cerita sex anak petani

Diantara anak-anakku, Eva lah yang jadi bahan fantasi utamaku. Setiap kali aku menyetubuhi istriku, Eva lah yang ada dalam benakku! Kisah ini bermula dari Irma dan temannya Cindy. Cindy setahun lebih muda, tapi mereka sangat akrab. Cindy selalu menginap di rumah kami setidaknya sekali sebulan. Cindy sangat kurus, terlalu kecil, tapi sangat manis. mình đã không yêu xin đừng tìm nhau. Kisah Petani dan Anak-anaknya YunaniSeorang petani yang sangat kaya yang merasa tidak akan hidup terlalu lama lagi, memanggil anak-anaknya di samping tempat tidurnya.“Anak-anakku,” dia berkata, “Perhatikanlah apa yang akan saya katakan pada kalian. Dengan alasan apapun, jangan pernah menjual tanah yg menjadi milik keluarga kita selama beberapa generasi. Karena di tanah ini tersembunyi harta karun. Saya tidak tahu di mana letak pastinya, tetapi harta tersebut ada di sini. Carilah harta tersebut dengan sekuat tenaga dengan cara menggali dan jangan lewatkan sejengkal tanah pun yang tidak Petani kemudian meninggal, dan tidak lama setelah penguburannya, anak-anaknya mulai bekerja sekeras mungkin menggali setiap jengkal tanah pertanian mereka dengan sekop, bahkan setelah selesaipun, mereka masih melakukannya sampai berulang dua-tiga ada satupun emas tersembunyi yang mereka dapatkan, tetapi saat musim panen, kantong dan pundi-pundi uang mereka menjadi penuh dengan keuntungan panen yang sangat besar dibandingkan dengan tetangga-tetangga mereka. Pada akhirnya mereka menjadi sadar bahwa harta karun yang disebutkan oleh ayah mereka adalah kekayaan dari hasil panen yang berlimpah, dan kerja keras mereka sebenarnya adalah harta Moral Kerja keras adalah harta karun ? NOVELBASAH ? PERKEMBANGAN BIRAHI Suatu ketika mereka selesai makan siang, Ibunya duduk di pojok bale melihat ke arah luar rumah sementara Arjuna duduk di samping Ibunya. Ibunya sesekali menoleh ke belakang sementara berbicara dengan Arjuna mengenai pengalaman masa kecilnya di desa yang sedih karena keluarganya miskin. Dewi rupanya sedang mengenang masa-masa sulit di waktu yang telah lalu. Arjuna memeluk Ibunya dari belakang dan berkata, “Sedih sekali ya waktu itu .” lalu mulai mencium pundak Ibunya perlahan. Seperti biasa, Ibunya memakai kain yang dilibat di atas dadanya, BH hitamnya terlihat pada bagian tali. Ibunya terus berbicara, lalu Arjuna mencium lagi. Kemudian lagi. Jarak antara ciuman sekitar sepuluh detik. Makin lama secara perlahan jarak itu mengecil, hingga akhirnya Arjuna mulai menciumi pundak Ibunya berkali-kali bagaikan ayam sedang mematuki beras di tanah sementara Ibunya berbicara. Akalnya berbuah hasil juga. Kini Arjuna dapat menciumi pundak Ibunya secara beruntun. Setelah beberapa lama, sekitar lima menitan Arjuna mencumbu pundak Ibunya, barulah anak itu sadar bahwa Ibunya telah berhenti bicara. Arjuna buru-buru mengajak ngomong agar tidak dicurigai. “Bu?” “Ya?” “Kalau sekarang, apakah Ibu masih merasa sedih. Kita kan juga bukan keluarga yang kaya .” “Tidak, Jun. kalau dibanding dahulu, sekarang ini jauh lebih baik. Ibu senang hidup seperti sekarang. Makan dan tidur cukup, walaupun enggak berlebihan. Udah dulu ngomong-ngomongnya, sebentar lagi sore nih. Ibu belum masak sama beres-beres.” Dewi beringsut pergi dari bale-bale. Arjuna kecewa, namun kekecewaannya sedikit terobati karena ia kini bisa menciumi Ibunya tidak hanya di pipi dan bibir, namun di pundaknya pula tanpa kena marah. Setidaknya ada kemajuan pada hari ini. Keesokan harinya, Dewi duduk di pinggir tempat tidur Arjuna lalu membangunkan Arjuna untuk mandi pagi. Arjuna terbangun, melihat Ibunya menatapnya dan hendak berdiri. Sambil beringsut bangun, Arjuna memegang tangan kanan Ibunya mengunakan tangan kirinya dan berkata, “Cium dong.” “Ah, kamu belum mandi sama gosok gigi.” “Ya udah pundak aja.” Arjuna mencium pundak Ibunya selama beberapa detik. “Udah ya. Kamu kan harus mandi dan sarapan.” “Yaaaah . Baru sebentar juga.” Lalu Arjuna menciumi lengan Ibunya. Lalu dengan tangan kirinya yang masih memegang pergelangan tangan kanan Ibunya, ia angkat tangan Ibunya dan ditaruh di pundak kirinya, lalu dibenamkannya mukanya di ketiak Ibunya yang belum mandi itu. Dihirupnya bau tubuh Ibunya dalam-dalam. “Arjuna Ibu geli. Udah donk. Kamu belum mandi dan sarapan. Nanti kamu terlambat sekolah.” Arjuna menjawab tanpa menarik wajahnya. Sehingga ia berbicara masih dengan hidung yang menempel pada bulu ketiak Ibunya yang lembab, “Yaaaah sebentar banget. Arjuna paling seneng menghirup bau badan Ibu yang belum mandi. Harum banget sih. Besok bangunin Arjuna lebih pagi lagi ya?! Lagian Ibu kok jam segini mulu bangunin Arjuna?” “Ibu kan harus cuci perabot dulu sehabis Ayah kamu sarapan. Biar cepat bersih rumah.” Arjuna justru memeluk Ibunya, tangan kanannya tepat dibawah payudara Ibunya sehingga merasakan gundukan bukit kembar. Ia menghirup dalam-dalam lagi aroma ketek Ibunya itu. Kata Arjuna setelah beberapa saat, “Arjuna ga mau lepasin. Lebih baik hari ini ga usah sekolah aja.” “jangan donk. Kamu mau ngapain di rumah?” “ciumin ketek Ibu aja.” “ngaco kamu. Ketek bau diciumin terus.” “Harum kok. Pokoknya Ibu harus janji besok bangunin Arjuna sebelum cuci perabotan.” “Terserah kamu deh.” Dengan semangat 45, Arjuna tiba-tiba membuka mulutnya lalu menjulurkan lidahnya ke ketek Ibunya. Dikenyotnya bulu ketek Ibu secara cepat. Ibunya kaget. Namun belum sempat Ibunya bereaksi, Arjuna sudah melepaskan dirinya dari Ibunya lalu bergegas ke kamar mandi. Dewi terkaget, namun melihat anaknya sudah bergegas mandi ia tidak berkata apa-apa lagi. Setelah mandi secara cepat, Arjuna mendapatkan Ibunya sedang di bale-bale mempersiapkan makanan untuk sarapan. Arjuna menghampiri Ibunya dan duduk disampingnya. Dewi tersenyum. Dari samping, Arjuna melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang Ibunya. Lalu seperti biasa, Arjuna mencium kedua pipi Ibunya masing-masing sekitar tiga detik diakhiri dengan kecupan yang menimbulkan bunyi. Lalu mereka berciuman di bibir. Biasanya sekitar lima detik. Tapi hari itu setelah lima detik, Arjuna memang melepaskan bibirnya sehingga menimbulkan suara kecupan lagi, namun kembali menempelkan bibirnya. Setelah lima detik Arjuna mengakhiri lagi dengan kecupan, namun kembali diciumnya bibir Ibunya. Akhirnya setelah kecupan ketiga, Dewi mendorong kepala anaknya dan berkata, “Kamu semangat banget hari ini cium Ibu.” “Habis, Arjuna semakin hari semakin sayang Ibu.” “Ya udah, makan sana.” “Tapi ketek Ibu kan belum .” “Nanti kamu kesiangan. Lagian, kok kamu seneng banget ciumin ketek Ibu?” “Kan udah Arjuna bilang, Arjuna suka sekali sama bau badan Ibu yang belum mandi. Karena inilah bau badan Ibu yang asli. Ga ada bau tambahan kayak sabun. Kalo mencium bau badan Ibu ini rasanya Arjuna semakin dekat sama Ibu.” “Ya udah. Jangan lama-lama. Nanti kamu kesiangan.” Dewi mengangkat tangan kirinya ke atas. Tangan yang dekat dengan Arjuna. Arjuna berkata, “Ibu nanti pegal. Ibu tiduran aja sebentar.” “Aduh. Sempit di bale-bale. Banyak perabotan. Piring, periuk sama gelas.” “Yah . Di kamar Ibu aja, ya? Sebentar.” Pertama-tama Ibunya enggan, namun Arjuna yang pintar itu memelas dan dengan alasan ingin lebih dekat dan mengenal Ibunya, dan salah satu caranya adalah mengenal bau tubuh Ibunya, selain itu ciuman juga akan semakin mendekatkan juga menambah rasa sayang mereka, akhirnya Ibunya mengalah. Selain itu, Dewi setiap kali mendengar Arjuna berbicara mengenai ciuman, ada perasaan aneh di dalam dadanya. Dan mungkin karena memang Dewi sendiri ingin dekat dengan anak tunggalnya itu, makanya Dewi tidak pernah keberatan anaknya menciumi dirinya. Setelah menutup makanan di bale-bale dengan tudung saji. Mereka berdua masuk kamar Dewi. Dewi rebah di sana di tengah ranjang. Arjuna rebah disampingnya dan mulai menciumi ketek kiri Ibunya. Berhubung Ibunya bersikeras bahwa hanya lima menit saja, maka Arjuna memutuskan untuk tidak hanya mengeksplorasi ketiak Ibunya. Arjuna mulai menciumi ketek kiri Ibunya. Sesekali dipagutnya bulu ketiak Ibunya. Kini Arjuna mulai hafal bau tubuh Ibunya. Bahkan ketika masturbasipun bau tubuh Ibunya teringat di benaknya. Ciuman di ketek itu dilanjutkan Arjuna dengan mulai mencium ke arah dada Ibunya. Ketika Dewi merasakan bibir Arjuna mulai meninggalkan ketiaknya dan kini berjalan menyusuri pinggir ketiak dan akhirnya menyusuri bagian atas dadanya, ia berkata, “Jun, kamu ngapain?” “Mau cium ketiak Ibu sebelah kanan,” kata Arjuna lalu meneruskan perjalanan bibirnya itu yang kini sudah di tengah bagian atas tetek Ibunya yang terbuka dan tidak terbungkus kain. Dewi merasakan kulitnya bagai tersengat listrik arus rendah, dan kepalanya bagaikan berputar. “Bu?” kata Arjuna tiba-tiba. “ya?” “Kemarin ada kakak kelas yang bilang bahwa ada cewek yang manis dan ada yang tidak. Ibu termasuk yang manis, kan ya? Pasti deh.” “Ah, Ibu itu biasa aja. Gak terlalu manis.” “Ah, Ibu bohong. Coba deh ..” kata Arjuna dan tiba-tiba Arjuna menjilat payudara kiri bagian atas Dewi. Dewi tersentak kaget dan menarik nafas cepat ketika merasakan lidah muda Arjuna menyapu payudara kanannya itu. “Wah. Benar, kan. Ibu rasanya manis.” Dewi harus menarik nafas dulu baru menjawab, “Kamu itu. Jelas-jelas Ibu asin begini karena belum mandi.” “enggak kok. Nih buktinya ..” Arjuna menjilat lagi, kini agak ke tengah, “ tuh kan. Manis lho, Bu.” Dewi kini merangkul kepala Arjuna dengan tangan kirinya secara perlahan. “Udah, Jun. nanti kamu kesiangan.” Namun Arjuna kembali menjilat dada Ibunya, kini lembah diantara kedua bukitnya yang disapu oleh lidah Arjuna. Arjuna yang mulai berahi kini semakin berani. Sebelumnya ia menjilat Ibunya sekali-sekali. Kini setelah lidahnya mencapai pinggir bukit sebelah kanan Ibunya, ia mulai menjilati daerah itu dengan sapuan lidah yang cepat. Dewi merasa tiba-tiba dilanda birahi. Dan ia tiba-tiba merasa takut. Mengapa ia birahi pada anak sendiri? Maka ia segera mendorong Arjuna dan berkata, “Udah, Jun. kamu bakal kesiangan.” “Yaaah ketek kanan Ibu belum .” “Udah, nanti aja ..” Arjuna sebenarnya sudah birahi dan tidak ingin menghentikan aksinya. Namun ia tahu bila ia bersikeras, maka Ibunya akan marah. Oleh karena itu, ia segera menghentikan aksinya lalu tersenyum dan berkata, “Ibu udah janji, lho.” Dengan perkataan itu ia meninggalkan kamar Ibunya untuk sarapan pagi. Dewi tidak tahu harus berbuat apa-apa. Karena hal yang dimulai untuk membuat ia dan anaknya menjadi dekat, kini seakan mulai bergerak ke arah yang lain. Dewi mulai merasakan nafsu birahi ketika anaknya mulai menjilati dada atasnya. Ia bingung. Ia tidak ingin merasakan birahi kepada anaknya sendiri, ia harus menolak dan melarang Arjuna bila ingin menjilatnya lagi. Tapi ia takut bila dilarang, maka kedekatan mereka yang sudah terjadi, akan lenyap begitu saja. Dewi adalah perempuan desa yang mempunyai pikiran yang sederhana. Tidak ada sedikitpun kecurigaannya kepada anaknya. Ia tidak berfikiran bahwa memang sebenarnya anaknya hendak membuatnya birahi. Ia percaya, Arjuna memang ingin dekat dengannya. Jadi, apa yang harus dilakukan olehnya agar tidak memiliki nafsu itu? Siang hari Arjuna pulang. Dewi sedang di bale-bale termenung memikirkan segalanya. Seperti biasa Arjuna duduk di sampingnya lalu mencium dan mengecup pipi dan bibirnya. Namun kali itu Arjuna berkata, “Bu, akhir-akhir ini Arjuna merasa Ibu sudah ga sayang sama Arjuna lagi.” “Loh, kok kamu berkata begitu?” “Pertama. Tadi pagi Ibu mengusir Arjuna dari kamar Ibu ” “Tapi Jun. kamu kan harus sekolah. Ibu ga mau kamu terlambat dan dihukum,” sela Ibunya. “Dengerin Jun sampai habis dulu, dong. Pertama, Ibu mengusir Jun dari kamar tidur. Kedua, selama ini Jun mengecup Ibu, Ibu hanya diam dan tidak mengecup balik. Arjuna takut sebenarnya Ibu tidak ingin dekat dengan Jun. padahal Jun sangat ingin dekat sama Ibu.” “Ibu juga ingin dekat sama Jun. benar, kok.” “Kalau gitu Ibu juga kecup dong.” Arjuna kemudian mencium bibir Dewi lagi. Dikecupnya Ibunya, namun Ibunya terlambat mengecup balik. “Tuh, kan.” “Abis kamu cepat banget.” “Kan harusnya kerasa, setiap kali mau Jun kecup, bibir Jun kan menekan bibir Ibu. Coba lagi deh.” Arjuna mencium bibir Ibunya lagi. Kali ini Ia merangkul Dewi. Dewi memusatkan perhatian pada tekanan bibir Arjuna pada bibirnya. Dirasanya bibir anaknya itu menekannya, maka Dewipun menekan bibirnya untuk membalas kecupan itu. Akhirnya mereka berdua mengecup dan karena kedua bibir saling mengecup, bunyi yang dihasilkan lebih keras dari suara kecupan sebelum-sebelumnya. “Nah, gitu dong. Ini kan artinya Ibu juga sayang seperti Arjuna sayang Ibu. Tapi Ibu masih kaku nih. Harus banyak-banyak dilatih. Kalau menyamping kayak gini rasanya pegal, Bu. Di kamar Ibu aja ya? Sambil rebahan. Arjuna tadi abis olahraga.” “Makan siang dulu, Jun.” “Sebentar aja, kok.” Dewi merebahkan dirinya di kasur. Arjuna secara cepat sudah berbaring pula di sampingnya. Untuk dapat berciuman mereka berbaring menyamping. Dengan tangan kirinya, Arjuna merangkul Ibunya, dengan bujukan Arjuna Ibunya merangkul pundak anaknya itu. Karena seharusnya dua orang yang saling menyayangi tidak canggung saling memeluk. Mereka berciuman dan saling mengecup. Dewi merasakan kecupan Arjuna yang basah, karena sebelum berciuman Arjuna menjilat bibirnya sendiri untuk membasahi bibirnya itu. Arjuna menyuruh Ibunya juga untuk membasahi bibirnya sendiri, agar enggak kering. Soalnya kalo kering ga enak, kata Arjuna. Bibir Arjuna terasa hangat dan basah. Ciuman dan kecupan Arjuna pertama-tama terasa perlahan dan lambat. Makin lama tekanan bibir itu makin diperkeras. Tak sadar, Dewi mengikuti irama permainan bibir anaknya itu. Birahi Dewi kini mulai menanjak lagi. Sejenak Arjuna menghentikan ciumannya dan Dewi sedikit kecewa. Kata Arjuna, “Bibir ibu kering lagi tuh. Biar Arjuna yang basahin deh.” Lalu Arjuna mencium Dewi lagi, namun kini dirasakan lidah Arjuna menyapu bibirnya. Dewi mengecup lidah itu. “Sekarang ibu yang membasahi bibir Arjuna,” kata remaja itu. Dengan kaku Dewi menyapu lidahnya ke bibir anaknya sekali. Namun Arjuna menyuruh ibunya terus membasahi bibirnya. Akhirnya Dewi mulai menjilati bibir Arjuna secara perlahan. Tiba-tiba Dewi merasa bibir Arjuna menjepit lidahnya secara perlahan. Listrik birahi tiba-tiba menyetrum kemaluannya sehingga kini mulai basah dan lututnya menjadi lemas. Dijulurkannya lagi lidahnya ke mulut anaknya dan Arjuna mengenyot lidah ibunya itu dengan perlahan, membuat Dewi terbuai oleh nafsu birahi sehingga kini ia mendekap kepala anaknya. Dewi kini membalas mengenyoti bibir Arjuna. “Jilatin lidah, Bu,” kata Arjuna sambil mengulurkan lidahnya. Dewi lalu membalas dengan mengeluarkan lidahnya. Lidah mereka menari-nari, menekan dan menjilati satu sama lain. Air liur mereka bercampur di mulut mereka. Arjuna kemudian mengecup bibir ibunya yang mengecup balik. Sesaat mereka saling berciuman dan mengecup, lalu mereka mulai lagi adu lidah. Kadang mereka mengenyot lidah secara bergantian, kadang saling mengenyot bibir. Keringat mereka mulai deras membasahi tubuh mereka. Arjuna tahu kapan harus berhenti. Dia pikir mungkin saja sekarang ia bisa menggauli ibunya, tapi prosesnya terlalu cepat. Ibunya harus secara perlahan menginginkannya. Bila terlalu cepat, maka mungkin hubungan ini akan terjadi sekali saja, sedangkan Arjuna ingin ibunya menjadi miliknya selama-lamanya. Maka Arjuna lalu menghentikan aksinya. Lalu berkata, “Arjuna senang sekali. Kini kita udah sangat dekat. Yang kurang Cuma cium ketek aja.” Ibunya yang terengah-engah hanya memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian ibunya membuka mata lalu mengangkat kedua tangannya. Arjuna kemudian menjilati ketiak kiri ibunya yang kini sudah basah oleh keringat dan sudah mengeluarkan bau badan lagi. Ibunya menggelinjang kegelian namun hanya tertawa tanpa melarang. Setelah beberapa menit, maka ketek sebelahnya lagi dilahap oleh Arjuna, sehingga kini kedua ketek itu basah oleh keringat Dewi sendiri dan air liur anaknya itu. Setelah itu Arjuna menghentikan aksinya. Malam itu ada perubahan di rumah. Ayah Arjuna, Waluyo, pulang dengan batuk-batuk. Ketika pulang maka Waluyo mengajak Dewi ke kamar dan mereka berbicara lama. Arjuna mengintip, mungkin kali ini mereka akan melakukan hubungan seks. Ternyata mereka berembug, bahwa Waluyo harus tidur di dalam agar tidak bertambah parah sakitnya. Yang anehnya, keduanya membicarakan mengenai apakah harus tidur berdua atau tidak. “Aku sudah tidak bisa tidur dengan kamu lagi, Wi. Kamu tahu itu,” kata Waluyo,” maka aku tidak bisa berbagi ranjang. Mungkin sebaiknya aku tidur di kamar Arjuna.” Hal ini menambah senang Arjuna. Kalau mereka tidur bersama dan berhubungan seks lagi, rencana Arjuna akan hancur total. “Nanti Arjuna ketularan. Jangan dong, Mas.” “Ya sudah. Suruh dia tidur di bale-bale saja.” “Jangan, Mas. Nanti dia juga sakit kena angin malam. Dia kan ga biasa tidur di luar kaya Mas.” “Terus bagaimana?” “Biar Arjuna tidur sama