cerita seks saat hujan
Cueksaja, hujan air ini", kataku. "Yuk", jawab S sambil tersenyum. Akhirnya kami setengah berlari kecil naik ke Angkot. Di dalam Angkot kami duduk bersebelahan sambil cerita-cerita. Setelah Angkot separuh jalan, tiba-tiba S berkata:"E, masih siang, nih! Kita jalan-jalan aja, yuk.
CeritaDewasa TERGODA PAHA MULUS GADIS PERAWAN ABG LAGI TIDUR cerita dewasa - Cerita seksku ini adalah kejadian nyata tanpa aku rekayasa sedikitpun. Kisah ini bermula setahun yang lalu ketika temanku (Dodi) mengajakku menemaninya transaski dengan temannya (Charles). Saya jelaskan saja perihal kedua orang itu Read more
Padasaat itu hujan deras mengguyur seisi kota disertai angin. Pada saat saya membeli minuman (di dalam warnet), saya melihat dua orang gadis yang memasuki warnet. Mereka terlihat basah kuyup karena kehujanan, dan ketika itu mereka mengenakan kaos warna putih dan biru (cewek yang satunya), dan celana pendek.
CeritaDewasa - Awan semakin gelap, mendung yang menggantung menandakan sebentar lagi akan hujan. Pakde Marto menyuruh Surti membenahi ceret air dan rantang makanannya kemudian mereka bergegas pulang sebelum hujan turun. Surti adalah istri Iding keponakan Pakde Marto yang sejak kecil ikut Pakde-nya. Pakde Marto ini adalah kakak bapaknya yang tidak mempunyai anak sendiri. Dan Read More »
Saatmembingungkan ; Memuaskan pacarku yang lagi horny berat bagian 2 Cerita Seks Persetubuhan di Tengah Hutan ,Persetubuhan di Tengah Hutan - Awan semakin gelap, mendung yang menggantung menandakan sebentar lagi akan hujan. Pakde Marto menyuruh Surti membenahi ceret air dan rantang makanannya kemudian mereka bergegas pulang sebelum hujan
mình đã không yêu xin đừng tìm nhau.
Cerita Seks Dewasa – Perkenalkan, namaku Erna. Saat ini usiaku 21 tahun. Aku sekarang berkuliah di Universitas X di Jakarta. Aku ingin menceritakan pengalamanku pertama kali mengenal sex. Sebenarnya pengalaman ini sdh lama terjadi, yaitu ketika aku masih kelas 2 SMA, tetapi aku baru berani menceritakannya sekarang. Ini adalah tulisan pertamaku, jadi maaf bila kurang baik. Ketika aku masih duduk dibangku di SMA X, aku punya banyak sekali kesibukan seperti les dan belajar kelompok. Akibatnya, seringkali aku pulang malam. Aku sendiri tdk takut, karena sdh sering. Jika pulang malam, aku menggunakan jasa ojek untuk mengantarku ke rumah. Aku pulang dari rumah teman sekitar jam 8 malam dgn menggunakan ojek. Aku selalu memilih pengemudi ojek yg tampangnya baik-baik. Pengemudi ojek yg kutumpangi kali ini sdh agak tua kira-kira 40 tahunan dan tampangnya penuh senyum. Sepanjang perjalanan dari daerah Lenteng Agung ke rumahku di Srengseng Sawah, beliau mengajakku ngobrol dgn sopan sambil melajukan motornya pelan-pelan. Namun di tengah jalan hujan mulai turun dan semakin deras. Bajuku sdh setengah basah akibat hujan dan tampaknya bapak ojek ini, sebut saja Pak Mahfud aku hingga kini tdk tahu namanya, tdk membawa jas hujan. Cerita Dewasa Ngentot Saat Hujan Melihatku hampir kuyup dan kedinginan, beliau mengajakku berteduh terlebih dahulu di pos ojek terdekat. Pos itu tdk seperti gubuk-gubuk yg biasa dijadikan pos ojek dan penerangannya cukup baik. Di dalamnya terdapat dua pengemudi ojek lain yg juga menunggu hujan, sebut saja namanya Pak Ridwan dan Pak Budi aku hingga kini juga tdk tahu nama mereka yg usianya kira-kira 30 tahunan. Pak Mahfud memintaku masuk agak ke dlm karena hujan sdh sangat deras. Sementara itu, Pak Mahfud terlihat ngobrol dgn Pak Ridwan dan Pak Budi sambil sesekali melihat ke arahku. Agak risih juga, karena aku gadis seorang diri di sana sementara baju SMA ku yg sdh lembab terlihat agak transparan. Beberapa lama kemudian, karena hujan belum reda, Pak Ridwan menawarkan teh manis hangat yg tersedia di pos tersebut. Tanpa curiga aku meminumnya sementara mereka melihatku sambil tersenyum. Setelah itu, mereka mengajakku ngobrol macam-macam. Kira-kira 5 menit kemudian, aku mulai merasa agak panas. Rasanya gerah sekali bajuku, padahal masih lembab. Anehnya aku juga mulai berkeringat. Mereka yg melihat reaksiku, berkata “Kenapa neng, gerah ya?” “Iya nih pak”, jawabku “Buka aja neng bajunya”, timpal mereka lagi ila, yg benar saja. Aku diam saja mendengar omongan mereka, aku anggap hanya lelucon orang dewasa. Tp beberapa saat kemudian, tangan mereka mulai nakal menggeraygi pahaku yg masih terbungkus rok abu-abu. Aku yg semakin kepanasan mencoba menepis tangan mereka. “Ih, apa sih pak, jangan macam-macam ah”, kataku “Ngga papa dong neng, kali-kali, ntar neng juga doyan kok” Sial, berani benar mereka, aku mencoba melawan dan teriak minta tolong, tetapi karena hujan sangat deras dan jalanan sepi, tdk ada yg mendengarku. Seketika itu juga, aku didorong hingga rebah di dipan pos tersebut. Tangan dan kakiku dipegangi…Baca selengkapnya disini
