cerita seks papa tiri

CeritaSeks Papa Tiri Panutanku. November 07, 2014 at 10:51PM. Label: +21. Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook. di 08.05. Next Posting Lebih Baru Cerita Seks Diajari Ngentot ibu Tiri. February 26, 2014 at 05:18PM . Cerita Seks Aku Di Perkosa Adikku Sendiri. ByAdmin. Kubiarkan Papa Tiriku Menggenjoti Memekku Sampe Puas. Perkenalkan, namaku Venus, umurku 24 tahun. Aku memiliki kehidupan seks yang cukup menarik. Temanku memberitahuku mengenai situs ceritadewasa99 dan ketika aku pertama kali browse ceritadewasa99, aku langsung tertarik untuk ikut mencurahkan kisahku di situs ini. NantiMama tahu," kata Fenty sambil bangkit dan menarik tangan Papanya ke kamar belakang. Papanya menurut mengikuti Fenty. Fenty langsung memeluk dan melumat bibir Papanya dengan liar, Papanyapun membalasnya semakin panas. Tangan Fenty mulai berani disusupkan dan masuk ke celana kolor Papanya, lalu tanpa ragu menggenggam dan meremasnya pelan. Sodokbelakang- Cerita Sex Papa Tiri Sebagai anak angkat aku harus menjadi anak baik dan patuh pada kedua orang tua angkatku, mereka telah mengangkat aku sejak usiaku 7 tahun. Kini usiaku sudah menginjak 18 tahun, dan masih menjadi bagian dari keluarga angkatku. Meskipun kini mereka telah memiliki anak sendiri, yang baru berusia 5 tahun. CeritaSedarah Ibu. "Kamu nakal ar!!". Kata mama tersenyum sambil menggelitik dadaku dengan jari-jarinya.."Abis mama canti sekali sich!!". Balasku juga menggelitik gundukan daging diatas pubisnya," disitu sayannngg" teriak mama sambil mengencangkan pelukannya, hah!! mình đã không yêu xin đừng tìm nhau. Perkenalkan, namaku Nina, umurku 24 tahun. Aku memiliki kehidupan seks yang cukup menarik. Temanku memberitahuku mengenai situs RumahSeks dan ketika aku pertama kali browse RumahSeks, aku langsung tertarik untuk ikut mencurahkan kisahku di situs ini. Semoga kisahku ini dapat menjadi salah satu bacaan yang menarik.*****Kisah ini dimulai ketika aku merasakan seks-ku yang pertama dengan Papa tiriku ketika aku masih berumur 16 tahun. Pada saat umurku 3 tahun, Papa kandungku telah meninggal hingga ibu menikah lagi dengan Oom Mardi ketika umurku 5 tahun. Jadi, selama 11 tahun aku telah menganggapnya sebagai Papa kandungku, toh aku juga tidak ingat lagi akan kehadiran Papa kandungku. Namun, sejak kejadian ini aku tidak hanya menganggapnya sebagai Papa, tapi sekaligus juga sebagai pemuas nafsu birahiku. Begitupun Papa Mardi yang menganggapku sebagai anak sekaligus budak lebih memperjelasnya, aku memiliki tubuh yang cukup bagus dengan buah dada berukuran 34B. Kulitku putih bersih dengan rambut panjang sepunggung. Aku beberapa kali menonton dan membuka situs porno karena rasa penasaranku terhadap aktivitas seks yang sangat digemari di kalangan anak laki-laki. Ketika menonton film-film porno itu, ada rasa ingin mencoba karena kulihat betapa nikmatnya wajah sang wanita yang disetubuhi. Aku pun sering membayangkan bahwa yang ada di film itu adalah aku dan pria idamanku, namun ironisnya aku kehilangan keperawanan bukanlah dengan pria idamanku. Beginilah cerita awalnya..Pada suatu Minggu pagi, Ibuku tidak ada di rumah hampir sepanjang hari karena harus menunggui kakaknya yang sedang dirawat di rumah sakit. Jadi, aku tinggal di rumah sendiri. Ketika aku berjalan ke ruang makan untuk makan pagi, aku hanya melihat Papa seorang diri sedang menyantap nasi goreng."Pa, Mama mana? Kok gak ada?" tanyaku sambil mengucek mataku yang masih saat itu Papaku tidak langsung menjawab, Ia tercengang untuk beberapa saat dan menatapku dengan pandangan tajam. Ketika kusadari, ternyata pada saat itu aku mengenakan daster putih tipis pendek yang tembus pandang hingga memamerkan lekuk tubuhku. Puting susuku terpampang jelas karena aku tidak memakai bra. Kurasakan mukaku memerah dan spontan aku menutupi dadaku."Ehem.. Nin, Mama pergi sejak jam 4 subuh. Tante Firda mendadak koma," kata Papa segera setelah sadar dari kagetnya."Apa?! Tan.. Tante koma?" ujarku terbata-bata."Iya, Nin. Papa tahu kamu kaget. Nanti kita jenguk jam 12 ya?"Aku terisak sedih dan air mataku mulai mengalir. Tante Firda adalah tante favoritku. Ia sangat baik terhadap Ibu dan aku. Ketika aku masih terisak, Papa segera menghampiri dan memeluk diriku."Tenang Nin, masih ada harapan kok," hiburnya sambil mengelus balas mendekapnya dan mulai menangis tersedu-sedu. Papa mengelus-elus punggungku ketika aku menangis, namun nafas Papaku terdengar berat dan kurasakan penisnya yang membesar menekan perutku. Aku segera melepaskan pelukanku namun Papa menahannya."Pa, lepaskan aku!" jeritku ketakutan."Tidak bisa, Nina sayang.. Salahmu sendiri menggoda Papa dengan baju tipismu itu," ujar Papa, kemudian tangannya mulai meremas-remas pantatku dengan gemas."Pa, jangan.. Nina gak mau, Pa!" isakku sambil memberontak, namun tenaga Papa jauh lebih kuat daripadaku, tak ada gunanya aku melawan juga."Kamu diam saja, sayang.. Enak kok.. Nanti pasti kamu ketagihan," bisik Papa