aku saja di kamar depan.” Waluyo menghela nafas. Akhirnya mereka setuju. Arjuna merasakan seperti di surga ketujuh. Usaha-usahanya pasti akan berhasil dengan sukses dengan kemungkinan di atas 90%, pikirnya. Jam sembilan malam biasanya Arjuna masuk kamar. Sementara ibunya masuk kamar pukul sepuluh atau lebih. Kini mereka berdua berbagi kamar, Arjuna mengharapkan ibunya seperti biasa akan berganti daster. Maka ditunggunya ibunya dengan cara ia pura-pura belajar dengan membaca di kamar tidur. Selain itu, kini ia telah siap dengan memakai sarung tanpa CD dengan kaos kutang saja. Ketika ibunya masuk, ibunya berkata, “Sudah. Ayo tidur.” Arjuna meletakkan bukunya di meja di samping tempat tidur. Lalu menunggu dengan harap-harap cemas. Namun, ibunya malah naik ke tempat tidur. “Loh? Selama ini ibu sudah bohongin Arjuna ya?” “Maksud kamu?” “Arjuna sudah beliin ibu daster, ternyata tidak dipakai.” Padahal Arjuna tahu ibunya selalu memakai daster. Cuma mungkin sekarang ia agak risih karena tidur bareng anaknya sendiri mengenakan daster yang kecil itu. Dewi jadi bingung harus bagaimana. Namun karena takut anaknya marah, maka ia bilang bahwa ia selalu pakai, dan hari ini lupa karena mengurusi bapaknya yang sakit. “Ya sudah. Kamu balik badan dulu. Ibu mau pakai daster.” “Emangnya kenapa, Bu?” “Ibu kan malu.” “Malu? Kalo sama orang lain boleh dan harus malu. Tapi sama anak sendiri masa malu, bu?” Dewi menjadi serba salah. Tapi dia selalu kalah debat sama anaknya. Maka, ia membuka lemari di mana tergantung daster itu. Dibukanya kainnya. Arjuna segera ngaceng melihat tubuh ibunya yang hanya berbalutkan BH dan celana dalam putih. Tubuh ibunya yang sudah sering dilihatnya itu tampak semakin menggiurkan bila dilihat langsung tanpa melalui lubang intip. Ketika ibunya telah selesai memakai daster dan membalikkan badannya Arjuna berkata lagi, “Ibu. Kok kelihatannya jelek ya daster itu jadinya, karena ada tali BH di balik daster.” “Iya, emang keliatan jelek.” “Jadi selama ini ibu selalu pakai BH di balik daster?” Dewi terdiam sebentar, namun karena dia adalah orang kampung yang jujur, akhirnya diberitahukanlah kepada anaknya bahwa sebenarnya ia tidak pernah pakai BH di balik daster selama ini. “Wah, kalo gitu jangan pakai BH dong, Bu. Masa Ibu keliatan aneh gini. Ibu sendiri merasa jelek kalau pake BH. Arjuna kan mau ibu terlihat bagus memakai daster pemberian Arjuna. Kalo kelihatan jelek, Arjuna jadi sedih dan menyesal jadinya membuat Ibu keliatan jelek.” Dewi menghela nafas. Akhirnya dengan keahlian seorang perempuan, ia membuka BHnya langsung tanpa membuka daster. Arjuna agak kecewa karena dikiranya ibunya akan buka daster dulu. Lalu Dewi merebahkan dirinya di tempat tidur. Arjuna tidur menyamping mengarah kepada ibunya sementara Dewi tidur telentang. Arjuna mengangkat tangan kanan ibunya dan memeluk pinggang ibunya kemudian menempelkan hidungnya di ketiak kanan ibunya yang berbulu dan mulai menjilati daerah itu. Dewi kegelian namun berkata sambil menahan tawa, “Kamu apaan sih jilat-jilat kayak anjing.” “Ah ibu .. tadi siang juga kita jilat-jilat lidah kayak anjing juga .” Dewi merasa jengah dan membiarkan anaknya menjilati ketiak kanannya. Kemudian sambil berkata bahwa ibunya harum, Arjuna mulai menciumi pundaknya. Tangan kiri Arjuna mulai menggeser tali daster Dewi perlahan sambil terus menciumi. “Kok talinya dibuka?” tanya Dewi. “Abis .. menghalangi bibir Arjuna. Ga enak kan cium kain.” Melihat ibunya tidak marah, Arjuna menarik tali itu hingga jatuh dari pundak ibunya dan meneruskan menciumi pundak dan kini menjalar ke leher. Dewi otomatis merangkul kepala Arjuna sehingga kini tali yang tadi jatuh, kembali ke pundaknya. Arjuna mendapat akal, lalu menciumi pundak ibunya lagi. Tiba-tiba Arjuna berhenti dan berkata, “Yah kena tali lagi, Bu. Talinya balik lagi waktu ibu mengangkat tangan. Cape deh .” Dewi yang tadinya mulai terangsang jadi menghilang rangsangan itu lalu menjawab enggan, “Terus kenapa?” “Ibu pakai kain lagi deh biar ga rese . Biar Arjuna bisa cium pundaknya tanpa kena tali melulu.” Lalu Arjuna menarik badannya dan duduk di samping ibunya. Dewi merasa repot sekali. Tadi disuruh pake daster, sekarang disuruh pake kain lagi. Ribet amat nih anak. Dewi berdiri ke arah gantungan baju dan membuka dasternya. Arjuna dapat melihat punggung ibunya yang telanjang. Ketika ibunya mengambil BH, Arjuna berkata, “Ga usah bu. Tar Arjuna cium tali BH malah .” &8195; Dewi akhirnya memakai kainnya dan dilipatnya disamping badannya. Arjuna sebenarnya ingin memeluk ibunya dari belakang sehingga ibunya tidak sempat memakai kain, namun anak itu berfikir bahwa kini belum saatnya. Maka dibiarkannya ibunya memakai kain itu. Jangan sampai ibunya tahu bahwa sebenarnya Arjuna ingin menyetubuhinya. Dewi merebahkan dirinya di samping Arjuna telentang, sementara Arjuna dengan sigap memeluk perut ibunya dengan tangan kanan. Lalu mulai menciumi pundak ibunya lagi. Dewi memeluk kepala Arjuna dengan tangan kanannya yang tertindih badan anaknya itu sehingga kini posisi Arjuna agak menindih bagian tubuh sebelah kanan ibunya. Dada kanan Arjuna dapat merasakan menempel di dada kanan ibunya yang terbalut kain. Arjuna menciumi pundak kanan ibunya lalu turun ke bagian atas dada ibunya yang menjendol karena tertutup kain. “Arjuna, “ bisik ibunya,” ibu kok rasanya aneh ya. Kamu itu ciumin ibu kayak gini kok kita jadi kayak sepasang kekasih?” Arjuna menegakkan kepalanya. Katanya, “Bu. Kita ini lebih dekat lagi hubungannya dibanding sepasang kekasih. Kita kan ibu dan anak. Maka, kalau kekasih itu kayak begini, kenapa ibu sama anak ga boleh dekat kayak begini juga? Kekasih itu saling menyayangi, kan?” “Iya sih . Tapi kan beda ..” “Ibu sayang Arjuna, ga?” “Ya sayang lah.” “Arjuna sayang sama ibu. Nah kalau kita sama-sama sayang, bukankah saling mengasihi?” Dewi terdiam. Hal seperti ini agak berat dipikirkan dalam otak perempuan desa. Arjuna berkata lagi, “Kekasih kan berarti orang yang mengasihi. Artinya kalau ibu mengasihi Arjuna dan Arjuna juga mengasihi ibu, artinya kan kita kekasih ya?” Akhirnya Dewi berkata, “Aduh, ga tahu deh. Iya kali. Ibu jadi pusing.” “Nah, ibu sendiri ngaku. Sekarang kita berdua adalah kekasih. Ibu kekasih Arjuna. Iya kan?” “Iya deh,” kata Dewi. Arjuna beringsut menindih seluruh tubuh ibunya. Dewi menghela nafas karena tubuhnya ditindih anaknya lalu bertanya, “kamu mau ngapain?” “Cium bibir kekasih ” Arjuna mencium bibir ibunya sambil tangannya diselusupkan di bawah tubuh ibunya sehingga memeluknya. Dewi secara instingtif memeluk Arjuna dan mendekap kepala anaknya itu. Arjuna mulai mengecup-ngecup bibir ibunya dan Dewi pun membalas, karena Dewi tahu kalau ia tidak mengecup balik maka Arjuna akan protes. Kecupan bibir mereka mula-mula perlahan, namun makin lama semakin mesra. Tekanan bibir mereka makin keras dan lama. Situasi memanas karena ciuman mereka semakin hot dan berani. Tak lama terdengar suara kecupan kecil susul menyusul ketika bibir mereka saling diadu. Suara kecupan itu makin lama makin keras dan basah. Arjuna mulai menjilati mulut ibunya sementara ibunya mengecap-ngecap bibir dan lidah Arjuna. “Balas jilat dong bu ..” Dewi menjulurkan lidahnya dengan canggung yang disambut dengan sedotan bibir anaknya. Lidah Dewi menyapu-nyapu perlahan dan malu-malu, sementara Arjuna dengan nafsu balas menjilat dan sesekali menyedot lidah ibunya. Lama-kelamaan birahi Dewi bertambah tinggi sehingga kini jilatan dan kecupan bibirnya tak kalah serunya dengan anaknya. Tiba-tiba, karena tidak tahan lagi, berhubung sudah lama tidak dinafkahi secara batin oleh suaminya, Dewi membalikkan badannya sambil memeluk erat anaknya sehingga kini Dewi yang menindih anaknya. Di dorongkan tangannya sehingga pelukan mereka berdua lepas, setengah duduk Dewi memposisikan selangkangannya sehingga kini menekan bagian bawah tubuh anaknya. Sarung anaknya telah tertarik hingga kontolnya mencuat, namun karena diduduki, maka kini posisinya terhimpit. Memek Dewi yang terbungkus celana dalam kini menekan bagian bawah batang kontol Arjuna. Ketika dirasakannya posisinya telah tepat, Dewi segera merebahkan diri lagi lalu dengan buas mencaplok mulut anaknya yang tampak sedikit terkejut karena tindakannya. Arjuna serasa di surga ke tujuh. Ia sempat kaget badannya diputar sehingga sekarang ia yang telentang. Namun ketika ia baru hendak bertindak, dirasakan kontolnya menempel ke sesuatu yang halus namun basah. Rupanya celana dalam ibunya yang basah oleh cairan kewanitaan. Tiba-tiba pula ibunya menciuminya lagi. Dewi harus sedikit melengkungkan tubuhnya karena Arjuna belum mencapai tinggi badan yang ideal dalam posisi ini. Namun pikiran Dewi tidak terlalu memperhatikan hal ini. Nafsu birahi perempuan ini sudah menguasai jalan pikirannya. Sambil menggoyangkan dan menekan pantatnya, ia merasakan sensasi klitorisnya digeseki sepanjang batang kontol anaknya yang lumayan besar. Mungkin hampir sebesar burung suaminya. Dewi menjadi liar bagai binatang buas. Ia mengentoti kontol anaknya walaupun dibatasi celana dalam sambil menyerang bibir dan lidah anaknya dengan bibir dan lidahnya sendiri. Birahi yang besar tidak memikirkan apa-apa lagi selain seks, sehingga ludahnya yang mulai menetes dan kadang teruntai dari mulutnya ke mulut anaknya tidak lagi diindahkan. Segala sopan-santun dan norma dilupakan. Arjunapun menjadi senang. Dilahapnya ludah ibunya dengan rakus bagaikan minum air surgawi. Ia mengimbangi gerakan selangkangan ibunya dengan goyangan pantatnya sendiri. Sementara keringat mereka berdua kini telah membasahi sekujur tubuh mereka. Tiba-tiba ibunya melenguh keras lalu menekan selangkangannya dalam-dalam. Arjuna merasakan celana dalam ibunya kini sudah lepek sekali dan hangat terasa di kontolnya. Ia tiba-tiba merasa lututnya lemas dan tiba-tiba pula ia ejakulasi. Spermanya menghambur ke segala arah membasahi perutnya, kain ibunya di bagian perut dan juga celana dalam ibunya. Akhirnya ibunya tak bergerak namun masih menindih tubuh Arjuna. Bibir mereka bersatu kelelahan. Tak lama ibunya membaringkan dirinya di sebelah Arjuna lagi. “Maafkan ibu, Jun. ibu sudah lama tidak merasa begini ..” Arjuna memotong, “ Arjuna sayang ibu. Apapun yang ibu mau, akan Arjuna lakukan. Ibu senang?” Dewi hanya mengangguk. Mereka diam beberapa saat. “Tapi ini salah, Jun.” “ga ada yang salah. Ibu adalah kekasih Jun. itu ibu sendiri yang mengakui. Kalau ibu senang dengan begini, maka Arjuna ga akan menolak. Yang penting ibu senang .” “Tapi ..” “Ga ada tapi-tapi ibu kekasih Jun, kan?” Dewi mengangguk. “Ga ada yang perlu dibicarakan lagi. Ga ada yang perlu dimaafkan.” “Ibu jadi pusing. Ibu tidur dulu .” Dewi membalikkan badannya hingga membelakangi Jun tanpa berusaha membersihkan bajunya maupun tempat tidur dari peju anaknya. Arjuna memegang pundaknya. Katanya, “Bu .” Arjuna takut sekarang ibunya menjadi tak ingin lagi bersama dirinya. Katanya, “Ibu marah sama Jun?” Tapi Dewi tidak menyahut. Gawat, pikir Arjuna. Ia merangkul ibunya dari belakang. Dipanggilnya ibunya lagi. Tapi tetap tak ada jawaban. Harus ditest, pikir Arjuna. Maka ia mencium punggung ibunya. Tak ada jawaban. Dicupangnya leher ibunya. Ibunya menggeliat dan mendesah tapi tidak ada jawaban. Kalau ibu marah dan tak mau lagi, tentu Arjuna akan dibentak, tapi ibunya diam. Dengan penuh perasaan lega Arjuna memejamkan matanya dan ia segera tertidur. Paginya Arjuna dibangukan ibunya yang telah memakai kain yang lain. Ibunya bergegas pergi namun Arjuna mengejarnya sampai di dapur dan ibunya sedang merapihkan lemari piring yang seharusnya tidak perlu dirapikan. “Ibu marah?” Dewi hanya menggeleng. Arjuna memeluk ibunya dari belakang. Tidak ada tanggapan. Arjuna mengenyoti pundak ibunya di bagian belikat sampai tempat itu bertanda ungu. Tak ada tanggapan. Arjuna menarik tangan ibunya dengan hati yang kesal. Ibunya tidak berkata apa-apa pula bahkan ibunya tampak berusaha tidak memandang mata Arjuna. Arjuna membawa ibunya ke kamar. Arjuna mendorong tubuh ibunya ke atas tempat tidur. Ibunya duduk di pinggir tempat tidur sambil menunduk. Arjuna duduk di tengah tempat tidur di sebelah ibunya, lalu memeluk ibunya dari belakang lalu menarik tubuh ibunya untuk berbaring di tempat tidur sejajar dengan dirinya. Ibunya beringsut berbaring di ranjang dengan menaruh kedua kakinya ditempat tidur dan kini mereka berbaring berhadapan. Ibunya hanya diam saja bahkan kini matanya terpejam. Arjuna menciumi muka ibunya dengan sedikit kasar lalu diciumnya bibir ibunya. Tak disangka kali ini ibunya balas mencium bibirnya. Mereka akhirnya berpelukan menyamping dengan dada saling berhimpitan. Setelah puas berciuman dan bertukaran ludah Arjuna mulai menjilati leher ibunya yang kini telah berkeringat. Ibunya menggelinjang sambil mendesah. Desahan ibunya berbeda dengan tadi malam. Tadi malam mereka berusaha meredam suara karena ada ayah di kamar yang satu, kini mereka hanya berdua saja. Kini desahan ibu dapat terdengar dengan jelas. Arjuna mengenyoti leher ibunya. Ibunya mengerang-ngerang dan tiba-tiba saja berkata, “Aaahhhhhh udah Jun geli leher ibu .. lidah kamu nakal ibu geli ” Arjuna merasakan sebelah kaki ibunya yang bebas kini melingkari pahanya. Dari balik sarungnya, Arjuna merasakan ibunya mulai menekan-nekan burungnya dengan selangkangan ibunya. Arjuna segera menarik sarungnya keras-keras sehingga kontolnya bebas. Arjuna kini merasakan celana dalam ibunya yang kering menekan batang kontolnya. Tibalah ide brilian yang lain. “Aduh bu .. celana dalam ibu masih kering, titit Arjuna sakit. Buka aja deh celana dalam ibu ” “Jangan, Jun. begini aja,” kata ibunya di antara desah dan erangannya. “Please bu . Sakit nih .” Dewi yang sedang birahi, karena rupanya dari bangun pagi terbayang orgasme semalam yang sudah lama tak dirasakannya lagi, tetap menggeseki burung anaknya sambil memeluk erat anaknya, seakan tak mendengar suara anaknya. “Ibu jahat .. ga sayang Arjuna! Gimana kalau luka?” Mendengar kata-kata Arjuna yang sedikit tinggi, Dewi menjadi berfikir. Kasihan juga anaknya kalu burungnya luka. Walaupun berpikir, Dewi terus menggeseki burung anaknya itu. Akhirnya, dengan gerakan cepat dewi mengangkat kainnya, melepaskan celana dalamnya, lalu menindih anaknya. Untuk posisi ini Dewi pertama-tama berlutut di samping tubuh anaknya, lalu menduduki kontol anaknya lalu menindih lagi anaknya. Arjuna menjadi sangat girang. Dirasakan batang kontolnya ditekan oleh sesuatu yang hangat dan sedikit lembab. Kedua tangan Arjuna meraih pantat ibunya. Senangnya ketika ia merasakan pantat ibunya yang telanjang dikarenakan kain ibunya telah ditarik sampai ke pinggang. Arjuna menggoyangkan pantatnya juga. Kini mereka berdua saling menggesekkan alat vital-masing-masing. Mulut Arjuna pun sudah mulai bergerilya lagi. Bila kemarin malam Arjuna merasa di surga dunia, kini Arjuna merasa bagaikan di surga ke tujuh. Kontolnya dapat merasakan bibir memek ibunya membungkus batang kontolnya. Dan dinding di balik bibir vagina itu begitu hangat dan licin juga basah. Di remasnya pantat telanjang ibunya dengan kedua tangannya sementara mulutnya asyik menyedot-nyedot dan mencupangi leher ibunya. “Aaah ahhh . Peluk ibu Jun .. goyang Jun .. goyang yang keras ” Dengan kedua tangannya, Dewi memegang wajah anaknya lalu mencium bibirnya dengan penuh nafsu. Arjuna merasakan lidah ibunya yang basah menerobos mulutnya, tak mau kalah Arjuna membalas dengan lidahnya. Lidah mereka kini berperang di dalam dan luar bibir mereka, sementara bibir ibunya bagian selangkangan sedang membungkus kontol Arjuna, kedua organ intim mereka juga sedang bertempur untuk mencapai puncaknya. Arjuna kini menggerakkan tangannya ke atas. Di pegangnya kain ibunya pada bagian atas, lalu dibetotnya kebawah keras-keras sehingga kain ibunya kini berjumbel di pinggang. Ibunya kini telanjang. Kedua tangan Arjuna disisipkan di antara tubuh mereka, lalu mulai meremasi payudara ibunya. Ibunya melenguh keras lalu melepas ciuman. “iyaa .. aaahhh . Remas tetek ibu, naaaakk ..” Ibunya kini duduk di atas kontol Arjuna dengan kedua tangan memegang tangan Arjuna yang sedang meremasi payudaranya. Arjuna melepaskan tangan kirinya dari payudara ibunya. Kini dapat dilihatnya tetek ibunya yang sebesar parutan buah kelapa namun berbentuk tetesan air itu secara dekat. Kulit toket ibunya basah oleh keringat sehingga tampak mengkilat. Pentil ibunya sudah membesar sementara bagian dasar pentil itu sudah mengecil, sehingga tampak bagai ujung belakang pulpen yang tegak menantang. Arjuna tak tunggu waktu lama mengenyot puting kanan ibunya itu. “Iyaaaaahhhhh .. isep tetek ibu, Jun ..” Arjuna merasakan tetek ibunya agak asin dan ada juga bau tubuh ibunya yang terbawa di sana. Sungguh sangat lezat. Hisapan Arjuna membuat ibunya semakin kencang menggoyangkan pantatnya dan kini selangkangan mereka berdua telah basah kuyup oleh cairan kewanitaan Dewi dicampur dengan keringat ibu anak itu. Bau tubuh ibunya memenuhi