Perkenalkan, namaku Santi. Saat ini usiaku 21 tahun. Aku sekarang berkuliah di Universitas X di Jakarta. Aku ingin menceritakan pengalamanku pertama kali mengenal sex. Sebenarnya pengalaman ini sudah lama terjadi, yaitu ketika aku masih kelas 2 SMA, tetapi aku baru berani menceritakannya sekarang. Ini adalah tulisan pertamaku, jadi maaf bila kurang baik.***Ketika aku masih bersekolah di SMA X, aku punya banyak sekali kesibukan seperti les dan belajar kelompok. Akibatnya, seringkali aku pulang malam. Aku sendiri tidak takut, karena sudah sering. Jika pulang malam, aku menggunakan jasa ojek untuk mengantarku ke rumah. Oya, aku akan menceritakan diriku terlebih dahulu. Saat itu, aku berumur 16 tahun. Kulitku sawo matang seperti kebanyakan gadis jawa, rambut lurus panjang berwarna hitam sepunggung. Bentuk fisikku biasa saja, tinggi 163 cm dengan berat 51 kg. Ukuran bra 34B. Ketika itu, aku belum tahu tentang sex sama sekali. Maklum, aku tinggal di lingkungan yang baik-baik. Kejadian yang mengubah hidupku terjadi ketika suatu hari aku pulang dari rumah temanku. Waktu itu sekitar bulan November, ketika Jakarta memasuki musim hujan. Aku pulang dari rumah teman sekitar jam 8 malam dengan menggunakan ojek. Aku selalu memilih pengemudi ojek yang tampangnya baik-baik. Pengemudi ojek yang kutumpangi kali ini sudah agak tua kira-kira 40 tahunan dan tampangnya penuh senyum. Sepanjang perjalanan dari daerah Lenteng Agung ke rumahku di Srengseng Sawah, beliau mengajakku ngobrol dengan sopan sambil melajukan motornya pelan-pelan. Namun di tengah jalan hujan mulai turun dan semakin deras. Bajuku sudah setengah basah akibat hujan dan tampaknya bapak ojek ini, sebut saja Pak Amir aku hingga kini tidak tahu namanya, tidak membawa jas hujan. Melihatku hampir kuyup dan kedinginan, beliau mengajakku berteduh terlebih dahulu di pos ojek terdekat. Pos itu tidak seperti gubuk-gubuk yang biasa dijadikan pos ojek dan penerangannya cukup baik. Di dalamnya terdapat dua pengemudi ojek lain yang juga menunggu hujan, sebut saja namanya Pak Doni dan Pak Budi aku hingga kini juga tidak tahu nama mereka yang usianya kira-kira 30 tahunan. Pak Amir memintaku masuk agak ke dalam karena hujan sudah sangat deras. Sementara itu, Pak Amir terlihat ngobrol dengan Pak Doni dan Pak Budi sambil sesekali melihat ke arahku. Agak risih juga, karena aku gadis seorang diri di sana sementara baju SMA ku yang sudah lembab terlihat agak transparan. Beberapa lama kemudian, karena hujan belum reda, Pak Doni menawarkan teh manis hangat yang tersedia di pos tersebut. Tanpa curiga aku meminumnya sementara mereka melihatku sambil tersenyum. Setelah itu, mereka mengajakku ngobrol macam-macam. Kira-kira 5 menit kemudian, aku mulai merasa agak panas. Rasanya gerah sekali bajuku, padahal masih lembab. Anehnya aku juga mulai yang melihat reaksiku, berkata “Kenapa neng, gerah ya?”“Iya nih pak”, jawabku“Buka saja neng bajunya”, timpal mereka lagiGila, yang benar saja. Aku diam saja mendengar omongan mereka, aku anggap hanya lelucon orang dewasa. Tapi beberapa saat kemudian, tangan mereka mulai nakal menggerayangi pahaku yang masih terbungkus rok abu-abu. Aku yang semakin kepanasan mencoba menepis tangan mereka.“Ih, apa sih pak, jangan macam-macam ah”, kataku“Ga papa dong neng, sekali-sekali, ntar neng juga doyan kok”Sial, berani benar mereka, aku mencoba melawan dan teriak minta tolong, tetapi karena hujan sangat deras dan jalanan sepi, tidak ada yang mendengarku. Seketika itu juga, aku didorong hingga rebah di dipan pos tersebut. Tangan dan kakiku Amir berkata “Neng, kalo neng diem, kita janji deh ga bakalan bikin neng kesakitan, malah kita puasin.”Aku diam saja melihat mereka, pikiranku antara sadar dan tidak, aku merasa kepanasan seolah ikut bergairah meladeni mereka. Pak Doni dan Pak Budi mulai melepas kancing seragamku sedangkan pak Amir menyingkap rokku dan mengelus-elus pahaku. Sekarang Mereka mulai mencumbui daerah dadaku dan pahaku.“Ahh, pak, jangan pak… saya belum pernah… ahh”Mereka malah semakin liar menjilatinya. Pak Doni mulai menggerayangi punggungku mencari kancing bra, namun anehnya aku malah ikut mengangkat punggungku untuk itu juga dadaku terpampang jelas di depan mereka, menjulang keluar seperti bukit, dengan puting warna coklat muda. Pak Doni dan Pak Budi kemudian menghisap putingku perlahan, membuat putingku makin tegak berdiri dengan keras. Jilatan Pak Amir semakin nakal di CD ku, kadang-kadang menyelinap ke balik CD ku yang sudah basah membuatku semakin kepanasan.“ahh… Pak… Ouch…”kataku makin tak jelas, sementara Pak Amir mulai menarik CD ku. Aku mengangkat pantatku untuk membantunya.“Wah, cantik banget neng, memeknya. Masih perawan ya”, begitu kata beliau ketika melihat memekku yang berwarna merah muda dengan bulu memek yang jarang dan tampak mengkilat karena lendir kewanitaanku, “sekarang saya bikin neng puas deh”, dan setelah itu beliau mulai menjilati daerah pribadi saya. Saat itu, saya berpikir saya sedang dikerjai, tapi justru saya menikmatinya. Ketika mereka sudah tidak menahan tangan dan kaki saya, tangan saya malah mulai ikut menekan-nekan kepala pak Doni dan Pak Budi sedangkan kaki saya menjepit kepala Pak Amir seolah ingin mendapatkan kenikmatan lebih.