadi berdebar kencang. Ada perasaan aneh yang menyelimuti hatiku. Campuran antara kaget, curiga, penasaran dan… takut. Dari awal berbicara denganku, pria itu menatap mataku dalam-dalam seperti sedang membaca pikiran dalam benakku. “Sayang sekali. Baca dulu deh, baru bisa lebih menikmati filmnya,” pria itu menyanggah dengan suara yang dalam namun pelan. Setelah itu ia kembali menatap ke depan dan meneruskan menonton. Aku ditinggalkan dalam perasaan yang tidak menentu dan agak kosong. Anehnya aku merasa seperti ingin menangis. Pada saat itulah Michael kembali. Aku tidak menceritakan kejadian aneh itu kepadanya. Mungkin karena aku tidak ingin mengganggu kenikmatannya menonton film itu. Tapi alasan yang lebih menonjol adalah timbulnya rasa takut untuk menceritakannya kepada pacarku saat itu. Aku berusaha untuk menonton lagi walau pikiranku terus melayang ke sana kemari. Ketika pikiranku berputar-putar tak tentu arah, tiba-tiba aku merasakan ada yang menyentuh pundak kananku. Awalnya aku mengira Michael yang menyentuhnya. Tetapi setelah kuperhatikan, ia sama sekali tidak bergerak ia masih serius memperhatikan layar bioskop. Aku melihat ke belakangku. Tidak ada apa-apa karena memang kami duduk di baris paling belakang. Aku melihat ke sebelah kananku dan mendapati pria itu sedang menonton dengan asik bersama istrinya. Setelah lelah mencari-cari, aku kembali menonton. Dalam hati aku masih mencari-cari apa yang menyentuh pundakku itu. Tadi aku benar-benar merasakan sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku yakin benar. Namun aku jadi bingung karena tidak melihat adanya orang lain di sekitarku yang mungkin melakukannya. Kepalaku menjadi pusing dan berputar. Aku merasa mual dan tidak enak badan. Aku menutup mataku untuk menenangkan pikiranku. Beberapa detik kemudian, aku merasakan diriku seperti sedang mengapung di air yang sejuk dan tenang. Semua perasaan tak enak tadi sekonyong-konyong lenyap begitu saja dan digantikan dengan perasaan nyaman dan santai. Mataku masih terpejam pada saat aku kembali merasakan sebuah tangan menjamah pundak kananku. Aku berusaha untuk tetap tenang. Aku melirik ke pria di kananku. Ia duduk berdempetan dengan istrinya. Pria itu sedang merangkul pundak istrinya. Kecurigaanku padanya langsung hilang begitu mengetahui ia tidak sedang berada dekat dengan tubuhku. Aku menengok ke Michael dan juga mendapati ia sedang asyik menonton. Dengan adanya perasaan sebuah tangan sedang merangkul pundakku, aku meneruskan menonton sambil mencoba untuk tidak memikirkan hal itu. Usahaku sia-sia. Tangan’ di pundak kananku bergerak-gerak ke atas dan ke bawah seperti sedang mengusap-usap lembut tubuhku. Kemudian aku merasakan ada angin hangat berhembus perlahan meniup bagian kiri leherku. Aku langsung menengok ke arah datangnya angin itu. Tidak ada apa-apa. Michael sedang duduk melipat tangan di depan dadanya sambil bersilang kaki. Belum sempat aku berpikir lebih jauh, aku merasakan leherku dijilat. Ya, aku benar-benar merasakan sebuah lidah yang hangat dan basah menyapu leherku itu. Bulu kudukku spontan meremang. Langsung aku menengok lagi sambil mengusap leherku pada bekas jilatan itu. Kering. Tidak basah sama sekali. Dan tidak ada apa-apa di sampingku. Michael rupanya agak terganggu dengan kegelisahanku. Dia menanyakan ada apa. Aku tidak memberitahukannya. Aku menyuruhnya untuk kembali menonton. Michael kembali menonton. Ia menggenggam tangan kiriku dan mendekatkan tubuhnya sehingga lengan kanannya menempel dengan lengan kiriku. Aku masih merasakan pundak kananku dirangkul oleh tangan’ yang tak nampak. Dalam posisi yang lebih dekat dengan pacarku, aku bisa menjadi lebih tenang. Namun perasaan tenang itu hanya sebentar. Kuping kiriku dikecup dengan lembut. Aku menengok ke kiri. Tetap saja tidak ada apa-apa selain Michael yang sedang menatap serius layar di depan. Aku mulai panik. Jangan-jangan ada mahluk halus di dalam bioskop itu, pikirku. Aku merasakan kembali kecupan itu. Mulai dari telingaku lalu bergerak ke bagian belakangnya. Pada saat kecupan itu menghampiri belakang telingaku, darahku mendesir dengan kuat. Jantungku berdebar. Hanya Michael dan diriku tentunya yang tahu bahwa belakang telinga merupakan titik erogenku erogen = daerah pada tubuh yang sensitif terhadap rangsangan sexual. Aku melepaskan nafas yang panjang melalui mulutku sambil mengubah posisi duduk. Michael melihat perubahan pada diriku. Tentu ia mengira aku bosan karena setelah itu ia mengusap-usap tanganku yang digenggamnya. Entah apa yang sedang terjadi pada diriku. Hanya karena Michael mengusap-usapkan jari-jarinya di tanganku, aku menjadi terangsang. Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Walau kami sudah berpacaran lebih dari setahun, aku tidak pernah berbuat jauh selama berpacaran dengan Michael. Tidak pernah melebihi ciuman di kening, pipi dan bibir. Aku tahu sebenarnya diriku tergolong gadis yang tidak tertarik akan hal-hal yang berbau sex, boleh dibilang frigid. Baru akhir-akhir ini saja aku mulai melayani Michael dengan tanganku. Pertama kali memegang penisnya, aku merasa risih dan agak jijik. Namun setelah melakukannya dua atau tiga kali, aku dapat mengatasi perasaan tersebut. Hal yang paling menarik dalam memberi Michael hand-job’ adalah pada saat dirinya berejakulasi. Melihat dirinya mengejang-ngejang sangatlah menarik dan sexy. Juga sebelumnya aku tidak pernah membayangkan seorang pria dapat menyemprotkan cairan seperti itu. Michael pernah memintaku untuk menghisap kemaluannya. Tentu saja aku tolak. Dan untunglah sampai saat ini ia tidak pernah memintanya lagi. Michael juga tidak pernah menjamah tubuhku. Sentuhan-sentuhannya paling hanya berkisar pada lengan dan wajahku. Aku tidak akan mengijinkannya menjamah dadaku terlebih lagi kemaluanku, dan ia tahu itu. Aku takut kami tidak dapat mengendalikan diri sehingga akhirnya kami kebobolan. Aku ingin agar hubungan sex kami dilakukan pada malam pertama yang sakral. Singkat kata, kami menerapkan sistem berpacaran yang ketat dan konservatif. Sampai saat ini aku masih perawan dan begitu pula Michael setidaknya ia mengaku demikian. Michael merupakan pacar pertamaku sedangkan Michael sebelumnya sudah pernah satu kali berpacaran. Jadi saat itu adalah pertama kalinya aku mendapatkan kecupan’ di belakang kuping. Michael pernah menyentuhnya dengan ujung jarinya dan itu saja sudah membuatku berdebar. Aku tidak dapat berpikir banyak. Biasanya aku dapat mengatasi dorongan sexualku namun saat itu aku seakan jatuh ke dalam aliran sungai birahi yang deras dan hanyut terbawa arusnya. Jantungku serasa akan mau copot pada saat kecupan itu bergerak turun ke leherku. Aku mengerang sedikit karena saat sadar apa yang kuperbuat, aku segera menghentikan eranganku. Michael tidak mendengar eranganku tadi. Aku menoleh ke kanan untuk melihat apakah pria itu mendengar eranganku tadi. Rupanya pria itu sedang mencumbu istrinya. Bagus, pikirku. Dengan demikian ia tidak akan melihat atau mendengarkan diriku. Sebenarnya aku agak risih berada di samping pria yang sedang mencumbu istrinya itu. Walau demikian aku mencuri-curi pandang ke arah pria itu untuk melihat apa yang sedang dilakukannya. Lewat ujung mataku, diam-diam aku memperhatikan sepasang insan yang sedang bercumbu itu. Pria itu sedang menciumi leher istrinya. Tangan kanannya dirangkulkannya ke pundak istrinya. Istrinya terlihat sangat menikmati. Saat tangan kiri pria itu memegang lengan kiri istrinya, aku juga merasakan ada sebuah tangan menyentuh bagian atas lengan kiriku. Aku kaget memikirkan kemungkinan yang terjadi saat itu. Tangan kiri pria itu menggenggam erat lengan kanan istrinya. Genggaman pada lengan kananku juga bertambah. Kecurigaanku semakin kuat. Entah bagaimana, semua perbuatan pria itu pada istrinya juga dirasakan oleh tubuhku. Aku sangat takut. Memikirkan kemungkinan yang dapat terjadi kemudian, jantungku seperti berhenti berdetak. Perasaan pusing dan berputar itu kembali muncul seiring dengan usahaku untuk membebaskan diri’. Semakin aku berusaha, kepalaku semakin sakit. Akhirnya aku menyerah dan tidak memberikan perlawanan lagi. Aku membiarkan semua perasaan’ yang muncul saat itu. Pria itu menarik wajah istrinya mendekat lalu memagut bibirnya. Pagutan mulut pria itu pada istrinya terasa jelas pada bibir mulutku. Setiap sentuhan, tekanan serta usapan bibir dan lidah pria itu semua kurasakan pada bibir dan mulutku. Aku menutup mulutku rapat-rapat namun masih saja merasakan pagutan yang kian memanas. Aku tahu lidah pria itu sedang bermain-main dengan lidah istrinya karena lidahku pun merasakan sensasi itu. Mendapati diriku menikmati semua itu membuat malu diriku. Aku belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini pada saat berciuman dengan Michael. Setelah pria itu melepaskan mulutnya dari bibir istrinya, wanita itu tampak terengah-engah. Sialnya, aku pun mengalami hal yang sama. Dadaku naik turun terengah-engah, seperti baru selesai berlari. Untunglah sampai saat itu, baik pria itu maupun Michael tidak memperhatikan diriku. Lalu pemikiran itu muncul. Jangan-jangan pria di sebelahku itu memang sedang mengguna-gunai aku dengan pelet, hipnotis, guna-guna atau hal-hal lain yang sejenisnya. Jika benar demikian, berarti seharusnya ia tahu apa yang sedang terjadi pada diriku. Aku teringat perkataan pendetaku di gereja, bahwa orang beriman tidak bisa kena guna-guna atau pelet. Hatiku mencelos. Sudah sekian lama aku tidak beribadah kepada Tuhan. Seharusnya dua minggu