ruangan. Keringat mereka bercampur lagi. Toket kanan ibunya telah basah oleh campuran keringat mereka berdua, juga ludah Arjuna. Setelah lama-kelamaan toket ibunya itu sudah bau mulut Arjuna, maka Arjuna ganti melahap payudara kiri ibunya. Dikenyot dan dijilatnya buah dada ranum ibunya itu dengan rakus bagaikan orang kelaparan yang baru ketemu makanan. Goyangan pantat Dewi semakin lama semakin hebat. Selangkangannya dan anaknya sudah licin dan basah karena cairan kewanitaannya. Arjuna pun mengimbangi goyangan ibunya dengan menekan-nekan batang kontolnya sepanjang kemaluan ibunya yang sangat hangat. Bahkan Arjuna merasakan memek ibunya mengeluarkan cairan kental, licin dan sedikit panas yang menambah hot suasana, terutama di selangkangan mereka berdua. Akhirnya ibunya menekan kontol Arjuna dengan keras sambil berteriak kecil, “Ibu sampeeeeeee ..” Bersamaan dengan itu, Arjuna merasakan lubang ibunya bagaikan memancarkan air panas yang membuat dirinya juga tak dapat menahan diri. Sambil menyedot puting susu ibunya keras-keras, Arjuna memeluk erat tubuh telanjang ibunya sambil menekan pantatnya ke atas sehingga batang kontolnya dan memek ibunya beradu dengan kuat seakan sedang adu kekuatan untuk saling menjatuhkan. Kontol Arjuna berkedut-kedut keras menumpahkan sperma yang menciprati selangkangannya dan selangkangan ibunya. Selama beberapa saat mereka menikmati orgasme yang mereka rasakan. Lalu kemudian Dewi merebahkan diri di samping kiri Arjuna kelelahan. Telapak tangan kanannya ditaruh di dahi. Ia memejamkan mata dan beristirahat setelah orgasme yang bahkan lebih hebat dari semalam. Bersambung Anak Petani Chapter 4 ? NOVELBASAH ? MASALAH KELUARGA Kegiatan Arjuna mengintip Ibunya mandi sekarang menjadi aktivitas harian yang tidak akan dilewatkannya. Arjuna kini sudah hafal bentuk tubuh Ibunya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dari bagian belakang maupun bagian depan. Apalagi kedua buah dada Ibunya yang besar dan ranum itu, yang dihiasi oleh puting indah bagaikan buah yang ditaruh di atas es krim sebagai penghias. Bentuk payudara Ibunya terekam dengan begitu jelas sehingga seakan meninggalkan jejak di benaknya yang tak dapat dihilangkan. Arjuna tinggal memejamkan mata, maka kedua payudara itu akan muncul di benaknya. Lekuk lingkar buah dada itu, jurang yang terjadi antara dua buah payudara itu, warna kulitnya yang kuning langsat, dan kilauan kulitnya yang basah ketika terkena sinar neon. Kemudian ilham kedua datang saat Arjuna sedang asyik mengintip Ibunya yang mandi pagi. Arjuna ingin sekali melihat Ibunya dan ayahnya melakukan hubungan suami isteri. Ilham ini membuat Arjuna ejakulasi lebih cepat dari biasanya. Namun Arjuna tidak kecewa, malah menjadi asyik memikirkan bagaimana rencana selanjutnya akan dilakukan. Setelah matang rencananya, Arjuna menjalankan niatnya hari itu juga. ketika ia pulang sekolah dan Ibunya sedang keluar mengantarkan makanan kepada ayahnya, maka Waluyo masuk kamar orang tuanya yang letaknya persis di sebelah kamar tidurnya sendiri untuk menyelidiki keadaan. Rumah mereka adalah rumah kayu tanpa langit-langit. Tipikal rumah petani sederhana. Membolongi kayu tidaklah mungkin, karena pasti akan terlihat, namun karena rumah mereka tidak memiliki langit-langit, maka ada jalan lain untuk dapat mengintip. Arjuna dapat melongok dari atas dinding kamarnya secara langsung, hanya saja tempat itu banyak debunya sehingga sangat kotor, lagian letaknya cukup jauh. Maka mulailah Arjuna mendekorasi ulang kamarnya. Ia menempatkan lemari pakaiannya pada dinding kamarnya yang tepat di sebelah kamar orangtuanya. Meja belajarnya – yang dIbuat ayahnya, yang sebenarnya hanya sebilah papan dipaku pada empat buah kaki, buatannya kasar namun sangat kokoh – ditaruhnya disamping lemari pakaiannya. Berhubung lemari itu tidak begitu tinggi, melainkan hanya setengah dinding, maka pas sekali kalau ia jongkok di atas lemari dan melongok. Dewi, Ibunya, sempat melihat ke dalam kamar dan menyaksikan Arjuna sedang membersihkan bagian atas lemari itu. Ibunya malah senang melihat anaknya mendekorasi ulang kamarnya dan membersihkannya juga. Dewi tidak tahu bahwa anaknya begitu rajin justru karena memiliki otak yang kotor dan ingin mengintip kedua orangtuanya ngemprut! Dewi tidak melihat ketika Arjuna juga membersihkan bagian atas dinding penyekat kedua kamar itu dan juga tiang di tengahnya, agar nanti tangan Arjuna tidak kotor. Ketika tengah malam datang, Arjuna yang tidak tidur, mulai beraksi. Dipanjatnya meja belajarnya, kemudian dengan hati-hati dipanjatnya lemari pakaiannya dengan perlahan. Ketika ia sudah berjongkok di atas lemari itu, di pegangnya ujung atas dinding pembatas itu lalu mulai melongokkan kepalanya untuk melihat ke kamar sebelah. Arjuna kecewa karena yang dilihatnya hanya Ibunya yang tidur dengan kain, namun ayahnya tidak terlihat. Arjuna bingung, karena jadwal ronda ayahnya masih jauh. Maka dengan perlahan ia turun dari lemari itu lalu keluar kamar dan mencari ayahnya. Ayahnya ternyata tidur di bale-bale di depan rumah. Hari itu Arjuna gagal. Namun Arjuna tidak patah semangat, mungkin saja hari ini ayahnya begitu letih sehingga tertidur di depan. Maka, Arjuna berencana untuk melihat keesokkan harinya. Namun, ayahnya tidak tidur di kamar tidur bersama Ibunya keesokkan harinya, atau esoknya lagi, atau besoknya lagi, bahkan selama seminggu ini Arjuna tidak pernah melihat kedua orang tuanya tidur bersama. Bahkan pada hari sabtu, ayahnya justru tidak ada di rumah sama sekali. Padahal malamnya mereka makan bersama, namun pada tengah malam ayahnya tidak dapat ditemukan di mana-mana. Anehnya, ketika sepanjang minggu depannya lagi, hal yang sama terjadi. Arjuna menjadi bingung dan menjadi sangat ingin tahu kenapa kedua orang tuanya tidak tidur sekamar. Paginya setelah mandi, ketika sarapan pagi, Arjuna bertanya pada Ibunya. Seperti biasa ayahnya sudah berangkat ke sawah ketika Arjuna mandi. “Bu, minggu lalu Arjuna bangun malam-malam. Terus Arjuna mau ke kamar mandi, tapi karena masih ngantuk Arjuna malah keluar ke serambi. Eh Bapak tidur di bale-bale. Arjuna pikir Bapak kecapekan. Tapi tadi malam waktu Arjuna bangun lagi, eh Bapak kok masih tidur di sana ya? Ibu sama Bapak lagi marahan ya?” Dewi tampak terkejut dengan perkataan Arjuna. “Hush kamu kok ngurusin orangtua? Bapakmu sama Ibu enggak marahan, kok.” “Bukan ngurusin Bu, tapi Arjuna takut. Temen Arjuna si Arjuna itu dulu orangtuanya marahan, eh tahu-tahu cerai. Jangan cerai ya, Bu?!” Dewi hanya menghela nafas sambil menggeleng, “Bapak sama Ibumu ini ga bakalan cerai. Kamu tenang saja. Bapak memang dari dulu tidak tidur di kamar. Soalnya panas. Bapak lebih senang tidur di luar karena sejuk dan dingin. Kamu ga usah takut, Jun.” Arjuna mengangguk saja. Namun ia jadi tambah heran. Menurut Harun temannya itu, ngemprut itu kegiatan paling enak. Jadi, pasti hampir tiap hari suami isteri itu ngemprut. Kecuali kalau perempuannya haid atau datang bulan. Tapi biasanya datang bulan itu hanya seminggu. Nah, kedua orangtua Arjuna tidak puasa ngemprut hanya seminggu, tapi sudah dua minggu. Pasti ada sesuatu yang aneh. Maka, Arjuna tetap mengintip kamar Ibunya selama sebulan. Jadi dalam sehari, ia mengintip Ibunya dua kali. Sekali waktu mandi pagi, kedua kali waktu Ibunya tidur. Dan Arjuna menyadari bahwa kedua orangtuanya tidak pernah tidur bersama! Setelah mengetahui hal ini, Arjuna yang adalah anak pintar mulai dapat melihat bahwa sebenarnya hubungan ayah dan Ibunya tidaklah harmonis. Ada sesuatu masalah dalam keluarganya yang ia sendiri tidak tahu apakah itu. namun dihadapan Arjuna, kedua orangtuanya tetap berbicara santai seperti biasa. Hanya saja kini Arjuna dapat menilai bahwa perhubungan mereka bukanlah hubungan yang intim dan romantis. Lebih seperti seorang kakak dan adik. Mereka saling menyayangi, namun tidaklah saling mencintai selayaknya pasangan suami isteri. Dan Harun pernah mengatakan kepada Arjuna, bahwa lelaki dan perempuan itu sama saja. Dua-duanya butuh melakukan hubungan suami isteri. Karena contohnya, Mbak Sari yang suaminya, Mbah Bejo yang sudah kakek-kakek itu pernah ketahuan warga melakukan hubungan terlarang dengan pemuda dari dusun seberang. Saat itu heboh sekali. Arjuna juga mendengar bahwa Mbak Sari itu selingkuh, hanya saja waktu itu Arjuna tidak mengerti, dan kedua orangtuanya ketika ditanya malah menyuruh Arjuna diam. Barulah dari Harun Arjuna mengerti bahwa selingkuh itu berarti melakukan hubungan suami isteri bukan dengan pasangannya, melainkan dengan orang lain. Dan Mbak Sari selingkuh, karena ia butuh melakukan hubungan seks sedangkan Mbah Bejo sudah tidak sanggup lagi melakukan itu. Kini, Arjuna menjadi curiga. Apakah dengan ini Ibunya juga selingkuh? Untuk beberapa lama, Arjuna akhirnya berusaha mengikuti Ibunya kemana-mana, tentunya ketika sudah pulang sekolah. Namun Ibunya tidak pernah keluar rumah kalau tidak perlu. Ibunya hanya pergi mengantar makanan pada ayahnya. Sesekali mampir di tetangga untuk bertamu, namun bertamu kepada Ibu-Ibu yang lain. Kalau begitu, kalau perempuan butuh tapi tak pernah melakukannya bagaimana jadinya? Harun yang tahu banyak itu malah berkata, “Kalalu kamu ketemu perempuan yang sudah menikah dan dia sudah tidak lama begituan sama suaminya, kamu kasih tahu aku, Jun. biar aku dekati. Perempuan seperti itu pasti gampang dirayu karena nafsunya sudah lama ditahan-tahan. Kamu kenal perempuan jablay seperti itu?” Arjuna buru-buru berbohong dan berkata, “Belum sih. Cuma mau tahu aja, kalau ada perempuan seperti itu harus bagaimana?” “Ya dirayu donk. Pasti mau deh!” “Kamu kok tahu sih? Umur kita kan sama!” “Aku ini kenal sama Zainal. Itu loh, selingkuhannya Mbak Sari. Nah, Zainal itu pernah cerita tentang perempuan yang jarang dibelai, atau jablay. Yang penting dideketin, dipuji-puji sama dirayu-rayu deh. Itu katanya.” Arjuna mengangguk-angguk. Ia simpan hal ini dalam hatinya baik-baik. Apakah Ibunya bisa dirayu-rayu sama dia? Berhubung Arjuna masih kecil, ia belum bisa berfikir baik dan buruk. Orang dewasa tentu tahu bahwa merayu Ibu sendiri adalah sesuatu yang absurd dan tidak mungkin dilakukan. Namun, bukanlah salah Arjuna bahwa ia tidak tahu, namun keadaan lingkunganlah yang membuat Arjuna dewasa pada saat yang tidak tepat. BAB TIGA AKSI-AKSI PERTAMA ARJUNA Maka keesokkan harinya, Arjuna mulai beraksi. Ia kini tidak malas di rumah. Ia bantu Ibunya untuk mencuci piring bahkan pakaian sendiri. Kamar tidurnya selalu rapi bahkan kamar mandi dan dapur dibersihkannya seminggu sekali. Ibunya tentu senang Arjuna membantunya karena selama ini untuk merapikan tempat tidur sendiri saja Arjuna malasnya bukan main. Ketika ditanya Ibunya, Arjuna menjawab, “Arjuna baru sadar, Ibu capek sekali merawat rumah, anak dan ayah. Arjuna baru sadar Ibu sayang sama keluarga. Nah, Arjuna memutuskan untuk membalas kebaikan dan rasa sayang Ibu. Arjuna akan bantu Ibu dan akan menyayangi Ibu.” Dewi yang tidak mengetahui intensi dari anaknya, menjadi berkaca-kaca dan terharu. Dipeluknya anak tunggalnya itu lalu berkata, “Kamu memang anak Ibu yang pintar.” Sementara Arjuna bagaikan diberikan kado sebelum hari ulangtahun. Baru kali ini setelah ia mengetahui mengenai seks, Ibunya merangkulnya. Arjuna tak ingat kapan terakhir kali dipeluk Ibunya, mungkin kelas satu SD atau dua SD. Tapi kini Ibunya merangkulnya. Arjuna balas merangkul dengan kencang sambil berkata, “Arjuna sayang Ibu. Arjuna akan selalu menyenangkan Ibu, jangan sampai Ibu capek atau sedih. Arjuna akan menjaga Ibu selamanya.” Dewi tambah terharu dan mempererat rangkulannya. Sementara, Arjuna bagaikan di awang-awang. Saat itu sudah sore hari. Ia membantu Ibunya mencuci banyak perabotan dan piring. Berhubung mereka cuci piring di kamar mandi, maka keduanya jongkok sambil mencuci. Suasana hari itu panas sekali, mungkin karena hujan tidak turun selama berminggu-minggu. Keduanya berkeringat saat mencuci dan membilas perabotan itu. setelah selesai, maka barulah kedua Ibu dan anak itu berangkulan. Kepala Arjuna masih setinggi mulut Ibunya. Ketika Ibunya memeluknya, hidung Arjuna hinggap di bagian atas dada Ibunya, karena Dewi menarik kepala Arjuna sehingga dagu Dewi menempel pada ubun-ubun anaknya. Arjuna dapat mencium bau tubuh Ibunya yang berkeringat itu. Bau tubuh perempuan dewasa yang belum mandi. Baunya lumayan jelas dan menyengat hidung, namun bukan bau yang membuat mual, namun justru bau yang membuat gairah kelelakian bangkit, membangkitkan si rudal scud untuk bersiap-siap mencari sarang beludru di mana bau itu sangat jelas memancar, selain dari dua buah ketiak yang jauh di atas. Kulit Ibunya licin di wajah Arjuna karena keringat. Baik keringat Arjuna sendiri dan Ibunya kini berbaur. Dapat dirasakan Arjuna, buah dada Ibunya menekan dadanya sendiri. Ingatan akan bentuknya membuat burung Arjuna kini menegak sampai seratus persen dan tidak dapat bertambah panjang lagi. Maka Arjuna membenamkan wajahnya di dada Ibunya, dapat dirasakan bibirnya menempel di bagian atas kedua payudara Ibunya dan sedikit bibirnya menempel di sela-sela buah dada itu yang seakan adalah jurang pemisah kedua gundukan indah. Tiba-tiba Dewi membeku. Lalu mendorong tubuh anaknya sambil berkata, “Jun, sekarang kamu mandi dulu. Badan kamu keringetan.” Arjuna kecewa. Namun ia harus sabar. Ia tahu bahwa usahanya tidak akan langsung berhasil melainkan keberhasilan akan datang bila ia sabar. Maka Arjuna bergegas bangkit untuk mandi, sesuai dengan perintah Ibunya. Untuk selanjutnya, Arjuna terus membantu di rumah. Bahkan tanpa disuruh ia membantu. Ketika atap bocor, maka Arjuna tanpa diminta membetulkannya. Ketika pagar perlu diperbaiki, ia segera membetulkannya. Untuk sebulan kemudian, Arjuna menjadi anak yang berbakti sekali, menjadikannya tidak hanya disayang Dewi, melainkan bahkan mulai dipuji oleh Waluyo. Selama sebulan itu ia tidak pernah berpelukan lagi dengan Ibunya. Maka Arjuna berpikir apa yang akan menjadi aksinya berikut, karena usahanya tampak tidak berhasil menambah kedekatannya dengan Ibunya. Akhirnya ia menemukan suatu akal. Saat itu Arjuna akan pergi sekolah. Ia telah sarapan dan sudah berseragam dan menyandang tasnya. Ibunya sedang membereskan bale. Karena mereka selalu sarapan di sana, berhubung tidak punya meja makan. Arjuna menghampiri Ibunya dan mencium tangannya seperti kebiasaannya selama ini. Namun setelah itu ia bertanya kepada Ibunya, “Bu, kenapa ya, orang indonesia cium tangan orangtuanya ketika mau pergi?” “Mmmm .. sudah tradisi dari dulu, Jun.” “Iya, tradisi ini memang bagus, karena menunjukkan rasa hormat pada orang tua. Namun sepertinya tetap memberikan jarak. Sepertinya susah sekali untuk menjadi dekat dengan orangtua.” “Maksud kamu apa sih, Jun?” “Iya, Bu. Waktu itu Arjuna nonton film barat di kelurahan. Itu loh yang hari minggu. Film tentang keluarga yang harmonis di Amerika sana.” “Terus?” “Di sana mereka bukan cium tangan, lho Bu.” “Lah? Terus bagaimana?” “Mereka itu cium pipi kanan kiri. Kalau dilihat, keluarga mereka dekat sekali. Banyak masalah dalam keluarga diselesaikan dengan mudah dengan saling berbicara bukan seperti orangtua dan anak, tapi seperti sederajat begitu. Mungkin itu karena mereka sangat dekat satu sama lain.” “Itu kan orang Amerika, Jun. kita kan orang Indonesia.” “Iya sih. Tapi selama sebulan ini, Arjuna bantu Ibu di rumah, Arjuna merasa kita menjadi semakin dekat. Ga kayak dulu-dulu. Sekarang kita banyak ngomong, deket sekali, Bu. Nah, Arjuna pikir, Ibu dan Arjuna sudah mulai berbicara dengan nyaman, seperti sederajat, sudah kayak orang Amerika itu dan terbukti hubungan kita lebih dekat lagi. Benar kan, Bu?” “Betul. Terus?” “Nah, bagaimana kalau selain cium tangan, Arjuna juga cium pipi Ibu, siapa tahu nanti kita bisa lebih dekat lagi, Bu. Supaya nanti Ibu lebih sayang Arjuna, dan Arjuna lebih sayang Ibu?” Dewi berpikir sebentar. Namun, berhubung Dewi tidak tahu niat Arjuna sebenarnya, maka akhirnya ia memutuskan untuk memperbolehkan Arjuna. Segera Arjuna mencium kedua pipi Ibunya dengan cepat, agar tidak menimbulkan curiga. Lalu Arjuna segera berangkat sekolah. Akhirnya, kegiatan ini menjadi rutinitas setiap pagi. Arjuna akan cium tangan Ibunya, lalu mencium kedua pipi Ibunya. Minggu-minggu pertama ciuman Arjuna hanya sekejap. Namun makin lama, ciuman itu sedikit dilamakan oleh Arjuna. Dari hanya sepersekian detik, pada akhir minggu ketiga ciuman itu menjadi satu detik. Dewi senang juga dalam hatinya. Anaknya menunjukkan kasih sayang padanya. Arjuna selalu membantu di dalam rumah, selain itu Dewi juga merasa bahwa perkataan Arjuna benar, bahwa dengan mencium pipi, mereka menjadi lebih dekat satu sama lain. Dewi menjadi lebih banyak bercerita kepada Arjuna mengenai rumah dan permasalahannya. Tentu saja bukan permasalahan seks dengan suaminya yang sudah lama tak pernah menafkahi secara batin, namun mengenai permasalahan rumah lainnya. Terkadang pula Dewi curhat bila ada permasalahan dengan