“ahh… ahh… ahh”“Pak… ahh… enakh… trus..” aku meracau terus tanpa hentiketika pak Amir memainkan klitorisku“Ahhh… Pak… aku mau pipis… ah…”“Arrhhhh…” aku teriak sekencangnya ketika aku orgasme untuk pertama kalinya. Seketika itu badanku lemas tidak bisa bergerak. Sementara mereka malah keenakan menjilati memekku bergantian, menghabiskan lendir kewanitaanku yang sudah banjir di rok. Kemudian sisa bajuku dilepas semua hingga aku bugil. Mereka juga melepaskan baju mereka hingga kami berempat bugil di sudah sekitar jam 9 malam tapi hujan masih sangat deras hingga tak ada seorangpun di luar dan menyadari kejadian ini. Mereka mulai merangsangiku lagi dengan menjilatiku, kali ini Pak Amir dan Pak Budi menjilati putingku, sedangkan pak Doni menjilati liang kewanitaanku. Aku yang masih dibawah pengaruh obat perangsang kembali bergairah menerima perlakuan mereka.“ahh… ahh…, udah ahh…”“jangan… trusin… ahhh”“emh.. pak… enak banget…” kataku tak karuanPak Doni menjawab, “Memekmu juga enak say”“ahh… ahh” aku menggelinjang menerima perlakuan mereka, sekarang adegan yang seharusnya pemerkosaan sudah berubah menjadi adegan sex yang kuinginkan lebih.“ahhh… pak aku mau keluar…”Kali ini ketika mereka tahu aku mau orgasme, mereka berhenti merangsangku. Aku yang sudah sangat horny sedikit kecewa waktu itu, tapi Pak Doni malah rebah di sampingku dan kedua pengojek lain menuntunku ke atas tubuh Pak Doni. Ketika bibir memekku tersentuh kepala kontol Pak Doni, aku merasa sangat terangsang. Dalam keadaan terangsang berat, aku mulai memegang kontol Pak Doni yang sudah sangat besar, dan memainkannya di bibir memekku. Sesekali Pak Doni menarikku hingga kepala kontolnya masuk ke memekku. Sementara dua pengojek lainnya masih memainkan putingku dan bibirku. Aku merasa sangat kenikmatan. Kukocok kontolnya di ujung memekku, semakin lama ku dorong semakin dalam dan akhirnya..“ahhh… ahhhh… ahhhhhhh” tembus sudah keperawananku. Pak Doni mendiamkan batang kontolnya sebentar, membiarkanku beradaptasi dengan benda besar di dalam kemaluanku sambil menikmati pijatan dinding memekku yang masih sangat rapat. Sesaat kemudian Pak Doni mulai menaik-turunkan badanku hingga aku mendesah keenakan. Lama kelamaan aku bisa mengocok kontolnya dengan memekku sendiri.“Ahhh… ahhh… cplok cplok…. ehhhhhggghhh…” begitu bunyi permainan kami.“Enak banget memekmu, say. Masih rapet” kata Pak Doni yang kemudian menarikku dan menghisap putingku.“Hmmm ahhh… Ssshhhh enghhhhh… ahhhhh… awhhhh…” aku tak bisa berkata-kata lagi karena terlalu keenakan menikmati kontol Pak Doni. Pak Amir mengocok batang kontolnya melihat adegan kami, sedangkan Pak Budi mencoba mengeksplorasi liang pantatku. Beliau memasukkan jarinya.“ahhh sakit pak… ahhh…” begitu kataku, ketika jari tengahnya masuk.“Sabar neng, nanti juga enak…” kata pak Budi, kemudian malah memasukan batang kontolnya yang besar ke anusku… tentu saja rasanya sangat sakit“arrrghh… arkk sakit pak… sudah…” tapi beliau tak peduli, kontolnya terus dimasukkan hingga dalam kemudian aku dibiarkan istirahat dalam posisi terbiasa, mereka berdua mengocokku, aku seperti isi sandwich, Pak Doni mengocok memekku dari bawah sedangkan Pak Budi mengocok anusku dari atas… aku teriak sejadi-jadinya antara keenakan dan kesakitan…“arrrgghh… ahhh…ahhh…”“Owhhh… enakkk…. trusss….. ssshshhhhhh….”Pak Amir yang melihat adegan kami dipanggil kedua rekannya,“Pak, jangan bengong aja, ni masih nyisa satu lobang” sambil menunjuk mulutkuSelanjutnya Pak Amir memasukkan kontolnya ke mulutku hingga aku sesak napas. Kepalaku ditariknya maju mundur hingga ke tenggorokan. Aku semakin kewalahan menghadapi nafsu binal mereka. Semakin lama aku semakin tidak sadar dengan apa yang ku perbuat.“Ahhh.. ahh…” desahku di antara hisapan kontol Pak Amir.“ahhkk… neng enak banget memeknya…” kata Pak Doni“trus neng, jangan berhenti” kata Pak Amir“Neng, bentar lagi keluar nih” kata Pak Budi“Arrrrrhhhh…. ssshhhhh” Seluruh tubuhku terasa bergetar… kemudian aku ambruk di atas pak Doni, kukeluarkan seluruh lendir kewanitaanku hampir bersamaan dengan ketiga orang itu mengeluarkan spermanya di dalam tubuhku.***Sesaat kemudian aku tak sadarkan diri. Ketika aku sadar, aku sudah kembali berpakaian dengan kusut. Seluruh tubuhku lemas. Jam menunjukkan pukul setengah 11 malam. Memek dan anusku masih penuh dengan sperma mereka. 5 menit kemudian ketika aku sudah mampu berdiri, Pak Amir mengantarku hingga ke rumah. Orangtuaku menanyaiku tetapi aku telalu lelah sehingga aku langsung masuk kamar dan tidur. Begitulah pengalaman pertamaku melakukan hubungan sex dengan orang-orang yang hingga kini aku sendiri tidak kenal. Sampai saat ini, seringkali aku rindu disetubuhi oleh tiga orang lagi tapi aku masih tidak berani.