sambil terengah-engah, setelah itu tangan Papa mulai menyusup ke dalam celana dalamku dan meremas kembali pantatku dari berkali-kali melawan, namun tak berdaya karena perbedaan tenaga kami. Kemudian, Papa mengangkat satu kakiku dan menahannya selagi tangan satunya meraih lubang vaginaku."Ohh.. Pa.. Ja.. Jangan," kurasakan birahiku mulai naik, bahkan lebih daripada ketika aku menonton film porno di kamarku diam-diam. Jarinya dengan lincah menggosok-gosok lubang vaginaku yang mulai basah. Nafasku juga mulai cepat dan berat. Melihat reaksiku yang mulai pasrah dan terbawa nafsu, Papa melanjutkan aksinya. Ia membawaku ke sofa ruang tamu dan mendudukkan diriku di pangkuannya dengan posisiku memunggunginya. Tak lupa pula ia membuka celana dalamku dengan kasar. Tangannya dengan kasar membuka lebar-lebar pahaku sehingga vaginaku terpampang lebar untuk dijelajahi oleh tangannya. Sebelum sempat melawan, dengan sigap tangannya kembali meraih vaginaku dan meremasnya."Nin, memek kamu seksi banget.. Nanti Papa sodok ya.." bisik Papaku di telingaku dan menjilatinya ketika tangannya mulai bermain di sudah tak tertahankan lagi hingga aku pun pasrah terhadap perlakuan Papaku ini. Aku mulai mendesah-desah tak keruan. Jilatan maut di telingaku menambah nafsuku. Papa terlihat mencari-cari titik rawan di klitorisku dengan cara menekan-nekan klitorisku dari atas ke bawah. Ketika akhirnya sampai di titik tertentu, aku meracau tak karuan."Ahh.. Shh.. Paa.." desahku bernafsu."Nin, Papa suka banget sama kamu.." balas Papa sambil mencium dengan lihai menggosok-gosok dan menekan titik rawan itu dengan berirama. Rasanya bagaikan melayang dan desahanku berubah menjadi rintihan kenikmatan. Tak sampai 15 menit kemudian, aku mendapat orgasmeku yang pertama."Paa.. Nina pengen pipiss.." desahku tak tahan menahan sesuatu yang ingin meledak di dalam diriku, tanganku meremas tangan Papa yang sedang bermain di klitorisku dengan luar perkiraanku, Papa malah memperkeras dan mempercepat gerakannya. Papa merebahkanku di sofa dan merentangkan kedua pahaku. Kurasakan jilatan lidah di bibir vaginaku, rasa menggelitik yang luar biasa menyerang tubuhku. Jilatan itu menjalar ke klitoris dan membuat vaginaku membanjir. Di sela jilatan-jilatan Papa yang maut, kurasakan gigitan lembut di klitorisku yang kian merangsang hasrat seks-ku. Aku melenguh keras disertai jeritan-jeritan kenikmatan yang seakan menyuruh papaku untuk terus dan tak reaksiku, Papa semakin berani dan menggesekan jarinya di liang vaginaku yang sudah membanjir. Tak kuasa menahan nikmat, aku pun mendesah keras terus-menerus. Aku meracau tidak beraturan. Kemudian kurasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya tak lama kemudian. Vaginaku mengeluarkan cairan deras bening yang sebelumnya belum pernah kulihat. Papa tampak senang melihatku mengalami orgasme yang pertama. Setelah sensasi nikmat itu surut, kurasakan tubuhku lelah tak berdaya bagai tak bertulang. Papa membopongku ke kamarnya dan menidurkanku di memelukku dengan lembut. Kami tidak berkata apa-apa. Papa kemudian membuka dasterku, kemudian Papa tampak semakin bernafsu ketika melihat payudaraku yang berukuran cukup besar. Hasratku sudah menurun dan rasa malu mulai menyergapku hingga aku segera menutupi payudara dan vaginaku dengan kedua tangan, namun Papa malah menyingkirkan tanganku dengan kasar. Lelah masih terasa karena orgasme tadi sehingga aku tidak mampu melawan."Pa.. Jangan, Pa. Sudah cukup.. Nina takut.." isakku mulai menitikkan air mata. Melihat reaksiku, Papa malah semakin bernafsu."Nina sayang. Papa entot kamu ya.. Oh, Nina. Memekmu pasti nikmat. Sini Papa entotin ya, sayang.." rayu Papa dengan nafas memburu karena semangat 45, Papa meremas payudaraku dengan sangat keras. Pertama-tama, aku berteriak kesakitan namun Papa tak mempedulikan teriakan minta ampunku, malah tampak dia semakin bernafsu untuk menyetubuhiku. Jari-jarinya dengan terampil memilin putingku diselingi dengan cubitan keras sehingga lama kelamaan teriakanku berubah menjadi jeritan nikmat. Libidoku mulai naik lagi dan vaginaku mulai basah. Puting susuku yang berwarna merah muda sekarang berwarna merah tua karena cubitan-cubitan kerasnya, begitu pula dengan payudara putihku yang berubah menjadi kemerahan."Ahh.. Ahh.. Ukhh.. Paa.." racauku tak puas melihat reaksiku, Papa membuka semua bajunya dan betapa terkejutnya aku melihat penis papaku yang berukuran besar. Dengan lihainya, Papa segera menggesekkan kepala penisnya yang kemerahan ke lubang vaginaku yang sudah basah. Aku merasakan sensasi lebih daripada jilatan lidah Papa di vaginaku sebelumnya hingga kutanggapi sensasi luar biasa itu dengan rintihanan keras kenikmatan."Ahh! Papaa.. Ohh.. Entotin Nina, paa.." racauku. Sudah hilang kesadaran akan harga lampu hijau dariku, Papa segera menjalankan aksinya. Dengan perlahan ia memasukkan kepala penisnya ke dalam liang vaginaku, namun terhalang oleh selaput daraku. Papa tampak kesulitan menembus selaput