cerita sex di rumah sakit
Danaku tidak bisa menolak karena memang Bu Har sendiri telah memintaku untuk menemaninya.Hari-hari pertama mendampingi Bu Har merawat suaminya di RS aku dibuat sibuk. Harus mondar-mandir menebus obat atau membeli berbagai keperluan lain yang dibutuhkan. bahkan kulihat wanita itu tak sempat mandi dan sangat kelelahan.
RonnieFauzan. Rumah Sakit National Hospital di Surabaya menjadi sorotan lantaran oknum perawatnya diduga melakukan pelecehan seksual terhadap salah satu pasien. Manajemen Rumah Sakit National
Bagikepada temanCerita Mesum Perawat Rumah Sakit Cerita Sex Terbaru, Cerita Dewasa, Cerita Mesum - Setelah sebelumnya ada , kini ada cerita ML terbaru Cerita Mesum Perawat Rumah Sakit. selamat membaca. Ngentot Dengan Perawat Rumah Sakit - Pada waktu aku dirawat di rumah sakit, ada seorang perawat dengan tubuhnya yang sungguh sangat mengoda.
Memekbebek menceritakan pasangan suami istri yang melakukan hubungan sex dirumah sakit. mereka melakukan hubungan sex diruangan VIP tempat anaknya dirawat dirumah sakit itu. Nekat sekali yah pasnagan ini, wkwkwk.. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.
Awalkejadiannya di saat ibuku sakit kira-kira satu tahun yang lalu. Ibuku harus masuk rumah sakit karena kanker rahim yang dideritanya sejak melahirkan adikku. Sudah 2 bulan, ibuku di rumah sakit, karena kami hanya bertiga maka untuk menjaga ibu kami bergantian. Cerita Dewasa Sebuah Peristiwa Dalam Keluarga Ayah, aku dan adikku.
mình đã không yêu xin đừng tìm nhau. Cerita Sex Dewasa – Aku akan menggoreskan sedikit cerita skandal sex-ku yang seru ini. Bermula ketika aku disuruh keluargaku menunggu tanteku yang dirawat di rumah sakit. Tante adik kandung dari ibuku saat itu mengalami kecelakaan lalulintas dan harus dirawat dirumah sakit. Kondisinya cukup parah karena dia mengalami patah tulang pada tanganya dan harus digibs. Saat itu sebagai anak yang berbakti, aku-pun menuruti perintah orangtuaku karena kebetulan suami tanteku itu sedang dinas diluar kota dan anak semata wayangnya kuliah di luar kota juga. Sungguh membosankan sekali harus menunggu orang yang sakit dirumah sakit. Namun ada enaknya juga sih, hal aku maksudkan ada enaknya itu banyak sekali. Cerita Sex Dewasa Ngentot Diam-Diam Dengan Tanteku di Rumah Sakit Misalnya ketika tante mau buang air kecil aku pasti disuruh mengantar ke kamar mandi, karena tangan tante kanan tante sakit, dia tanpa merasa sungkan meminta tolong aku untuk membukakan celana dalamnya, So denagan jelasnya aku bisa melihat kewanitaanya yang ditumbuhi bulu lebat pada kewanitaanya, siapa yang nggak Horny melihat benda seperi itu. Intinya setiap dia mau ganti baju, buang air kecil ataupun buang air besar dia selalu meminta aku menunggunya didalam kamar mandi. Walaupun itu tanteku sendiri jika selalu dihadapkan pada hal yang porno seperti itu pasti aku akan horny. Singkat cerita sampai suatu malam tanteku memanggil aku, “ Arga kesini dong tolongin tante, , ” ucapnya memanggilku ketika aku sedang asik menonton TV di sofa. Oh iya kamar yang dihuni tanteku saat itu adalah kamar VI, jadi kamar itu cuma untuk satu pasien dengan fasilitas yang cukup lengkap. Seperti kamar mandi dalam, AC, TV LED, Dan Sofa. Lajut kecerita, mendenga itu aku-pun segera mendekat kearah tanteku, Cerita Sex Dewasa Ngentot Diam-Diam Dengan Tanteku di Rumah Sakit “ Iya tante mau minta tolong apa???, , ” tanyaku. “ Tolong gosokin perut tante pakai minyak kayu putih dong Ga, perut tante kembung nih, ” ucapnya sembari menyibaka selimut lalu dasternya diangkat keatas hingga atas BHnya. Saat itu tante yang memakai daster, karena dasternya terangkat keatas secara otomatis BH dan CD-nya terlihat jelas sekali dimataku, perutnya ramping, payudara montok, dan kewanitaanya terlihat menyembul dari balik celana dalamnya. Aduh tante ini sengaja memancing nafsuku apa emang dia sakit perut beneran yah, ucapku dalam hati. Seketika itu kejantananku yang langsung tagang, lama-lama jika seperti ini terus bisa-bisa khilaf aku,huh. Sesaat aku terpana dengan pemandangan itu, ditengah lamunanku tiba-tiba tante berkata, “ Arga kog diem aja sih, ayo buruan ambil minyak kayu putihnya, perut tante kembung banget nih, ayo buruan ambil terus gosokin keperut tante!!!, , ” ucapnya memecah lamunan jorokku. Cerita Sex Dewasa Ngentot Diam-Diam Dengan Tanteku di Rumah Sakit “ Oh iya tante, jadi lupa aku tante,hhe… , ” ucapku sembari mengambil minyak kayu putih yang berada di lemari samping ranjang tante. Sesaat setelah aku memngambil minyak kayu putih, “ Ini yang digosok yang mana tante ?, ” tanyaku. “ Ih kamu tuh ya perut tantelah, masakiya memek tante yang digosok, nanti bisa-bisa memek tante kepanasan kena minyak angin, huh…” ucapnya tanparasa sungkan sedikitpun kepadaku. “ Wkwkwk… tante nih nyablak banget sih, masak sama keponakan sendiri ngomonnya jorok, hahha…, ” ucapku dengan tertawa. Wah parah banget tanteku ternyata, tidak aku sangka dia bisa berkata seperti itu, yah mungkin saja dia berkata sepeerti itu karena perutnya sudah terlanjur sakit,hha. Lalu, “ Buruan godok ih, lama-lama perut tante kalau kebuka gini bisa kembung, ” ucapnya sembari manyun. “ Iya tante, gitu aja marah sih, ” ucapku lalu menggosok perutnya dengan minyak kayu putih. Cerita Sex Dewasa Ngentot Diam-Diam Dengan Tanteku di Rumah Sakit Aku gosok perut tanteku dengan perlahan, benar-benar halus kulitnya para pembaca, aku gosok dengan hati-hati semabari menahan kejantanku yang sudah tegang maksimal dibalik celanaku, “ Wah enak banget gosokan kamu Ga, pasti kamu sering menggosok tubuh cewek kamu yah, ayo ngaku !!! ?, ” ucapnya menggodaku. “ Ah tante nih, ngelantur deh lam-lama ngomongnya, inikan cuma ngegosok biasa tante semua orang juga bisa ngelakuin ini, ” jawabku mengelak dengan pertanyaan tanteku yang mulai menjurus itu. “ Udahlah kamu ngaku aja deh, pasti kamu sering gosokin badan cewek kamu kan???, ” tanyanya mendesak aku agar mengaku. “ Tauk ah tante, ” jawabku singkat dengan expresi wajahku yang malu-malu kucing semabri terus menggosok perut tanteku. “ Yaudah-yaudah gitu aja manyun mulutnya, sekarang kamu pijitin kaki tante ya Ga, kaki tante pegel banget nih, ” ucapnya manja padaku. Cerita Sex Dewasa Ngentot Diam-Diam Dengan Tanteku di Rumah Sakit Saat itu aku hanya mengangguk dan mulai memijat kakinya. Ketika memijat kai tanteku sesekali mataku melirik kearah kewanitaanya yang menyembuk itu. Sembari memijat kejantananku berdenyut denyut tidak karuan, fikiranku semakin mesum saja saat itu. Karena aku ingat yang khayalkan ini adalah tanteku sendiri maka aku mencoba menghentikan khayalan jorokku dengan menghentikan pijatan dan berkata, “ Udah yah tante, Arga udah nggak kuat nih, capek banget, ” ucapku pada tanteku. “Hlohhh… Kog udah nggak kuat sih, kan paha tante belum dipijat, , ” ucapnya dengan genit. “ Ah, tante nih bercanda