Cerita Seks Persetubuhan di Tengah Hutan ,Persetubuhan di Tengah Hutan – Awan semakin gelap, mendung yang menggantung menandakan sebentar lagi akan hujan. Pakde Marto menyuruh Surti membenahi ceret air dan rantang makanannya kemudian mereka bergegas pulang sebelum hujan turun. Surti adalah istri Iding keponakan Pakde Marto yang sejak kecil ikut Pakde-nya. Pakde Marto ini adalah kakak bapaknya yang tidak mempunyai anak sesudah menikah pasangan itu tetap mengikuti Pakde-nya yang sangat sayang pada keponakannya. Sehari-hari mereka bahu membahu mencari sesuap nasi membantu Pakde di sawah atau Budenya yang buka warung kecil-kecilan di rumahnya. Seperti biasanya menjelang siang Surti mengantarkan makanan dan minuman Pakde-nya yang kerja di sawah. Hari itu kebetulan Iding pergi ke kota untuk membeli pupuk dan bibit tanaman. Rupanya hujan keburu turun sementara mereka masih di tengah hamparan sawah desa yang sangat luas itu. Hujan ini luar biasa lebatnya. Disertai dengan angin yang menggoyang keras dan nyaris merubuhkan pohon-pohon di sawah hujan kali ini sungguh luar biasa besarnya. Sebagai petani yang telah terbiasa denagn kejadian semacam ini dengan enteng Pakde Marto membabat daun pisang yang lebar untuk mereka gunakan sebagai payung guna sedikit mengurangi terpaan air hujan yang jatuh di wajah mereka yang menghambat pandangan mata. Sambil memanggul cangkulnya Pakde Marto merangkul bahu Surti erat-erat agar payung daun pisangnya benar-benar bisa melindungi mereka. Surti merasakan kehangatan tubuh Pakde-nya. Demikian pula Pakde Marto merasakan kehangatan tubuh Surti yang istri keponakannya itu. Jalan pematang langsung menjadi licin sehingga mereka berdua tidak bisa bergerak cepat. Sementara pelukan mereka juga bertambah erat karena Pakde Marto khawatir Surti jatuh dari pematang. Kadang-kadang terjadi pergantian, satu saat Surti yang memeluki pinggang Pakde-nya. Tiba-tiba ada “setan lewat” yang melihat mereka dan langsung menyambar ke Pakde Marto memeluk bahu Surti tanpa sengaja beberapa kali menyentuh payudaranya. Pada awalnya hal itu tidak mempengaruhi Pakde, tetapi hawa dingin yang menyertai hujan itu ternyata mendatangkan gelisah di hatinya. Kegelisahan yang bisa merubah perasaannya. Saat pertama kali Pakde Marto tanpa sengaja menyentuh payudara istri keponakannya dia agak kaget, khawatir Surti menganggap dirinya berlaku tidak saat yang kedua kali dan kemudian dengan sadar menyentuhnya kembali untuk yang ketiga kalinya dia tidak melihat adanya reaksi menolak dari Surti, pikiran Pakde mulai dirasuki “setan lewat” tadi. Dan pelan-pelan tetapi pasti kontol di balik kolornya mulai menghangat dan bangun. Toh rasa ke-imanan Pakde Marto masih berusaha bilang “jangan” walaupun tak bisa dipungkiri bahwa dalam hatinya dia mengharapkan sesuatu keajaiban, mungkin semacam sinyal, yang datang dari Surti. Cerita Dewasa Demikian pula Surti yang merasakan beberapa kali payudaranya tersentuh, pada awalnya dia tidak sepenuhnya menyadari. Tetapi saat tersentuh untuk yang kedua kalinya dia mulai mengingat sentuhan yang sama yang sering dilakukan oleh suaminya Iding. Biasanya kalau Iding menyentuh macam itu pasti ada maunya. Pikiran lugu Surti langsung disambar “setan lewat” lagi. Adakah macam kemauan suaminya itu juga melanda kemauan Pakde-nya di hari hujan yang dingin ini? Tetapi sebagaimana Pakde Marto, Surti juga berusaha menepis pikiran buruknya dan berkata dalam hatinya “nggak mungkin, ah”. Walaupun dibalik sanggahannya sendiri itu bersemi di hati kecilnya, akankah datang sebuah keajaiban yang membuat tangan Pakde-nya menyentuh payudaranya lagi? Maka, ketika pelukkan Pakde Marto pada bahu Surti yang semakin mengetat dan menyebabkan sentuhan ke tiga benar-benar hadir, hal itu sudah merupakan awal kemenangan sang “setan lewat” tadi. Demikian pula saat hujan yang semakin deras dan jalan yang semakin licin hingga mengharuskan mereka menyesuaikan dan mengganti posisi pelukan agar tidak jatuh dari pematang, pelukan Surti dari arah punggung pada pinggang dan dada Pakde-nya mendorong lajunya bisikkan “setan lewat” tadi. Buah dada Surti yang empuk menempel hangat di punggung dan tangan halus Surti yang menyentuh perut dan dada, membuat kontol Pakde-nya benar-benar tidak tahu diri. Keras mencuat ke depan seperti cengkal kayu yang menonjol pada sarung anak yang disunat. Untung Surti berada di belakangnya sehingga gangguan teknis itu tidak terlihat olehnya. Pakde Marto mulai mencari-cari apa jalan keluarnya? Demikian pula yang dirasakan Surti saat memeluki Pakde-nya dari belakang. Tangannya yang ketat memeluk perut dan dada Pakde-nya membuat buah dadanya demikian gatal saat tergosok-gosok punggung Pakde yang tidak mungkin terdiam karena setiap langkah kaki Pakde-nya pasti akan menggoncang seluruh bagian-bagian tubuhnya. Kegatalan macam itu menjadi terasa nikmat saat Surti mengingat bagaimana Iding suaminya sering menggosokkan wajahnya ke Pakde-nya tidak keberatan dengan pelukannya, demikian pikiran lugu Surti. Kemudian sang “setan lewat” kembali membisikkan ke dalam pikirannya, mudah-mudahan rumahnya semakin menjauh dan hujannya semakin menderas, yang disusul dengan seringai gigi taringnya karena gembira melihat usahanya telah meraih kemenangannya secara mutlak. Sekarang tinggal menggiring Pakde dan keponakkan mantunya ini menuju ke ke sentuhan setannya yang terakhir. Hujan yang demikian hebat ini membuat jam 2 siang hari bolong itu gelap serasa menjelang maghrib. Awan gelap masih memenuhi langit. Dan lebih seram lagi kilat dan petir ikut menyambar-nyambar. Pikiran Pakde Marto dan Surti sekarang adalah mencari tempat berteduh. Pakde Marto tidak kehilangan arah. Dia