lalu, aku menerima ajakan temanku untuk ke gereja bersamanya. Namun aku malah pergi bersenang-senang ke mall. Penyesalanku menguap dengan cepat pada saat aku merasakan payudaraku dijamah’. Jamahan itu tidak terlalu terasa. Aku melirik ke kanan. Pria itu sedang menggerayangi dada istrinya. Untungnya aku tidak terlalu merasakan apa-apa pada saat itu. Belum pernah aku disentuh oleh orang lain pada daerah dadaku. Boleh dikatakan saat itu merupakan pertama kalinya aku merasakan sentuhan walau secara tak langsung pada payudaraku. Dan rupanya tidak senikmat seperti yang kudengar dari omongan orang. Akan tetapi aku harus segera meralat pendapatku itu. Pria itu memasukkan tangannya ke dalam kemeja istrinya. Tangannya hilang di balik kemeja tersebut sehingga aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Detik berikutnya sungguh membuatku melambung tinggi. Aku merasakan dengan sangat jelas, jari-jari pria itu memuntir lembut puting susu istrinya. Aku memejamkan mataku sambil mengatur nafasku yang mulai tak teratur karena secara tak langsung aku pun merasakan jemari pria itu menari-nari pada payudara dan puting susuku. Sejenak aku merasa jijik pada pria itu tetapi setelah beberapa saat perasaan yang tinggal hanyalah birahi semata. Selama ini aku mengira bahwa aku tidak akan pernah menikmati hal-hal sexual seperti ini. Sekarang aku merasakan yang sebaliknya. Pilinan jari-jari pria itu membuat darahku lebih menggelegak dibanding sensasi dari ciuman di belakang telingaku. Aku tidak pernah menyadari bahwa payudaraku terutama putingnya sangat sensitif. Sejak saat itu aku baru tahu bahwa daerah payudara juga merupakan titik erogen pada tubuhku. Belum sempat aku mengikuti pacu detak jantungku, aku merasakan pria itu menyentuh bagian dalam paha istrinya. Kemudian pria itu mengusap kemaluan istrinya. Usapannya terasa seperti terhalang sesuatu yang akhirnya kutahu bahwa ia mengusap kemaluan istrinya yang masih tertutup celana dalam. Aku membuka mataku dan menoleh sedikit ke arah pria itu untuk melihat apa yang sedang dilakukannya. Dengan tangan kanannya, ia memain-mainkan payudara istrinya dan tangan kirinya merogoh selangkangan istrinya. Saat itulah aku dapat dengan lebih jelas melihat istrinya. Wanita itu sangat cantik jauh lebih cantik dariku. Bila ia mengaku dirinya artis dengan mudah aku akan percaya. Kulitnya sedikit lebih putih dibanding suaminya namun masih lebih gelap dari kulitku. Rambutnya panjang agak ikal. Dari wajahnya ia terlihat begitu menikmati sentuhan-sentuhan suaminya yang secara tak langsung juga kunikmati. Ia mengenakan kemeja yang sudah terbuka kancing-kancingnya dan memakai rok pendek. Kemudian dari balik celana jeans yang kukenakan saat itu, aku merasakan sebuah jari yang sangat panjang mengusap sekujur bibir kemaluanku. Usapan itu terasa begitu panjang dan lama. Aku sempat menggigil karena terjangan sensasi yang menghambur dari selangkanganku menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh. Tanpa pikir panjang, aku langsung berdiri dan berlari meninggalkan bioskop itu. Aku tidak mengatakan apa-apa pada Michael. Lagipula ia sedang asik menonton waktu itu sedang adegan perang yang terakhir. Aku melompati dua anak tangga sekaligus untuk keluar dari ruangan itu. Aku bergegas menuju WC berharap semua sensasi pada tubuhku dapat hilang seiring dengan menjauhnya diriku dengan pria itu. Dugaanku salah. Sepanjang jalan menuju WC, aku terus merasakan pria itu mengoles-oles jarinya di sepanjang bibir kemaluan istrinya. Sedikit demi sedikit jarinya semakin masuk lebih dalam. Cukup sudah, pikirku. Hentikan! Aku tak tahan lagi terhadap gemuruh birahi dalam tubuhku. Aku merasa liang kewanitaanku menjadi agak basah. Aku hampir tidak pernah basah’ di bawah sana bahkan pada saat sedang berciuman dengan Michael. Paling sesekali aku menjadi basah’ pada saat sedang memberikan hand-job’ pada Michael. Pintu WC kubuka dan aku lega karena tidak ada orang di dalamnya. Aku masuk ke salah satu ruang toilet dan segera menguncinya. Pada saat itulah aku tersentak karena kaget dan sedikit sakit. Pria itu memasukkan jarinya ke dalam vagina istrinya. Aku merasa jari itu begitu besar dan panjang seakan menyentuh ujung rahimku. Untuk sesaat jari itu tidak bergerak di dalam vagina istrinya. Bukan hanya jari itu yang tidak bergerak, tubuhku juga tidak bergerak karena shock. Aku merasakan jari pria itu jelas-jelas menembus liang kewanitaanku yang berarti selaput daraku sudah sobek. Setelah dapat menguasai diriku kembali, aku segera membuka celana jeansku untuk melihat apakah ada darah yang keluar dari kemaluanku. Tidak ada. Tidak ada bercak merah pada celana dalamku. Yang ada hanya cairan bening agak putih yang keluar dari kemaluanku sebagai pelumas. Tak