aja sukanya , nggak ah tante masak iya Arga mijit paha tante, kan nggak sopan, ” ucapku mencoba mengelak karena takut khilaf. “ Kamu ini yah banyak omong, udah cepetan pijit paha tante, kamukan keponakan tante jadi nggak papalah nggk usah sungkan, Ayo buruan pijat, pehgel banget nih paha tante kelamaan tidur dirumah sakit, ” ucapnya lalu menarik tangganku dengan tangan kanannya yang tidak begitu parah hanya lecet-lecet saja. Cerita Sex Dewasa Ngentot Diam-Diam Dengan Tanteku di Rumah Sakit Benar-benar nekat nih tanteku, nggak tahu aoa kalau aku dari tadi kontolku udah ereksi maksimal, huh. Karena tante terus memaksa pada akhirnya aku-pun dengan sedikit rasa sungkan mulai memijat pahanya yang mulus itu, “ Nah gitu dong, pijatnya yang pelan ya Ga biar enak… Ssssshhhh…, ” ucapnya lalu medesah pelan. “ Iya tante bawel, ” ucapku sembari melihat gundukan vagina tante yang tertutup celana dalam. Aku pijat secara perlahan, entah tanteku sadar atau tidak ketika aku memijat mataku tidak pernah lepas memandangi kewanitaan-nya yang gembul itu. Kuperhatikan semabriterus memijat. Lama kelamaan aku-pun semakin tidak kuat menahan birahiku, kulihat samar-samar bulu kewanitaannya dibali CD-nya yang tipis itu. Oughhh shittt… makin horny saja aku. Benar-benar frontal sekali tanteku itu, seakan-akan aku dianggapnya seperti anak kecil yang belum mnegerti nafsu sex. Beberapa saat aku emijat pahanya, tiba-tiba saja tanteku merenggangkan pahanya lebar-lebar, “ Ga, pijitin paha bagian dalam tante dong, yang disitu pegal sekali, ” ucapnya memintaku memijat paha dalam tepat persis dubawah vagina-nya. Cerita Sex Dewasa Ngentot Diam-Diam Dengan Tanteku di Rumah Sakit Fikiranku saat itu semakin liar saja, aku sempat membayangkan jika kejantanku aku gesek-gesekan dipahanya pasti akannikmat sekali. Tanteku ini walaupun sudah bernanak satu tubuhnya masih terawatt sekali. Wajahnya cantik, kulitnya putih, bahkan payudara dan pantatnya masih kencang sekali seperti gadis yang berusia 20 tahunan. Sesaat aku sempat melamun, ,elihat itu tanteku-pun segera meraih tanganku, lalu kemudian meletakkan tanganku sela kedua pahanya, Shitt… benar-benar nggak kuat aku dibuatnya, “ Melamun mulu dari tadi, buruan pijat paha dalam tante, pegel banget tuh rasanya !!!, ” Ucapnya sembari meletakan tanganku dipaha dalam bawah vaginanya persi. “ I..iii… Iya tante, ” ucapku gagap dengan tubuh gemetar lalu mulai memijatnya. “ Nah gitu dong, kalau ginikan tante jadi enak, terus disitu ya Ga pijatnya, sama digosok yah bagian situnya, ” ucapnya menikmati pijatan pada paha dalamnya. Saat itu aku benar-benar semakin tidak kuat menahan birahiku, lelaki mana yang kuat dihadapkan dengan benda seperti itu. Sekalipun itu adalah saudara jika dihadapkan dengan hal yang aku alami pasti akan horny seperti yang aku rasakan saat itu. kejantananku semakin tegang maksimal, rasanya kejantanku ingins segera aku masukan dalam vagina tanteku. Cerita Sex Dewasa Ngentot Diam-Diam Dengan Tanteku di Rumah Sakit Sembari terus memijat aku berkhayal jorok, fikiranku sudahtidak sehat lagi karena sudah terbakar oleh birahiku. Ketika aku melamun tiba-tiba saja tanganku menyentuh kewanitaan tanteku, “ Oughhhhhh Don, kog kamu mijatnya sampai ke memek tante, kamu tahu aja deh kalau memek tante pegal juga, hhe…, ” ucapnya tanpa basa-basi. Wah benar-benar minta dientot tanteku ini, ucapku dalam hati, “ Ma… Maaf tante yah aku tidak sengaja, habisnya aku capek sih jadi nggk sengaja deh nyentuh itu tante, maaf ya tante, ” ucapku sedikit takut karena aku sudah menyentuh kewanitaanya yang masih terbalut celana dalam. “ Udah nggk usah minta maaf, lagian kalau sengaja-pun tante nggak keberatan kog, Tante tahu kog adek kamu dari tadi udah tegangkan, tante dari tadikan perhatikan adek kamu yang ada dalm celana kamu itu, hhe, ” ucapnya frontal kepadaku. “ Enggak kog tante, anu aku enggak berdiri kog, ” ucapku mencoba mengelak. Wah gawat nih ternyata tante dari tadi sudah tahu kalau aku ereksi, ucapku dalam hati. Setelah itu tanteku-pun memintaku untuk berdiri dan mendekat kearah tanganya. Denagn sedikit rasa malu aku-pun berdiri, “ Nah ini adek kamu berdiri, gitu aja malu sama tante sendiri, tante bisa memaklumi kog cowok seusia kamu tuh nafsunya lagi meledak-meledaknya, hha…, ” ucap tanteku sembari memegang keanjantanku yang sudah tegang maksimal. Saaat itu aku tidak bisa berkata apa-apa, yang aku rasakan saat itu rasa malu bercampur rasa nikmat yang luar biasa. Tanpa rasa sungkan tante-kupun mulai meremas kejantananku dengan perlahan, “ Jangan tante, Oughhhh… Sssssshhhhh…, ” ucapku mencoba menolak, namun mulutku tidak sengaja mendesah. “ Udah kamu nimatin aja, toh disini Cuma ada kita berdua, tante udah lama banget nih nggak ML, kamu maukan Ml sama tante ??? ,” ucapnya genit sembari terus meremas penisku. Cerita Sex Dewasa Ngentot Diam-Diam Dengan Tanteku di Rumah Sakit Saat itu aku merasa bimbang, nafsu dan akal sehatku seakan berperang didalam fikiranku. Namun karean aku sudahbterlanjur bernfasu dan tanteku-pun terus meremas-remas penisku maka aku-pun megganguk, “ Nah gitu dong keponakanku sayang, yaudah sekarang buka celana kamu yah biar tante bebas pegang dan kocokin penis kamu, ” pintanya dengan wajah girang. Tanpa sepatah kata-pun aku memelorotkan celana dan celana dalamku sampaimata kakiku, “ Wow… besar dan panjang sekali kontol kamu Ga, tante jadi Horny ngelihat kontol kamu, ” ucapnya kagum melihat penisku yang memang besar dan panjang itu. Kemudian tante-pun mulai meraba-raba mulai dari buah zakar sampai kepala penisku. Posisiku saat itu menempel dengan ranjangnya sehingga tanteku-pun dengan mudahnya meraih kejantanaku. Mulailah dikocok dengan dibasahi ludahnya sebelumnya. Dengan lembut penisku dikocoknya, “ Oughhhh tante… Enak sekali tante… Ssssssssss… Aghhhh…, ” desah nikmatku. “ Iya dong makanya kamu yang nurut sama tante, sekarang kamu bantu lepasin BH sama celana dalam tante yah, terus habis itu kamu naik keranjang, ” pintanya dengan wajah penuh nafsu. Kemudian aku-pun segera naik diatas ranjangnya, “ Nah sekarang kamu hisap putting tante, sembari kontol kamu digosok-gosokin ke memek tante yah sayang, ” ucapnya membimbingku. “ Iya tante, ” jawabku menuruti permintaan tanteku. Saat itu mulailah aku menghisap putingnya sembari kejantanku aku gesek-gesekan pada bibir vagina-nya., “ Iya sayang seperti itu, Oughh… kamupintar sekali sayang, terus sayang, Aghhhhhhhhh…, ” ucapnya mulai menikmati perlakuanku. Cerita Sex Dewasa Ngentot Diam-Diam Dengan Tanteku di Rumah Sakit Saat itu aku memberikan double rangsangan pada payudara dan vagina tanteku. Dia mendesah secara perlahan agar tidak terdengar dari luar kamarnya. Oh iya saat itu aku juga sempat menutup hodrden samping ranjang agar tidak terlihat dari kaca pintu rkmar tante. Tanteku mendesah kegelian, pinggangnya melenggak lenggok kekanan