tahu persis kini berada di petak sawah milik Sarmin tetangganya. Kalau dia belok sedikit ke kanan dia akan menjumpai dangau untuk berteduh. Dan benar, begitu Pakde Marto yang dalam pelukan Surti belok kekanan nampak bayangan kehitaman berdiri tegak di depan jalannya. Mereka berdua memutuskan untuk berhenti dulu menunggu hujan sedikit reda. Surti bisa menurunkan beban gendongannya ke amben bambu yang ada di situ. Kini mereka saling memandang. Surti memandang kaos oblong Pakde-nya yang basah kuyup lengket di tubuhnya dan menunjukkan bayangan dadanya yang gempal berotot. Sementara Pakde Marto melihat kebaya dan kain di tubuh Surti yang istri keponakannya basah kuyup dan membuat bayangan tubuhnya yang sintal dengan payudaranya yang menggembung ke depan. Dengan setengah mati Pakde Marto berusaha menyembunyikan tonjolan kontolnya pada celana Marto memperkirakan jarak dangau itu ke dusunnya kira-kira “se-udut”-an, sebuah perhitungan yang biasa dipakai orang desa mengenai jarak dekat atau jauh diukur dari sebatang rokok yang dinyalakan dihisap. Mungkin sekitar 6 s/d 8 menit orang jalan kaki. Sementara itu tak bisa diharapkan akan ada orang lewat sawah ini dalam keadaan hujan macam begini. Pandangan mata secara jelas ke depan tidak lebih dari 5 meter, selebihnya kabut hujan yang menyelimuti seluruh hamparan sawah itu. Dalam usaha menghindar percikan hujan di dangau Pakde Marto dan Surti harus duduk meringkuk ketengah amben yang relatip sangat sempit yang tersedia. Artinya seluruh anggota tubuh harus naik ke amben sehingga mau tidak mau mereka harus kembali berhimpitan. Dan sang “setan lewat” kembali hadir menawarkan berbagai pertimbangan dan keputusan. Cerita Seks Surti yang ditimpa hujan dan hawa dingin menggigil. Demikian juga Pakde Marto. Untuk menunjukkan rasa iba pada istri keponakannya Pakde meraih pundak Surti dan membagikan kehangatan tubuhnya. Dan untuk menghormati maksud baik Pakde-nya Surti menyenderkan kepalanya pada dadanya. Walaupun pakaian mereka serba basah tetapi saat tubuh-tubuh mereka nempel kehangatan itu terjadi juga. Dan pelukan yang ini sudah berbeda dengan pelukan saat awal Pakde Marto membagi payung daun pisangnya tadi. Pelukan yang sekarang ini sudah terkontaminasi secara akumulatip oleh campur tangan sang “setan lewat” kepala Surti terasa pasrah bersender pada dada, jantung Pakde Marto langsung tidak berjalan normal. Dan tonjolan di celananya membuat susah memposisikan duduknya. Demikian pula bagi Surti. Saat Pakde-nya meraih bahunya untuk memberikan kehangatan pada tubuhnya dia merasakan seakan Iding yang meraihnya. Dengan wajahnya yang mendongak pasrah menatap ke wajah Pakde-nya Surti semakin menggigil hingga kedengaran giginya yang gemelutuk beradu. Dan inilah saatnya “sang setan” lewat melemparkan bisikan racunnya yang terakhir kepada Pakde Marto. “Ambil!, Ambil!, Ambil!, Ambil!”, dan Pakde tahu persis maksudnya. Seperti bunga layu yang jatuh dari tangkainya, wajah Pakde Marto langsung jatuh merunduk. Bibirnya menjemput bibir Surti yang istri keponakkannya itu. Dan desah-desah lembut dari dua insan manusia itu, membuat seluruh rasa dingin dari baju yang basah dan tiupan angin menderu akibat hujan lebat itu musnah seketika dari persada Pakde Marto maupun persada Surti. Mereka kini saling melumat. Sang “setan lewat” cepat berlalu untuk menghadap atasannya dengan laporan bahwa otomatisasi setannya sudah ditinggal dan terpasang dalam posisi “ON” pada setiap dada korbannya. Kini dia berhak menerima bintang kehormatan para lumatan lembut menjadi pagutan liar. Kini lidah dan bibir mereka saling berebut jilatan, isepan dan kecupan. Dan bukan hanya sebatas bibir. Jilatan, isepan dan kecupan itu merambah dan menghujan ke segala arah. Keduanya menggelinjang dalam gelombang dahsyat birahi. Surti menggeliatkan tubuhnya minta agar Pakde-nya cepat merangkulnya. Pakde Marto sendiri langsung memeluki dada Surti. Wajahnya merangsek buah dadanya. Dikenyotnya baju basah penutup buah dadanya. Surti langsung mengerang keras-keras mengalahkan suara hujan. Kaki-kakinya menginjak tepian amben sebagai tumpuan untuk mengangkat-angkat pantatnya sebagai sinyal untuk Pakde-nya bahwa dia sudah menunggu tindak lanjut operasi cepat Pakde-nya. Pakde Marto memang mau segalanya berjalan cepat. Waktu mereka tidak banyak. Segalanya harus bisa diraih sebelum hujan reda. Dan operasi ini tidak memerlukan prosedur formal. Kain penutup tubuh Surti cukup dia singkap dengan tangannya hingga ke pinggang. Nonok Surti yang menggembung nampak sangat ranum dalam bayangan jembutnya yang lembut tipis. Kelentitnya nampak ngaceng mengeras menunggu lumatan lidahnya. Tak ada yang ditunggu, wajah Pakde Marto langsung merangsek ke kemaluan ranum itu. Bibir dan lidahnya melumat dan menghisap seluruh perangkat kemaluan itu. Tangan Surti menangkap kepala Pakdenya, menekannya agar lumatan dan jilatan Pakde-nya lebih meruyak masuk ke dalam vaginanya. Cairan birahi yang asin hangat bercampur dengan air hujan dia sedot dan telan untuk membasahi kerongkongannya yang kering kehausan. Itil Surti dia lumat dan gigit dengan sepenuh gemasnya. Cerita Bokep Tekanan Surti pada kepalanya berubah jadi jambakkan pada rambutnya. Pantat Surti terus naik-naik menjemput bibir dan lidah Pakde-nya. Tetapi Pakde Marto tidak akan mengikuti kemauan idealnya. Hitungan waktu mundurnya sudah dimulai. Kini Pakde Marto yang sudah meninggalkan celana kolornya di rerumputan pematang merangkak ke atas dan memeluki tubuh basah hujan Surti. Kontolnya berayun-ayun mencari sasarannya. Paha Surti yang hangat langsung menjepit tubuh Pakde-nya dengan nonoknya yang tepat terarah ke ujung kontol Pakde Marto. Untuk