lama setelah itu, secara perlahan ia menggerak-gerakkan ujung jarinya seperti sedang mengorek-ngorek. Kakiku menjadi lemas seakan berubah menjadi agar-agar. Aku segera duduk di closet untuk menenangkan diri. Nafasku semakin memburu. Desahan demi desahan keluar dari mulutku seiring dengan gerakan ujung jari itu. Seluruh tubuhku terasa panas dan gerah. Gerakan jari pria itu sekarang berubah menjadi gerakan maju dan mundur. Gerakannya sangat pelan namun sensasi gesekan kulit jari pria yang besar itu terasa begitu jelas pada dinding vaginaku. Seakan jari pria itu benar-benar maju mundur dalam diriku. Bersamaan dengan itu, aku mendengar pintu WC dibuka dan terdengar seseorang masuk. Aku menutup kuat-kuat mulutku sendiri dengan kedua tanganku. Aku tidak ingin orang lain mendengar aku mendesah-desah di dalam toilet. Sulit sekali menghiraukan rangsangan yang begitu hebat yang melanda tubuhku saat itu. Aku berkali-kali harus menggigit bibir bawahku agar tidak bersuara. Pria itu sedikit mempercepat gerakan jarinya namun semakin lama hujaman jarinya itu terasa semakin mendalam. Pintu WC kembali dibuka. Aku masih menekap mulutku dengan kedua tanganku sambil mendengar apakah benar orang yang tadi masuk sudah keluar atau jangan-jangan ada orang lain lagi yang masuk ke WC. Setelah memastikan tidak ada orang lain di dalam WC, aku melepaskan kedua tanganku dari atas mulutku dan kembali bersuara’. Rupanya pria itu sudah tidak memain-mainkan payudara istrinya karena aku baru saja merasakan tangan yang satunya memilin klitoris istrinya. Saat itu pula aku mengerang keras aku tak peduli lagi apakah ada yang mendengar. Luar biasa! Benar-benar luar biasa! Aku bergetar karena terangsang dan juga malu karena menikmati semua itu. Jika aku tidak berkeinginan kuat untuk memegang komitmen menjaga keperawananku sampai menikah, aku benar-benar ingin mencoba berhubungan sex dengan Michael setelah ini. Pria itu menghujamkan jarinya dalam-dalam dan diam tidak bergerak. Lalu ujung jarinya bergetar-getar kecil. Wow, aku benar-benar dibawa melambung semakin tinggi. Lalu seperti tiba-tiba, pria itu mengeluarkan jarinya. Dalam hatiku berkecamuk perasaan antara lega dan kesal karena semua itu kelihatannya sudah berakhir. Aku terdiam. Dorongan sexual masih berkobar dalam diriku. Namun aku terus berusaha untuk menurunkan tekanan dalam diriku itu. Lima menit aku seperti terkulai lemas tak berdaya duduk di closet sambil mengejap-ngejapkan mataku dan mengatur nafasku yang menderu-deru. Pada saat aku masuk ke bioskop kembali ke tempat dudukku, aku hampir tak berani menatap pria itu. Dari ujung mataku aku merasa ia memandangi aku dengan senyum penuh kemenangan. Segera aku duduk dan memeluk lengan pacarku. Dua puluh menit kemudian film berakhir. Aku mengajak Michael untuk segera meninggalkan ruangan itu sehingga tidak perlu bertatapan dengan pria di sebelahku. Michael menurut saja. Akhirnya kami bergabung dengan gerombolan orang-orang yang berdesakan ingin segera keluar dari bioskop. Pria itu dan istrinya tidak beranjak dari tempat duduknya. Betapa leganya aku mengetahui semuanya itu sudah berakhir. Namun sekali lagi aku salah. Setelah keluar dari ruangan itu, kami tidak langsung pulang walau sudah malam. Kami berjalan-jalan di mall. Kebetulan aku hendak membeli kemeja untuk kerja maklum aku baru kerja satu bulan. Sekitar satu jam setelah keluar dari bioskop, selagi kami berjalan-jalan di R*** departemen store, tiba-tiba aku mulai merasakan sensasi seperti tadi di dalam bioskop. Payudaraku terasa seperti diremas-remas. Kali ini remasan itu terasa pada kedua payudaraku. Hatiku mencelos dan berpikir jangan-jangan pria itu kembali bercumbu dengan istrinya. Namun kali ini ia melakukannya tanpa foreplay’ terlebih dahulu. Hanya selang beberapa menit aku kembali dikuasai oleh birahiku yang meletup-letup. Michael yang kugandeng sedari tadi belum menyadari perubahan pada diriku. Namun pada saat aku merasakan jari pria itu menyentuh kemaluan istrinya, aku terdiam dan berdiri tegang. Michael tersentak karena aku berhenti secara tiba-tiba. Ia menanyakan ada apa. Aku belum bisa menjawabnya. Mulutku kelu dan hatiku berdebar keras. Aku hanya dapat berharap ia tidak mendengar dentum jantungku. Sepuluh detik kemudian aku memberi alasan bahwa aku teringat akan suatu hal namun sudah lupa lagi saat itu. Michael tampaknya mempercayainya. Jari pria itu secara perlahan membuka mulut bibir vagina istrinya, aku dapat merasakan tiap sentuhannya. Dengan sangat amat perlahan jari itu menembus masuk ke dalam liang kewanitaannya. Aku harus berpegangan erat pada rak tempat digelarnya baju-baju obral agar tidak jatuh. Michael masih tidak memperhatikanku. Jari itu terasa begitu besar bahkan terasa lebih sakit