tetangga. Makin lama mereka seakan menjadi teman yang dekat. Suatu hari, sekitar dua bulan setelah ciuman pertama Arjuna, Dewi memutuskan untuk membelikan baju baru untuk Arjuna dari uang tabungannya selama ini. Walaupun tidak menghabiskan tabungan, namun cukup mahal juga kalau dalam ukuran petani kecil. Arjuna gembira sekali, dipeluknya Ibunya, lalu diciumnya pipi Ibunya, kali ini sekitar dua detik dan ciuman Arjuna ketika dilepas terdengar suara kecupan. Dewi kaget, namun ketika dilihatnya wajah Arjuna sangat gembira, Dewi tidak curiga apa-apa. Mulai saat itu Arjuna mencium Ibunya dengan memberikan kecupan saat melepaskan bibirnya. Dan mereka menjadi lebih dekat lagi. Beberapa hari kemudian, saat hari minggu dan banyak orang desa menonton disana, Dewi memutuskan untuk menonton juga. Kali ini film barat mengisahkan tentang perjuangan seorang Ibu membesarkan keluarganya tanpa suami. Dan yang lucu, anak lelaki perempuan itu yang berusia sekitar enam tahunan, mencium bibir Ibunya ketika akan pergi bermain. Ketika mereka pulang, mereka membahas hal ini. Saat itu mereka sudah selesai cuci piring dan telah selesai pula menaruh perabotan dan piring di rak piring di dapur. Waluyo entah pergi ke mana, karena biasanya hari minggu ia pergi sampai waktu makan malam. “Tuh, kan bu. Orang Amerika cium anaknya juga. bagaimana kalau kita juga cium seperti mereka, di bibir? Boleh kan, Bu?” Hanya Waluyo yang pernah mencium Dewi di bibir. Namun itu ciuman yang penuh nafsu dan lama. Dewi berfikir kalau hanya sebentar apalagi dengan anak sendiri tentunya tak masalah. Malah hubungan mereka mungkin bertambah kental. Maka Dewi menjawab dengan mengangguk. Arjuna lalu mengecup kedua pipinya seperti biasa lalu mengecup bibir Dewi. Entah kenapa Dewi merasakan sesuatu yang aneh. Bibir Arjuna begitu hangat ketika menempel pada bibirnya. Nafas Arjuna tercium bersih, beda dengan nafas perokok Waluyo. Hanya 2 detik dan Dewi tiba-tiba saja merasa bahagia. Mungkin Arjuna benar, pikir Dewi. Karena ia merasa menjadi sangat dekat dengan anaknya itu. Sementara itu Arjuna berteriak senang dalam hatinya. Rupanya aksi dia berhasil. Tentunya bila ia tetap sabar, maka apapun bisa dilakukan. Arjuna memegang tangan kiri Ibunya, lalu menariknya sambil berkata, “Aku punya hadiah untuk Ibu. Aku mau kasih Ibu sekarang ” Ia menarik Ibunya ke dalam kamarnya. Selama ini Arjuna menabung selama beberapa bulan ini. Selama usahanya dalam merayu Ibunya. Pada hari sabtu kemarin, ia bertemu dengan pedagang keliling yang menjual pakaian. Kebetulan ia melihat daster. Daster itu jenisnya menggunakan karet sehingga dapat melar, namun ukurannya lebih kecil satu nomer untuk Ibunya yang lumayan tinggi itu, bila dipakai Ibunya tentu akan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah tanpa menyebabkan robek. Dibelinya daster itu, dikatakan Arjuna bahwa ia mau beli kado untuk teman sekolah. Padahal untuk Ibunya. Arjuna mengambil daster itu dari lemari sambil berkata, “Ibu kan ga pernah punya daster kayak tetangga. Selama ini Arjuna perhatikan Ibu Cuma pakai kain kalau mau tidur. Nah, Arjuna bela-belain beli ini dengan menyisihkan uang jajan Arjuna. Arjuna ga jajan selama empat bulan, lho bu.” Ibunya menjadi terharu. Dicobanya daster itu dengan menempelkannya didepan tubuhnya, dan ternyata tidak sama dengan ukuran tubuhnya. Daster itu bermodel rok di atas lutut, namun karena ukurannya kecil, jatuhnya tepat di tengah antara pantat dan lututnya. Untung saja ada karetnya sehingga bila dipaksa dipakai tidak akan robek. “Ibu ga suka, ya?” tampak wajah Arjuna menjadi sedih. Dewi berfikir mungkin karena Arjuna melihat reaksi dari dirinya yang terkejut. “Oh, Ibu suka,” katanya untuk menghIbur Arjuna. “Ibu pakai ya nanti malam? Udah Arjuna cuci tuh ” Dewi hanya mengangguk. Namun ia menjawab, “Ibu pakai, nanti kalau Bapakmu sudah selesai makan.” Itu berarti kalau Bapak tidak masuk rumah lagi, pikir Arjuna. Tentunya Ibunya takut kalo Bapaknya melihat Ibunya memakai daster kecil sehingga membuat tubuh menjadi seksi. “Arjuna boleh lihat ya? Soalnya Arjuna bangga kalau Ibu memakai pemberian Arjuna.” Dewi hanya mengangguk pelan. Malamnya, ketika Waluyo telah merebahkan diri di bale-bale, Dewi masuk kamarnya. Arjuna sudah siap di atas lemari mengintip Ibunya. Ibunya membuka kainnya sehingga hanya memakai kutang dan celana dalam. Lalu dipakainya daster itu. Daster itu tidak bertali dan menunjukkan sedikit bagian dada dan agak banyak bagian punggung. Ketika bercermin, Dewi melihat bahwa tali BH nya menyembul keluar, dan di bagian punggung Bhnya terlihat sehingga tampak tidak begitu enak untuk di lihat. Dengan cekatan tanpa membuka daster, Dewi membuka Bhnya dan menaruhnya di tempat tidur. Barulah dapat dilihat seorang perempuan seksi memakai daster, dengan pentil terlihat menyembul dari balik kain dasternya. Dewi merasa sedikit malu, karena yang dilihat di cermin tampak seperti bukan perempuan baik-baik, namun di lain pihak ia merasa amat seksi sehingga ia cukup lama bercermin dan melihat keadaannya dari berbagai sudut. Arjuna yang tak sabar segera turun dari lemari dan mendatangi kamar Ibunya. Dewi terkejut ketika didengarnya pintu kamar diketuk. Apakah suaminya mau masuk? Namun didengarnya Arjuna memanggilnya perlahan, maka Dewi membuka pintu. “Wah .. Ibu cantik sekali,” kata Arjuna ketika melihat Dewi, “ dan Arjuna bangga Ibu menjadi cantik karena pemberian Arjuna. Kok Arjuna baru tahu ya, kayaknya Ibu ini wanita tercantik di desa kita.” Dewi merasa jengah namun bahagia juga. Ia tidak curiga maupun heran, karena dipikirnya anaknya memuji dia karena sayang saja. Maka Dewi memeluk Arjuna sambil mencium pipi kirinya. “Terimakasih ya, Jun.” “Ibu, kok Cuma pipi? Kan kita cium bibir.” Dewi kemudian mencium bibir Arjuna. “pipi kanan belum.” Dewi mencium pipi kanan Arjuna. “sekarang giliran Arjuna, karena Ibu mau memakai pemberian Arjuna, maka Arjuna juga sangat berterima kasih.” Arjuna mencium kedua pipi Ibunya. Kali ini sudah tiga detik. Lalu diciumnya bibir Ibunya. Sedetik, dua detik, tiga detik, empat detik.. Dewi merasakan tubuhnya hangat karena ciuman bibir Arjuna yang hangat seakan menjalar ke seluruh badannya. Setelah lima detik Arjuna melepaskan bibirnya. “Bu?” “Ya?” jawab Dewi dengan suara sedikit serak. “Arjuna sayang banget sama Ibu. Boleh kan kalo Arjuna mencium Ibu kapan saja?” “Maksud kamu?” “Maksudnya ga hanya waktu pamit saja. Soalnya Arjuna pengen kasih liat bahwa Arjuna sayang sama Ibu.” “Boleh saja.” Arjuna kemudian mencium bibir Ibunya lagi. Mereka berangkulan semakin erat. Lalu setelah lima detik, Arjuna melepaskan bibirnya dan rangkulannya dan pamit untuk tidur. Sebenarnya ia buru-buru pergi karena tidak mau membuat Ibunya curiga dan selain itu ia ingin masturbasi di kamar. Ketika Arjuna bangun, Ibunya sedang menata piring untuk sarapan di bale-bale. Tubuhnya membungkuk ke depan. Arjuna menyapa Ibunya, lalu mencium pundak Ibunya selama lima detik. Ia mencium bau ketiak Ibunya secara jelas. “Ih ngapain kamu cium pundak Ibu? Lagian Ibu kan belum mandi.” “Katanya Arjuna boleh cium kapan aja. Dan biar Ibu belum mandi tetap aja wangi, kok.” “bau gini kok wangi? Ngaco!” Ibunya lalu duduk di pinggir bale-bale. Arjuna yang pintar itu segera duduk di sebelahnya. “Untuk Arjuna sih bau badan Ibu itu wangi. Ga percaya?” Arjuna mengangkat tangan Ibunya lalu membenamkan wajahnya di ketika Ibunya yang lembab. Hidungnya dibelai bulu ketiak halus namun tidak lebat milik Ibunya. Bau tubuh Ibunya kini menyerang hidungnya dan menguasai otaknya. Ibunya yang kegelian menarik tubuhnya ke samping dan tertawa sambil berkata, “dasar bocah gemblung! Makan sana!” Maka Arjuna makan dengan lahap. Setelah itu, seperti biasa, ia mencium pipi dan bibirnya Ibunya. Kali ini proses ciuman di bibir sudah lima detik. Ibunya mendorong kepala Arjuna perlahan dan berkata, “Nanti kamu terlambat sekolah.” Arjuna hanya tertawa, lalu mencium ketek Ibunya. Namun karena sedang tertutup, maka ia mencium bagian kiri atas dada Ibunya dan tangan kirinya tepat ditempat di mana ketek itu berada. “Mending Ibu jangan mandi deh sebelum sarapan,” kata Arjuna lalu bergegas berangkat ke sekolah. Setelah itu Ibunya tidak pernah mandi sebelum selesai sarapan yang menyebabkan Arjuna mengintip Ibunya mandi hanya pada sore hari saja. Ada sedikit penyesalan, namun setidaknya dia dapat mencium Ibunya tidak hanya pipi dan bibir. Aktivitas cium Arjuna menjadi bertambah. Kini bilamana mereka berduaan saja, maka Arjuna mencium pundak Ibunya, pipinya dan bibirnya. Pertama-tama hanya sekilas, namun karena Ibunya tidak marah, maka menjadi lebih lama. Namun untuk tidak mencurigakan, maka ciuman itu dilancarkan sekali-kali dan belum beruntun. Arjuna segera mencari akal agar dapat menciumi Ibunya secara beruntun. Bersambung Anak Petani Chapter 3 FAUZIAH Mereka tinggal di rumah mewah milik Fauziah. Kehidupan Arjuna bahagia sekali. Ia punya seorang isteri cantik yang masih muda, walaupun lebih tua beberapa tahun darinya. Isterinya itu cantik dan seksi pula. Pada Bulan Oktober lahirlah puteri pertama Arjuna dan ibunya. Ia dinamai Ayu. Seluruh keluarga berbahagia karena Ayu adalah bayi yang menggemaskan. Arjuna sangat menyayangi anak pertamanya itu. Ia selalu bergantian menjaga anaknya dengan ibunya. Sementara, Annisa melahirkan anak laki-laki tahun berikutnya pada bulan Februari. Mereka menamakannya Febri. Sungguh lengkap jadinya. Arjuna punya sepasang anak berlainan jenis. Ia merasa berbahagia sekali. Pada usianya yang ke 15, Arjuna sudah memiliki dua anak. Tentu saja bagi orang kebanyakan, Febri adalah anak Waluyo dan Dewi. Tetapi pada kenyataannya, Febri adalah hasil hubungan gelapnya dengan ibunya sendiri. Dewi tinggal di kamar sendiri. Namun, karena seluruh keluarga tahu bahwa Dewi adalah kekasih anaknya, maka Arjuna tidur bergantian tiap harinya. Sehari dengan ibunya, sehari dengan kakaknya. Sampai sebulan setelah ibunya melahirkan, yaitu bulan november, maka Arjuna mulai berhubungan seks dengan ibunya dalam frekuensi yang lebih banyak dibanding sebelumnya. Tampaknya keluarga mereka harmonis. Tetapi, ternyata tidak semuanya bahagia. Fauziah merasa sedih. Karena di rumahnya sendiri ia tidak menemukan cinta. Semua orang di dalam rumah memiliki pasangan. Waluyo dengan Joko, Arjuna dengan Dewi dan juga dengan anaknya, sementara, ia sendiri tidak punya siapa-siapa. Jauh di lubuk hatinya, Fauziah masih mencintai Waluyo. Tetapi Waluyo itu homo. Tidak ada harapan lagi. Fauziah terkadang merasa cemburu. Ia cemburu melihat kedekatan Waluyo dan Joko. Ia cemburu melihat Arjuna begitu mesra dengan dua isterinya’. Apalagi terkadang secara tak sengaja, ia melihat Arjuna sedang menggauli salah satu isterinya, entah di kebun belakang ataupun di dapur atau bahkan di mana saja. Tentu saja, saat itu Arjuna mengira bahwa tidak ada orang di dalam rumah, ataupun mungkin Arjuna kira Fauziah sedang tidur. Tetapi Fauziah menjadi hafal ketika Arjuna mulai celingak-celinguk melihat situasi di rumah. Itu pertanda anak itu sedang horny dan ingin mencari kesempatan berhubungan seksual. Fauziah sebal sekali, tampak bahwa Arjuna senang mengentot di tempat terbuka di mana ada kemungkinan terlihat orang lain. Mungkin Arjuna bertambah semangat dengan keadaan seperti ini. Fauziah tidak sadar bahwa selama ini, Arjuna tahu bahwa Fauziah sering melihatnya berhubungan seks dengan salah seorang isterinya. Justru ini membuat Arjuna makin menjadi, mencari kesempatan untuk berhubungan seks di berbagai tempat di rumah. Sekarang Arjuna punya obsesi baru. Ia sangat menyukai Fauziah. Darah Arab jelas terlihat di raut muka dan postur tubuh perempuan ini. Hidungnya yang mancung, kulitnya yang putih dan bulu matanya yang lentik, membuat lelaki yang memandangnya ingin menjilati seluruh muka perempuan itu. Apalagi bila Fauziah sedang pakai daster. Buah dada yang kelihatan lebih besar dari ibunya, pantat yang menonjol dan lekuk pinggang dan pinggul yang begitu melengkung dan indah cukup membuat Arjuna ngaceng dengan hanya melihatnya saja. Suatu ketika, Arjuna baru saja menggauli isterinya. Saat itu bulan Januari. Berhubung Annisa sudah mengandung tujuh bulan, maka mereka bersenggama dengan posisi man on top. Arjuna tidak dapat menindih kakaknya itu, sehingga ia mengentoti kakaknya sambil duduk di tempat tidur. Walaupun Arjuna berhasil ejakulasi, namun Ia belum merasa puas. Maka ia bergegas memakai sarung dan pergi ke kamar ibunya untuk melanjutkan ronde ke dua. Ketika ia masuk kamar ibunya, ibunya tidak di tempat. Arjuna lalu mencari ibunya. Akhirnya ia sampai pada kamar tidur Fauziah, didengarnya ada suara dua wanita berbicara. Arjuna penasaran, maka ia berdiri di depan pintu dan mulai menguping. Ternyata Fauziah sedang menangis sambil curhat. Rupanya ia merasa sedih karena tidak mempunyai pasangan. Dewi memeluk Fauziah dari samping dan berusaha menghibur perempuan itu. Cukup lama Fauziah curhat. Hampir sejam barulah perempuan itu pergi. Setelah Fauziah pergi, Arjuna menghampiri ibunya di kamar. Anak mereka sedang tidur di box bayi. Situasi aman. Ibunya tidur hanya memakai kain seperti permintaan Arjuna. Maka Arjuna segera tidur di sebelah ibunya, lalu menarik kain itu. Lalu mereka bercinta. Kejadian tadi malam membuat Arjuna berpikir bahwa Fauziah mulai masuk perangkapnya. Perempuan itu pasti horny melihatnya menggarap kedua isterinya di berbagai tempat di rumah. Namun, hidup dengan dua isteri membuat tidak ada kesempatan bagi Arjuna untuk mendekati ibu tirinya, atau bisa dibilang juga ibu mertuanya itu. Pucuk dicinta ulam tiba. Ketika bulan Juni datang, masa libur sekolah selesai. Apalagi Arjuna telah lulus SMP. Saat itu, Fauziah yang adalah business woman, ingin ke Jakarta karena ada bisnis. Arjuna menggunakan hal ini sebagai alasan. Ia ingin ikut karena belum pernah ke Jakarta, alasannya, padahal ia ingin berduaan dengan Fauziah. Arjuna sudah kepincut ibu tirinya. Kedua isterinya memiliki bayi yang masih kecil, sehingga mereka tidak mau ikut, apalagi Annisa yang baru jadi ibu, ia butuh Dewi yang ikut mengasuh anaknya juga. Begitu pula dengan ayah dan gendaknya, karena mereka sudah puas untuk berduaan saja maka mereka emoh untuk ikut. Singkat kata, mereka pergi ke Jakarta dan menginap di sebuah hotel yang berbintang. Sayang, saat itu adalah liburan, sehingga tinggal satu kamar yang tersedia. Yang lain sudah penuh. Arjuna jadi senang sekali. Berhubung mereka mengaku sebagai ibu dan anak, maka petugas hotel memberikan mereka satu kamar itu. Dan untungnya mereka ambil, karena setelah mereka ada orang yang ingin menginap tapi ditolak karena hotel penuh. Hari itu bergerak sangat cepat bagi Arjuna. Tahu-tahu sudah malam, ia sudah mandi dan memakai sarung seperti biasanya dengan singlet sebagai baju, namun ia tidak pakai celana dalam. Lima belas menit kemudian Fauziah baru dari kamar mandi menggunakan handuk yang menutupi hanya dari dada sampai paha, bahkan bagian atas paha dan paha itu mulus sekali. Sesekali Arjuna melihat bulu ketek lebat ibu tirinya itu dan membuat Arjuna langsung konak. Tanpa makeup, kecantikan Fauziah tampak begitu alami. Kecantikan perpaduan Indonesia dan timur tengah. Hampir mirip Camelia Malik bercampur dengan Kim Kardashian. Dibalik handuk itu, toket besar tampak menonjol dengan lembah yang agak sempit karena dua tetek yang besar. Sungguh malaikat dari surga, pikir Arjuna. Hanya saja, saat itu tidak terlihat Fauziah sudah mandi, karena rambutnya masih kering dan tidak tercium bau sabun ketika Fauziah melewatinya. Fauziah berdiri di depan meja rias beberapa saat untuk mengambil CD dan BH yang ia taruh di sana di atas daster hitam yang terlipat rapi, rupanya ia lupa membawa pakaiannya. Ketika Fauziah membungkuk sedikit untuk mengambil CD dan BHnya, tiba-tiba Fauziah berteriak kecil kesakitan. Arjuna kaget lalu bertanya, “Kenapa, Ma?” Fauziah memegang punggungnya dengan tangan kanannya lalu berkata, “Ga tau, Jun. kayaknya salah urat.” “Waduh…. Terus gimana dong?” “Kamu tolong telpon resepsionis. Biasanya hotel menyediakan jasa pijat. Biar Mama di pijat saja.” Arjuna bergegas menelepon resepsionis. Sayangnya, hotel itu tidak menyediakan jasa pemijat. Sementara, Fauziah bergegas duduk di tempat tidur sambil meringis kesakitan. “Gimana nih? Ga ada tukang pijat di sini.” Fauziah menjadi kecewa dan sebal. Namun, Arjuna yang melihat kesempatan dalam kesempitan ini, segera menawarkan diri. “Ya udah, biar Arjuna pijat aja. Jun biasa kok pijet Ayah kalau Ayah lagi pegel-pegel.” Fauziah serba salah. Di satu pihak, ia sedang kesakitan karena punggungnya tiba-tiba salah urat, di lain pihak ia sedang dalam keadaan yang nyaris bugil dan hanya berbalutkan handuk. Selama beberapa saat pikirannya berputar-putar ingin mencari solusi. Arjuna yang tahu ibu tirinya sedang dalam keadaan dilematis karena rasa malu, segera berpikir cepat. Anak ini memang hebat otaknya dalam soal-soal begini. Buktinya, dua perempuan berhasil ia taklukkan. Kini, Fauziah