langkah lanjutannya, mereka berdua, baik yang senior maupun yang yunior sudah terampil dengan sendirinya. Ujung kontol Pakde Marto sudah tepat berada di lubang vagina istri telah siap melakukan manuver akhir sambil menunggu hujan reda. Dan saat mereka saling dorong, kemaluan Pakde Marto langsung amblas ditelan vagina Surti. Sambil bibir-bibir mereka saling melumat, Pakde Sastro mengayun dan Surti menggoyang. Kontol dan vagina Surti bertemu dalam kehangatan seksual birahi ruang luar, ditengah derasnya hujan, tiupan angin dan kilat serta petir yang menyambar-nyambar dengan disaksikan oleh segenap dangau yang lengkap dengan berisik ambennya, oleh belalang yang ikut berteduh di atapnya, oleh kodok yang bersuka ria menyambut hujan, oleh wereng yang berlindung di daunan padi yang sedang menguning, oleh baju-baju mereka yang basah dan lengket di badan. Pakde Marto mempercepat ayunan kontolnya pada lubang kemaluan Surti. Walaupun dia sangat kagum sekaligus merasai nikmat yang sangat dahsyat atas penetrasi kontolnya pada lubang vagina Surti yang serasa perawan itu, dia tetap “concern” dengan waktu. Surti yang menikmati legitnya kontol Pakde-nya menggelinjang dengan hebatnya. Dia juga ingin selekasnya meraih orgasmenya. Genjotan kontol Pakde-nya yang semakin cepat pada kemaluannya mempercepat dorongan untuk orgasmenya. Kini dia merasakan segalanya telah siap berada di ujung perjalanan. Dan dengan jambakan tangannya pada rambut Pakde Marto, bak kuda betina yang lepas dari kandangnya Surti memacu seluruh saraf-saraf pekanya. Kedua kakinya dia jejakkan keras-keras pada tepian amben dangau hingga pantatnya terangkat tinggi untuk menelan seluruh batang kontol Pakde Marto dan datanglah malaikat nikmat merangkum seluruh otot, daging dan tulang belulang birahi Surti muncrat melebihi derasnya hujan siang itu. Terus muncrat-muncrat yang diikuti dengan pantatnya yang terus naik-naik menjemputi kontol Pakde Marto yang juga terus mempercepat sodokkannya untuk mengejar kesempatan meraih orgasme secara berbarengan dengan orgasme Surti. Dan pada saat puncratan cairan vagina Surti mulai surut kontol Pakde Marto yang masih kencang mengayun vagina Surti tiba-tiba berkedut keras. Kedutan besar pertama menumpahkan bermili-mili liter air mani yang kental lengket dari kantong spermanya. Dan kedutan berikutnya merupakan kedutan pengiring yang menguras habis kandungan sperma dari kantongnya. Sesaat kemudian bersamaan dengan surutnya hujan mereka berdua Pakde Marto dan Surti yang istri keponakannya terengah-engah dan dangau itu nyaris terbongkar. Bambu-bambunya ada yang lepas terjatuh. Mereka kini kegerahan dalam dinginnya sisa hujan. Keringat mereka bercucuran rancu dengan air hujan yang membasahi sebelumnya. Pakde Marto dan Surti telah meraih kepuasan yang sangat dahsyat. Pelan-pelan mereka bangkit dari amben dan turun ke pematang kembali. Surti membetulkan letak kain dan kebayanya. Pakde Marto memakai celana kolornya yang basah jatuh di pematang dan kembali meraih yang cepat cerah kembali nampak biru dengan sisa awan yang berarak menyingkir. Pohon kelapa di dusunnya nampak melambai-lambai menanti kepulangannya. Surti dan Pakde Sastro yakin bahwa Bude maupun Iding pasti cemas pada mereka yang tertahan hujan ini. Pakde sudah membayangkan pasti istrinya telah memasak air untuk kopinya lengkap dengan singkong bakar kesukaannya. Dan dalam bayangan Surti, Iding pasti telah sangat merindukannya untuk bercumbu di siang hari. Suara kodok di sawah mengantarkan mereka pulang ke rumahnya. ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
PENCARIAN JATI DIRI Sendiri Dalam Hujan – Malam semakin larut, dan suara jangkrik terdengar dari kolong-kolong rumah panggung warga, sesekali terdengar suara burung hantu, dan juga lolong anjing di kejauhan. Nampak seorang pemuda terhuyung turun dari skuter tua yang ia parkirkan di halaman rumahnya, sebuah tempat tinggal yang cukup sederhana namun terlihat asri. Sambil tertatih menaiki tangga bale-bale rumah, disulutnya sebatang rokok kretek merk “Kuberi Satu Permintaan”; sebuah aktivitas yang sangat biasa namun nampak begitu sulit ia lakukan mengingat kondisinya yang setengah mabuk. Api yang terpantik bukannya menyulut ujung rokok melainkan membakar jenggotnya yang ia biarkan panjang tak terurus. Bau hangit pun tercium, namun bukannya panik, ia malah tertawa senang. Diusapnya jenggot itu ke atas dan ujungnya dimasukan ke dalam mulut hingga rokoknya terjatuh. Ia merem-melek seolah sedang menyuwir jembut. Satu tangannya turun merogoh celana yang resletingya rupanya memang lupa ia tutup, diusapnya penisnya yang tertidur tanpa celana dalam. Ia seolah mau menidurkan batang itu, namun bukannya tidur, usapan tangannya malah membuat benda kenyal itu menggeliat. “Hahaha…” pemuda itu tertawa sendiri sambil merem-melek. Seorang putri bergaun merah terbayang dalam benaknya. “Iiih mesuuuum.” tiba-tiba sebuah pekikan terdengar. Sang pemuda melirik ke arah datangnya suara sambil mengeluarkan penisnya sehingga melongok keluar melalui lubang seleting. Nampak seorang nenek sedang berdiri di ambang pintu pagar halaman. Senyumnya menyeringai, matanya berbinar melihat ke arah penis sang pemuda. Mulutnya terbuka dan gusinya yang sudah tanpa gigi terlihat, seolah memberi kode ingin mengemut pejantan pemuda itu. “Hahaha…” si pemuda tertawa bangga. Ia tidak sadar bahwa wanita di halaman itu bukanlah gadis berbaju merah, melainkan seorang nenek yang sudah keriput. Sambil sempoyongan si pemuda kembali turun dari atas bale-bale mendekati nenek tersebut, diacung-acungkan penisnya seolah mau pamer, sedangkan si nenek tertawa kegirangan sambil menyibak kebaya