daraku. Akhirnya dengan satu sodokan keras, vaginaku berhasil ditembus untuk pertama kalinya. Rasa sakit luar biasa terasa di vaginaku. Papa dengan tanpa perasaan segera menyodok-nyodok penisnya dengan kuat dan keras di vaginaku yang masih sakit itu berubah menjadi rasa nikmat bagaikan melayang di surga. Papa mendesah terus-menerus memuji kerapatan dan betapa enaknya vaginaku. Penis Papa yang panjang dan besar terasa menyodok dinding rahimku hingga membuatku orgasme untuk kedua kalinya. Papa tampak masih bernafsu menggenjot vaginaku. Kemudian Papa membalikkan badanku yang telah lemas dan menusukkan penisnya ke dalam vaginaku lewat belakang. Ternyata posisi ini lebih nikmat karena terasa lebih menggosok dinding vaginaku yang masih sensitif."Oh Ninaa.. Memekmu bagaikan sorga, Nin.. Nanti Papa entotin tiap hari yaa.. Ahh.."Akhirnya setelah menggenjotku selama setengah jam, Papa mendapatkan orgasmenya yang luar biasa. Spermanya terasa dengan kuat menyemprot dinding vaginaku. Papa menjerit-jerit nikmat dan badannya mengejang-ngejang. Tangannya dengan kuat meremas payudaraku dan menarik-narik putingku. Setelah orgasmenya, Papa berbaring di sebelahku dan menjilati puting susuku. Putingku disedot-sedot dan digerogotinya dengan gemas. Tampaknya Papa ingin membuatku orgasme kembali menjelajahi vaginaku, namun kali ini jarinya masuk ke dalam liang vaginaku. Papa menekang-nekan dinding vaginaku yang masih rapat. Ketika sampai pada suatu titik, badanku mengejang nikmat dan Papa tampaknya senang sekali hingga jarinya kembali menggosok-gosok daerah rawan itu dan menekannya terus menerus. Wow! Rasanya ajaib sekali! Terasa seperti ingin pipis, namun nikmatnya tak tertahankan. Ternyata itulah tidak bertahan lama dan akhirnya orgasme untuk ketiga kalinya. Badanku mengejang dan cairan orgasme kembali mengalir dengan deras bercampur darah keperawananku. Akhirnya, kami menyudahi permainan seks kami yang perdana dan mandi. Baru setelah itu, kami pergi ke rumah kejadian itu, kami menjadi sering melakukan hubungan seks dan mencari-cari kesempatan untuk melakukannya tanpa sepengetahuan orang lain. Bahkan aku pernah membolos sekolah karena pada saat itu Papa sedang naik libidonya. Akhirnya kami memesan hotel dan sama-sama membolos, aku dari sekolah dan Papa dari kantornya. Papa juga mengajariku berbagai posisi dan bagaimana cara mengulum penis dengan benar blow-job. Ilmu seks yang Papa berikan akhirnya membuatku dicintai oleh beberapa lelaki lain karena serviceku yang pengalaman seks-ku yang pertama kalinya dan tak akan kulupakan seumur hidup. Terima kasih, Papa!TAMAT Sungguh tidak enak jika kedua orang tua kita berpisah, dampak yang sangat dirasakan oleh anak-anaknya sangat besar sekali, hal ini ku alami sendiri waktu itu. Kisah nyataku ini ku sajikan agar para pembaca yang budiman berhati-hati pada orang yang belum kita kenal dengan baik lebih-lebih pada Papa tiri yang selalu sok akrab dengan anak-anak tirinya, biarlah Mirna sendiri yang menderita atas perlakuan papa biasanya setiap pagi aku selalu membuatkan kopi untuk papa tiriku, yach karena Papa bekerja di salah satu perusahaan Swasta dan dia Bos lagi. Awal mulanya sih aku nggak menaruh curiga, karena kelihatannya dia sangat sayang pada aku dan adik-adikku, sehingga lambat laun aku membiasakan diri untuk saling mengenal dan saling mendekat dan sudah ku anggap sebagai ayah kandungku sendiri. Kira-kira hampir 5 tahun sudah Papa menjadi papa tiriku dan kini telah mempunyai 2 anak dari ibu kandungku, waktu kejadian itu aku baru kelas 1 SMA dan waktu itu aku masih umur 17 itu ibu sedang berada keluar kota karena ikut rekerasi dengan ibu-ibu di lingkungan kantor Papa selama 5 hari di ada 2 pembantu di rumah jadi aku nggak terlalu repot dengan rumah yang begitu besar. Seperti biasa aku mengantarkan kopi ke ruang tidur Papa, karena memang begitulah setiap harinya walaupun kopi itu dibuatkan oleh pembantu tetapi akulah yang selalu mengantarkan kopi ke kamar Papa, untung sekolahku masuk siang. Begitu kamar Papa aku buka, ternyata Papa belum juga beranjak dari tempat tidurnya dan masih memakai baju tidur,"Pagi Papa" kataku"Pagi mirna" kata Papa, "Tolong pintunya ditutup Mir..",Lantas tanpa menaruh curiga ku tutup pintu kamar."Mirna, papa agak pusing nich, tolong pijetin kepala papa yach..""Ya..Papa "jawabkuLantas aku menghampiri di tempat tidur Papa, dan langsung kepala Papa aku pijet-pijet, tak lama kemudian Papa mengambil remot TV dan astaga yang kulihat di layar TV itu adalah Film BF yang selama ini belum pernah aku tonton sama sekali, mungkin tadi malam Papa habis menyetel film BF karena ku lihat di samping TV ada beberapa tumpukkan kaset terang aku hanya sekilas saja melihat dan kembali aku tundukkan kepalaku sambil mijitin kepala Papa. "Mirna sudah seharusnya kamu melihat film itu, kamu kan sudah besar.. "katanya,"Nggak.. ahh.. Papa.. malu.. mirna kan masih kecil" "Siapa bilang mirna kecil kan kamu udah kelas 1 sma " kata hanya diam