dan kekiri kegelian. Sesekali dia juga menaik turunkan pantatnya seiring aku gesek-gesekan penisku pada memeknya. Aku dan tanteku sama-sama merasa nikmat, lubang penisku-pun terasa ada sedikit cairan kental yang keluar, begitu juga dengan tanteku, vagina-nya juga sudah basah dengan lendir kawinya akibat gesekan penisku pada bibir vagina-nya, “ Sayang tante udah nggak tahan nih, buruan kamu masukin kontol kamu ke memek tante yah, memek tante udah basah banget nih… Aghhhh…, ” ucapnya penuh nafsu birahi. “ Iya tante, Arga juga udah nggak tahan nih pingin ngentot tante, Sssssss… Aghhh…, ” ucapku. Tanpa banyak bicara lagi aku-pun mulai membenamkan kejantanaku didalam memek tanteku, “ Blessssssssssssssssssss…… Aghhhhhhhhhh…., ” desah nikmatku seiring terbenamnya penisku didalam vagina tanteku. “ Yah sayang, enak sekali sayang penis kamu, ayo sekarang kamu sodok memek tante sesuka kamu… Aghhhhhhh…, ” ucapnya sembari memejamkan mata. Tanpa banyak bicara lagi aku-pun yang sudah terlanjur bernafsu segera aku sodok memek tanteku dengan kasarnya, “ Oughhh… yeahh… Ssssss… Aghhhh… Yah enak sayang, sodok yang keras seperti itu terus… Aghhhh…, ” desahnya semakin liar meraskan sodokan penisku yang besar dan perkasa. Cerita Sex Dewasa Ngentot Diam-Diam Dengan Tanteku di Rumah Sakit Kusodok memek tanteku dengan cepat dan stabil. Aku memang tipe laki-laki yang suka ML dengan kasar dan cepat. Dengan gaya women on top terus aku setubuhi tanteku, sesekali tubuhnya mengelincang dan bergetar. Mungkin saja dia mendapatkan orgasmenya saat itu, dia hanya selalu menggigit bibirnya sendiri ketika aku menghentakan penisku dalam-dalam pada vagina-nya, “ Eughhhh… enak sayang… Eummm…kamu liar sekali sayag, ” ucapnya sembari terus menikmati sodokan penisku. Tidak terasa kami suah berhubungan sex selama 15 menit, aku yang sedari tadi menyodok memek tante tanpa henti, pada akhirnya kejantananku-pun terasa berdenyut-denyut. Aku tahu itu tanda bahw aku akan segera orgasme, “ Tante aku mau keluar nih… Oughhhh…keluarin dimana tante, Oughhhh…, ” ucapku dengan nafas yang memburu sembari terus menggenjot memek tanteku. “ Aghhh… Oughhh.. keluarin didalem aja sayang, tante KB kog, Aghhh… tante nggak bakalan hamil kalau kamu keluarin sperma kamu didalm memek tante… Ssss… Aghhhh…, ” ucapnya dengan nafas yang memburu juga. Mendengar itu aku merasa senang sekali, dengan sisa tenagaku aku hentakan kejantanku dengan cepatnya. Selang beberapa detik pada akhirnya, “ Crottttttttttttttttt…. Crotttttttttttt… Crotttttttttttttttttttt…., ” “ Aghhhhhhhhhhhhhhhhhhh…. Aku keluar tante…, ” ucapku puas dengan keluarnya spermaku didalam memek tanteku. “ Aghhhhhhhhh… Iya sayang, tante juga keluar… Oughhh… hangat rasanya sayang sperma kamu… Aghhhh…, ” ucapnya. Cerita Sex Dewasa Ngentot Diam-Diam Dengan Tanteku di Rumah Sakit Ternyata saat itu kami sama-sama mendapatkan klimaks kami. Spermaku tertumpah dengan derasnya didalam rahim tanteku. Setelah spermaku habis tertumpah di dalam memeknya, aku-pun mencabut penisku yangbberlumuran lendir kawin tanteku. Sungguh nimat sekali rasanya ngentot dengan tante sendiri. Setelah skandal sex malam itu, kemudian akupun memapah tanteku kekamar mandi untuk membersihkan sperma yang membasahi memek tanteku. Sebaliknya aku juga membersihkan kejantananku. Aku membantu tante membersihkan memeknya yang terbanjiri oleh spermaku. Setealah selesai aku-pun kembali memapah tanteku keranjangnya lagi. Cerita Sex Dewasa Ngentot Diam-Diam Dengan Tanteku di Rumah Sakit Setelah itu aku memakaikan BH dan celana dalamnya kembali, lalu aku-pun segera memakai celanaku kembali. Malam itu karena kami sudah merasa lelah kemudian kami-pun tidur dengan lelapnya. Tante tidur diranjang dan aku tidur disofa kamar rumah sakit itu. Semenjak kejadian itu tugasku-pun bertambah, selain membantu dia membuka celana dalamnya ketika buang air kecil, aku juga harus memuaskan nafsu birahi tanteku selamdirumah sakit. Singkat cerita 4 hari kemudian tanteku-pun diabawa pulang dari rumah sakit, dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, namun dia juga harus rajin check up seminggu sekali untuk mengetahui peerkembangan tulanngnya. Sejak saat itu aku-pun yang menjadi asisten pribadi tanteku, kebutuhan jajan dan fashionku dipenuhi semua oleh tanteku. Hubungan kami tidak diketahuin semua keluargaku hingga sekarang. Selesai
Mas, cepat pulang, papa sakit lagi, teriak istriku di ponsel ku setengah berteriak. âoke, aku pulang… Yantoo, kamu jagain bengkel ya, aku mau nganter mertua ke rumah sakit, perintahku pada keponakan sekaligus asisten ku di bengkel yang aku kelola. suruh si ujang beli makan siang sana, perintahku lagi sembari menuju melirik jam, menunjukan pukul Papa udah dibawa ke rumah sakit sama pak Gondo dan Arif, mas, ujar istriku setiba di rumah kemudian menyebutkan nama sebuah rumah sakit ternama di Jakarta langganan mertua jika berobat. Papa, biasa aku memanggilnya, sudah 3 tahun ini terkena gejala sekitar 62 tahun, kesibukannya mengurus bisnis membuatnya melupakan kesehatannya, mana orangnya bandel lagi, gak mau pantangan. Terus aku ngapain neh?, tanyaku pada isteri yang masih menggendong bayi mungilku yang baru berumur 4 bulan. mas jemput mama ke bandara sana, jam setengah 3 berangkat dari surabaya, tapi mas makan dulu makan siang, segera kusiapkan beberapa helai pakaian untuk berjaga-jaga jika terpaksa menginap, jarak Tangerang-Jakarta pusat kan cukup lumayan. aku berangkat dek, jagain rumah ya, aku munkin nginap seperti dulu waktu Papa diopname, kalau ada apa-apa sms atau suruh si Yanto aja, . Hati-hati mas, mmmuaah…Jam menunjukan pukul bentar lagi ibu mertua yang biasa kupanggil mama akan tiba. Mama seorang wanita yang enerjik dan pandai berwira usaha, hampir setiap minggu pergi ke berbagai daerah untuk berbisnis apa saja mulai dari garment sampai perhiasan. Usianya jauh lebih muda dari papa, sekitar 47 papa, Den?. Tanya mama dalam perjalanan ke rumah sakit. ya.. biasa ma, sesak nafas, gejala serangan jantung, tapi udah ditungguin si Gondo & Arief, juga udah ditangani Dokter Farid langganan papa, jawabku mencoba menenangkan mama. Mama menarik nafas lalu berkata syukurlah.. moga gak masih tidur ketika kami tiba di kamar rawat inapnya. Usai menjenguk papa di rumah sakit, kami lalu beristirahat di lobi. Rumah sakit ini bertaraf internasional, jadi kami tak perlu menunggui papa seharian, Gondo & Arif, supir dan karyawan papa menginap di hotel kelas melati dekat rumah sakit. Tinggal aku dan mama yang belum menentukan dimana harus menginap, tadinya aku juga ingin menginap di hotel yang sama, tapi untuk sekelas mama sepertinya kurang pantas, sialnya pula, kamar yang disewa karyawan papa itu adalah kamar terakhir yang masih saat kemudian aku dan mama memutuskan mencari hotel yang layak yang terdekat. Benar-benar sial, semua full booked, baru aku