adalah piala ke tiga yang ingin ia incar. “Kalau Mama malu, begini saja. Biar Arjuna masuk kamar mandi, lalu Mama pakai baju dulu. Terus Mama panggil Jun kalau sudah selesai.” Tanpa menunggu jawaban Arjuna masuk kamar mandi. Fauziah beringsut untuk berdiri, namun punggungnya ia rasakan nyeri sekali. Fauziah berkutat cukup lama untuk beranjak ke meja rias, tapi akhirnya ia menyerah. Karena terpaksa, akhirnya Fauziah melepas handuknya, lalu berbaring telungkup. Dengan susah payah ia lalu menaruh handuk itu untuk menutupi pantat dan pahanya. Setelah dirasa cukup rapi sehingga pantat dan selangkangannya tidak terlihat, Fauziah memanggil Arjuna. Arjuna keluar kamar mandi dan mendapatkan pemandangan yang indah. Ibu tirinya itu kini telungkup dengan punggung telanjang. Sayangnya pantatnya tertutup handuk, juga kedua tangan Fauziah ditekuk di sebelah badan sehingga menutupi pinggir payudara perempuan itu. Tetap saja, sedikit jendolan di pinggir badan Fauziah cukup membuat batang kontol Arjuna menegang cepat. “Mama Fauziah bawa body lotion ga? Biar enak urutnya.” “Di meja rias tuh.” Setelah mengambil body lotion, Arjuna duduk disamping ibu tirinya itu. Lalu menaruh lotion di telapaknya, dan mulai membalurkannya sepanjang punggung telanjang perempuan itu. Kulit ibu tirinya itu begitu halus, kini setelah dibalurkan lotion, menjadi licin dan mengkilat bak porselen cina saja. Kemudian Arjuna mulai mengurut perempuan itu. “Kalau terlalu keras kasih tahu, ya. Soalnya biasa ngurut laki-laki.” “coba pelan sedikit, jangan keras seperti itu.” Maka Arjuna mulai mengurut Fauziah. Untuk permulaan, Arjuna melakukannya dengan serius. Ini untuk menjaga agar Fauziah tidak curiga. Dan karena memang Arjuna sering mengurut Ayahnya, maka sebenarnya ketrampilan Arjuna dalam mengurut itu cukup lumayan. Arjuna dapat menemukan urat yang menjadi problem. Diurutnya daerah itu dengan perlahan dahulu, lalu makin lama setelah uratnya mulai melemas dan tidak terlalu menonjol, maka urutannya diperkeras. Fauziah tidak menyangka anak tirinya itu jago mengurut. Gerakan tangan Arjuna tidak canggung yang menunjukkan bahwa anak itu memang terbiasa mengurut. Sebelumnya ia agak takut bila Arjuna hanya pura-pura bisa mengurut padahal hanya menginginkan tubuhnya. Tetapi kini Fauziah tidak curiga lagi. Lagipula, pikir Fauziah, Arjuna sudah punya dua isteri. Untuk apa pula anak itu menginginkannya? Tetapi lama dipikirkan Fauziah malah menjadi sedih. Fauziah merasa bahwa dirinya memang malang. Apakah memang lelaki tidak ada yang mau dengannya? Apakah Fauziah tidak cantik? Apakah ada sesuatu dalam dirinya yang membuat semua lelaki menjauh darinya? Dulu Waluyo pernah bilang bahwa Fauziah itu cantik, tapi, sekarang karena Fauziah tahu Waluyo itu Gay, maka Waluyo tidak dapat menjadi acuan. Betapa malang nasibku, pikir Fauziah. Fauziah tidak tahu, bahwa banyak lelaki yang sebenarnya menginginkan dia. Namun, Fauziah adalah anak seorang saudagar kaya. Banyak lelaki yang takut duluan. Selain itu, ayah Fauziah terkenal galak dan memiliki banyak centeng, sehingga bagaimanapun juga Fauziah bagaikan permata yang ada di dalam kandang harimau. Banyak yang mau tapi hampir tidak ada yang berani mengambil. Hanya Waluyo saja yang berani. Waluyo adalah orang rantau di Kalimantan dan memiliki pandangan “nothing to lose”. Sehingga nekat dalam melakukan apapun. Sehingga akhirnya dapatlah lelaki itu meminang Fauziah. Kini punggung Fauziah sudah tidak sakit lagi. Fauziah melirik ke dinding dan melihat jam, sudah hampir sejam Arjuna mengurutnya. Arjuna melihat gerakan ibu tirinya itu. “Masih sakit, Ma?” “sudah ga sakit lagi, Jun.” Lalu mereka terdiam. Arjuna tidak menghentikan gerakannya tetapi tetap mengurut Fauziah. Ia ingin melihat respons wanita ini dulu. Makin lama Arjuna mengurut Fauziah makin pelan, sehingga lima menit setelah itu, Arjuna hanya menggosok-gosok punggung ibu tirinya itu saja. Fauziah tidak pernah diurut sehingga tidak tahu bagaimana seharusnya seseorang itu diurut, sehingga ia diam saja ketika Arjuna mulai menggosok-gosok punggungnya tanpa ada tenaga seperti sebelumnya. Makin lama gosokkan itu menjadi usapan. Arjuna mengusap-usap punggungnya dan gerakannya menjadi teratur dan lebih pelan. Fauziah merasakan tangan Arjuna yang kasar itu mengusapi punggungnya menimbulkan sensasi yang membuat bulu kuduk merinding. Fauziah tidak tahu bahwa sekarang ini Arjuna tak lagi mengurut, namun membelai punggungnya. Belaian Arjuna itu dilain pihak membuat pikiran Fauziah mulai melayang. Fauziah menjadi teringat kembali pengalamannya ketika dulu masih jadi isteri Waluyo, satu-satunya lelaki yang pernah membelainya. Andaikan saja…. Pikir Fauziah. Andaikan saja ia masih jadi isteri orang…. Perlahan-lahan usapan itu membawa Fauziah ke alam mimpi. Arjuna mendengar dengkuran kecil Fauziah saat ia sedang membelai punggung perempuan itu. Kebetulan nih, pikir Arjuna. Si bidadari dari Arab ini telah tidur setengah telanjang. Arjuna yang berpengalaman walaupun masih muda ini, tidak lalu langsung beraksi. Tidak, Arjuna seperti kita ketahui adalah anak remaja yang pintar dan kreatif. Arjuna terus membelai punggung ibu tirinya itu selama beberapa menit setelah suara dengkuran terdengar. Orang yang baru tidur, itu gampang sekali bangun. Tapi kalau sudah pulas, barulah susah bangun. Oleh karena itu, Arjuna harus yakin dulu bahwa Fauziah telah tertidur pulas. Arjuna memanggil Fauziah. Setelah beberapa kali memanggil ibu tirinya itu dan tidak ada jawaban, maka Arjuna berkata perlahan, “Mama Fauziah……. It’s showtime!” sambil tertawa kecil. Arjuna segera mengambil handuk yang ada di atas pantat Fauziah dan menaruhnya di meja rias. Pantat itu lumayan besar, lebih besar dari pantat ibu kandungnya, namun pantat ini begitu putih dan bulat. Sungguh menantang. Arjuna menggeser duduknya sehingga kini sejajar dengan paha Fauziah. Perlahan ia menarik kedua kaki ibu tirinya itu sehingga terbuka. Sambil menelan ludah, Arjuna melihat bibir memek ibu tirinya itu. Bibir vagina Fauziah rapat menutup. Tidak ada bulu jembut dipinggirnya. Bulu kemaluan Fauziah ternyata dipotong rapi dan hanya menutupi selangkangan bagian atas. Benar-benar dirawat, pikir Arjuna. Arjuna lalu merubah posisi sehingga ia kini berbaring di bawah kaki Fauziah dengan kaki terjulur sampai menyentuh lantai, sementara setengah badannya dibaringkan di atas tempat tidur di antara kaki Fauziah. Dengan tangan gemetar menahan nafsu, ia menyibakkan bibir kemaluan ibu tirinya itu. Vagina Fauziah terlihat berwarna merah dan agak mengkilat karena lembab. Bau tubuh Fauziah samar-samar tercium keluar. Tak sabar, Arjuna langsung menjulurkan lidahnya kedalam memek perempuan itu. Arjuna merasakan pengalaman baru. Ternyata memek itu rasanya berbeda-beda. Memek ibu kandungnya, memek kakaknya dan memek Fauziah memiliki bau dan rasa yang berbeda. Namun, ibaratnya berbagai jenis coklat, maka semuanya enak dan memiliki cita rasa yang khas. Lidah Arjuna menyusuri lembah kenikmatan milik ibu tirinya dengan perlahan karena Arjuna ingin puas merasakan intisari tubuh ibu tirinya itu. Dinding memek Fauziah yang lembut dan lembab yang memancarkan bau tubuh perempuan keturunan Arab itu sungguh membuat Arjuna bagaikan di awang-awang. Tiba-tiba Arjuna mendengar suara desahan Fauziah. Arjuna kaget dan menghentikan kegiatannya. Ia melirik ke arah kepala ibu tirinya itu. Setelah ditunggu beberapa lama, Fauziah tidak menunjukkan tanda bahwa perempuan itu telah sadar. Namun Arjuna harus sabar, ia tidak mau berhubungan seks ketika Fauziah sedang terlelap. Ia ingin Fauziah tersadar dan merelakan tubuhnya kepada Arjuna. Saat ini belum saatnya, pikir Arjuna. Maka Arjuna mengembalikan handuk itu ke tempatnya semula, lalu Arjuna menyelimuti tubuh telanjang Fauziah dengan selimut tempat tidur itu. Lalu Arjuna tidur di lantai yang berkarpet. Paling tidak enggak dingin, pikirnya. ***** Paginya Fauziah bangun dan kaget. Astaga! Ia tertidur dengan hanya tertutup handuk di pantat. Apa yang terjadi tadi malam ketika ia tidur? Namun akhirnya Fauziah lega, karena sekarang ia tidur berselimut, sementara, Arjuna tidur di lantai. Selain itu, ia tidak merasakan tanda-tanda sehabis ditiduri anak tirinya itu. Memeknya tidak terasa pegal atau nyeri. Tampaknya Arjuna cukup gentleman dan tidak memanfaatkan situasi. Fauziah bergegas ke kamar mandi. Sehabis mandi dan ganti baju, ia membangunkan Arjuna dan meminta anak itu untuk tidur di tempat tidur. Arjuna tampak lelah dan pegal. Fauziah menjadi kasihan. “Lain kali tidur di tempat tidur saja, Jun.” “Ma, Arjuna ga mau ngerepotin. Di lantai saja cukup, kok.” “Tidak. Nanti malam kamu tidur di tempat tidur dengan mama.” Lagipula, pikir Fauziah, anak ini tidak menunjukkan hasrat untuk berbuat kotor dengannya. Maka, Fauziah mulai merasa nyaman. Selain itu, Fauziah pun berhutang budi karena Arjuna telah membantu untuk mengurut sehingga kini otot punggungnya sudah tidak nyeri lagi. Hari itu Fauziah dan Arjuna pergi ke salah satu rekan bisnis Fauziah. Hari yang membosankan menurut Arjuna. Mereka makan siang sementara Fauziah dan rekan bisnisnya yang adalah laki-laki membicarakan tetek bengek masalah bisnis. Sementara Arjuna hanya bisa melamun dan berusaha menahan rasa bosannya. Arjuna memperhatikan bahwa lelaki itu, seorang yang setengah baya, terus memperhatikan Fauziah seakan Fauziah adalah bidadari. Dari gerak tubuhnya terlihat bahwa lelaki ini ingin memakan Fauziah hidup-hidup. Hanya saja, Fauziah seakan tidak menghiraukan bahkan mungkin tidak ada pikiran ke arah situ sama sekali. Ternyata, rekan bisnis yang ditemui hari itu tidak hanya satu. Ada tiga pertemuan. Ketiganya dengan lelaki paruh baya yang menatap Fauziah dengan tatapan penuh harap dan birahi. Yang jelas, Arjuna menjadi tahu kenapa bisnis ibu tirinya itu lancar. Semua rekan bisnisnya hari itu selalu menyanggupi permintaan-permintaan ibu tirinya tanpa perlu panjang lebar berdebat. Ini adalah kekuatan seorang wanita cantik yang pintar. Arjuna menjadi kagum juga dengan ibu tirinya itu. Akhirnya setelah makan malam dengan rekan bisnis terakhir untuk hari itu. Mereka berdua kembali ke kamar hotel. Arjuna mandi duluan dan memakai singlet dan sarung seperti biasa setelahnya. Ketika ia keluar kamar mandi, Fauziah sedang mengusap lehernya. “Mama kenapa? Pegel?” “Iya nih. Capek juga hari ini ke sana kemari dengan rekan-rekan bisnis Mama. Kayaknya Mama udah semakin tua.” “Ya sudah. Mama mandi dulu, nanti Arjuna pijitin lehernya.” Fauziah tersenyum lalu pergi mandi. Arjuna kini berfikir apakah sebaiknya menawarkan untuk mengurut atau tetap memijat saja? Namun Fauziah sedang pegal lehernya, kalau Arjuna menawarkan untuk diurut, maka mungkin saja Fauziah akan curiga. Oleh karena itu, Arjuna memutuskan untuk memijat saja. Fauziah keluar dengan gaun tidur berwarna hitam. Modelnya seperti daster, tapi gaun ini lebih mewah. Gaun terusan dengan tali tipis melibat bahu putih Fauziah. Gaun itu tidak panjang. Bagian atasnya terbuka sampai terlihat belahan sedikit belahan dada yang besar. Roknya sampai di atas lutut dengan renda-renda yang menghiasinya, menunjukkan paha dan betis yang putih bersih. Arjuna berusaha untuk tidak menatap melainkan belagak sedang membaca dengan ekor mata mengikuti ibu tirinya itu. Kalau dilihat, Fauziah tidak memakai BH. Sedikit putingnya menyembul dibalik gaun malam itu. Arjuna jadi mengira-ngira apakah Fauziah tidak memakai CD juga yang menyebabkan kemaluannya jadi menegang memikirkan itu. Fauziah duduk di pinggir tempat tidur. “Kalau bisa sih, Mama duduk di lantai, Arjuna duduk di tempat tidur sehingga gampang mijit leher dan bahunya.” Fauziah melakukan permintaan Arjuna lalu duduk di lantai. Dengan sigap Arjuna duduk di belakang Fauziah dan mulai memijati leher ibu tirinya itu. Fauziah merasakan tangan hangat Arjuna mulai memijatnya. Pijatan itu sungguh enak. Mungkin tidak sama dengan para pemijat profesional yang biasa ia datangi. Para pemijat itu menggunakan teknik shiatsu jepang, sementara teknik Arjuna adalah teknik kampung, namun cukup efektif. Sungguh Fauziah merasa beruntung membawa serta anak ini. Sementara, Arjuna kini menatap dada ibu tirinya dari atas kepala Fauziah. Pentil yang tampak menyembul dari balik gaun seakan menantang lelaki yang melihatnya. Kedua buah payudara besar dengan belahan dada yang rapat menjadi garis lurus yang hilang tertutup gaun. Bukit kembar yang begitu besar sehingga menyembul keluar. Arjuna meneguk ludah beberapa kali. Setelah cukup lama Arjuna memijat, Fauziah berkata, “Leher Mama sekarang sudah mendingan. Kita tidur saja, ya? Kasihan kamu pasti capek juga dan sekarang malah mijitin Mama. Sebaiknya istirahat.” “Arjuna sih anak kampung, Ma. Udah biasa. Mama mau dipijit bahunya?” “Kalau kamu ga capek sih boleh saja. Kamu capek, ga?” “Kan udah biasa. Belum capek. Gimana, Mama mau Jun pijat bahunya?” “Ya sudah. Terserah.” Arjuna mulai memijit bahu Fauziah. Ia benar-benar mengeluarkan jurus-jurus pijit yang dipelajari di kampung. Di lain pihak, Fauziah kini merasa bagaikan dimanja anak tirinya itu. Pijatan Arjuna membuat segala otot di pundaknya lemas dan tidak keras ataupun pegal lagi. Fauziah sangat menikmati ini. Setelah sekian lama, Arjuna mulai beraksi. Tangan kanannya mulai memijat begitu rupa, sehingga jari-jarinya mendorong tali gaun di bahu ibu tirinya itu sehingga mulai bergeser ke arah pundak kanan. Lama-kelamaan tali itu mulai menuju ujung pundak Fauziah. Fauziah yang sedang keasyikan menikmati pijatan ini tidak memperhatikan bahwa tali gaunnya mulai menggeser sehingga Arjuna yang selama proses ini deg-degan dan berusaha menggerakan tangannya perlahan menjadi agak tenang. Dan akhirnya tali gaun itu jatuh ke lengan Fauziah. Tiba-tiba saja bagian puting Fauziah yang bundar menyembul sementara gaun itu kin menutup bagian menonjol putingnya. Warnanya merah muda. Nafas Arjuna menjadi memburu. Sungguh tubuh wanita keturunan Arab ini berbeda dengan tubuh Dewi maupun Annisa. Pentilnya berwarna merah muda bagaikan aktris bokep yang pernah ia tonton di film-film. Fauziah memang seksi sekali! Mata Arjuna kini terpaku pada daerah areola puting Fauziah itu. Areola itu bundar dan lingkarnya lebih besar daripada uang logam 100-an jaman dulu. Di atas areola, di kulit teteknya ada tahi lalat kecil menghiasi. Pemandangan ini sangat intim dan pasti tidak banyak lelaki yang pernah melihatnya. Arjuna ingin menggunakan tangan kirinya dan melakukan hal yang sama. Namun setelah dipikir lebih jauh, ada kemungkinan ketika tali gaun sebelah kiri jatuh ke bawah, gaun itu akan melorot dan memperlihatkan tetek Fauziah. Tentu saja Arjuna ingin melakukan hal itu, namun kemungkinan besar Fauziah akan sadar dan menghentikan sesi pijat ini. Dan mungkin Arjuna tak akan dapat menyentuh tubuh wanita ini lagi. Maka ia terus memijat bahu Fauziah. Arjuna memikirkan cara bagaimana agar bisa menuju level berikutnya. Namun ia tidak dapat menemukan cara yang tidak membuat Fauziah takut dan menghentikan semua ini. Arjuna lama berfikir dan memijat, sampai tiba-tiba kepala Fauziah sedikit terkulai dan dengan cepat tegak lagi. Fauziah hampir tertidur. “Ma,” kata Arjuna,” daripada nanti tidur di lantai, mending tidur di atas tempat tidur. Biar Arjuna pijit. Atau Mama Fauziah mau diurut saja?” Fauziah sudah ngantuk, tapi masih ingin dipijat. Katanya, “terserah kamu deh, Jun.” Arjuna bergerak cepat dan mengambil lotion. “diurut bahunya saja ya, Ma?” Fauziah hanya mengangguk lalu tiduran telungkup di tempat tidur. Arjuna mulai mengambil lotion dan mengurut bahu Fauziah dari samping. Fauziah merasakan kenikmatan ketika otot-ototnya yang sudah dipijit kini diurut pula. Dalam kantuknya, Fauziah ingin sekali tiap hari dimanja oleh Arjuna seperti ini. Arjuna adalah remaja yang memiliki pengalaman dalam merayu wanita dan mendapatkan wanita. Ibu kandung dan kakaknya sudah menjadi isterinya. Sehingga walaupun Arjuna sudah horny menjamahi ibu tirinya itu, tapi ia dapat menahan hasratnya dan tidak melakukan tindakan blunder. Arjuna mengurut Fauziah sampai wanita itu tertidur. Akhirnya Arjuna pergi ke kamar mandi untuk masturbasi lalu tidur di samping Fauziah yang masih telungkup. ***** Arjuna terbangun horny. Ia bermimpi sedang berhubungan seks dengan ibu tirinya. Ia bermimpi sedang mengentot ibu tirinya dari belakang dengan posisi doggy style. Ibu tirinya telanjang dalam mimpinya, juga Arjuna tidak memakai baju. Hanya saja, kontolnya tidak dapat masuk ke dalam memek ibunya itu melainkan hanya menempel saja di pantat Fauziah. Entah kenapa kontolnya tidak dapat memasuki lubang kemaluan ibu tirinya itu melainkan hanya terus menempel. Ketika terjaga, Arjuna mendapatkan dirinya sedang memeluk Fauziah dari belakang. Kontolnya yang tegang dibalik sarung sedang menempel pada belahan pantat ibu tirinya itu. Rupanya dalam kenyataannya memang seakan-akan Arjuna dan Fauziah doggy style hanya saja posisinya berbaring menyamping di tempat tidur. Tiba-tiba