saja"Cobalah lihat mumpung tidak ada mamamu, biasa sajalah sama papa nggak apa-apa kok"Yach..aku coba untuk menurutin kata-kata Papa. Aku lepas tanganku untuk memijitin kepala Papa, kini aku serius mulai menonton Film sekali, dalam batinku. Tak lama nafsuku mulai terpancing, kelihatan jelas pipiku memerah, kesempatan itu dimanfaatkan Papa untuk mendekatiku"Mirna.."sambil dia membelai rambutku "Asyik yaa gambarnya"Aku hanya diam saja sambil terus melihat layar TV. Tangan Papa mulai membelai rambutku, aku biarkan saja. Terus turun ke tanganku meremas-remas."Papa jangan dong geli..""Nggak apa-apa kan sama papa sendiri"Lantas dia mulai mencium leherku.."Jangan ah Papa geli tuh "Tapi dia terus menciumi leherku dan tangannya mulai masuk ke kaosku dan berusaha memegang payudaraku."Papa jangan, jangan Papa geli aku "Dan dia berhasil membuka tali BH ku. Kini tetekku diremas-remas, aku hanya diam dan geli, aku terus mendesis"Papa ..Papa .. jangan..ah.."Aku sudah tak kuat menahan gejolak nafsuku sementara mataku terus melihat monitor TV dengan adegan film BF. Tak lama kemudian dia mengambil sebutir PIL."Ini minum PIL dulu biar kamu tahan melihat FILM itu, sebab orang yang melihat Film BF harus minum PIL ini" katanya,Aku menurut saja dan ku minum PIL pemberiannya. Setelah 10 menit kemudian ada perubahan di dalam diriku, rasanya gairah SEX ku semakin besar aja. Sementara itu dia sudah duduk disampingku dan dia mulai lagi dengan aksinya. Kaos dan Rokku dilepasnya, kini aku hanya tinggal memakai CD saja dia langsung menciumi payudaraku dan mengulumnya"Ah..ah..Papa..geli tuh..terus Papa"Pentilku dimainkan oleh dia, rasanya geli dan enak sekali. Lalu dia membuka CD ku yang sudah basah karena terlalu banyak cairan dan dia langsung turun kebawah dan ya ampun vaginaku di ciumi dan lidahnya menjilati vaginaku. Rasanya aku mau pipis saja, geli campur enak membuat badanku menjelit-jelit nggak karuan."Enak sekali Papa ", "Papa terus Papa""Aduh Mirna sempit sekali vaginamu, nggak seperti vagina mamamu udah besar"Memang sih aku kan masih perawan waktu itu dan bulu-bulu vaginaku masih sedikit. Barangkali itu yang membuat dia kayak kerasukan setan melumat vaginaku hingga aku tak aku buka baju piyama dia dan ya.. ampun ternyata dia sudah tidak memakai CD. Jelas sekali penisnya sudah mengacung keatas dan besar sekali serta panjang kira-kira 20 Cm. Aku pegang langsung penisnya dan ku kocok-kocok,"Mirna kulum dong" pintanya,"Nggak ah kan jijik Papa nggak ah""Coba kamu lihat kayak di TV itu""Lihat tuh cewek itu terus mengulum penis kan?""Nggak apa-apa cobalah Mir"Lantas perlahan-lahan penisnya aku masukkan dalam mulutku dan ah enak sekali seperti mengulum Es Lilin. Terus penisnya aku kulum, kini dia mulai mengeliat-geliat tubuhnya."Mirna terus Mir enak "Lantas kini aku yang dibawah dan dia diatas. Lidahnya menjilati vaginaku sementara aku mengulum penisnya. Wah enak sekali "Ah ah terus Papa terus Papa" katakuMemang penis dia luar biasa gedenya dan panjangnya, atau mungkin masih ada yang panjang lagi karena baru sekali itu sih aku lihat penis orang dewasaDia turun dan kini dia mulai mengakangkan ke dua kakiku"Mir papa masukkan yach penis papa ke vaginamu "" Jangan Papa sungguh jangan Papa, Mirna kan masih perawan Papa jangan yach kalau yang lain boleh sih, tapi jangan yang satu itu Papa, jangan.. Papa .."rengekku waktu biarlah vaginaku dijilatin dan payudaraku di isep tapi jangan keperawanan, tapi rupanya Papa tidak menghiraukan rengekanku. Lalu penisnya digesek-gesekkan di vaginaku ah.. ah.. aku geli kayak ada benda tumpul menempel di vaginaku."Pejamkan matamu Mirna" kata Papa,Lantas aku pejamkan mataku dan akh.. akhh.. penisnya berusaha masuk ke vaginaku, namun karena vaginaku sangat sempit penisnya tertahan dibibir vaginaku."Jangan Papa ..jangan ..Papa tolong Papa jangan.."Tapi Papa tetap terus memasukkan penisnya dan kini bless slep..,"Akh ..Papa sakit Papa sakit Papa "Dia hanya melihat aku kesakitan dan meringis-ringis kesakitan. Penisnya sudah masuk semua ke liang vaginaku. Kini dia perlahan mulai mengerakkan maju mundur."Papa..Papa ..sakit.."Memang sakitnya luar biasa sih aku kan masih perawan sedangkan Dia penisnya seperti penis di film BF itu, besar dan panjang. Lama kelaman sakit itu berubah menjadi enak, aku merasakan kehangatan dalam vaginaku. Dia terus menggenjot penisnya maju mundur. "Papa..terus..Papa " pintahkuAku kini menikmati penisnya yang lagi masuk di liang vaginaku. Dia terus menggenjot penisnya lama sekali, kira-kira 20 menit. Aduh rasanya capek campur enak nggak karuan"Akh..akh..aku mau pipis rasanya nich Papa""Pipislah itu berarti kamu mau klimaks "Dan betul cairan yang aku keluarkan banyak sekali. Aku mulai agak lemas tapi dia belum apa-apa, dengan asyiknya menggenjot penisnya yang besar itu di liang vaginakku."Terus Papa..aku udah capek nich "Dan slepp ukh dia mencabut penisnya dari liang vaginaku dan kini penisnya diarahkan ke mulutku"Mirna hisap penis papa.."Wah