sadar sekarang liburan sekolah baru saja dimulai. Lama kami berputar-putar sampai akhirnya menjelang senja, kami mendapatkan sebuah hotel bintang 3 yang masih punya kamar keberuntungan belum berpihak pada kami, karena yang ada hanya tinggal satu-satunya kamar dengan single queen bed. Gimana ma? Apa kita cari lagi?. Tanyaku pada mama. Mama yang tampak lesu menjawab pasrah, âya udah lah Den, mama juga udah capek, kita ambil aja, mama udah gak tahan… gerahâ.oke deh pak, kita ambil, tapi bisa ngasih kasur tambahan gak?, tanyaku pada resepsionis hotel yang sambil tersenyum ramah menjawab sambil menggelengkan kepala, maaf pak, itupun udah habis, ada yang satu kamar sampe minta 2. Kamar bapak pun kebetulan karena bookingnya dicancel, tapi kalau ada tamu yang checkout kami usahakan pak, jawabnya sambil menyerahkan kunci bergegas menuju kamar hotel yang berada di lantai lima, didampingi porter yang membawa koper& barang-barang mama. wah, gimana nih ma, Deni jadi gak enak neh, ujarku setibanya di dalam kamar hotel yang interiornya cukup mewah tesebut. Ya apa boleh buat Den, jawab mama tak bersemangat sembari membongkar isi Deni pulang aja ma, besok pagi datang lagi, ujarku lagi. jangan Den, entar kalau ada apa-apa terus gimana, ya udah kamu tidur di sini aja, kamu malu tidur sama mama?.. ujar mama. ya udah deh, Deni tidur di sofa aja ma, Ngapain? Kamu gak lihat ukuran sofanya segede apa? Udah kamu tidur di ranjang sama mama, kamu kan udah mama anggap anak mama sendiri, ngapain malu sih? jawab mama mencoba boleh buat, pikirku. Aku cuma gak ingin mengganggu kenyamanan mama, dan rasanya risih juga tidur bareng ibu mertua. Bukan karena aku punya pikiran ngeres, walau harus diakui mama masih sangat menarik di usianya yang menjelang setengah abad, kulitnya kuning langsat dengan potongan tubuh masih ideal sebab mama rajin merawat diri dan olah raga, bisnis yang ia jalankan menuntutnya untuk tetap fit dan berpenampilan disandingkan dengan istriku, lebih mirip adik dan kakak dibanding ibu dan anak. mama mandi dulu Den, ujarnya. Beberapa menit kemudian Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya menuju kamar mandi. Baru kusadari pintu kamar mandi ini adalah kaca dof yang tembus pandang, di dalamnya ada shower dan bath sedikit iseng aku mendekat, dan dari balik pintu kaca itu tampak bayangan wanita bugil walau tak begitu jelas. Sesuatu sempat bergerak di antara selangkanganku, namun hati nurani menyuruhku untuk kembali ke sofa. Kunyalakan TV, dan rasa lelah akibat seharian mengemudi membuatku mengantuk dan tertidur di atas bangun Den, sana mandi!, aku terbangun gelagapan, mama berada dihadapanku masih mendorong-dorong pelan bahuku. Rambutnya terlilit handuk dan tubuhnya terbalut kimono tidur, namun karena posisinya setengah menunduk menampakan pemandangan belahan dadanya yang indah. eh… iya ma, sorry ma, ketiduran, ujarku seraya bangkit menuju kamar mandi.
Peristiwa ini terjadi awal April 1990 yang lalu pada waktu penyakit Demam Berdarah Dengue DBD sedang mewabah. Nah, waktu itu aku juga terkena penyakit DBD tersebut. Pagi itu, setelah bangun tidur, aku merasa pusing sekali, suhu tubuh tinggi dan pegal-pegal di sekujur tubuh. Padahal kemarin siangnya, aku masih bisa mengemudikan mobilku seperti biasa, tanpa ada gangguan apa-apa. Keesokan sorenya, karena kondisi tubuhku semakin memburuk, akhirnya aku pergi ke Unit Gawat Darurat UGD sebuah rumah sakit terkenal di Jakarta. Ketika aku periksa darah di laboratorium klinik di rumah sakit tersebut, ternyata hasilnya trombosit-ku turun jauh menjadi hampir separuh trombosit yang normal. Akhirnya karena aku tidak mau menanggung resiko, sore itu juga aku terpaksa harus rawat inap alias diopname di rumah sakit tersebut. Aku memperoleh kamar di kelas satu. Itu pun satu-satunya kamar yang masih tersedia di rumah sakit tersebut. Kamar-kamar lainnya sudah penuh terisi pasien, yang sebagian besar di antaranya juga menderita DBD sepertiku. Di kamar itu, ada dua tempat tidur, satu milikku dan satunya lagi untuk seorang pasien lagi, tentu saja cowok juga dong. Kalau cewek sih bakal jadi huru-hara tuh! Dari hasil ngobrol-ngobrol aku dengannya, ketahuan bahwa dia sakit gejala tifus. Akhirnya, aku menghabiskan malam itu berbaring di rumah sakit. Perasaanku bosan sekali. Padahal aku baru beberapa jam saja di situ. Tapi untung saja, teman sekamarku senang sekali mengobrol. Jadi tidak terasa, tahu-tahu jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Di samping mata sudah mengantuk, juga kami berdua ditegur oleh seorang suster dan dinasehati supaya istirahat. Aku dan teman baruku itu tidur. Saking nyenyaknya aku tidur, aku terkejut pada saat dibangunkan oleh seorang suster. Gila! Suster yang satu ini cantik sekali, sekalipun tubuhnya sedikit gempal tapi kencang. Aku tidak percaya kalau yang di depanku itu suster. Aku langsung mengucek-ngucek mataku. Ih, benar! aku tak bermimpi! aku sempat membaca name tag di dadanya yang sayangnya tidak begitu membusung, namanya Vika bukan nama sebenarnya. "Mas, sudah pagi. Sudah waktunya bangun", kata Suster Vika. "Nggg..." dengan sedikit rasa segan akhirnya aku bangun juga sekalipun mata masih terasa berat. "Sekarang sudah tiba saatnya mandi, Mas", kata Suster Vika lagi. "Oh ya. Suster, saya pinjam handuknya deh. Saya mau mandi di kamar mandi." "Lho, kan Mas sementara belum boleh bangun dulu dari tempat tidur sama dokter." "Jadi?" "Jadi Mas saya yang mandiin." Dimandiin? Wah, asyik juga kayaknya sih. Terakhir aku dimandikan waktu aku masih kecil oleh mamaku. Setelah menutup tirai putih yang mengelilingi tempat tidurku, Suster Vika menyiapkan dua buah baskom plastik berisi air hangat. Kemudian ada lagi gelas plastik berisi air hangat pula untuk gosok gigi dan sebuah mangkok plastik kecil sebagai tempat pembuangannya. Pertama-tama kali, suster yang cantik itu memintaku gosok gigi terlebih dahulu. "Oke, sekarang Mas buka kaosnya dan berbaring deh", kata Suster Vika lagi sambil membantuku melepaskan kaos yang kupakai tanpa mengganggu selang infus yang dihubungkan ke pergelangan tanganku. Lalu aku berbaring di tempat tidur. Suster Vika menggelar selembar handuk di atas pahaku. Dengan semacam sarung tangan yang terbuat dari bahan handuk, Suster Vika mulai menyabuni tubuhku dengan sabun yang kubawa dari rumah. Ah, terasa suatu perasaan aneh menjalari tubuhku saat tangannya yang lembut tengah menyabuni dadaku. Ketika tangan Suster Vika mulai turun ke perutku, aku merasakan gerakan di selangkanganku. Astaga! Ternyata batang kemaluanku menegang! Aku sudah takut saja kalau-kalau Suster Vika melihat hal ini. Uh, untung saja, tampaknya dia tidak mengetahuinya. Rupanya aku mulai terangsang karena sapuan tangan Suster Vika yang masih menyabuni perutku. Kemudian aku dimintanya berbalik badan, lalu Suster Vika mulai menyabuni punggungku, membuat kemaluanku