dari saat jarinya pertama kali menembus vaginanya tadi di bioskop. Tiba-tiba aku baru menyadari bahwa yang masuk ke dalam liang kewanitaannya itu bukanlah jari melainkan penis. Memikirkan hal itu membuat jantungku seperti dihempas dari atas gedung lantai 10. Seperti inikah rasanya bila penis seorang pria menerobos masuk ke dalam diriku. Sakit. Otot-otot vaginaku terasa seperti akan robek. Detik-detik berikutnya sama sekali tidak dapat kuduga bahwa ada sensasi yang begitu nikmat dalam hidup. Pria itu menggerak-gerakkan penisnya maju mundur. Bersamaan dengan itu, ia memain-mainkan klitoris istrinya. Serta merta lututku langsung terasa hampa dan aku terpuruk jatuh ke lantai seperti boneka tali yang diputuskan tali penyangganya. Michael panik melihat diriku yang terjatuh itu, namun tidak sepanik diriku. Beberapa orang di sekitar kami, memandangi aku dengan pandangan bingung. Aku berusaha bangun tapi sensasi kenikmatan itu terus menghantam diriku bertubi-tubi sehingga semua usahaku sia-sia. Rasa takut dan malu mulai menyelimuti hatiku. Jangan sampai orang-orang itu tahu apa yang sedang terjadi. Oh Tuhan, apa yang sedang terjadi pada diriku, aku membatin. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku mulai berdoa, meminta ampun pada Tuhan dan mohon pertolonganNya. Sekejap mata semua sensasi itu lenyap musnah. Michael sudah berhasil memapah aku untuk berdiri. Aku juga sudah dapat menguasai diri lagi. Sebelum sempat ia bertanya, aku memberi alasan bahwa aku kurang enak badan dan minta segera diantar pulang. Sesampai di rumah Michael kusuruh segera pulang karena sudah larut malam. Aku segera masuk ke dalam kamar dan bersiap tidur. Aku kembali memikirkan apa yang terjadi tadi. Malam itu aku mendapat pengalaman yang benar-benar tak dapat kulupakan. Aku tahu aku masih perawan secara fisik namun secara batiniah aku merasa keperawananku telah direnggut oleh pria itu. Walaupun begitu aku bersyukur tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk tadi. Aku juga berjanji untuk lebih mempertebal imanku sehingga tidak mudah diguna-guna oleh orang lain. Anehnya terlintas sekelebat di benakku agar dapat merasakan kembali apa yang telah aku rasakan di mall tadi. Apa ruginya, pikirku. Selaput daraku masih utuh namun aku dapat merasakan nikmatnya berhubungan sex dengan pria. Namun mengingat janjiku kepada Tuhan barusan, aku membuang jauh-jauh pikiran itu. Sekarang aku tidak lagi menilai diriku sebagai wanita frigid. Aku merasa nyaman dengan sexualitas diriku dan kini aku lebih terbuka akan hal-hal yang berbau sex. Tetapi aku tetap saja menerapkan sistem berpacaran yang ketat dan konvensional pada Michael, pacarku. Share
Bokeptetangga – Kali ini saya akan menceritakan kisah tentang hubungan saya dengan Rina, seorang gadis dari Bukittinggi. Kami bertemu ketika saya nongkrong di salah satu Studio 21 di Jakarta. Setelah melihat poster film yang akan diputar, saya tidak berpikir saya tertarik menonton hari ini. Di sebelah saya adalah seorang wanita muda yang juga melihat poster film. Dari ekspresinya dia sepertinya juga tidak tertarik. “Mau nonton Mbak?” “Rencananya, tapi saya rasa filmnya tidak bagus, dan dua yang lain saya tonton,” jawabnya. Kami berdua duduk di lobi dan mendiskusikan film yang dimainkan, When a Man Loves a Woman. Mungkin juga wawasan dan ulasannya. Karena film telah diputar dan pintu studio akan ditutup, kami berdua meninggalkan studio. “Di mana kamu sekarang, Ma’am?” “Jalan-jalan saja, malas di rumah,” jawabnya. “Kamu bisa mengikutinya. Ma’am, jangan takut, aku orang baik. “Tidak peduli apa, itu sebenarnya bagus untuk ditemani dan ada pengawal. Apakah ini anggota, hah?” Memang, karena tubuhku yang tegap, aku sering keliru sebagai prajurit atau petugas polisi. Tapi saya selalu jujur ketika ditanya demikian. “Anggota apa? Jika anggota masyarakat benar, tetapi jika militer tidak benar. Saya dulu mengambil tes tetapi saya tidak lulus.” “Setelah tubuh itu tegak”. Akhirnya kami hanya berputar-putar di mal terdekat. Setelah berputar, kami berhenti di kafe dan minum di sana. Sambil mengobrol, aku mengamati wanita ini di depanku. Tubuh baik-baik saja, gemuk dan montok, kulitnya berwarna kuning. Dalam setiap percakapan saya selalu memanggilnya “Ma’am”. “Uh, aku bukan orang Jawa, panggil saja namaku, Rina, atau jika kamu ingin memanggil Uni Rina,” dia memprotes. Akhirnya saya hanya memanggil namanya. Panggilan Union tidak terasa akrab di lidahku. Saya tidak berani memprovokasi dia untuk melakukan hal-hal yang lebih mengingatkan pada kisah kampung halamannya yang penduduknya terkenal patuh. Tetapi memang jika lebih banyak keberuntungan, ada jalan. Ketika dia membuka tasnya, mengambil sesuatu tiba-tiba dompetnya jatuh ke lantai. Dia