lusuhnya. Tuiiiing… juntaian kisut dan peyot menyembul. Si pemuda menghentikan langkahnya, digedek-gedekan kepala seolah mau memastikan apa yang ia lihat. Di matanya itu adalah payudara yang sangat sekal. Ia kembali mendekat dengan langkah gontai, matanya yang merah karena pengaruh alkohol nampak semakin menyala. “Hihi…” kikik sang nenek, lalu tangannya terjulur seolah mau menghentikan langkah si pemuda. “Kamu mau nenen, nduk?” “Shhh… iyah… boleh kan, cantik?” jawab si pemuda. “Boleh.. boleh… tapi ada syaratnya.” jawab si nenek sambil memelintir putingnya sendiri. “Apa itu, cantik?” ujar si pemuda dengan wajah sange. “Kamu tidak boleh mabuk-mabukan lagi.” jawab si nenek sedikit tegas. “Aku tidak pernah mabok.” kilah si pemuda sambil mengusapkan jempolnya pada ujung penis. “Kamu bohong! Kalau memang kamu tidak mabuk, coba kamu tangkap aku dan aku akan memberikan seluruh tubuhku.” Mendengar tantangan si nenek, si pemuda terbahak dan menyeringai sange. Ia langsung merentangkan tangannya untuk memeluk si nenek. Huuuuuf. Ia hanya merangkul angin, karena dengan gesit tubuh si nenek berjingkat menghindar. Gerakannya nampak begitu ringan bagai angin. “Hahahaa…” bahak si pemuda. Ia merasa tertantang untuk bisa menaklukan wanita yang di matanya sangat menggoda itu. Ia langsung membalikan badan untuk menangkap pinggang si nenek. Wuuuuzz.. lagi-lagi ia hanya menyapu angin. Akhirnya bagai kesetanan ia berusaha menangkap si nenek, tapi wanita tua itu bisa menghindar dengan gesit, sambil tak hentinya tertawa meledek. “Kamu lagi ngapain, Nte?” terdengar suara dari dalam rumah, dan tak lama kemudian muncul wanita paruh baya melongok dari pintu. Pemuda itu melihat ke arah datangnya suara, bersamaan dengan itu sosok sang nenek seketika menghilang. “Kamu lagi ngapain?” tanya sang wanita lagi. “Hahaha… ini aku lagi main-main ama pacarku, bu.” jawabnya. “Pacar?! Siapa? Nggak ada siapa-siapa tuh.” jawab si wanita yang ternyata adalah ibunya. “Ini… Eh…” si pemuda celingukan mencari sosok sang nenek. “Kamu pasti mabuk lagi, kan nak? Mau jadi apa kamu ini? Ibu udah capek menasihati kamu, dan ibu sudah tidak tahu lagi mau ditaruh di mana muka ini. Ibu sudah sangat malu ama warga.” keluh si ibu. Bukannya takut, si pemuda bernama Dante itu malah tertawa, urat malunya sudah hilang karena pengaruh alkohol yang sudah mengganggu kesadarannya. “Sayang kamu di mana? Sayang?!” ujarnya sambil celingukan mencari sosok sang nenek. “Aku akan datang lagi kalau kamu sudah berhenti mabuk.” terdengar suara sang nenek dari kejauhan. Tentu saja hanya Dante yang bisa mendengarnya. “Hahaha… aku tidak mabuk. Kemarilah, sayang. Hahahaha… aku mau nyuwir kamu sampai keenakan.” “Ya ampun, Dante!! Sudah kamu jangan teriak-teriak sendiri, malu ama tetangga. Ayo masuk!!” hardik sang ibu sambil turun dari tangga bale-bale rumah. Langsung ditariknya tangan anak semata wayangnya itu, dan menuntunnya setengah menyeret. Penciumannya langsung menghirup bau alkohol dari mulut anaknya. Dante hanya tertawa saja sambil mengikuti langkah ibunya, namun kakinya tersandung tangga bale-bale. Bruuuuk….. Ia ambruk di atas lantai papan tanpa mampu disangga oleh ibunya yang bertubuh lebih kecil. Dante pun langsung tertidur tak sadarkan diri. “Dante… Dante… Bangun, nak!! Kamu itu bikin susah ibu saja!” keluh wanita berusia empat puluh lima tahun itu. Ia ingin memarahi anaknya habis-habisan, tapi percuma karena Dante sudah tak sadarkan diri, lagi pula ia tidak mau membuat tetangganya pada terbangun. Ia hanya bisa menangis dalam hatinya sambil menyambat sang suami yang sudah almarhum. Susah payah ia menyeret tubuh anaknya ke dalam rumah, sambil tak hentinya menggerutu pelan. Sejatinya hatinya menjerit karena merasa gagal mendidik dan membesarkan anaknya. Semenjak suaminya meninggal, Dante berubah menjadi pemuda yang susah diatur dan malah bergaul dengan para preman pasar. Ia juga menjadi sering mabuk-mabukan. Seluruh warga sudah tahu semua, dan sangat sinis pada pemuda ini. Kalau bukan karena menghormati ibunya, mungkin mereka sudah mengusir Dante dari kampung. Anehnya, hanya kaum lelaki saja yang membenci Dante, sedangkan istri-istri mereka selalu saja menemukan cara untuk membela. Entah pesona apa yang dimiliki pemuda itu, atau entah perbuatan apa yang sudah dilakukannya, sehingga para ibu-ibu seolah tetap menginginkan dia ada di kampung mereka. Akhirnya, ibunya Dante berhasil menyeret tubuh anaknya ke dalam rumah dan menggeletakannya di atas tikar ruang tengah. Nafasnya terengah karena tubuh berat anaknya. Keadaan rumah yang terang-benderang membuat ia bisa melihat kondisi anaknya dengan jelas. Rambutnya yang gondrong terlihat acak-acakan, kaosnya nampak basah oleh keringat sehingga memerkan dadanya yang bidang. Wanita itu sedikit tersentak ketika melihat ada yang nongol dari celah seleting anaknya Sebuah batang kecoklatan dengan kepala yang mengkilap. Masih terjulur setengah tegang. Ia langsung menutup mulutnya dengan mata terbelalak. Awalnya ia begitu kesal atas kelakuan anaknya yang bahkan tidak memakai celana dalam itu. Namun entah mengapa, perasaannya berdesir melihat kenjantanan anaknya, sebuah benda yang terakhir kali ia lihat ketika ia masih berumur dua belas tahun, tepatnya ketika ia disunat. Sedangkan kini Dante sudah berumur dua puluh satu tahun. Di samping itu, sejak suaminya meninggal tujuh tahun yang lalu, ia sudah tidak pernah melihat kejantanan pria lagi. Ia sempat merindukan sebuah kenikmatan seperti malam-malam indah bersama sang suami, namun selama tujuh tahun ini ia berhasil meredamnya, meskipun masih banyak lelaki yang menawarkan kenikmatan itu, entah sekedar menggoda mencari kesenangan, atau serius