semakin mengeras. Akhirnya, siksaan atau kenikmatan itu pun usai sudah. Suster Vika mengeringkan tubuhku dengan handuk setelah sebelumnya membersihkan sabun yang menyelimuti tubuhku itu dengan air hangat. "Nah, sekarang coba Mas buka celananya. Saya mau mandiin kaki Mas." "Tapi, Suster..." aku mencoba membantahnya. "Celaka", pikirku. Kalau sampai celanaku dibuka terus Suster Vika melihat tegangnya batang kemaluanku, mau ditaruh di mana wajahku ini. "Nggak apa-apa kok, Mas. Jangan malu-malu. Saya sudah biasa mandiin pasien. Nggak laki-laki, nggak perempuan, semuanya." Akhirnya dengan ditutupi hanya selembar handuk di selangkanganku, aku melepaskan celana pendek dan celana dalamku. Ini membuat batang kemaluanku tampak semakin menonjol di balik handuk tersebut. Kacau, aku melihat perubahan di wajah Suster Vika melihat tonjolan itu. Wajahku jadi memerah dibuatnya. Suster Vika kelihatannya sejenak tertegun menyaksikan ketegangan batang kemaluanku yang semakin lama semakin parah. Aku menjadi bertambah salah tingkah, sampai Suster Vika kembali akan menyabuni tubuhku bagian bawah. Suster Vika menelusupkan tangannya yang memakai sarung tangan berlumuran sabun ke balik handuk yang menutupi selangkanganku. Mula-mula ia menyabuni bagian bawah perutku dan sekeliling kemaluanku. Tiba-tiba tangannya dengan tidak sengaja menyenggol batang kemaluanku yang langsung saja bertambah berdiri mengeras. Sekonyong-konyong tangan Suster Vika memegang kemaluanku cukup kencang. Kulihat senyum penuh arti di wajahnya. Aku mulai menggerinjal-gerinjal saat Suster Vika mulai menggesek-gesekkan tangannya yang halus naik turun di sekujur batang kejantananku. Makin lama makin cepat. Sementara mataku membelalak seperti kerasukan setan. Batang kemaluanku yang memang berukuran cukup panjang dan cukup besar diameternya masih dipermainkan Suster Vika dengan tangannya. Akibat nafsu yang mulai menggerayangiku, tanganku menggapai-gapai ke arah dada Suster Vika. Seperti mengetahui apa maksudku, Suster Vika mendekatkan dadanya ke tanganku. Ouh, terasa nikmatnya tanganku meremas-remas payudara Suster Vika yang lembut dan kenyal itu. Memang, payudaranya berukuran kecil, kutaksir hanya 32. Tapi memang yang namanya payudara wanita, bagaimanapun kecilnya, tetap membangkitkan nafsu birahi siapa saja yang menjamahnya. Sementara itu Suster Vika dengan tubuh yang sedikit bergetar karena remasan-remasan tanganku pada payudaranya, masih asyik mengocok-ngocok kemaluanku. Sampai akhirnya aku merasakan sudah hampir mencapai klimaks. Air maniku, kurasakan sudah hampir tersembur keluar dari dalam kemaluanku. Tapi dengan sengaja, Suster Vika menghentikan permainannya. Aku menarik nafas, sedikit jengkel akibat klimaksku yang menjadi tertunda. Namun Suster Vika malah tersenyum manis. Ini sedikit menghilangkan kedongkolanku itu. Tahu-tahu, ditariknya handuk yang menutupi selangkanganku, membuat batang kemaluanku yang sudah tinggi menjulang itu terpampang dengan bebasnya tanpa ditutupi oleh selembar benang pun. Tak lama kemudian, batang kemaluanku mulai dilahap oleh Suster Vika. Mulutnya yang mungil itu seperti karet mampu mengulum hampir seluruh batang kemaluanku, membuatku seakan-akan terlempar ke langit ketujuh merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Dengan ganasnya, mulut Suster Vika menyedoti kemaluanku, seakan-akan ingin menelan habis seluruh isi kemaluanku tersebut. Tubuhku terguncang-guncang dibuatnya. Dan suster nan rupawan itu masih menyedot dan menghisap alat vitalku tersebut. Belum puas di situ, Suster Vika mulai menaik-turunkan kepalanya, membuat kemaluanku hampir keluar setengahnya dari dalam mulutnya, tetapi kemudian masuk lagi. Begitu terus berulang-ulang dan bertambah cepat. Gesekan-gesekan yang terjadi antara permukaan kemaluanku dengan dinding mulut Suster Vika membuatku hampir mencapai klimaks untuk kedua kalinya. Apalagi ditambah dengan permainan mulut Suster Vika yang semakin bertambah ganasnya. Beberapa kali aku mendesah-desah. Namun sekali lagi, Suster Vika berhenti lagi sambil tersenyum. Aku hanya keheranan, menduga-duga, apa yang akan dilakukannya. Aku terkejut ketika melihat Suster Vika sepertinya akan berjalan menjauhi tempat tidurku. Tetapi seperti sedang menggoda, ia menoleh ke arahku. Ia menarik ujung rok perawatnya ke atas lalu melepaskan celana dalam krem yang dipakainya. Melihat kedua gumpalan pantatnya yang tidak begitu besar namun membulat mulut dan kencang, membuatku menelan air liur. Kemudian ia membalikkan tubuhnya menghadapku. Di bawah perutnya yang kencang, tanpa lipatan-lipatan lemak sedikitpun, walaupun tubuhnya agak gempal, kulihat liang kemaluannya yang masih sempit dikelilingi bulu-bulu halus yang cukup lebat dan tampak menyegarkan. Tidak kusangka-sangka, tiba-tiba Suster Vika naik ke atas tempat tidur dan berjongkok mengangkangi selangkanganku. Lalu tangannya kembali memegang batang kemaluanku dan membimbingnya ke arah liang kemaluannya. Setelah merasa pas, ia menurunkan pantatnya, sehingga batang kemaluanku amblas sampai pangkal ke dalam liang kemaluannya. Mula-mula sedikit tersendat-sendat karena begitu sempitnya liang kenikmatan Suster Vika. Tapi seiring dengan cairan bening yang semakin banyak membasahi dinding lubang kemaluan tersebut, batang kemaluanku menjadi mudah masuk semua ke dalamnya. Tanganku mulai membuka kancing baju Suster Vika. Setelah kutanggalkan bra yang dikenakannya, menyembullah keluar payudaranya yang kecil tapi membulat itu dengan puting susunya yang cukup tinggi dan mengeras. Dengan senangnya, aku meremas-remas payudaranya yang kenyal. Puting susunya pun tak ketinggalan kujamah. Suster Vika menggerinjal-gerinjal sebentar-sebentar ketika ibu jari dan jari telunjukku memuntir-muntir serta mencubit-cubit puting susunya yang begitu menggiurkan. Dibarengi dengan gerakan memutar, Suster Vika menaik-turunkan pantatnya yang ramping itu di atas selangkanganku. Batang kemaluanku masuk keluar dengan nikmatnya di dalam lubang kemaluannya yang berdenyut-denyut dan bertambah basah itu. Batang kemaluanku dijepit oleh dinding kemaluan Suster Vika yang terus membiarkan batang kemaluanku dengan tempo yang semakin cepat menghujam ke dalamnya. Bertambah cepat bertambah nikmatnya gesekan-gesekan yang terjadi. Akhirnya untuk ketiga kalinya aku sudah menuju klimaks sebentar lagi. Aku sedikit khawatir kalau-kalau klimaksku itu tertunda lagi. Akan tetapi kali ini, kelihatannya Suster Vika tidak mau membuatku kecewa. Begitu merasakan kemaluanku mulai berdenyut-denyut kencang, secepat kilat ia melepaskan batang kemaluanku dari dalam lubang kemaluannya dan pindah ke dalam mulutnya. Klimaksku bertambah cepat datangnya karena kuluman-kuluman mulut sang suster cantik yang begitu buasnya. Dan... "Crot... crot... crot..." beberapa kali air maniku muncrat di dalam mulut Suster Vika dan sebagian melelehi