membungkuk untuk mengambilnya. T-shirt yang dia kenakan sedikit terbuka tanpa menyadarinya. Saya memperhatikannya seperti terkena listrik. Payudara besar dan putihnya, terbungkus bra dengan model cangkir yang hanya menutup putingnya, menggantung seolah diminta untuk dipetik. Dia masih tidak menyadari bahwa aku sedang menonton di balik kaosnya sampai dia berdiri tegak lagi. Aku masih tercengang melihat pemandangan yang baru saja kulihat. Rina menjabat tangannya di wajahku. “Uh, bangun … Bangun. Ada api,” katanya, mengejutkanku. Aku tersentak dari pikiranku. Dia terkekeh. “Jangan melamun, nanti,” katanya lagi. Dia memegang tanganku. Aku mulai panas dan dingin. Dia menggeser kursinya di sampingku. Saya tidak sengaja menyentuh dada gemuk saya. Wajahku agak merah, sementara dia diam. “Maaf Rin, ini tidak disengaja,” aku minta maaf. “Aku tahu, jika aku dengan sengaja memanggilnya kurang ajar. Tetapi jika kamu ingin memperbolehkannya lagi. Selain daripada melamun, lebih baik untuk menemukan pengalaman,” katanya pelan sambil menoleh ke arah lain. Haah! Saya sepertinya tidak percaya kata-katanya. Otak saya mulai menganalisis peluang yang bisa saya tangkap. “Sungguh, aku tidak mau. Kalau kamu mau, ayo cari tempat yang aman. Apalagi kamu menyenggol, lebih dari itu, bahkan kemudian,” dia melirikku dan lidahnya memainkan bibirnya. “Tarik Mangg !!” Aku berteriak pada diriku sendiri. Tanpa membuang waktu lagi kami naik taksi dan menuju hotel yang cukup bersih. Kami berdua berbaring di tempat tidur. Rina di sampingku, menatapku lalu meletakkan wajahnya ke wajahku dan menciumku. Saya jawab perlahan. Kuremas memiliki dadanya dari luar kemejanya. Dia berdiri di atasku. “Ouw .. Mulai tangan nakal ya!” Dia berbisik. Rina terus menciumku sambil melepas kaosnya. Lalu tangannya menarik kemeja yang saya kenakan dan mengambilnya dari kepala saya. Dia membelai dadaku dan mengusap bibirnya dengan bulu di dadaku. Bibirnya turun dan mencapai leherku. Aku mencium telinganya dan aku menghembuskannya ke dekat telinganya. Dia menggelinjang geli sekaligus nikmat. Meningkatnya debit dada. Dia terus mencium dadaku. Aku merasakan payudaranya yang kupandang sebelumnya ditekankan ke dadaku. Kenyal dan padat dibalut bra hitam. Onde mandeh, sangat cantik. Tangan kanannya ke bawah, buka pinggang saya, lepaskan tombol celana dan tarik ritsluiting dan kemudian tarik ke bawah. Lalu aku menggangkat pantatku supaya dia bisa membuka cepat celanaku. Aku memindahkan kepalaku ke punggungnya dan dengan gigiku aku melepaskan kaitnya. Saya mencium punggungnya yang putih mulus. Tanpa dibuka, dengan gerakan kami akhirnya kurung lama telah melepaskan diri dan merosot ke tempat tidur. Payudaranya besar, mungkin 36, terlihat sangat putih, kencang dan padat dengan pinggiran kemerahan. Putingnya yang kecoklatan tidak bisa menunggu saya untuk segera menghisapnya. Kuis dada kiri dan kujilati, sementara sisi kanan diperas dengan tangan kiriku. Saya melakukannya secara bergantian. Tangan kiri saya menggosok rambutnya dengan lembut. Rina mengerang dan mengerang ketika aku menggigit putingnya. “Upps … Lagi Anto. Ououououhh … Nghgghh, Anto ayo pergi lagi … Ouuhh … Anto” Payudaranya lelah. Rina menggelengkan kepalanya dan mencium leherku sampai ke leher. Saya juga tidak tahan. Senjataku siap untuk masuk dalam pertempuran. Rasanya keras dan kepalanya terayun melewati pinggang celana dalamku. Tangannya menurunkan celana saya ke paha dan melanjutkan dengan jari-jari kakinya dia menanggalkan celana saya. Mulutnya terus bergerak ke bawah dan sekarang Rina mengisap buah pelirku dan menjilat tongkat meriamku. Aku membalikkan wajahku ke samping dan menggigit ujung bantal. Tiba-tiba refleks meriamku menegang untuk bersandar ke permukaan perutku ketika lidah Rina mulai menjilat kepalanya. Saya mengencangkan otot perut saya sehingga meriam saya juga bergerak dan berdenyut. “Hmm … Tidak terlalu besar, hanya ukuran rata-rata tetapi keras dan berdenyut.” Pasti luar biasa lezat, “Rina berkomentar sambil terus melakukan aktivitasnya. Aku mengangkat kepalaku dan aku melihat Rina sedang asyik menjilati, menghisap dan menghisap meriamku, terkadang dia menatapku dan tersenyum. Rina melepaskan kepalanya dari selangkanganku dan tangannya dengan cepat membuka celana dalamnya sendiri. Bibirnya menarik bibirku. Saya kembali dengan ganas dan saya menyentuh lidah saya ke bibir dan ke dalam rongga mulutnya. Lidah kami kemudian memutar dan menghisap satu sama lain. Tanganku masuk ke selangkangannya dan kemudian jari tengahku masuk melalui kesenangannya untuk menemukan benjolan kecil di dinding atas. Rina meremas dan mengguncang meriamku. Meriam saya semakin kencang. Kami menyediakan rangsangan bersama. “Ouououhhkk … Enak … Puaskan