penisnya tambah besar rasanya dan mulai lagi aku mengisap-isap penisnya terus dan tak lama cret..cret.. air maninya keluar sebagian dimulutku rasanya asin getir dan sebagian di wajahmu dan menetes di payudaraku, Hangat-hangat asin dan getir. Dia pun lemas dan lunglai."Kamu hebat Mirna nggak kayak mamamu baru sedkit saja sudah lemas"Aku hanya diam dan menunduk. Mimpi apa semalam aku, kok melayani lelaki bejat seperti dia."Jangan bilang siapa-siapa yach.."Aku hanya diam dan berpakaian kembali, lantas aku berdiri. Aduh rasanya selakanganku sakit sekali kayak ada ganjalan diselakangkanganku. Lantas dia menghampiriku dan memberi uang Rp buat jajan yach.."Aku hanya diam saja dan aku ambil uang itu. Dia kemudian mengambil sprei yang ternodai darah kegadisanku dan mencucinya sendiri takut ketahuan 4 hari 4 malam aku terus melayaninya hingga mamaku pulang dari tournya di Bali. Namun dia terus memanfatkan aku jika mama nggak di rumah, gilanya aku terus menuruti kemauannya kini aku sadar tentang masa depanku sendiri dan aku sudah nggak mau melayani lelaki bejat seperti papa tiriku! .. Awaslah dengan Papa Tiri belum tentu dia sebaik papa Untuk pertama kali, saya merasakan diri saya telah melangkah ke alam dewasa yang penuh misteri dan kejutan ini. Banyak perkara yang selama ini tidak terlintas dalam fikiran saya telah berlaku. Baiklah, begini kisahnya…… Nama saya Roslan dan baru menyambut hari lahir ke 19 tahun. Tubuh saya sederhana saja tapi mempunyai saiz zakar yang agak besar – 8 inci dan kuat kerana saya amalkan kaedah mengurut zakar saya pagi dan malam. Maklumlah, tinggal di bandaraya KL ni…sana-sini perempuan seksi! Saya tidak kira sama ada bohsia atau yang matang, dengan yang cantik atau sederhana tapi saya lebih sukakan wanita yang mempunyai payudara besar dan punggung yang bulat yang memberi petanda bahawa mereka sehat dan gemarkan seks rakus. Saya tinggal di sebuah apartment dengan ibu tiri saya. Namanya Nur Hayati tetapi saya memanggilnya makcik sahaja, dan saya rasa lebih selesa dengan panggilan itu walaupun dia kelihatan jauh lebih muda dari usianya. Tubuhnya lampai, punggungnya montok dan memakai coli size 38. Umurnya baru tiga-puluh-enam-tahun, bapa saya meninggalkan kami enam tahun lalu – kononnya mencari pekerjaan di Singapura dan sejak itu kami tidak menerima apa berita darinya – entahkan hidup entahkan tidak. Sebabkan terlampau sayangkan ayah saya makcik terus hidup membujang dan tidak pernah merasakan dirinya telah bercerai. Makcik agak pendiam dan saya tidak memikirkan dia seorang wanita yang menarik dari segi seks. Pada pandangan saya dia suri rumah yang baik dan seorang pemalu. Bila keluar rumah Makcik sentiasa memakai tudung moden. Saya pasti bahawa tidak satu pun angan-angan seks memasuki fikirannya, meskipun kerap juga saya lihat dia berjalan di dalam rumah tanpa memakai coli atau seluar dalam. Saya dapat lihat payudaranya terbuai-buai ke kiri kanan dan putingnya terpacak di sebalik blaus atau T-Shirt. Punggung montoknya akan terhayun disebalik kain batik apabila dia berjalan tanpa memakai seluar dalam. Kadang-kadang Makcik tidak pernah teragak-agak menyuruh saya menolong dengan kancing-coli yang degil. Kami hidup dalam suasana mesra tapi agak diam dengan hal masing-masing. Lagipun sebagai seorang lelaki apalah sangat yang saya dapt berkongsi cerita dengannya dan makcik pun lebih banyak menghabis masanya dengan jiran-jiran wanita. Namun pada harijadi saya yang ke 19 tahun semuanya berubah. Hari yang bersejarah itu telah menukar pandangan saya mengenainya. Hari itu semasa dia keluar membeli belah, saya membaca diarinya. Ketika itu saya sedang berbaring di atas katilnya dan tanpa sengaja terjumpa diarinya terbuka dan tak sengaja saya terbuka satu mukasurat! Ini adalah apa yang tertulis dalam buku catatan harian itu “Saya berdiri di dalam bas yang penuh sesak, saya merasa zakarnya yang keras mengelongsor jauh ke dalam rekahan punggung saya dan saya hampir-hampir klimaks!” Dan “Melihat lelaki yang sama di panggung wayang, kami mengambil bangku bersebelahan dan jauh dari penonton lain, saya menghisap zakarnya sampai puas”. Wow makcik-ku! Saya memikirkan, siapa sangka!!! Kemudian terdapat satu lagi catatan “Jika Roslan tahu yang saya intai sewaktu dia mandi, dia mungkin membenci saya. Zakarnya jauh lebih besar daripada ayahnya! Adakah dia pun kuat seks macam ayahnya?”. Dan makcik menyambung lagi “Perbuatan sumbang muhrim atau tidak, saya akan pasti menggoda Roslan suatu hari nanti!”