Fauziah bergerak. Arjuna menjadi kaget. Arjuna pura-pura masih tertidur dan tidak bergerak. Fauziah bangun kaget juga mendapatkan dirinya sedang dipeluk anak tirinya. Ia merasakan kontol anak tirinya yang besar itu sedang menempel di belahan pantatnya. “Jun,” panggil Fauziah. Arjuna pura-pura masih terlelap. Fauziah memanggil beberapa kali, namun Arjuna tetap tidak bergerak. Fauziah menghela nafas memikirkan apa yang harus dilakukan. Fauziah sudah lama tidak didekap oleh lelaki. Bau tubuh Arjuna yang maskulin, walaupun tidak terlalu keras, namun cukup menggetarkan kalbu Fauziah juga. Tubuh hangat Arjuna yang memeluknya memberikan kenyamanan. Fauziah bingung harus ngapain. Arjuna, di lain pihak, merasa tersiksa. Ia sudah horny sekali namun kini harus pura-pura tertidur. Masalahnya, kepala Arjuna serasa mau pecah menahan libido. Apa yang harus dilakukannya? Apa lagi kini Fauziah tidak berusaha membangunkannya lagi, melainkan malah terdiam di tempat tidur. Arjuna yang cerdik berlagak mengigo, “Mama Fauziaaah………………..mmmm…….. Mama Fauziah……….” “Jun, kamu sudah bangun?” Arjuna terus berlagak meracau di tempat tidur, “Mama Fauziaah…………. Mama sayang Jun, tidak?....” “Jun?” “Arjuna sayang Mama Fauziah…….. mmmmmmmmmmm……..” Lalu Arjuna belagak sedang memeluk guling dalam tidurnya dan mempererat rangkulannya. Fauziah terkejut. Rupanya Arjuna sayang pada dirinya. Tampaknya ini yang benar-benar dirasakan Jun, karena Jun berbicara dalam tidurnya. Fauziah agak bingung. Arjuna menunjukkan rasa sayang kepada ibu kandungnya dengan meniduri dan menghamili perempuan itu. Apakah artinya Arjuna juga ingin menyetubuhinya? Pertama kali pikiran ini melintas, Fauziah merasa jijik dan sebal. Namun semakin dipikirkan, ada rasa aneh menyeliputi dadanya. Fauziah mengingat saat-saat ia lihat Arjuna sedang bersenggama dengan Dewi atau Annisa. Mereka begitu menikmati keintiman itu. Apalagi, kontol Arjuna yang lumayan besar dan panjang. Lama kelamaan memek Fauziah basah juga. Ia menelan ludah lalu mendekap tangan kanan Arjuna yang sedang melingkar diperutnya dengan tangan kanannya sendiri. Arjuna senang sekali. Kini terbukti bahwa Fauziah tidak membenci atau jijik padanya. Buktinya perempuan itu malah mendekap tangannya. Langkah pertama Arjuna berhasil. Sambil menyeringai lebar, karena Fauziah tidak dapat melihat, Arjuna memikirkan langkah selanjutnya. Tak lama kemudian Fauziah tiba-tiba memutar badannya, dengan tangan kiri memegang tangan kanan Arjuna sehingga badan Arjuna dan Fauziah tetap berangkulan sampai keduanya berhadapan. “Jun…. Jun….. bangun…” Namun suara Fauziah tidak keras melainkan perlahan. Arjuna yang sedang memejamkan mata hanya merasakan tiba-tiba saja tangan kanan Fauziah menyusup di samping kiri badannya antara tubuh Arjuna dan tempat tidur. Sekarang Fauziah memeluk tubuh Arjuna. Arjuna otomatis beringsut mendekap sambil tetap memejamkan mata. Tadi tubuhnya setengah miring ke kanan dengan tangan kiri di belakang tubuh, kini tangan kirinya ikut menyusup ke bawah dan melingkari tubuh ibu tirinya itu. Sementara, kaki kanan Arjuna kini di antara kedua kaki Fauziah yang menjepit. Fauziah menahan nafasnya ketika ia merasakan Arjuna memeluk dirinya. Arjuna berusaha menatap wajah Arjuna namun wajah itu kini menempel di dadanya. “Kamu sudah bangun, Jun?” Arjuna pura-pura masih pulas dan tidak menjawab. Tangan kiri Fauziah mulai mengelus-elus rambutnya. Arjuna mulai frustasi. Ia dapat mencium bau tubuh Fauziah dengan jelas. Fauziah adalah tipe perempuan yang bau tubuhnya tidak menyengat dan dapat dibilang cukup harum tanpa minyak parfum. Arjuna berfikir bahwa ini saat tepat untuk bangun. Fauziah akan malu, namun Arjuna akan menunjukkan bahwa ia suka dipeluk Fauziah. Arjuna mendongakkan kepalanya dan pura-pura bingung. “Ma?” Ia menatap Fauziah dengan tatapan bingung. Fauziah gelagapan dan mengendurkan pelukannya. Namun dengan cepat Arjuna mendekap Fauziah erat-erat dan berkata, “Aduh, senangnya dipeluk Mama Fauziah. Jun kirain selama ini Mama Fauziah ga sayang sama Arjuna.” “Kenapa begitu?” “Karena kita tidak pernah pelukan kayak begini.” Fauziah bermaksud melepaskan dirinya. “Jangan dulu dong, Ma. Arjuna sangat senang disayangi Mama Fauziah. Sebentar lagi, ya? Kan tadi Mama Fauziah yang peluk. Jun bangun udah di peluk Mama. Sekarang Jun minta Mama jangan lepasin pelukannya,.” Fauziah bingung. Namun ia hanya terdiam. Dapat dirasakannya dekapan kuat anak tirinya itu. Nafas anak itu di dadanya yang hangat terasa di kulit. Untuk beberapa lama mereka berpelukan. Lalu Fauziah mengelus kepala Arjuna dan berkata, “ udah ya? Kita kan harus bisnis lagi.” Arjuna mengelus punggung Fauziah dan berkata, “bentar lagi, dong…. Mama harum banget. Lebih harum dari Ibu maupun Kak Annisa.” Fauziah menjadi sumringah. Wanita mana yang tidak senang bila dibilang lebih baik daripada wanita yang lain? “Mama kan belum mandi.” “Masa sih. Kok harum gini ya? Ga pakai parfum?” “Ya enggak, lah. Kan baru bangun.” “Tapi sumpah deh. Baunya wangi banget.” Tiba-tiba Fauziah merasakan Arjuna mengendus-endus dadanya, ini menyebabkan Fauziah merasakan bagai disetrum. Seluruh tubuhnya seakan linu dan tak berdaya. Nafas Arjuna di dadanya membuat ia merasakan hal-hal yang telah lama ia lupakan. Serangan Arjuna yang tiba-tiba datangnya, tiba-tiba pula berhenti. Arjuna melepaskan diri dari pelukan Fauziah. Dan kembali tiba-tiba, Arjuna mencium pipi Fauziah. “Terimakasih, Ma. Udah mau peluk Arjuna,” kata Arjuna setelah mencium pipi Fauziah,”Arjuna mandi duluan ya.” Ketika Arjuna meninggalkannya untuk mandi, membuat Fauziah tiba-tiba saja merasakan kekosongan. Ada rasa kecewa menghampiri. Namun Fauziah memutuskan untuk memendam jauh-jauh perasaan itu. Hanya saja, kedekatan mereka berdua sudah tak dapat ditarik kembali. Dan faktanya, Fauziah menyukai kedekatan itu. Hari ketiga mereka di Jakarta, pertemuan bisnis hanya ada dua kali. Sisanya Fauziah mengajak Arjuna untuk shopping di mall. Fauziah membeli banyak oleh-oleh untuk keluarga, namun hadiah yang paling banyak adalah untuk Arjuna. Arjuna gembira sekali, karena ini menunjukkan tidak ada rasa marah dari ibu tirinya itu. Mereka makan malam di restoran pada pukul enam. Arjuna mengatakan bahwa ia capek dan pegal sehingga waktu makan malam dimajukan. Padahal, ia ingin satu tempat tidur lagi dengan Fauziah. Fauziah menuruti saja karena ia sebenarnya sudah mulai ada rasa juga kepada anak tirinya itu, namun dalam pikirannya ia masih membantah dirinya sendiri. Jam tujuh mereka sudah tiba di kamar tidur. “Arjuna sudah capek mau tidur,” kata Arjuna,”Mama capek ga?” “Ya Mama capek juga lah.” “Ya sudah. Mama tidur aja langsung kalau begitu. Arjuna mandi dulu.” “Masak kamu mau tidur di samping orang yang bau sih?” “Mama Fauziah itu harum biar belum mandi. Arjuna ga masalah kalau Mama Fauziah belum mandi dan kita berbagi tempat tidur. Malah Arjuna merasa senang. Lagipula Mama Fauziah kan capek.” “Kalau begitu kamu juga ga usah mandi. Mama juga ga masalah. Kamu kan juga capek.” Di dalam hati, mereka berdua menyukai bau lawan jenisnya itu. Apalagi sudah tidak sabar untuk mengalami kedekatan seperti tadi lagi. “Ya udah deh. Arjuna ganti sarung dulu. Mama ganti baju tidur di kamar mandi saja. Arjuna di sini saja.” Fauziah bergegas mencari gaun tidurnya dan lalu masuk kamar mandi. Namun pintu tidak ditutup rapat. Fauziah mengintip ketika anak tirinya membuka baju hingga hanya singlet dan celana dalam. Lalu Arjuna membuka CDnya dan terlihat burung yang sudah tegak. Fauziah menelan ludah. Sayangnya Arjuna lalu memakai sarung dan bergegas ke tempat tidur. Fauziah membuka bajunya lalu memakai gaun tidur. Gaun tidur yang lain dari kemarin. Memang Fauziah jarang tidur dengan gaun yang sama, oleh karena itu ia selalu membawa tas besar bila berpergian. Gaun tidur ini transparan di bagian perut dan bagian rok yang pendek, sementara untuk bagian payudara, walaupun transparan pada banyak bagian tapi pada bagian putingnya memiliki kain yang tidak transparan, sehingga tidak memperlihatkan putingnya. Hanya saja bagian dada yang ditutupi hanya setengah payudara, sehingga bulatan atas teteknya dengan belahan dada terlihat jelas. Untuk rok, walaupun transparan, tapi Fauziah memakai celana dalam berwarna merah sehingga tidak menunjukkan bulu jembutnya. Yang unik dari gaun ini adalah, gaun ini tidak punya tali lengan, melainkan jenis Fauziah beralasan dalam hati bahwa ia sudah lama tidak pakai gaun ini. Gaun tidur yang mahal karena buatan luar negeri. Maka ia ingin memakainya. Padahal sebenarnya Fauziah berusaha menyangkal suara hatinya yang mengatakan bahwa tidak pantas memperlihatkan tubuh kepada anak tirinya dengan mencari-cari alasan pembenaran tindakannya itu. Arjuna meneguk ludahnya ketika melihat Fauziah keluar kamar mandi. Tubuh Fauziah yang tinggi dan bahenol sungguh mengundang decak kagum. Walau memakai gaun tidur, namun gaun itu bukannya menutupi malahan menambah aksen keindahan tubuhnya. Arjuna jatuh cinta. Sebelumnya ia memang naksir Fauziah, tapi setelah tiga hari ia merasakan gejolak yang sama ia rasakan ketika ia melihat ibu kandungnya telanjang. Arjuna tahu, ini adalah cinta. Ia cinta ibu tirinya. Fauziah menyadari bahwa hawa di ruangan tidak dingin lagi. Dilihatnya AC mati. “Kok AC dimatikan?” “Jun mau pilek, Ma. Ga apa-apa ya?” Fauziah hanya mengangkat bahu tanda tak begitu peduli, lalu merebahkan diri di tempat tidur. Selimut bed cover tampak terlipat rapi di bagian kaki. Arjuna melihat lirikan Fauziah ke selimut itu lalu berkata, “Kalo AC mati dan kita pakai selimut kan jadi panas. Nanti keringatan.” Fauziah mengangkat bahu lagi. Lalu menghela nafas, namun tidak berkata apa-apa. “Mama Fauziah mau dipijat? Keliatannya capek banget.” Padahal, hari ini mereka tidak begitu capek. Fauziah pun tidak terlihat seperti orang yang letih. Bahkan cenderung tampak seperti orang yang sedang fit. Namun, Arjuna mengatakan ini sebagai testing untuk melihat reaksi Fauziah. “Capek, sih. Tapi kamu kan juga capek?” “Arjuna kan laki-laki. Mama Fauziah kan perempuan. Lagian, kan Jun bisa pijit Mama sambil tiduran. Mama Fauziah membelakangi Jun.” Fauziah menurut saja. Ia suka pijatan Arjuna. Setelah Fauziah membelakangi Arjuna sehingga mereka berdua berbaring miring searah, Arjuna mulai memijat perlahan bahu Fauziah. Fauziah mulai menikmati pijatan itu. Namun ada yang berbeda kali ini. Selain memijat, terkadang Arjuna mengusap dengan telapak tangan terbuka di bahu Fauziah. Setiap kali Arjuna mengusap, maka bulu kuduk Fauziah merinding. Namun tak pernah Arjuna mengusap berturut-turut dua kali, melainkan hanya sekali lalu memijat lagi. Lama kelamaan Fauziah menikmati usapan itu juga. Ada kenikmatan lain yang ia rasakan ketika telapak Arjuna mengusap perlahan bahunya. Tak sadar, sekali waktu Fauziah menggumam menunjukkan nikmat ketika Arjuna mengusap bahunya. “Enak ya, dipijat kayak gini, Ma?” Fauziah antara malu dan nikmat hanya menggumam setuju. Arjuna akhirnya kini mengusapi kedua bahu Fauziah. Arjuna begitu menikmati kulit licin bahu ibu tirinya itu. Licin dan halus sekali. Kulit yang sering dirawat di salon. Sekali waktu, jemari kanannya menyusup di bawah tali gaun tidur itu, kemudian ia mendorong sambil mengelus ke arah lengan kanan sehingga tali gaun tidur itu terlepas dari bahu dan jatuh ke lengan kanan. Merinding tengkuk Fauziah ketika dirasakannya tali gaun sebelah kanan telah meninggalkan bahunya. Berhubung gaun itu tipis dan fleksibel, maka kini tali itu hampir menyentuh sikunya. Dengan gerakan sedikit, tali itu dapat terlepas dari tangannya. Berdebar dada Fauziah. Ini sungguh berbahaya. Seharusnya ini dihentikan. Tapi Fauziah sedang menghadapi dilema juga. Namun, Jun kembali mengusapi bahunya. Tangan kanan itu bahkan kini membelai terkadang dengan jemari bagian atas, kadang dengan jemari bagian bawah. Jelas sekali ini bukan pijat, tetapi sentuhan erotis. Fauziah menikmati sekali hal ini. Ia mengingat nikmatnya hubungan lelaki dan perempuan sehingga tak kuasa menolak. “sekarang Jun pijat tangan kanan Mama.” Jun lalu duduk. Fauziah menjadi kecewa ketika didapatinya Arjuna benar-benar memijat daerah lengan kanannya. Bukan membelai. Namun lama kelamaan ia merasakan tali gaun itu terdorong tangan kanan Jun sehingga mencapai siku. Saat itu Arjuna berkata, “sambungan siku bisa dibunyikan, lo.” Lalu dengan tangan kiri, Arjuna menarik lengan kanan Fauziah, namun tangan kanan Jun menahan tali gaun sehingga dalam satu gerakan cepat tali gaun itu lepas dari tangan Fauziah. Berdebarlah jantung Fauziah begitu tahu maksud Arjuna. Kini bagian kanan gaunnya tidak lagi ditahan bahu melainkan sudah terbebas. Untungnya karena tali gaun kiri masih nyantol, maka dadanya belum terekspos. Arjuna masih belagak memijat tangan Fauziah. Lalu berkata, “balik badan, Ma. Yang sebelah kiri.” Padahal kalau memijat beneran, seharusnya bagian bawah lengan dan telapak juga dipijit. Tapi Arjuna sudah tidak tahan. Fauziah memejamkan matanya lalu membalikan badan menghadap Arjuna. Arjuna memijat lengan kiri itu sebentar lalu dengan cara yang sama dengan tadi melepaskan tali gaun dari bahu dan tangan ibu tirinya. Setelah memijat beberapa saat, Arjuna berkata, “Ma, balik badan lagi. Mau dipijit kepalanya.” Fauziah sedikit lega. Karena dari tadi ia sudah merasa malu sehingga harus memejamkan mata sementara kedua tali gaunnya dilepas. Ketika sudah kembali berbaring miring, Fauziah merasakan Arjuna memijat kepalanya dengan kedua tangannya. Namun hanya yang kanan yang terasa memijat. Tangan kiri Arjuna tampak berusaha memijat namun dengan susah payah karena bagian kiri kepala Fauziah tertahan bantal. “susah, Ma. Coba duduk deh. Biar semua kepalanya bisa dipijat.” Fauziah meneguk ludah. Arjuna ternyata pintar sekali mengajak perempuan untuk melakukan hal yang tabu tanpa membuat malu. Namun, Fauziah sudah mulai horny memikirkan semua perlakukan Jun padanya, apalagi ajakan pijat terselubung ini. Fauziah duduk. Sementara tanpa sepengetahuan Fauziah Arjuna melepas sarungnya lewat kepala sehingga kontolnya bebas. Sementara itu lengan Fauziah tidak mengepit badan dengan harapan gaun tidur jatuh ke bawah, namun kedua payudaranya yang besar menahan gaun itu jatuh. Arjuna tampaknya paham problem ini, maka setelah hanya beberapa menit pijat kepala, Arjuna segera berkata, “Sekarang punggung ya…” Arjuna yang duduk di belakang Fauziah dengan leluasa mulai memijat punggung Fauziah . Sesuai dengan cara pijat yang benar, ia memijat dari bawah ke atas. Ia menggunakan teknik dua jempol yang menekan pinggir tulang pinggang dan menyusur ke atas secara bergantian. Namun tiap kali jempolnya menekan dan dilepas, ketika gerakan lepas itu bukan dengan menarik ke belakang, melainkan ke bawah sehingga sedikit menyeret kain itu ke bawah. Berhubung gerakan pijat itu cepat dan cukup kuat, maka ketika kedua jempol belum sampai tengah pinggang maka gaun tidur itu jatuh ke bawah dan berjumbel di pinggang. Arjuna mencoba sabar dengan terus memijat ke atas sampai bahu. Namun, kalau biasanya tukang pijat akan mengulangi gerakan dari bawah ke atas menggunakan metode yang sama, kali ini ia malah kembali mengelus bahu Fauziah. Fauziah merinding lagi kena belai di pundaknya. Apalagi ia merasakan usapan Arjuna mulai bergerak ke tengah punggungnya. Arjuna tahu-tahu menyusupkan tangan di bawah ketiak Fauziah sehingga telapak tangannya kini memegang pinggir kedua belah payudara Fauziah. Fauziah merintih pelan. Arjuna yang mendengarnya berkata, “Pegalnya di sini, Ma.” Lalu Arjuna mulai mengusap-usap gundukan samping payudara Fauziah yang besar itu. Fauziah mulai mendesah bagaikan baru makan rujak. Arjuna lalu merapatkan diri ke depan sehingga kini kedua kakinya di samping kedua kaki Fauziah dan kontolnya menyentuh punggung bawah Fauziah. Merasakan kontol Arjuna di pinggangnya, Fauziah berkata, “ssssh……. Arjunaaaaa!.....