aku,” dia memohon dengan suara teredam. Kemudian tangannya diurutkan dan menggenggam meriamku dengan erat. Aku merasakan pantat Rina dan pinggulnya mengayunkan meriamku. Dan tanpa kesulitan maka kepala meriam saya memasuki gua kesenangan. Rasanya lembab dan agak saggy. Aku merasakan dinding gua semakin meler dan menembus pilarku. “Akhh Anto, mari kita nikmati bersama … Oukkhh”. Kujilati leher dan bahunya. Dia terus menggoyang pantatnya sehingga sedikit demi sedikit dia masuk dan akhirnya semua tongkat meriamku dikubur di guanya. Rina bergerak ke atas dan ke bawah untuk mendapatkan sensasi kenikmatan. Pantatnya bergerak maju mundur. Gerakannya berubah dari perlahan menjadi lebih cepat dan lebih cepat sampai akhirnya dia berhenti karena kelelahan. Dia mengubah gerakannya ke kanan ke kiri dan berputar. Pantatnya naik sedikit tinggi sehingga hanya kepala kanon saya berada di bibir gua dan bibir gua-nya kemudian mengecil ke kepala kanon saya. Kontraksi otot vagina tidak terlalu kuat, hanya sedikit terasa meremas batang kemaluan. Kemudian dia menggosok bibirnya di atas kepala meriam saya hingga beberapa kali dan kemudian dengan cepat menurunkan pantatnya sampai seluruh batang meriam saya tenggelam sepenuhnya. Ketika tongkat meriam saya tenggelam sepenuhnya, tubuhnya gemetar dan kepalanya bergoyang ke kanan dan kiri. Napasnya terputus-putus. Kuis keras putingnya. Gerakannya semakin liar dan cepat. Tangan saya memeluk punggungnya dengan erat sehingga orang tua kami tertutup bersama. Dia juga memelukku erat. Sekarang gerakannya lambat tetapi sangat terlihat. Pantatnya naik ke atas sampai alat kelamin saya dilepaskan, dan dia menurunkan lagi dengan cepat dan saya disambut dengan pantat saya ke atas. Kembalikan meriamku melalui gua. Dia menggigil dan tergagap-gagap. Tangannya meremas rambutku dan mencakar-cakar punggungku, punggungnya melengkung menahan kesenangan. Mulutnya mengerang dengan kata-kata tidak jelas dan mengerang keras. “Anto … Ouhh Anto, aku ingin mendapatkannya, aku tidak tahan lagi … Ar,” desahnya. “Sshh … Shh” “Anto sekarang Ouhh … Sekarang,” dia menjerit. Tubuhnya mengeras, merapat di atasku dan kakinya melilit betisku. Pantatnya ditekan keras dan vaginanya begitu basah sehingga terasa licin. Tubuh Rina mulai rileks. Keringatnya menetes ke seluruh pori-porinya. Penis saya masih dikencangkan masih tersisa di vaginanya. “Terima kasih, hatiku. Kamu benar-benar hebat. Aku puas dengan gimmu. Beri aku waktu istirahat, kalau begitu …” dia berbisik di telingaku. Aku meraih bibirnya dengan bibirku dan menggulingkannya ke samping. Penis saya yang belum selesai tugasnya tentu saja masih tegang dan penasaran. “Tidak apa-apa sayang, biarkan aku beristirahat sebentar …” Aku mengabaikannya, sekarang aku mengangkat vaginanya ke tawa kecil yang menyebabkan suara yang sangat merangsang. Dia hanya pasif dan terus menerima pertempuran saya. Vaginanya terasa sangat licin dan berpasangan dengan kondisi otot-otot yang sudah kendor, maka gerakan saya tidak memberikan kesenangan maksimal. Saya menarik penisku dan mengambil handuk untuk menyeka vagina sehingga kering. Saya naik lagi ke tubuhnya. Kembali saya meletakkan moncong saya ke target. Saya mendorong perlahan, beberapa kali terlewatkan. Aku mengangkat kakinya dan meregangkan pahanya. Dengan kekuatan penuh aku mendorong pantatku. Sekarang berhasil, dan saya segera meningkatkannya dengan tempo yang lambat. Lumayan, dalam keadaan dinding vagina kering seperti ini, rasanya bisa enak. Rina kembali ke nafsu setelah istirahat beberapa menit. Dia kemudian mengimbangi permainan saya dengan gerakan pinggulnya. Dia menyangga pantatnya dengan bantal sehingga kemaluannya sedikit naik. Kami berciuman penuh gairah. Kaki kami saling menjepit dalam posisi silang, kaki saya dijepit di kaki kirinya dan kakinya dijepit di kaki kiri saya. Dalam posisi seperti ini dengan gerakan minimal dapat memberikan kenikmatan optimal, sehingga menghemat energi. Kami semakin terbuai oleh gerakan masing-masing. Sekarang kedua kaki itu menjepit kakiku. Dia memutar-mutar pinggulnya dan melakukan gerakan naik turun. Aku meremas, memutar dan mengisap payudaranya. Kita bisa saling memberi kesenangan. “Ouh … Achch … Mmmm … Itu tidak mungkin” Rina menghela nafas tertahan. Saya mengangkat pinggul saya ke atas dan ke bawah dengan ritme tertentu. Terkadang cepat terkadang sangat lambat. Setiap gerakan saya membuat pinggul saya naik sedikit tinggi sehingga penis saya terlepas dari vaginanya, lalu saya tekan lagi. Setiap kali penisku dalam posisi memasuki, menggesek bibir vaginanya sedikit menjerit. Kakinya bergerak dan aku menekan kakiku dengan kakiku. Dalam posisi ini, saya hanya menarik penis saya menjadi dua, karena jika saya menariknya