. Entah berapa lama makcik berdiri memerhatikan saya yang tidak perasan kehadirannya. Dia melangkah masuk dan mukanya agak merah sewaktu mengambil buku catatan tersebut dari tangan saya. Makcik dengan selamba menutup buku itu dan meletakkanya di atas almari solek dan menanggalkan tudung dan blausnya sambil berkata. “Panas betul kat luar tu…”. Dalam keadaan tubuhnya yang hanya bercoli tipis, dia berkata, “Lan, nanti makcik panggil kamu untuk makan malam ya”. Sewaktu makcik berjalan keluar, saya lihat punggung makcik bergoncang kerana tidak memakai seluar dalam. Zakar saya pun terus keras gila. Apatah lagi bayangan makcik menghisap konek seorang lelaki bermain liar dalam fikiran saya. Makan malam itu lebih tenang dari biasa. Kami bercakap tentang membeli belah dan kenaikan pangkat saya di tempat kerja dan bergurau tentang jiran baru kami, Karen, gadis Cina yang kelam-kabut itu. Makcik langsung tidak menyebut tentang buku catatannya. Perbuatan sumbang muhrim atau tidak, zakar yang gian tak dapat membezakannya – kerana semakin lama kami bersembang, mata kami tidak dapat mengelak dari mengimbas kembali kejadian petang tadi. Selepas makan malam, saya pergi ke dapur, seperti biasa menolong makcik mengemas apa yang patut. Makcik ketika itu berada di sink. Dia agak gugup bila saya meletakkan satu tangan saya di atas pinggangnya. Tapak tangan saya yang satu lagi meraba punggung Makcik yang disaluti kain batik sutera yang agak tipis. Saya dapat rasakan yang makcik tidak mengenakan panties kerana tidak terdapat garisan seluar dalam bila saya meraba. “Siapakah lelaki di panggung wayang itu, makcik?”. Saya bertanya dengan lembut dan yakin sambil tangan saya meraba buah dadanya pula. Suaranya menggeletar tapi cepat menjawab, “Makcik pun tak tahu. Dia selalu di situ setiap Selasa tengahari. Makcik bertemu dengannya sana tiga kali”. Makcik sempat mencapai tangannya ke belakang dan mengenggam zakar saya yang keras sambil berbisik antara dengar dan tidak, “Aku mahukan kau Lan”. Saya pun berhenti meramas buah dada yang gebu itu sambil melondehkan kain batik makcik, saya membongkokkan badan sehingga muka saya menyentuh punggung montoknya. Wow… saya tidak menyangka punggung Makcik begitu bulat dan cantik dan di celah kangkang Makcik tidak banyak bulu pantat. Mungkin Makcik baru mencukurnya. Saya hampir-hampir terpancut air mani melihatkan senario yang hebat ini. Di sebalik peribadinya yang sederhana, saya sedikit pun tak menyangka yang Makcik mempunyai tubuh yang sangat mengiurkan. Saya mencium pahanya dan sekitar ponggongnya yang putih gebu itu. Makcik menoleh setiap kali saya mengigit halus kedua-dua belah ponggongnya yang semakin hangat. Renungan matanya yang layu seolah merestui perbuatan saya 100% dan mahukan saya melakukan sesuatu yang lebih ganas. Saya merangkul pinggangnya dan menjilat jauh ke dalam rekahan punggungnya yang tertonjol di muka saya. Dia membongkok, meletakkan lengannya di atas kaunter dan melekapkan pipinya di situ. Seperti orang mengantuk disorongkan bantal. Makcik telah menyerah pada nafsu betinanya dan saya bakal memacu kejantanan saya ke dalam lubuk birah itu. Saya pun mula menguak pelepah punggung makcik dan dapat melihat lubang faraj makcik yang basah dan tercungap-cungap kemerahan. Lubang sejuta nikmat itu sudah ternganga menantikan lidah saya yang semakin menghampirinya! Saya menjilat rekahan punggung dari lubang duburnya sampailah ke bibir faraj makcik dan makcik memberi respon yang rakus dengan menolak bontotnya ke muka saya sambil menggeliang-geliut. Batang hidung saya terus-terusan di asak oleh punggung gebu makcik. Untuk membalas asakan Makcik, lidah saya merayap antara lubang dubur dan farajnya. Saya menjilat kelentit Makcik dan menyapu lidah saya pada bibir farajnya sampai ke pinggir lubang duburnya. Makcik terjengket-jengket di atas hujung jari kakinya menerima asakan saya yang bertubi- tubi, pinggangnya menonggeng ke atas dan dengan kaki yang terbuka, makcik meletakkan tapak tangannya pada kedua belah punggung dan menariknya keluar untuk memberi saya laluan yang lebih mudah. Suatu pemandangan yang hebat. Saya dapat lihat dengan jelas lubang dubur Makcik yang ketat dan keperangan turut terkemut-kemut. Mungkin makcik sengaja mengembang-nguncup lubang duburnya untuk menarik perhatian saya. Saya terus meratah bibir faraj makcik. Sesekali saya julurkan lidah dan menyentuh biji kelentitnya yang keras dan agak besar, hampir separuh jari kecil saya. Makcik merengek kesedapan setiap kali lidah saya menjilat biji kelentitnya. Dalam posisi begitu, hidung saya tidak dapat mengelak dari menyentuh lubang dubur makcik. Barangkali inilah yang makcik inginkan. Kedua- dua lubangnya mendapat sentuhan dari mulut dan dagu saya berjanggut sejemput itu habis basah dengan cream yang mengalir dari lubang faraj makcik. Makin lama, air mazi makcik semakin meleleh dan jatuh di atas lidah saya. Ianya tidak berbau tapi terasa sedikit masin, macam masin mentega pun ada. Tak dapat saya ceritakan betapa hebatnya respon pantat makcik 36 tahun ini. Dengan goyangan pinggul dan hayunan ke depan dan ke belakang macam penari dangdut tengah naik syeh, makcik seolah-olah mahu menghisap lidah saya dengan bibir pantatnya. Dan semakin lama, semakin rakus menggelek bontotnya. Untuk tidak menghampakan kemahuan makcik, saya masukkan lidah saya ke lubang farajnya sedalam-dalam yang mungkin. Hampir seluruh lidah saya meneroka lubang yang basah kuyup itu. Saya