meminangnya sebagai istri. Ia masih menyayangi suaminya. Rasa sayang itu mengalahkan kesepiannya selama ini. Cara Mendapatkan Win Global Jackpot Ia bertekad untuk tidak menikah lagi sampai akhir hayatnya, meskipun ia sendiri kadang tidak yakin apakah akan bisa menjalaninya atau tidak. Ia terus terpaku memandang penis anaknya, ada perasaan asing yang menyeruak, perasaan yang selama ini ia tekan dan tahan-tahan dahaga akan belaian dan kasih sayang. Ia tidak menampik, bahwa di balik komitmennya untuk tidak menikah lagi, sebagai wanita biasa ia masih tetap merasakan kesepian. “Sadar, Tempi, sadar…!!!” ia bergumam dengan menyebut namanya sendiri. Ya, namanya adalah Tempi, tepatnya Tempi Basyah. Sadar bahwa ia belum menutup pintu ia pun segera melangkah ke depan untuk menutupnya. Namun meskipun ia sudah menjauh dan membelakangi anaknya, bayangan penis itu terus tergambar. Mungkin ia sudah terbiasa melihat penis suaminya dulu, tapi ukuran penis anaknya yang menurutnya sangat besar membuat ia senewen sendiri. Usai menutup pintu ia kembali mendekati tubuh anaknya. Lagi-lagi, yang ia lihat pertama kali, adalah penis itu. Dadanya kembali terkesiap, dan jantungnya berdebar. Meski begitu, akal sehat dan kesadarannya masih membuatnya bisa mengontrol diri. Ditahannya dorongan untuk melihat secara lebih dekat, ada juga keinginan untuk menyentuhnya sekedar untuk memasukannya kembali ke dalam celana, tapi ia tidak mau hal itu malah memicu kodrat dasar kebutuhannya sebagai wanita. Yang ia lakukan adalah mengambil sarung dan ditutupkannya pada tubuh sang anak. Ia pasti tidak akan sanggup memindahkan tubuh anaknya ke dalam kamar, apalagi mengangkatnya ke atas tempat tidur. Selain menyelimuti Dante, ia juga memasangkan bantal agar anaknya bisa tertidur dengan nyaman. Dimatikannya lampu ruang tengah, dan kembali ke dalam kamar untuk melanjutkan tidur. Namun apa daya, kantuknya seketika hilang, jantungnya terus saja berdebar, dan ada yang gatal pada area selangkangannya. Seluruh daerah sensitifnya terasa geli, dan sentuhan kain dasternya menimbulkan sensasi tersendiri, apalagi ia tidak pernah mengenakan bra setiap kali tidur. Dimiringkan badannya sambil memeluk guling, dan menghimpitnya di antara kedua paha. Namun justru hal itu menimbulkan rasa nikmat pada selangkangannya. Entah sadar atau tidak, ia mulai menekan-nekan pangkal pahanya pada guling sehingga menimbulkan rasa nikmat. Seumur-umur ia tidak pernah masturbasi, bahkan ia tidak pernah tahu bahwa orang bisa memuaskan dirinya sendiri dengan cara seperti itu. Ia cukup polos dalam hal ini, dan pengetahuan seksualnya sangat terbatas. Ibu Tempi menggigit bibirnya sendiri dan memejamkan mata dengan kening mengkerut. Bayangan penis anaknya kembali terbayang dan birahinya tiba-tiba melonjak. Ia berusaha sadar, namun rasa nikmat mengalahkan segalanya. Secara naluriah ia malah menggulingkan badannya dan telungkup di atas guling berbahan kapuk tersebut. Dasternya tersingkap sehingga pahanya yang putih dan masih mulus terpampang. Ditekan-tekannya vaginanya yang mulai basah ke atas guling, ia meringis kenikmatan. Sedangkan putingnya yang tiba-tiba mengeras menekan-nekan ujung guling bagian atas. “Shhhh… mmmh…” entah sadar atau tidak, Ibu Tempi mulai mendesah. Kini ia bukan hanya menekan pinggulnya, melainkan sudah menggesek-gesekan selangkangannya pada guling. Meski ia mengenakan celana dalam, namun rasa nikmat itu ia rasakan. Dalam benaknya, ada batang penis yang sedang menggesek-gesek bibir vaginanya. Tidak puas dengan itu, ia mengangkat ujung dasternya sampai ke pinggang, dan nampaklah bongkahan pinggulnya yang lembar, dibalut oleh celana dalam hitam yang nampak ketat. Gesekannya semakin keras, dan bahkan ia sudah meremas payudaranya sendiri dari balik daster. Bu Tempi sudah hilang akal, ia benar-benar mengalami sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kini ia merasakan kenikmatan yang belum pernah ia alami sebelumnya, yaitu kenikmatan yang ia peroleh tanpa kehadiran seorang laki-laki; cukup dengan membayangkannya saja. Anehnya, ia malah membayangkan penis anaknya yang besar itu. Ia semakin blingsatan, dan ia semakin bergerak liar. Celana dalam bagian depannya sudah basah kuyup, dan membasahi sarung guling. Ia berpacu dan berpacu, mulutnya tanpa sadar terus berdesis, dan bahkan sekali-kali mengerang cukup keras. Sementara ia meraup nikmat dalam masturbasinya, Dante terbangun. Ia terganggu oleh suara berisik ranjang dan rintihan ibunya. Pemuda itu menggeliat dan mengusap mukanya beberapa kali. Ia merasa begitu pusing. Sejenak ia hanya membujur telentang sambil membuka mata dan menajamkan pendengaran. Sebagai pemuda yang sudah terbiasa dengan perlendiran, ia bisa langsung tahu bahwa yang ia dengar adalah suara perempuan yang sedang merintih keenakan karena syahwat birahi. Meski masih dipengaruhi oleh alkohol, ia masih bisa berpikir bahwa di rumah ini hanya ada dirinya dan ibunya. Jadi wanita itu? Dante bangkit dengan amarah yang menggelegak. Pikirnya, ada lelaki yang sedang menggauli ibunya. Susah payah ia bangun dan melangkah tertatih-tatih. Tangannya berpegangan pada dinding papan agar tidak terjatuh. Langkahnya langsung menuju kamar ibunya. Suara erangan dan rintihan langsung terdengar semakin jelas, membuat Dante semakin marah. Tangannya langsung menyibak tirai kamar, karena memang semua kamar di rumahnya tidak ditutup oleh pintu, melainkan oleh tirai kain. Dan inilah awal kisah seorang pemuda bernama Dante. Singkat, padat, jelas, tanpa nama belakang. Seorang pemuda berandalan yang mencari jati diri dan cinta sejati… Hujan adalah refren hidupnya. RAMALAN MIMPI Post Views 11,933
cerita seks saat hujan