keluar, sulit untuk memasukkannya lagi. Namun keuntungannya adalah bahwa klem vagina sangat terasa. Kami mengubah posisi lagi, kembali ke posisi konvensional. Aku mengangkat kakinya di pundakku, lututnya menekan perutnya. Dengan tanganku beristirahat, aku membiarkan tubuhku mengambang tanpa menempel ke tubuhnya. Sepintas, itu seperti gerakan orang melakukan push-up. “Rina … Ouhh itu enak, ini hebat sekali permainanmu …” Saya memperkirakan bahwa kami telah bercinta selama setengah jam, energi telah mulai berkurang sehingga saya memutuskan untuk mencapai puncak dengan segera. Saya mempercepat gerakan saya dan gerakannya juga semakin liar. “Sedikit … Oooh,” dia memohon. Saya mematuhi permintaannya. Saya menggeser tubuh saya, sehingga ayam saya menggosok di bagian atas vaginanya. Gesekan pada kulit penisku dengan klitoris terasa sangat baik. Suara derit, erangan, suara selangkangan dan paha bertabrakan seolah-olah bersaing. Tubuh kita sudah basah karena banjir keringat. Udara dingin ruangan itu tidak terasa lagi. Saya merasa ada aliran yang mengalir melalui penis saya. Ini saatnya mengakhiri game ini. Rina terengah-engah untuk kesenangan yang dia rasakan. “Rina … Rin akan segera keluar …” Gerakan saya semakin cepat dan cepat seolah-olah tubuh saya mengambang. Lutut saya mulai sakit. “Ayo, Anto, aku juga ingin seorang kkel … Uar. Kami tiba bersama. Ketika saya merasakan aliran di penis saya tidak tertahankan, saya menarik tubuh saya ke tubuhnya dan melepaskan kakinya dari pundak saya. Kakinya sangat lebar. Aku mengubur pinggulku dalam-dalam sambil menjerit menahan diri. “Rina … Ouh … Sekarang … Sekarang”. “Ouh Anto saya … Juga … Keluar”. Kakinya memutar kakiku, kepalanya mendongak dan pantatnya terangkat. Saya merasakan denyutan di vaginanya sangat kuat. Saya memecat saya beberapa kali. Giginya terkubur dalam di dadaku sampai terasa sakit. Nafas kami masih terengah-engah, aku menarik penisku dan meluncur di sampingnya. Tangannya memeluk lenganku dan jari-jarinya menekan jari-jariku. “Anto aku masih ingin lebih, kami menghabiskan malam bersama. Ayo, tolong … Pleasse!” Dia bertanya padaku. “Maaf Rin, jangan malam ini. Bukannya aku tidak mau, tapi besok pagi aku akan meninggalkan kota selama beberapa hari. Aku akan memuaskanmu nanti setelah tiba dari luar kota,” aku menghindar. Saya merasa tubuh saya sangat lelah sehingga jika saya menuruti permintaan saya, saya merasa saya tidak bisa lagi mencocokkannya. Rina terlihat agak kecewa tetapi dia bisa menerima alasan saya. Kami masuk ke kamar mandi, memeluk dan menyiram air hangat bersama di kamar mandi sampai rasanya mau tidur. Lalu kita membersihkan tubuh masing-masing. Setelah memakaikan bibirku, dia menjawab dengan penuh semangat, tetapi aku mendorong tubuhnya dengan mulus. “Sudahlah, Rin, kita akan menghabiskan waktu bersama kita sepanjang hari,” kataku. Kami akhirnya keluar hotel dan berpisah, kami janji akan kembali bercumbu ketika bertemu selesai kembali dari luar kota.
70 histoires erotiques publiées sur Histoires De Sexe, abordant le thème Cinéma Histoire erotique publiée sur Histoires De Sexe le 09-04-2023 à 16 heures Catégorie Entre-nous, hommes et femmes Histoire erotique publiée sur Histoires De Sexe le 12-03-2023 à 10 heures Catégorie Plus on est Histoire erotique publiée sur Histoires De Sexe le 19-01-2023 à 10 heures Catégorie Pour la première fois Histoire erotique publiée sur Histoires De Sexe le 20-12-2022 à 12 heures Catégorie Plus on est Histoire erotique publiée sur Histoires De Sexe le 11-10-2021 à 00 heures Catégorie Entre-nous, hommes et femmes Ce film m’a été recommandé par Strelleg, auteur sur HDS et lecteur de mes textes. Je l’en remercie vivement, car il m’a donné l’occasion de revoir un chef d’œuvre. Au-delà d’un destin de femme, ce film interpelle sur le couple, l’adultère, la transparence et les choix de vie. LE REALISATEUR Clint Eastwood, né en 1930, est mondialement connu comme acteur, réalisateur, compositeur et producteur de cinéma américain. Je ne développerai donc pas ici sa biographie. Clint a eu une vie privée agitée et toujours été un séducteur impénitent ». Il est père de sept enfants, nés entre 1964 et... Histoire erotique publiée sur Histoires De Sexe le 31-07-2021 à 00 heures Catégorie Entre-nous, hommes et femmes Histoire erotique publiée sur Histoires De Sexe le 06-02-2021 à 00 heures Catégorie Dans la zone rouge Histoire erotique publiée sur Histoires De Sexe le 25-11-2020 à 00 heures Catégorie Entre-nous, hommes et femmes Histoire erotique publiée sur Histoires De Sexe le 05-05-2020 à 00 heures Catégorie Entre-nous, les hommes Histoire erotique publiée sur Histoires De Sexe le 23-11-2017 à 00 heures Catégorie Entre-nous, les hommes
cerita seks di bioskop