buah zakarku. Seperti orang kehausan, Suster Vika menelan hampir semua cairan kenikmatanku, lalu menjilati sisanya yang belepotan di sekitar kemaluanku sampai bersih. Tiba-tiba tirai tersibak. Aku dan Suster Vika menoleh kaget. Suster Mimi yang tadi memandikan teman sekamarku masuk ke dalam. Ia sejenak melongo melihat apa yang kami lakukan berdua. Namun sebentar kemudian tampaknya ia menjadi maklum atas apa yang terjadi dan malah menghampiri tempat tidurku. Dengan raut wajah memohon, ia memandangi Suster Vika. Suster Vika paham apa niat Suster Mimi. Ia langsung meloncat turun dari atas tempat tidur dan menutup tirai kembali. Suster Mimi yang berwajah manis, meskipun tidak secantik Suster Vika, sekarang gantian menjilati seluruh permukaan batang kemaluanku. Kemudian, batang kemaluanku yang sudah mulai tegang kembali disergap mulutnya. Untuk kedua kalinya, batang kemaluanku yang kelihatan menantang setiap wanita yang melihatnya, menjadi korban lumatan. Kali ini mulut Suster Mimi yang tak kalah ganasnya dengan Suster Vika, mulai menyedot-nyedot kemaluanku. Sementara jari telunjuknya disodokkan satu ruas ke dalam lubang anusku. Sedikit sakit memang, tapi aduhai nikmatnya. Merasa puas dengan lahapannya pada kemaluanku. Suster Mimi kembali berdiri. Tangannya membukai satu-persatu kancing baju perawat yang dikenakannya, sehingga ia tinggal memakai bra dan celana dalamnya. Aku tidak menyangka, Suster Mimi yang bertubuh ramping itu memiliki payudara yang jauh lebih besar daripada milik Suster Vika, sekitar 36 ukurannya. Payudara yang sedemikian montoknya itu seakan-akan mau melompat keluar dari dalam bra-nya yang bermodel konvensional itu. Sekalipun bukan termasuk payudara terbesar yang pernah kulihat, tapi payudara Suster Mimi itu menurutku termasuk payudara yang paling indah. Menyadari aku yang terus melotot memandangi payudaranya, Suster Mimi membuka tali pengikat bra-nya. Benar, payudaranya yang besar menjuntai montok di dadanya yang putih dan mulus. Rasa-rasanya ingin aku menikmati payudara itu. Tetapi tampaknya keinginan itu tidak terkabul. Setelah melepas celana dalamnya, seperti yang telah dilakukan oleh Suster Vika, Suster Mimi, dengan telanjang bulat naik ke atas tempat tidurku lalu mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya yang sedikit lebih lebar dari Suster Vika namun memiliki bulu-bulu yang tidak begitu lebat. Akhirnya untuk kedua kalinya batang kemaluanku tenggelam ke dalam kemaluan wanita. Memang, batang kemaluanku lebih leluasa memasuki liang kemaluan Suster Mimi daripada kemaluan Suster Vika tadi. Seperti Suster Vika, Suster Mimi juga mulai menaik-turunkan pantatnya dan membuat kemaluanku sempat mencelat keluar dari dalam liang kemaluannya namun langsung dimasukkannya lagi. Tak tahan menganggur, mulut Suster Vika mulai merambah payudara rekan kerjanya. Lidahnya yang menjulur-julur bagai lidah ular menjilati kedua puting susu Suster Mimi yang walaupun tinggi mengeras tapi tidak setinggi puting susunya sendiri. Aku melihat, Suster Mimi memejamkan matanya, menikmati senggama yang serasa membawanya terbang ke awang-awang. Ia sedang meresapi kenikmatan yang datang dari dua arah. Dari bawah, dari kemaluannya yang terus-menerus masih dihujam batang kemaluanku, dan dari bagian atas, dari payudaranya yang juga masih asyik dilumat mulut temannya. Tiba-tiba tirai tersibak lagi. Namun ketiga makhluk hidup yang sedang terbawa nafsu birahi yang amat membulak-bulak tidak mengindahkannya. Ternyata yang masuk adalah teman sekamarku dengan keadaan bugil. Karena ia merasa terangsang juga, ia sepertinya melupakan gejala tifus yang dideritanya. Setelah menutup tirai, ia menghampiri Suster Vika dari belakang. Suster Vika sedikit terhenyak ke depan sewaktu kemaluannya yang dari tadi terbuka lebar ditusuk batang kejantanan teman sekamarku dari belakang, dan ia melepaskan mulutnya dari payudara Suster Mimi. Kemudian dengan entengnya, sambil terus menyetubuhi Suster Vika, teman sekamarku itu mengangkat tubuh suster bahenol itu ke luar tirai dan pergi ke tempat tidurnya sendiri. Sejak saat itu aku tidak mengetahui lagi apa yang terjadi antara dia dengan Suster Vika. Yang kudengar hanyalah desahan-desahan dan suara nafas yang terengah-engah dari dua insan berlainan jenis dari balik tirai, di sampingku sendiri masih tenggelam dalam kenikmatan permainan seks-ku dengan Suster Mimi. Batang kemaluanku masih menjelajahi dengan bebasnya di dalam lubang kemaluan Suster Mimi yang semakin cepat memutar-mutar dan menggerak-gerakan pantatnya ke atas dan ke bawah. Tak lama kemudian, kami berdua mengejang. "Suster... Saya mau keluar..." kataku terengah-engah. "Ah... Keluarin di dalam... saja... Mas..." jawab Suster Mimi. Akhirnya dengan gerinjalan keras, air maniku berpadu dengan cairan kenikmatan Suster Mimi di dalam lubang kemaluannya. Saking lelahnya, Suster Mimi jatuh terduduk di atas selangkanganku dengan batang kemaluanku masih menancap di dalam lubang kemaluannya. Kami sama-sama tertawa puas. Sementara dari balik tirai masih terdengar suara kenikmatan sepasang makhluk yang tengah asyik-asyiknya memadu kasih tanpa mempedulikan sekelilingnya. Tepat seminggu kemudian, aku sudah dinyatakan sembuh dari DBD yang kuderita dan diperbolehkan pulang. Ini membuatku menyesal, merasa akan kehilangan dua orang suster yang telah memberikan kenikmatan tiada tandingannya kepadaku beberapa kali. Hari ini aku sedang sendirian di rumah dan sedang asyik membaca majalah Gatra yang baru aku beli di tukang majalah dekat rumah. "Ting tong..." Bel pintu rumahku dipencet orang. Aku membuka pintu. Astaga! Ternyata yang ada di balik pintu adalah dua orang gadis rupawan yang selama ini aku idam-idamkan, Suster Vika dan Suster Mimi. Kedua makhluk cantik ini sama-sama mengenakan kaos oblong, membuat lekuk-lekuk tubuh mereka berdua yang memang indah menjadi bertambah molek lagi dengan payudara mereka yang meskipun beda ukurannya, namun sama-sama membulat dan kencang. Sementara Suster Vika dengan celana jeansnya yang ketat, membuat pantatnya yang montok semakin menggairahkan, di samping Suster Mimi yang mengenakan rok mini beberapa sentimeter di atas lutut sehingga memamerkan pahanya yang putih dan mulus tanpa noda. Kedua-duanya menjadi pemandangan sedap yang tentu saja menjadi pelepas kerinduanku. Tanpa mau membuang waktu, kuajak mereka berdua ke kamar tidurku. Dan seperti sudah kuduga, tanpa basa basi mereka mau dan mengikutiku. Dan tentu saja, para pembaca semua pasti sudah tahu, apa yang akan terjadi kemudian dengan kami bertiga. Anda sedang membaca artikel tentang Rumah Sakit Pembawa Nikmat dan anda bisa menemukan artikel Rumah Sakit Pembawa Nikmat ini dengan url anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Rumah Sakit Pembawa Nikmat ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Rumah Sakit Pembawa Nikmat sumbernya.