……..” “wah….. kayaknya pegalnya parah, Ma…….. tapi bukan di situ sumbernya……..” Dengan penuh nafsu Arjuna memeluk Fauziah dari belakang lalu kedua telapaknya meremas kedua payudara perempuan itu. Fauziah mengerang, “Ohhhh………….. Juuuuun…………………. Ssssssssssssshhhhhh………” Arjuna menciumi punggung ibu tirinya yang harum itu sambil meremas kedua teteknya. Kedua telapak tangannya bahkan tidak bisa menggenggam secara penuh payudara yang bulat dan besar itu. Tubuh harum Fauziah sungguh halus dan licin. “Jun sayang Mama……..” kata Arjuna perlahan di antara kecupan-kecupan bibirnya yang menghujami punggung halus Fauziah,”Jun harus mendapatkan Mama Fauziah…….” Lalu Arjuna menarik tubuh Fauziah hingga perempuan itu berbaring telentang. Gerakan Jun perlahan tapi pasti. Fauziah merasa di awang-awang. Saat ini, Fauziah merasa berada di suatu dataran yang penuh dengan erotisme. Segala sentuhan dari anak tirinya membuat dirinya di mabuk asmara. Fauziah baru menyadari bahwa ia telah jatuh cinta kepada Arjuna. Memang, pertama kali ia melihat Arjuna ia hanya sekedar melihat bahwa Waluyo memiliki anak yang mirip dengan Waluyo muda. Walaupun tubuhnya masih belum setinggi dan sekekar ayahnya, Arjuna sudah memiliki postur tegap dan kekar. Wajah Arjuna mirip dengan Waluyo juga. Tetapi, kehangatan yang Arjuna miliki lebih besar daripada ayahnya. Bahkan, Waluyo dari dulu bersikap dingin. Hubungan seks yang mereka lakukan selalu monoton dan ada kesan Waluyo hanya melakukan kewajiban sebagai suami. Sebaliknya, tiap kali Fauziah melihat Arjuna sedang bersenggama dengan salah satu isterinya, Fauziah dapat melihat ada sinar birahi yang menyala pada pandangan Arjuna. Dan Fauziah merasakan kecemburuan melihat betapa Arjuna dan isteri-isterinya begitu menikmati kebersamaan mereka. Ada pancaran kebahagiaan yang keluar dari ketiga manusia itu. Dewi, Annisa dan Arjuna selalu ceria dan tampak tidak ada kesusahan dalam hidup mereka. Fauziah mulai melihat Arjuna bukan sebagai remaja, melainkan seorang lelaki yang dapat membahagiakan keluarganya. Arjuna begitu menyayangi kedua isterinya dan selalu mendahulukan kepentingan isteri-isterinya. Maka, mau tidak mau mulai tumbuh rasa kagum dalam diri Fauziah terhadap anak angkatnya itu. Kini Fauziah telah berbaring di tempat tidur dengan tubuh setengah telanjang. Dadanya tersengal-sengal menahan nafsu karena menanti gerakan Arjuna. Arjuna tampak tidak tergesa-gesa. Anak itu tersenyum bahagia. Fauziah dapat melihat binar birahi yang meledak-ledak pada pancaran mata Arjuna yang menyebabkan Fauziah merasa bahagia. Akhirnya pancaran birahi itu kini ditujukan padanya. Arjuna membuka sarungnya hingga telanjang. Tubuhnya yang mulai menunjukkan otot-otot kelelakian seakan menjanjikan kehangatan dan keintiman yang maskulin. Dengan perlahan Arjuna melorotkan gaun tidur ibu tirinya. Fauziah membantu dengan sedikit mengangkat pantatnya. Kini tubuh Fauziah hanya ditutup oleh celana dalam. Arjuna sejenak menikmati pemandangan ini. Seorang perempuan keturunan Arab yang cantik, berkulit putih mengkilat dengan dada yang besar, yang karena besarnya dan kencangnya, kedua payudara itu tidak jatuh menggelayut ke samping melainkan tampak tegak menantang dan hanya tampak sedikit melebar ke samping dan melesak ke dalam, namun tetap menunjukkan lekuk bulat yang hampir sempurna. Payudara itu naik turun seiring dengan nafas yang memburu. Akhirnya Arjuna melorotkan celana dalam Fauziah. Jembut yang rapi tercukur menghiasi selangkangan Fauziah. Bibir memeknya yang rapat tampak menambah kecantikan perempuan itu. Setelah mengagumi tubuh seksi ibu tirinya sesaat, Arjuna mulai menindih Fauziah dengan kepala sejajar sehingga kontolnya jatuh di bagian bawah perut Fauziah yang menyebabkan biji peler Arjuna menekan jembut ibu tirinya itu. Ketika wajah mereka hanya tinggal kurang dari satu senti, Arjuna berbisik, “Mama Fauziah……. Mau enggak jadi isteri Arjuna?” Kedua mata Fauziah berkaca-kaca karena terharu dan bahagia. Dengan menahan sedikit isak, perempuan itu berkata, “Mama terserah mau diapain Arjuna…..” Dengan itu, Arjuna mengecup bibir Fauziah. Fauziah memeluk kepala anak tirinya itu dan Arjuna balas memeluk kepala ibu tirinya. Ciuman mereka dilakukan perlahan. Arjuna dapat menilai bahwa Fauziah orangnya ingin melakukan sesuatu dengan perlahan dan penuh erotis. Buktinya perempuan itu tak menunjukkan sikap ingin melakukannya dengan brutal seperti Annisa. Fauziah selalu merespon gerakan Arjuna dengan gerakannya sendiri yang juga pelan. Fauziah adalah jenis perempuan yang ingin menikmati sesuatu berlama-lama. Mereka berciuman penuh dengan perasaan, tidak ada ketergesaan dalam gerakan mereka. Kedua bibir itu saling bertautan seiring seirama seakan mereka sedang bergerak mengikuti musik yang sama. Mereka memang sedang bermain musik, musik percintaan. Lalu Arjuna mulai merambah mulut ibu tirinya dengan lidahnya. Fauziah yang merasakan lidah Arjuna menyapu-nyapu bibirnya, mulai mengimbangi dengan mengeluarkan lidahnya sendiri dan menyambut serangan lidah Arjuna. Keduanya saling menukar lidah, yang membuat birahi mereka makin meningkat. Lama-kelamaan ciuman mereka makin hot dan liar. Suasana kamar yang panas karena AC dimatikan menjadikan tubuh mereka yang tadinya kering, mulai mengeluarkan peluh karena selain udara yang hangat, kedua tubuh yang berhimpitan itu masing-masing mengeluarkan panas tubuh yang semakin menjadi. Bau tubuh Fauziah makin tercium jelas. Bau wangi Fauziah membuat kontol Arjuna berdenyut-denyut minta dimasukkan ke dalam lubang kenikmatan milik perempuan itu. Dengan tak sabar, Arjuna mengangkat tubuhnya, lalu menarik kedua kaki Fauziah ke samping. Arjuna duduk di bawah selangkangan ibu tirinya. Dibukanya bibir kemaluan ibu tirinya dengan kedua tangannya. Memek Fauziah tampak lebih rapat dari memek Dewi. Dan bagian dalam memek itu berwarna pink cerah dan mengeluarkan aroma wangi. Arjuna menerjunkan kepalanya ke selangkangan Fauziah. Ia mulai menjilati memek yang belum pernah disentuhnya itu. Memek Fauziah demikian legitnya dan bisa dikatakan, lebih terawat daripada memek ibu kandungnya dan bahkan memek Annisa. Dewi adalah orang kampung, sementara Annisa adalah remaja perempuan yang tidak setelaten Fauziah dalam merawat kelamin. Mungkin juga Fauziah sudah mengajarkan cara merawat kemaluan, namun Annisa memiliki sifat yang tidak sabar dan ada sedikit watak liar dalam diri Annisa, sehingga Annisa tidak terlalu memperhatikan hal-hal seperti ini. Arjuna merasakan memek ibu tirinya yang cantik itu dan memutuskan bahwa memek Fauziah, selain indah juga memiliki rasa yang paling nikmat kalau dibandingkan memek ibu kandungnya maupun kakaknya sendiri. Arjuna berfikir dalam hati bahwa menjilati memek Fauziah setiap hari, adalah salah satu hobby barunya yang akan ia lakukan seterusnya. “Jun…… cukup………” Kata Fauziah. Perempuan itu kini merasakan tubuhnya seakan disetrumi listrik yang nikmat, lidah Arjuna menggelitik memeknya dengan lahap yang membuat vaginanya itu kini sudah basah kuyup tersiram cairan vaginanya sendiri dan juga karena air liur dari mulut Arjuna. Arjuna memang pintar menggarap daerah sensitif wanita, namun, Fauziah ingin lebih. Katanya lagi, “Masukkin, Jun……………” “Masukkin apa, Ma?” “Masukkin burung kamu…” “Kontol Jun mau dimasukkin ke mana, Ma?” Fauziah adalah perempuan pintar. Buktinya bisnisnya selalu berkembang menjadi lebih besar. Kini, Fauziah tahu bahwa Arjuna adalah lelaki yang suka berbicara jorok bila sedang bersenggama. Sungguh beda dengan Waluyo yang dingin itu. Maka kata Fauziah, “Masukkin kontolmu ke dalam memek Mama, Jun……. Mama udah ga sabar kamu entot…..” Arjuna nyengir bahagia. Ia segera menaruh kontolnya di lubang memek ibu tirinya itu. Fauziah yang tak sabar setengah bangung untuk meraih pantat anaknya itu lalu dengan kuat menarik pantat Arjuna, Arjuna merasakan tarikan itu ikut menambah dengan mendorong pantatnya ke depan. Dalam satu gerakan panjang, kontol Arjuna ambles masuk ke dalam kemaluan ibu tirinya itu. Memek Fauziah sangat kencang. Walaupun tidak sekencang memek Annisa ketika pertama kali Arjuna setubuhi, namun memek itu lebih kencang dari memek ibu kandungnya. Arjuna mengerang keras merasakan kini kontolnya diselubungi oleh dinding lubang memek ibu tirinya yang rapat itu. Fauziah pun melenguh nikmat. “Aaahhhhh……… kontol kamu besar banget, Jun……………..” “Oooohhhhhhhhhhh…… memek Mama Fauziah rapat banget…….. nikmat.” “entotin Mama, Jun….. entotin Mama……..” Arjuna sedikit mendoyongkan badan ke arah tubuh ibu tirinya yang sedang berbaring itu dan menaruh kedua tangannya di samping perempuan itu. Arjuna masih ingin menikmati pemandangan perempuan Arab yang seksi yang sedang telanjang dan bersetubuh dengannya, lalu Arjuna mengocok memek Fauziah dengan kontolnya. Fauziah mulai memutar pantatnya dan menggerakkan otot memeknya membuka menutup seakan meremas-remas kontol Arjuna sambil terus mendekap pantat remaja itu. Arjuna merasa nikmat sekali mengentot ibu tirinya itu. Matanya menatap kedua toket Fauziah yang basah oleh keringat yang terguncang-guncang mengikuti gerakan persenggamaan mereka berdua. Maka Arjuna merubah posisi sehingga menggenggam kedua payudara ibu tirinya sambil terus mengocoki kemaluan Fauziah. Sambil meremas kedua tetek Fauziah yang besar, Arjuna terus menghujami liang senggama ibu tirinya dengan tusukan-tusukan kontolnya. Fauziah sudah berada di surga ke tujuh. Sudah lama tidak ada lelaki yang menafkahinya secara batin. Kini memeknya sedang diaduk-aduk Arjuna dan kedua teteknya diremasi oleh anak tirinya itu. Sungguh Fauziah merasa bahagia sekali. Kedua selangkangan mereka beradu berkali-kali sehingga menyebabkan terdengar suara tepukan selangkangan berkali-kali. Memek Fauziah yang basah kuyup terus mengeluarkan cairan pelumas. Fauziah dan Arjuna sedang menarikan tarian primitif mahluk hidup. Tarian pembuahan manusia. Tarian perkembang-biakan. Arjuna kini setengah menindih ibu tirinya dan mulai menjilat dan menyedot payudara kanan ibu tirinya. Rasanya sedikit asin namun tidak dipikirkan lagi oleh Arjuna. Bau tubuh ibu tirinya kini seakan memenuhi benak Arjuna, membuat ia lupa akan segalanya. Yang menjadi satu-satunya hal di pikirannya adalah persenggamaan ini. Apalagi Fauziah adalah perempuan yang paling cantik di keluarga mereka. Paling seksi. Perut perempuan ini rata, tubuhnya yang besar tidak menunjukkan lemak yang berlebih, walau tidak berotot seperti model-model internasional. Namun, lekuk tubuh Fauziah dapat dibilang bagaikan perempuan di usia dua puluh tahunan saja. Hal ini adalah salah satu alasan kenapa Arjuna begitu ngebet ingin menggarapnya pula. Fauziah merasakan lidah dan mulut Arjuna mulai menggagahi toketnya juga. Sementara tetek yang satu lagi tetap diremas-remas Arjuna. Remasan itu kini makin kuat saja terasa. Apalagi kontol Arjuna mulai bertambah cepat dan benturan selangkangan mereka makin lama makin menguat. Fauziah meremas-remas rambut Arjuna sambil mendesah dan mengerang kenikmatan, “yeaaah……. Isep tetek Mama, Jun………….. isepin sambil setubuhi Mama……… entotin Mama terus, Jun…. Mama mau nyampe nih…………. Kocokin memek Mama pake kontolmu yang besar itu, Jun… setubuhi Mama……… setubuhi teruuuuus…………” Sambil menyedoti payudara ibu tirinya, sesekali Arjuna menimpali, “Tubuh Mama Fauziah enak…. Mmmmmmmm…… tetek Mama nikmat disedotin dan dijilatin…… mmmmmmmmmmmmmm……. Memek Mama rapet dan maknyuuuuuuuus…………..” Fauziah sudah sebentar lagi akan orgasme, maka dengan brutal kini ia menarik pantat Arjuna kuat-kuat setiap kali Arjuna menyodok memeknya. “entot yang keras, Juuuun…………. Mama mau sampaiiiiiiiiiii……. Yang keras tekannya……… teruuus……….. jangan berhentiiii……. Entotin Mama keras-keras….. yaaaa…. Begitu, Juuuuun…. Mama mau sampeeeeee……. Dorong kontolmu kuat-kuaaaaaaaaaaaaaaaaat……………” Kini Arjuna menindih ibu tirinya, sementara mulutnya sudah berhenti menjilat dan menyedot. Mulutnya kini hanya mengenyot puting merah muda Fauziah keras-keras. Dalam keharmonisan gerakan ngentot, mereka berdua akhirnya mencapai puncak kenikmatan. “Arjuna sembuuuuuuuuuur memek Mamaaaaaaaaaaaaaaa….. terima peju Arjuna, Maaaa… Arjuna mau hamilin Mamaaaaaaaaaaa…………….” “penuhi rahim Mama dengan peju kamu, Juuuuuuuuuuuuun……….. Mama sampeeeeeeeeee………….” Akhirnya Arjuna lemas dan tiduran masih menindih Fauziah. Keduanya lemas setelah persenggamaan itu. Semenjak saat itu, Fauziah menjadi salah satu isteri Arjuna. Tiga bulan kemudian ia hamil. Tidak ada pertentangan di keluarga, karena Fauziah adalah pencari nafkah bagi keluarga. Selain itu, Dewi dan Annisa juga sayang pada Fauziah sehingga rela berbagi dengan perempuan itu. EPILOGUE Pada bagian pendahuluan, aku telah mengatakan bahwa tidak ada orang yang tahu. Tetapi tentunya jadi pertanyaan, kenapa aku tahu? Aku adalah anak dari Arjuna dengan Annisa. Namaku Febri. Ayahku, Arjuna telah meninggal ketika aku berusia dua belas tahun. Itu terjadi lima tahun yang lalu. Kini, aku berusia tujuh belas tahun. Ayahku meninggal ketika dalam perjalanan ke Jakarta bersama Mama Fauziah. Sementara, kakekku Waluyo telah pindah dengan kekasihnya. Aku tinggal bersama Bunda Dewi baik Mama Fauziah dan Bunda Dewi tidak mau dipanggil nenek atau Oma, yang kini berusia 46 tahun, ibuku Annisa, 34 tahun, Kakakku, Ayu dari Mama Dewi yang berusia delapan belas tahun dan adikku, Ulfa, berusia 16 tahun. Ketiga isteri Ayahku tidak memiliki anak lagi, karena mereka KB dan takut kebanyakan anak. Kembali ke pokok pembicaraan, aku tahu sejarah Ayahku karena aku memiliki pengalaman incest juga seperti ayahku itu. Namun itu adalah cerita yang lain. PUNCAK KENIKMATAN Selama sebulan setelah pertama kalinya Arjuna merasakan bersetubuh dengan ibunya, selama itu pula, setiap hari mereka melakukan anal seks dan juga menggesekkan kelamin. Suatu hari, Ayahnya tidak ke sawah. Rupanya ia mau membantu temannya pindahan hari itu. Maka pagi itu Arjuna tidak dapat melakukan aksinya seperti biasa. Ibunya bersikap biasa-biasa saja, malah cenderung sedikit lebih diam. Arjuna hari itu sekolah. Sayangnya teman-temannya mengajak main bola. Arjuna yang sudah tak sabar akhirnya pulang duluan sebelum jam tiga dengan alasan ga enak badan. Ketika ia pulang ibunya sedang menimba air memakai pipa dragon. Ayahnya tidak terlihat. “Loh….. Ibu, ayah kemana? Belum selesai bantuin temannya?” “Belum, Jun.” “sampai sekarang belum pulang juga? “bapak pergi rumah temannya hari ini. Siang ini mungkin sudah pulang.” Kebetulan, pikir Arjuna. Jadi lebih bebas. “Perlu dibantu?” tanya Arjuna. “Sudah kelar kok. Ini ibu mau mandi. Belum sempat mandi dari pagi, abis tadi pagi ngantar bapak kamu. Siangnya kerjaan dirumah sudah numpuk. Kamu juga biasanya pulang siang dan bantu ibu. Sekarang malah pulang sore.” “Wah… maaf deh bu. Janji ga akan lagi. Arjuna akan pulang terus untuk ngebantuin ibu.” “sekarang bantu ibu isi bak mandi.” “Jangan dulu donk, bu.” “tuh kan… katanya mau bantu……” “pasti dibantu. Cuma, Arjuna kan belum cium ibu.” “Ih…. Ibu belum mandi……. Udah bau nih…… dari pagi kerja di rumah….” “Biar belum mandi, Arjuna tetap sayang ibu. Cuma, ibu kayaknya ga sayang Arjuna, deh.” “Loh, kok ngomong gitu?” “Kan kemarin Arjuna minta ibu jangan pake baju kalau kita berdua aja. Ibu sekarang pakai kain. Ibu ga sayang.” Dewi hanya menggeleng sambil tersenyum. Dasar anaknya memang bandel. “Ada yang mau ibu sampaikan kepada kamu terlebih dahulu.” “Apa itu, bu?” Dewi mengajak anaknya ke kamar tidur lalu mereka duduk di tempat tidur. “Ibu mau cerita tentang sejarah keluarga kita…” Maka, ibunya mulai menceritakan sejarah keluarga mereka kepada Arjuna. Empat belas tahun yang lalu, ketika Dewi berumur 14 tahun, ia menikah dengan Waluyo. Kala itu, ayah dan ibu Dewi kenal dengan Waluyo yang baru pulang dari Kalimantan. Waluyo baru sembuh. Ternyata, Waluyo baru cerai dengan isteri pertamanya karena ada masalah keluarga. Keluarga Fauziah, isteri pertama Waluyo adalah keluarga kaya. Dengan 3 orang anak. Syafei, putera tertua, Fauziah puteri kedua dan Aisyah puteri terakhir. Ketika itu, ayah mereka sakit-sakitan dan menurut dokter tidak akan lama lagi bertahan hidup. Maka, terjadilah perang keluarga antara Syafei dan Waluyo memperebutkan harta keluarga. Akhirnya, Syafei tewas dalam suatu perkelahian massal antara keduanya. Waluyo terluka parah. Akhirnya ibunya Fauziah memaksa anaknya pulang dan menceraikan mereka berdua. Waluyo membeli lahan pertanian di kampungnya dan membangun keluarga baru dengan Dewi. Setelah melahirkan Arjuna, Waluyo tidak pernah menyentuh Dewi lagi secara seksual. Lama-kelamaan, Dewi bingung dan menanyakan ini pada Waluyo. Akhirnya Waluyo mengaku bahwa, sebenarnya ia menyukai lelaki. Ternyata Waluyo itu homo. Sebenarnya Waluyo suka lelaki dari saat ia remaja, namun karena lingkungan tradisional melarang dan mencaci homo, maka Waluyo berusaha membangun keluarga. Ia berhasil berhubungan seks dengan cara membayangkan lelaki. Baru di kampungnya ini, Waluyo menemukan kekasihnya. Seorang lelaki bernama Joko yang bujangan walaupun umurnya sudah empat puluh. Joko ini bekerja sebagai buruh tani yang ikut menggarap tanahnya Waluyo. Inilah mengapa Waluyo sering pulang malam, atau bahkan tidak pulang. Berhubung mereka tinggal di bukit yang masih banyak pohon bak hutan, dan rumah tetangga berjauhan, aktivitas Waluyo tidak diketahui warga. Akhirnya Arjuna mengerti. Lalu ibunya berkata, “Kamu kan ingat, akhir-akhir ini kita sering berhubungan seks?” “Iya, bu.” “Sekarang ayah kamu tahu.” Arjuna kaget. Ia sangat ketakutan. “Ibu hamil. Baru kemarin ibu tahu, tadi pagi ibu terpaksa bilang sama ayah kamu.” “Waduh… gimana, dong?” tanya Arjuna takut tapi di lain pihak ia bangga juga bisa menghamili ibunya. “tenang, Jun. Bapakmu sudah merestui kita. Bapakmu itu cemburunya besar. Dia tidak suka ibu hubungan sama laki-laki lain. Makanya ibu ga pernah selingkuh. Pernah ada laki-laki yang genit sama ibu, dan lalu ditempiling Bapakmu sampai pingsan. Tapi, kamu adalah anak laki-laki satu-satunya yang disayangnya. Maka, ia merestui kita. Apalagi, Bapak kamu emang