ngangakan mulut saya dan menempatkan bibir saya dicelah bibir faraj makcik. Seolah-olah kami berkucupan tapi seorang mengguna bibir yang lain. “Hmmmhh ooooh…”. Makcik meraung kecil dan mungkin dia klimaks bila seluruh lidah saya menjolok ke dalam lubang faraj kerana sejurus itu makcik meminta saya memantatnya dengan batang zakar saya yang sudah 200% keras. Dengan suara terketar-ketar menahan birahi, “Lan, makcik nak rasa zakar kau sekarang.., tolong Lan.. makcik dah tak tahan ni… cepat sikit Lan.” Menandakan nafsunya sudah meluap-luap. Seperti menerima arahan ketua, saya pun tidak membantah dan terus berdiri dengan perlahan,sambil zakar saya menyapu bahagian dalam kaki dan paha Makcik. Dia mencapai tangannya ke belakang dan menarik rambut saya dengan agak kasar supaya cepat berdiri. Apabila batang zakar 8 inci saya singgah di celah kangkangnya makcik cepat-cepat mengepitnya dengan menyilang kakinya. Ketika itu saya rasa seolah zakar saya sudah melekat dan jadi sebahagian tubuh makcik. Nasib baik ketinggian Makcik yang hanya dua inci lebih rendah dari saya. Kalau tidak, teruk juga saya kena membongkok macam ahli gusti. Dengan kakinya yang bersilang dan mengepit kuat batang saya, makcik menghenjut ke depan belakang dan saya turut terhoyong hayang dikerjakan nafsu buas makcik yang macam perempuan kerasukan lagaknya. Saya dapat rasakan jari-jemari makcik meramas-ramas kepala zakar saya dan mengenggamnya sambil batang zakar saya membelah bibir farajnya. Kami berdua sama-sama menghayunkan pinggang dengan satu tempo dan air mazi makcik yang mereneh berdecit-decit mengeluarkan bunyi yang lucah setiap kali kami mengenjut. Oleh kerana makcik menonggeng dengan kakinya terjengket, kemaluan kami adalah pada paras yang sama dan memudahkan saya menyorong batang saya ke depan dan belakang. Tapi makcik masih tidak mahu melepaskan grip pada batang saya. Saya dapat merasakan bibir faraj makcik seolah menjilat-jilat bahagian tengah batang saya. Mungkin makcik sengaja mengepit kuat, supaya saya tidak pancut lebih lutut saya sudah semakin longgar kerana lama dalam posisi itu dan hayunan saya sudah mula goyah. Makcik menyedarinya lalu dia melepaskan batang saya yang seperti spring keluar dari cengkaman pantat makcik. Kini zakar saya berlabuh di celah punggung makcik dan berlomoran air mazi makcik. “Okay Lan…, sekarang Lan boleh masukkan”, sambil kata begitu makcik melangkau kaki kanannya ke atas dan merehatkan lututnya atas sink. Zakar saya hampir memuntahkan pelurunya melihat aksi lucah makcik saya yang mencelapak sink meminta dijimak oleh anak tirinya. Lubang pantat makcik terbuka luas, tanpa segan silu menunggu saya untuk memantatnya seperti. Apalagi, saya pun terus menujah batang saya ke arah lubang itu. Namun mungkin kerana posisi kami yang janggal, kepala zakar saya menyentuh lubang faraj dan dubur makcik bergilir-gilir. Saya mengasah batang saya di kedua-dua lubang tersebut dengan hanya suara makcik merengek-rengek ooohhh dan mmmhhhh menahan sedap yang teramat. Saya lihat bulu tangan makcik meremang dan bintik halus pada bahu, lengan dan bontot makcik. Saya menyangka Makcik akan klimaks. Jadi saya pun terus mengasak ke lubang gol sampai rapat dua biji bola saya pada pantat makcik tapi makcik menolak badan saya ke belakang. Sambil tercungap-cungap berkata, “Lan belum lagi…buat macam tadi tu…” Saya pun menarik keluar zakar saya yang basah kuyup dan mengeselnya pada celah punggung Makcik seperti mengesel biola. Bunyi-bunyi lucah yang keluar dari celah kangkang Makcik kedengaran lebih merdu dari gesekan biola Vanessa May. Entah macam mana sewaktu saya mahu merapatkan kepala butuh saya dengan kelentit makcik, ia tergelincir dan menyentuh tepat pada lubang dubur makcik. Kebetulan makcik sedang mengenjut punggungnya ke belakang dan entah macam mana saya pula menujah ke depan. Tanpa dapat kami elakkan kepala butuh saya terjerlus ke dalam lubang dubur makcik. Kami sama-sama terdiam seketika. Kejadian yang tidak diduga akan berlaku ini membuat kami cuba memikirkan tindakan seterusnya. Saya mula sedar yang makcik menguncup lubang duburnya dengan agak kuat seolah sengaja mahu merasakan kapala zakar saya dalam duburnya. Setiap kali saya cuba menarik keluar Makcik mengemut kuat dan saya rasa suatu kelazatan yang tak pernah saya alami pada batang zakar saya. Kini makcik mula menyorong bontotnya ke arah saya dan 3 inci zakar saya tenggelam dalam lubang itu. Saya merasa confuse kerana antara perasaan bersalah dan sedap meliwat makcik. Tapi yang hairannya, makcik langsung tidak membantah. Malah makcik terus membiarkan batang saya menjolok perlahan-lahan ke dalam lubang larangan itu. Kami sama-sama memulakan tempo baru. Kali ini dengan penuh sedar bahawa konek saya sedang menujah lubang larangan. Makcik terus menggalakkan perlakuan saya sambil mengusap-usap buah dadanya dan menggentel puting teteknya sendiri. Seolah-olah makcik khayal dalam dunianya sendiri tanpa membantah perlakuan anak