Pengalaman di waktu aku masih remaja, umurku saat itu baru 15 tahun , sering banget aku sakit sakitan sampai suatu hari aku dilarikan ke rumah sakit dan di rawat inap di slah satu RS di kota Surabaya, sakitku belum diketahui karena tiba tiba tanganku pada bengkak, dan kalau lari lari aku sering sesak napas, kemudian ibuku menyuruh bapak untuk dilarikan ke spesialis dalam. Si dokter malam itu juga meminta saya dirawat inap di rumah sakit. Nah, dari rumah sakit itulah, saya mengalami pengalaman seks terhebat yang akan saya kenang seumur hidup saya. Karena minum obat yang diberikan dokter, malam pertama saya menginap di rumah sakit, saya tidak bisa tidur. Saya maunya kencing terus. Sebuah botol besar telah disiapkan untuk menampung air urine saya. Otomatis, penis saya harus dimasukkan ke botol itu. Oleh dokter, saya tidak diperbolehkan untuk turun dari tempat tidur. Jadi sambil tiduran, saya tinggal memasukkan penis ke dalam botol yang sudah ada di samping ranjang. Ada satu perawat yang rupanya begitu telaten menjaga dan merawat saya malam itu. Seharusnya ia tidak boleh memperhatikan saya membuang urine di botol. Tetapi tatkala saya membuka piyama dan celana dalam saya, dan mengarahkan penis ke mulut botol, eh si perawat yang belakangan kuketahui bernama Aning D**** edited malah membantu memegang penis saya. Dengan pelan dan lembut tangan kirinya memegang penis kecil saya yang masih kecil, sedangkan tangan kanannya ikut memegang botol itu. Setelah urine saya keluar, ia membersihkan penis saya dengan tissue. Sambil terus membersihkannya, ia memperhatikanku dengan senyuman aneh. “Dik… kamu tahu bendamu ini bisa membuat kamu melayang-layang?” tanyanya tiba-tiba. “Maksud Mbak?” tanyaku pura-pura tidak mengerti. Aku sudah tahu apa maksudnya. Wong, aku sudah pernah nonton video BF seminggu yang lalu. “Iya… kalo si kecil ini dipegang, dikocok-kocok oleh tangan halus seorang wanita kemudian dihisap dan dikulum olehnya, pasti deh kamu akan merasakan keenakan yang luar biasa.. lebih dari yang lain yang ada di dunia ini…” jawab Mbak Aning lagi. “Masa sih, Mbak? Pengen coba nih.. bisa nggak Mbak melakukannya buat saya?” tanyaku hati-hati dengan perasaan campur baur. Berani juga nih cewek. “Kamu benar-benar mau?” tanyanya penuh semangat. Tanpa menunggu jawabanku lagi, ia menaruh tissue itu lalu memegang kejantananku dan pelan-pelan mulai mengocok-ngocoknya. Wah… memang benar enak kocokannya. Pelan tapi pasti. Beberapa menit kemudian ia jongkok di samping tempat tidur. Mulutnya dibuka lalu batang kejantananku dimasukkan ke dalamnya. Mula-mula dihisapnya, dikulum lalu dijilat-jilatnya kepala kejantananku. Untuk pertama kalinya dalam masa remajaku, aku merasakan sesuatu yang amat sangat nikmat! Entah apa namanya.. surga dunia kali ya? Tanpa disangka-sangka Mbak Aning memegang tangan kananku lalu menuntunnya masuk ke balik seragamnya. Ya.. itu dia!! Gunung kembarnya begitu kenyal dan besar kurasakan. Tanpa disuruh lagi aku pun meremas-remas, meraba-raba ’susu’ ajaibnya itu. Sementara itu ia terus saja mengulum dan mengisap kejantananku dengan penuh nafsu. Beberapa menit kemudian aku mulai merasa akan ada sesuatu yang akan keluar dari tubuhku yang masih lemah karena sakit. “Crot..! crot…! crot…!” Sesuatu berwarna putih kekuning-kuningan dan agak kental keluar dari batang kejantananku dan tanpa ampun lagi langsung menyemprot masuk ke mulut Mbak Aning. Setelah sembilan kali semprot, ia menjilati kejantananku dengan mimik muka penuh kepuasan. “Gimana Dik…? Puas nggak?…” tanyanya sambil tersenyum. Terlihat bekas cairan kental itu di mulut dan bibirnya. “Wah nikmat ya Mbak… Boleh dong aku minta lagi…?” jawabku penuh harap. “Boleh dong… tapi jangan sekarang ya… kamu harus istirahat dulu… besok pagi kamu pasti akan merasa lebih puas lagi… Mbak janji deh…” ujarnya dengan mimik seperti menyembunyikan sesuatu. Aku pun mengangguk. Mungkin karena kelelahan setelah di karaoke’ oleh gadis perawat yang cantik dan sexy, aku pun tertidur malam itu. Tapi tengah malam, sekitar pukul dua dini hari, aku merasa ’senjata’ andalanku kembali diobok-obok dan kini yang mengoboknya bukan hanya Mbak Aning tetapi seorang perawat lain juga. Namanya belakangan kuketahui adalah Maya. Gadis ini juga tak kalah cantik bahkan buah dadanya itu benar-benar menggelembung di balik seragam putihnya. Lebih besar dari punya Mbak Aning dan juga pasti lebih kenyal! Mereka terus saja menjilati, mengulum dan menghisap-hisap batanganku. Yang seorang di sebelah kananku dan yang seorang lagi di sebelah kiriku. Tanganku yang kiri meremas-remas susu Maya sedang tangan yang kanan meremas susunya Aning. Setelah sepuluh menit, batang kejantananku mulai mengeras dan siap untuk ditusukkan. Maya kemudian naik ke atas ranjang dan menyingkapkan roknya. Duh.. rupanya ia sudah tidak mengenakan celana dalam. Ia kemudian duduk di atas kepalaku. Dengan sengaja ia mengarahkan liang kewanitaannya ke wajahku. Aku tiba-tiba teringat dengan film porno yang pernah kutonton seminggu yang lalu. Ya… aku harus menjilatnya terutama di bagian kecil dan merah itu… ya apa ya namanya? Klitoris ya? nah itu dia! Tanpa disuruh dua kali aku langsung mengarahkan lidahku ke bagiannya itu. “Slep… slep… slep…” terdengar bunyi lidahku saat bersentuhan dengan klitoris Maya. Dan Aning? Rupanya ia sudah membuka seluruh pakaian seragamnya lalu menduduki batanganku yang sudah sangat mengeras dan berdiri dengan gagahnya. Dengan tangan kirinya ia meraih batang kejantananku itu lalu dengan pelan ia mengarahkan senjataku itu ke liang senggamanya. “Bles… jleb… bles…” batang kejantananku sudah masuk separuh, ia terus saja bergoyang ke bawah ke atas. Buah dadanya yang montok bergoyang-goyang dengan indahnya, kedua tangannya memegang sisi ranjang. Wah… dikeroyok begini sih siapa yang nggak mau, bisa main dua ronde nih. Setelah beberapa menit, kami berganti posisi. Maya kusuruh tidur dengan posisi tertelungkup. Sementara Aning juga tidak ketinggalan. Lalu dengan penuh nafsu aku membawa batanganku dan mengarahkannya ke liang senggama Maya dari arah belakang. “Bles… bles… bles…jeb!!” Liang senggamanya berhasil ditembus oleh senjataku. Terdengar suara lenguhan Maya karena merasa nikmat. “Uh.. uh.. uh.. uh.. Terus Dik.. Enak…ikmat..!” Tanganku pun tidak kalah hebatnya. Kuraih buah dadanya sambil kuremas-remas. Puting payudaranya kupegang-pegang. “Gantian dong…” tiba-tiba Aning minta jatah. Duh, hampir kulupakan si doi. Aku cabut batang kejantananku dari liang senggama Maya lalu kubawa ke ranjang sebelah di mana telah menanti Aning yang sedang mengelus-elus kemaluannya yang indah. Tanpa menunggu lagi, aku naik ke ranjang itu lalu kumasukkan dengan dorongan yang amat keras ke liang senggamanya “Jangan keras-keras dong Dik…” erangnya nikmat. “Habis mau keluar nih, Mbak… Di dalam atau di luar…” aku tiba-tiba merasakan bahwa ada sesuatu yang nikmat akan lepas dari tubuhku “Di mukaku aja Dik..” jawabnya di tengah erangan nafsunya. Lalu kutarik batang kejantananku dari liang senggamanya yang sedang merekah dan membawanya ke kepalanya. Lalu aku menumpahkan cairan putih kental itu ke wajahnya. “Crot.. crot…crott.. crot.. crot!” Kasihan juga Mbak Aning, wajahnya berlepotan spermaku. Ia tersenyum dan berkata, “Terima kasih Dik… aku amat puas… demikian juga Mbak Vivi…” Belakangan setelah aku keluar dari rumah sakit, aku mendengar bahwa Aning dan Maya memang bukan perawat tetap di rumah sakit itu. Mereka hanya bekerja sambilan saja. Mereka sebenarnya dua orang mahasiswi kedokteran di sebuah universitas swasta di Surabaya. Tiap kali mereka bekerja di sana, selalu ada saja pasien pria entah remaja atau orang dewasa yang berhasil mereka ajak berhubungan seks minimal satu kali. Nah lho.. gmana tertarik masuk rumah sakit?