udah lama mau punya anak lagi.” Arjuna menjadi lega. “Nah, kemarin Mas Joko pacar bapakmu itu terlibat hutang judi sehingga sekarang rumahnya dijual. Oleh karenanya, Bapak bilang karena ibu sudah punya kekasih di rumah, Bapak pun harus punya. Mulai hari ini, Bapakmu akan tidur sama mas Joko di rumah ini.” Oh, rupanya begitu, pikir Arjuna. Berhubung sekarang ibu punya rahasia tabu, maka ayahnya berpikir untuk membawa pacarnya ke rumah. Arjuna menjadi semangat. Akhirnya mereka berhubungan lagi di kamar ibunya. Hari itu berhubung ayahnya tidak ada, mereka berdua bagai sepasang pengantin yang melakukan hubungan di segala tempat. Banyak sekali yang dibicarakan mereka, sehingga mereka lupa melakukan hubungan seks pagi itu. Akhirnya Arjuna buru-buru mandi untuk pergi ke sekolah. Ia hanya sempat nenen sebentar, lalu berangkat ke sekolah. Walaupun belum ngentot ibunya hari itu, Arjuna merasa di awang-awang. Akhirnya hubungan mereka dapat dilakukan dengan terbuka dihadapan ayahnya. Siangnya, Mas Joko resmi tinggal di rumah mereka. Orangnya agak lenjeh seperti bencong, dan tampaknya ini disukai ayah Arjuna. Malam itu mereka makan di dipan seperti biasa, ditambah dengan satu orang, yaitu mas Joko. Setelah makan dan dipan sudah dibereskan, Waluyo merangkul Joko dengan mesra lalu mulai menciumi pipi lelaki itu. Arjuna dan ibunya jengah. Melihat itu Waluyo berkata, “Ga usah malu. Ini adalah jati diriku. Kalian juga tidak usah malu-malu. Sekarang, aku ini suami isteri dengan Joko. Kamu, Dewi, sekarang adalah isterinya anakku. Kamu, Arjuna, adalah suami ibumu. Dengan begini semuanya senang, kan?” lalu Waluyo tertawa bahagia dan mulai mencumbu Mas Joko lagi. Arjuna yang selalu horny, segera merangkul ibunya dan mencium bibirnya. Dewi yang kaget, dengan cepat membalasnya. Dua pasangan itu bercumbu di dipan. “Bu. Di sini rame. Arjuna mau ngemprut ibu.” Waluyo menghentikan aksinya lalu berpaling pada Arjuna. “Hati-hati ya, jangan terlalu keras, ada cucuku di perut isteriku. Kamu sebagai anak harus menghormati ibu kamu walaupun kamu sedang ngentotin ibumu.” “Iya, Pak. Arjuna kan cinta mati sama ibu.” Waluyo tertawa lagi. “Bagus. Sana setubuhin ibumu. Bapak juga ga sabar mau ke kamar.” Dengan berbunga-bunga Arjuna menarik ibunya ke kamar. Selama ini Dewi takut kalau hamil akan membuat suaminya marah. Tapi ternyata tidak, malah Waluyo senang. Maka Dewi menjadi sumringah memikirkan akhirnya dapat ngentot dengan anaknya yang ganteng. Ketika mereka sampai di kamar, Arjuna yang sudah menahan-nahan sepanjang hari di sekolah, segera membuka baju dengan cepat dan membuangnya di lantai. Dewi tersenyum melihat tindakan anaknya itu. Ia lalu membuka kainnya juga. Ketika ia sedang membuka bh-nya, Arjuna yang sudah telanjang dengan cepat menarik celana dalamnya lalu melempar celana dalam itu asal-asalan di lantai. Mereka berdiri berhadapan dengan telanjang bulat. Arjuna memegang kedua tangan ibunya. “Mulai hari ini, Ibu adalah isteri Arjuna,” kata remaja itu, “kita adalah suami isteri. Ibu sudah mengandung anak hasil hubungan kita. Arjuna janji akan selalu mencintai ibu sampai selama-lamanya.” Dewi terdiam. Hatinya berbunga-bunga. Ia tersenyum malu-malu bagaikan pengantin di malam pertama. “Ibu selalu mencintai kamu, Arjuna anakku. Ibu akan jadi isteri yang menurut, yang mengasihi kamu, merawat kamu dan memberikan apapun yang kamu minta. Sebaiknya kamu memanggil Ibu dengan nama depan, karena sekarang kita sudah jadi suami isteri.” “Dewi, kekasihku. Sepertinya enak didengar. Tapi Arjuna merasa bahwa kalau manggil Ibu juga menambah perasaan nikmat. Apalagi waktu kita senggama. Arjuna merasa bahwa apa yang kita lakukan bertambah asyik kalo Arjuna tetep memanggil Dewi sebagai Ibu. Dan Dewi juga harus terus memanggil anak waktu kita bercinta. Jangan panggil nama Jun. panggil anakku. Bagaimana menurut kamu, Dewi?” “Aku sih terserah suami saja.” Arjuna lalu menerkam ibunya lalu menyosor bibir ibunya dengan rakus. Mereka berciuman sambil berdiri dengan saling berpelukan. Suara kecipak bibir beradu mengumandang. Agak lama, Arjuna yang harus dongak merasa lehernya pegal. Maka beringsut, ia maju perlahan mendekati tempat tidur. Dewi mengikuti gerakan anaknya yang mendorongnya ke tempat tidur. Mereka berciuman sampai keduanya bertindihan di kasur. Tangan Dewi meremas-remas rambut anaknya. Sementara kedua tangan Arjuna kini memegang dagu ibunya dari samping. Ciuman mereka basah karena lidah mereka saling menari-nari berkejaran dan berbenturan. Arjuna menikmati cumbuan itu. Lalu ia mulai menjilati seluruh wajah ibunya. Ibunya hanya mendesah ketika lidah Arjuna yang basah menyapu sekujur wajahnya dari jidat sampai dagu. Lidah Arjuna kini menyapu leher ibunya. Dewi menggelinjang karena perasaan geli bercampur nikmat, apalagi jilatan lidah anaknya itu terkadang disertai cupangan-cupangan yang membuat lututnya lemas. Kedua tangannya tetap meremas rambut anaknya. Lidah Arjuna kini menyusuri dadanya. Arjuna menjilat belahan dada ibunya yang seperti lembah kecil sambil sesekali mencupang daerah itu juga. Kemudian dengan rakus Arjuna melahap tetek kanan ibunya sambil tangan kanannya meremas payudara ibunya yang sebelah kiri. Dewi mulai menanjak birahinya ketika dirasakannya lidah anaknya memutar-mutar di puting payudaranya dan diselingi dengan hisapan mulut. Terkadang mulut Arjuna menyedot pinggir payudara Dewi, bagian bawah payudara Dewi, bagian atasnya, pokoknya setiap jengkal dada kanannya dijelajahi oleh lidah dan mulut anaknya sehingga kini di sana-sini terlihat bekas cupangan. Nasib yang sama juga dialami oleh payudara kirinya. Arjuna menyerang tetek kirinya dengan buas dan terkadang terlihat seakan Arjuna sedang makan buah atau makanan nikmat karena mata anak itu merem melek. Akhirnya lidah Arjuna bergerak turun sepanjang perut ibunya sampai akhirnya berhenti di pusar ibunya. Di situ Arjuna menyedoti pusar ibunya dengan seru. Kemudian perlahan lidah Arjuna mulai menjilati bagian bawah perut ibunya sampai akhirnya tiba di semak belukar milik ibunya. Kini Arjuna mulai menjilati seluruh jembut ibunya bagaikan anjing yang sedang minum. “Memek ibu, anakku…… jilatin memek ibu donk…….” Arjuna lalu berlutut di bawah kaki ibunya, lalu membuka bibir luar vagina ibunya sehingga merekah. Dinding memek ibunya terlihat sedikit mengkilat karena basah oleh cairan organ intim ibunya sendiri. Bau tubuh ibunya tercium jelas dari lubang pernakan itu. Arjuna menjilati memek ibunya. “Oooh…… anakku…… cah bagus……….. begitu…… iya…… jilatin terus memek ibu kamu……… memek ini pernah kamu lewatin waktu kamu lahir. Dari memek ibu kamu lahir, sekarang kamu berkunjung lagi dan membersihkan memek ini….. Ooooooh……. Iya…… yang keras……..” Arjuna mulai merogoh lubang kencing ibunya dengan lidahnya. Ada campuran bau pesing dan bau tubuh ibunya di daerah itu. Arjuna memainkan klitoris ibunya dengan telunjuk kanannya sementara lidahnya mengoyok-oyok dinding dalam memek ibunya dengan bersemangat. Tak lama mereka berdua keringatan. Memek ibunya telah basah kuyup karena campuran keringat dan cairan kewanitaan. Arjuna suka sekali memek ibunya, bagaimana baunya dan rasanya di lidah menyatu menjadi suatu bau yang sangat erotis. Dewi mendekap kepala anaknya lalu mendorong kepala itu sehingga kini seluruh mulut Arjuna mampir di vaginanya. Arjuna menjilati dinding memek ibunya dengan membuat gerakan memutar. “kocok memek ibu dengan lidah kamu, anakku…….. jilat terus, anakku, isep-isep terus memek ibu, anakku…… anak pinter………… nikmaaaaat…..” Akhirnya Dewi sudah tidak tahan. Ia pun sepanjang hari memikirkan momen ini. Momen dimana puncak kenikmatan sejati akan mereka berdua raih. Hubungan kelamin adalah puncak hubungan dua orang manusia. Dan mereka sedang berusaha menggapai puncak itu. Maka Dewi berkata, “Udah dulu, anakku…. Sekarang masukkan kontol kamu ke memek ibu kamu…… gagahi ibu……. Setubuhi ibu kamu……… ayo, sayang………. Anakku…… kembali ke rahim ibu kamu……. Ayo bersatu dengan ibu……. Kita jadi satu tanpa ada yang memisahkan kita………” Mendengar ibunya berbicara seperti itu, birahi Arjuna meledak. Ia segera bangkit lalu menuntun rudalnya ke hadapan liang senggama ibunya. Ibunya meraih ujung kontolnya lalu menempatkan kepala kontolnya tepat di ujung lubang kencing ibunya itu. “Dorong, nak……… masukkan kontolmu ke dalam memek ibu kamu……… inilah waktu yang kamu tunggu-tunggu…… mari bersenggama dengan ibu………. Entotin ibu, nak……. Entotin ibumu ini, nak…… gagahi ibu, nak………. Jajah rahim ibu dengan pasukan spermamu, nak….” Arjuna dengan tenaga penuh mendorong pantatnya ke depan. Serta merta kontolnya ambles ke dalam liang senggama ibunya yang licin dan sempit itu. “enaknya!!!!!!!” teriak Arjuna. Mulailah ibu dan anak itu berpacu dalam kenikmatan tabu. Arjuna menggenjot tubuh ibunya dengan semangat berkobar-kobar, pantatnya maju mundur untuk menggerakkan burungnya keluar masuk sarang walet ibunya. Sementara, Dewi asyik mengimbangi dengan pantat yang diputar sambil didorong dan ditarik, gerakan spiral yang membuat rudal anaknya seakan mengebor dinding liang senggamanya. Kedua tangan mereka berpelukan erat, sementara kaki Dewi melingkari tubuh bawah anaknya dengan kedua lutut menjepit kedua paha atas anaknya itu untuk membantu ketika ia mendorong pantatnya sambil menarik tubuh anaknya dengan kedua kakinya itu sehingga waktu selangkangan mereka beradu terdengarlah bunyi benturan khas orang lagi ngentot. Di lain pihak, Arjuna kini asyik menyusui payudara kiri ibunya. Disedotinya pentil ibunya yang telah tegak berdiri sambil terkadang lidahnya disapu secara memutar di puting ibunya itu. Dewi yang sekarang sudah terbebas dari perasaan takut akan suaminya, kini secara lepas mengerang, merintih bahkan bersuara keras menikmati hujaman demi hujaman kontol anaknya yang menggagahi memeknya berulang-ulang. “Anak baik…….. entoti ibu, nak……. Entoti yang keras……….. pakailah ibu sesukamu, nak…… gagahi ibu terus……. Tusukkan kontolmu keras-keras di memek ibu……… aaaaahhhhhh……….. terus, nak…… terus, sayaaaaang…….. jangan berhenti…….” Ruangan kini dipenuhi suara erangan dan seruan kenikmatan Dewi ditambah dengan suara selangkangan yang beradu. Memek Dewi memancarkan bau tubuh perempuan dewasa yang sedang birahi selain itu aroma ketiaknya juga memperjelas bau tubuhnya itu, apalagi setelah beberapa menit ia berkeringat deras. Arjuna pun kini mandi keringat. Bau tubuhnya dan bau tubuh ibunya membaur dan menguasai ruang tidur mereka. Kamar ini penuh dengan aroma seks. Arjuna dapat merasakan tubuhnya mengeluarkan peluh, sementara tubuh ibunya juga sudah licin karena basah oleh keringat juga. Keringat mereka kini bercampur saling menempel di kulit masing-masing. Tubuh ibunya memang dibuat untuk dientot Arjuna, pikir anak remaja itu. Tubuh ibunya terasa halus dan empuk dan hangat, sementara memek ibunya serasa sangat pas bagi kontolnya. Seakan-akan kontolnya telah memasuki suatu cetakan yang tepat sekali ukurannya. Arjuna merasa melayang di langit ketujuh. Ia sungguh menikmati persetubuhannya dengan ibunya. Bau tubuh ibunya selalu memabukkan dirinya, kini memek ibunya juga menjadi sesuatu yang seperti candu baginya. Ia merasa tidak akan pernah bosan ngentotin ibunya. Mulut Arjuna kini menjelajah setiap jengkal payudara ibunya. Segala hal yang dapat dilakukan mulutnya untuk merasakan kulit payudara ibunya telah dilakukannya. Menjilat, menyedot, mengecap, mencupang bahkan menggigit perlahan dilakukannya terhadap payudara ibunya itu. Setelah payudara kiri ibunya itu telah habis dijelajahinya, meninggalkan bekas cupang di sana sini dan air liur yang bercampur dengan keringat mereka, Arjuna lanjut mengeksplorasi payudara ibunya yang satu lagi. Dewi merasa bahagia sekali. Ia akhirnya dapat berhubungan badan dengan anaknya tanpa takut apa-apa lagi. Ijin dari sang suami menambahkan perasaan euphoria bagi Dewi. Kini ia tidak menahan-nahan nafsunya lagi melainkan melepaskan segala birahinya dengan anaknya. Telah belasan tahun Dewi hidup tanpa dijamah lelaki, kini adalah saatnya untuk menggantikan semua waktu yang lewat di mana tak ada belaian pria baginya. Kini, anak laki-lakinya sendiri, darah dagingnya, menjadi pemuas birahi baginya. Kini, Dewi dan anaknya menjadi satu. Tidak ada penghalang satupun di antara mereka. Kedua organ intim mereka menjadi satu, mengirimkan sinyal-sinyal kenikmatan ke seluruh tubuh, mematikan segala logika di otak dan meniadakan suara hati. Nafsu primordial kini menguasai akal budi mereka. Gerakan keduanya menjadi suatu tarian harmonis dua insan berlainan jenis. Mereka saling mendorong dan menarikkan pantat pada saat yang bersamaan. Mereka sedang menarikan tarian yang paling tua di sejarah manusia. Tarian reproduksi. Lama-kelamaan gerakan mereka berdua semakin cepat dan keras. Keduanya berpacu mencapai garis finish, yaitu saat yang paling ditunggu-tunggu semua orang yang sedang berhubungan seksual. Suatu keadaan di mana waktu seakan berhenti, di mana panca indera bagaikan mati, di mana dunia tidak lagi menjadi persoalan. Yang ada hanya aku dan pasanganku yang sedang menggapai puncak kenikmatan. Arjuna mengentoti ibunya terus. Selama sekitar lima belas menit ia menghujami kemaluan ibunya dengan kemaluannya sendiri. Liang vagina ibunya begitu hangat dan basah sehingga batang kontolnya meluncur dengan mudah di tempat yang sempit itu. Walaupun dinding dalam memek ibunya menghimpit dan menjepit kontolnya dengan kuat, namun justru ketika batang kontolnya bergesek sepanjang dinding kemaluan ibunya itu yang menciptakan suatu sensasi yang paling nikmat yang pernah ia rasakan. Tidak ada satupun hal di dunia yang lebih enak dari ngewe, pikir Arjuna. Apalagi aku sedang menggauli ibu sendiri. Sungguh hubungan sedarah memang paling top. Tiba-tiba Dewi memeluk anaknya erat-erat pada kedua tangan dan kakinya sambil berkata, “Ibu sampeeeeeeeee…………………………….. Juuuuuuuuuuuuuuuun……..” Dinding vagina ibunya berkedut-kedut seakan mulut yang membuka menutup. Arjuna yang juga mendekati klimaks sebelum ibunya orgasme, menjadi tak tahan lagi. Sensasi memek ibunya yang membuka menutup itu mengirimkan sinyal yang kuat pada tubuhnya. Akhirnya tak berapa lama setelah ibunya mulai orgasme, Arjuna pun mencapai puncak kenikmatan itu. Kontolnya melepaskan air mani ke dalam rahim ibunya yang sudah terisi janin. Janin yang didapat dari Arjuna sendiri. Arjuna menekan dalam-dalam kontolnya pada memek ibunya yang sedang kontraksi, sehingga selangkangan mereka menempel keras. Dewi yang sedang orgasme merasakan kontol anaknya menekan keras, gerakan hujaman itu, ditambah dengan dorongan pantat Dewi sendiri membuat sedikit ujung kontol anaknya melewati liang senggamanya. Hampir setengah senti kontol anaknya menembus liang senggamanya dan mencapai ke dalam rahimnya. Kemudian Dewi merasakan kontol anaknya itu menumpahkan spermanya langsung ke dalam rahimnya. “Kamu di rahim ibuuuuuuuuuuuuuuuu………. Kamu masuk ke rahim ibu lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…” Arjuna dapat merasakan sedikit ujung kontolnya melewati lingkar lubang kencing ibunya. Rupanya kontolnya telah masuk begitu jauhnya dan sampai di rahim ibunya. Saat itu ia dapat merasakan tubuh ibunya, terutama pinggul ke bawah bergetar seakan menggigil, lubang vagina ibunya mencengkram batang kontolnya dengan kuat sekali, saat itulah ia melepaskan pejunya di dalam rahim ibunya. “lobang memek ibu pepet bangeeeeeeeeeeet…….. Arjuna ngecrooooooot……………. Arjuna ngecrotin ibuuuuuuuuuuuu……….. terima mani Arjuna, buuuuuuuuuuuuu………………….” Setelah berkedut-kedut sampai tujuh kali, Arjuna merasakan tubuhnya begitu letih lalu merebahkan dirinya dengan tetap menindih ibunya. Dewi kali ini merasakan orgasme yang paling hebat yang pernah ia rasakan. Pengalaman ini begitu melelahkan sehingga ia pun menjadi lemas dan lalu telentang pasrah. Keduanya tertidur dengan bibir yang tersenyum karena baru saja mengalami kenikmatan yang tiada bandingnya. Kehidupan keluarga Waluyo kini berbeda. Mereka semua menjadi keluarga yang bahagia luar dalam. Walaupun mereka tidak kaya, namun dalam soal batin, mereka sudah mencapai kepuasan. Namun, yang namanya dunia memang tidak dapat diperkirakan. Arjuna awalnya bahagia karena setiap hari dapat menggarap ibunya. Tetapi, setelah tiga bulan ibunya mulai uring-uringan dan kadang marah-marah untuk hal-hal yang ga begitu jelas. Kata Waluyo, itu bawaan orok. Alhasil, tidak setiap hari Arjuna dapat menyetubuhi ibunya. Ketika bulan kelima, maka perut ibunya telah besar, jatah preman Arjuna menjadi berkurang lagi. Ibunya berusaha menjaga kandungannya, alasan ibunya. Jadi, Arjuna hanya dapat jatah paling banyak empat kali dalam seminggu, itu juga kadang-kadang. Lebih banyak ibunya mengasih jatah dua kali dalam seminggu. Waktu bulan ke lima itulah, ada perubahan dalam keluarga Waluyo. Fauziah, mantan isteri Waluyo dan anak pertama Waluyo dari Fauziah, yaitu Annisa, datang ke rumah mereka. Maka, kisah ini mulai berkembang……

cerita sex anak petani