tirinya yang separuh batang zakar tertanam dalam duburnya. Tiba-tiba saya merasakan satu nikmat yang tak dapat saya gambarkan apabila liang dubur makcik seperti memerah batang saya dengan kemutan yang bertubi-tubi. Kedengaran suara makcik seolah meneran dan tertahan-tahan dan nafasnya tercungap-cungap mhhmm…mhhmmhh. “Hayati…”, oops saya terlanjur menyebut namanya. “Hayati… I’m cumming…oooooooh”. Makcik Hayati melepaskan gripnya dan saya memuntahkan air mani panas yang cukup banyak ke dalam lubang dubur makcik. Membuat dia tersentak menerima pancutan kuat yang membanjiri duburnya. Setiap pancutan saya disambut dengan kemutan liang duburnya. Namun hanya separuh batang zakar saya yang tenggelam di dalamnya. Pada waktu yang sama saya meraba faraj makcik tapi mendapati jari-jarinya mendahului saya dan rakus menjolok lubang faraj ketika batang saya dalam duburnya. Makcik menghampiri klimaks dan terus menolak bontotnya ke belakang untuk memasukkan batang zakar saya sebelum ianya lembik. Saya merasakan otot dalam tubuh makcik seolah-olah memerah keluar setiap titik air mani saya yang masih bertakung di salurannya. Ketika nafsu kami memuncak, makcik melayan saya sebegitu rakus seolah dia bukan lagi ibu tiri dan saya bukanlah anak suaminya. Kerana nafsu birahinya yang tak terbendung, saya telah memantat wanita yang masih menjadi isteri kepada ayah saya. Zakar saya terus berendam dalam dubur makcik hampir lima minit dan selama itu saya dapat rasakan liang dubur makcik memijat-mijat batang saya dengan tanpa henti-henti. Kemutan yang saya rasakan sangat berlainan dari kemutan lubang faraj. Semakin lama, kemutan makcik semakin reda dan zakar saya yang separuh mencucuk bontotnya pun dah tiga-suku keras sahaja. Saya mengusap tetek makcik dan merasakan putingnya masih tegang terpacak. Makcik mencapai tangan saya, membawa ke mukanya lalu menghisap jari tengah saya seolah-olah melakukan oral seks. Jilatan dan hisapan lidahnya begitu memberahikan sehinggakan konek saya kembali keras. Dari celah kangkangnya, makcik meraba telur zakar saya dengan agak kuat. Seolah-olah mahu memasukan telur saya ke dalam duburnya. Dengan jangkauan tangannya yang sampai ke buntut saya, makcik menarik tubuh saya untuk merapatkan lagi batang yang kini sudah tiga- suku di dalam duburnya. Bagaimanapun, hanya setakat itu saja yang dapat saya masukkan. Dan saya menonggang makcik seperti kuda jantan. Kali ini lebih mudah kerana tusukan saya dibantu pelincir yang begitu banyak. Phflopp.. phlapp.. phlopp.. phlapp.. bunyi lucah dari lubang dubur makcik membanjiri ruang dapur yang agak kecil itu. “Ooohhh ooooh… “. Makcik mengaduh setiap kali batang saya menjoloknya. Hampir lima minit berlalu sebelum makcik mencapai klimaksnya yang kedua dengan suatu jeritan yang agak kuat. “Arghh… arghhh… mmmmhhh…”. Bunyi suaranya nyaring bergema sampai ke ruang tamu. Saya khuatir jeritan makcik dapat didengari jiran-jiran sebelah kerana suasana malam yang agak bening. Namun, makcik seperti tidak mempedulikan. Mungkin terlalu sedap klimaks yang dialaminya. Setelah makcik klimaks dengan kemutan yang kuat, saya menarik keluar batang saya dengan satu bunyi letupan PLOPP !!! Yang membuat makcik ketawa kecil. Malu ada, kelakar pun ada. Saya lihat lubang bontot makcik melopong kerana lama disumbat. Inilah pertama kali saya memantat dubur seorang wanita. Dan sampai kini, bila setiap kali saya teringatkan pemandangan lubang dubur makcik yang melopong itu selalu membuat saya gian untuk memantat mak tiri saya itu…. Sebentar kemudian air mani saya meleleh keluar dan makcik sudah mula berdiri. Makcik memberikan saya satu ciuman French Kiss yang panas seolah mengucapkan terima kasih kepada saya. Lidahnya mencari lidah saya dan menyonyot lama. Lidah kami saling bertukar masuk dan setelah puas mencium, makcik melepaskan saya dan membongkok untuk mengambil kain batik di lantai. Sekali lagi saya lihat air mani saya keluar dari duburnya dan meleleh dari paha sampai ke belakang lututnya. Makcik menyapu air mani saya yang bercampur dengan air maninya dengan kain tersebut. Dia memberi satu lagi ciuman pada pipi saya sebelum beredar ke bilik air. Langkah makcik begitu seksi sekali dan saya tidak melepaskan peluang memerhatikan gegaran bontotnya yang seperti agar-agar, terhayun kiri kanan. Saya berehat seketika di sink sambil menghisap rokok. Ternyata memantat makcik memerlukan tenaga yang cukup banyak kerana saya rasa begitu letih sekali. Melalui tingkap dapur saya dapat melihat seorang wanita memerhatikan saya dari apartmentnya. Oleh kerana jarak antara setiap apartmen tak sampai 10 meter saya dapat lihat jelas wajah wanita tersebut yang tersenyum simpul. Mungkin dia tersenyum melihat keadaan saya yang tak berbaju walaupun dia tak mungkin nampak tubuh saya di bahagian bawah pusat. Saya mengangkat tangan dan memberinya senyuman sebelum dia menoleh dan masuk ke dalam apartmentnya. Saya tak pernah lihat wanita itu sebelum ini.

cerita seks papa tiri