Kali ini Aku akan menceritakan Cerita Sex Terbaru saat diriku ngentot dengan tanteku di rumah sakit. Mau tahu kelanjutan ceritanya? Langsung aja yuk baca dan simak baik-baik cerita dewasa ini. Aku akan menggoreskan sedikit cerita skandal sex-ku yang seru ini. Bermula ketika aku disuruh keluargaku menunggu tanteku yang dirawat di rumah sakit. Tante adik kandung dari ibuku saat itu mengalami kecelakaan lalulintas dan harus dirawat dirumah sakit. Kondisinya cukup parah karena dia mengalami patah tulang pada tanganya dan harus digibs. Saat itu sebagai anak yang berbakti, aku-pun menuruti perintah orangtuaku karena kebetulan suami tanteku itu sedang dinas diluar kota dan anak semata wayangnya kuliah di luar kota juga. Sungguh membosankan sekali harus menunggu orang yang sakit dirumah sakit. Namun ada enaknya juga sih, hal aku maksudkan ada enaknya itu banyak sekali. Misalnya ketika tante mau buang air kecil aku pasti disuruh mengantar ke kamar mandi, karena tangan tante kanan tante sakit, dia tanpa merasa sungkan meminta tolong aku untuk membukakan celana dalamnya, So denagan jelasnya aku bisa melihat kewanitaanya yang ditumbuhi bulu lebat pada kewanitaanya, siapa yang nggak Horny melihat benda seperi itu. Intinya setiap dia mau ganti baju, buang air kecil ataupun buang air besar dia selalu meminta aku menunggunya didalam kamar mandi. Walaupun itu tanteku sendiri jika selalu dihadapkan pada hal yang porno seperti itu pasti aku akan horny. Singkat cerita sampai suatu malam tanteku memanggil aku, “ Arga kesini dong tolongin tante, , ” ucapnya memanggilku ketika aku sedang asik menonton TV di sofa. Oh iya kamar yang dihuni tanteku saat itu adalah kamar VI, jadi kamar itu cuma untuk satu pasien dengan fasilitas yang cukup lengkap. Seperti kamar mandi dalam, AC, TV LED, Dan Sofa. Lajut kecerita, mendenga itu aku-pun segera mendekat kearah tanteku, “ Iya tante mau minta tolong apa???, , ” tanyaku. “ Tolong gosokin perut tante pakai minyak kayu putih dong Ga, perut tante kembung nih, ” ucapnya sembari menyibaka selimut lalu dasternya diangkat keatas hingga atas BHnya. Saat itu tante yang memakai daster, karena dasternya terangkat keatas secara otomatis BH dan CD-nya terlihat jelas sekali dimataku, perutnya ramping, payudara montok, dan kewanitaanya terlihat menyembul dari balik celana dalamnya. Aduh tante ini sengaja memancing nafsuku apa emang dia sakit perut beneran yah, ucapku dalam hati. Seketika itu kejantananku yang langsung tagang, lama-lama jika seperti ini terus bisa-bisa khilaf aku,huh. Sesaat aku terpana dengan pemandangan itu, ditengah lamunanku tiba-tiba tante berkata, “ Arga kog diem aja sih, ayo buruan ambil minyak kayu putihnya, perut tante kembung banget nih, ayo buruan ambil terus gosokin keperut tante!!!, , ” ucapnya memecah lamunan jorokku. “ Oh iya tante, jadi lupa aku tante,hhe… , ” ucapku sembari mengambil minyak kayu putih yang berada di lemari samping ranjang tante. Sesaat setelah aku memngambil minyak kayu putih, “ Ini yang digosok yang mana tante ?, ” tanyaku. “ Ih kamu tuh ya perut tantelah, masakiya memek tante yang digosok, nanti bisa-bisa memek tante kepanasan kena minyak angin, huh…” ucapnya tanparasa sungkan sedikitpun kepadaku. “ Wkwkwk… tante nih nyablak banget sih, masak sama keponakan sendiri ngomonnya jorok, hahha…, ” ucapku dengan tertawa. Wah parah banget tanteku ternyata, tidak aku sangka dia bisa berkata seperti itu, yah mungkin saja dia berkata sepeerti itu karena perutnya sudah terlanjur sakit,hha. Lalu, “ Buruan godok ih, lama-lama perut tante kalau kebuka gini bisa kembung, ” ucapnya sembari manyun. “ Iya tante, gitu aja marah sih, ” ucapku lalu menggosok perutnya dengan minyak kayu putih. Aku gosok perut tanteku dengan perlahan, benar-benar halus kulitnya para pembaca, aku gosok dengan hati-hati semabari menahan kejantanku yang sudah tegang maksimal dibalik celanaku, “ Wah enak banget gosokan kamu Ga, pasti kamu sering menggosok tubuh cewek kamu yah, ayo ngaku !!! ?, ” ucapnya menggodaku. “ Ah tante nih, ngelantur deh lam-lama ngomongnya, inikan cuma ngegosok biasa tante semua orang juga bisa ngelakuin ini, ” jawabku mengelak dengan pertanyaan tanteku yang mulai menjurus itu. “ Udahlah kamu ngaku aja deh, pasti kamu sering gosokin badan cewek kamu kan???, ” tanyanya mendesak aku agar mengaku. “ Tauk ah tante, ” jawabku singkat dengan expresi wajahku yang malu-malu kucing semabri terus menggosok perut tanteku. “ Yaudah-yaudah gitu aja manyun mulutnya, sekarang kamu pijitin kaki tante ya Ga, kaki tante pegel banget nih, ” ucapnya manja padaku. Saat itu aku hanya mengangguk dan mulai memijat kakinya. Ketika memijat kai tanteku sesekali mataku melirik kearah kewanitaanya yang menyembuk itu. Sembari memijat kejantananku berdenyut denyut tidak karuan, fikiranku semakin mesum saja saat itu. Karena aku ingat yang khayalkan ini adalah tanteku sendiri maka aku mencoba menghentikan khayalan jorokku dengan menghentikan pijatan dan berkata, “ Udah yah tante, Arga udah nggak kuat nih, capek banget, ” ucapku pada tanteku. “Hlohhh… Kog udah nggak kuat sih, kan paha tante belum dipijat, , ” ucapnya dengan genit. “ Ah, tante nih bercanda aja sukanya , nggak ah tante masak iya Arga mijit paha tante, kan nggak sopan, ” ucapku mencoba mengelak karena takut khilaf. “ Kamu ini yah banyak omong, udah cepetan pijit paha tante, kamukan keponakan tante jadi nggak papalah nggk usah sungkan, Ayo buruan pijat, pehgel banget nih paha tante kelamaan tidur dirumah sakit, ” ucapnya lalu menarik tangganku dengan tangan kanannya yang tidak begitu parah hanya lecet-lecet saja. Benar-benar nekat nih tanteku, nggak tahu aoa kalau aku dari tadi kontolku udah ereksi maksimal, huh. Karena tante terus memaksa pada akhirnya aku-pun dengan sedikit rasa sungkan mulai memijat pahanya yang mulus itu, “ Nah gitu dong, pijatnya yang pelan ya Ga biar enak… Ssssshhhh…, ” ucapnya lalu medesah pelan. “ Iya tante bawel, ” ucapku sembari melihat gundukan vagina tante yang tertutup celana dalam. Aku pijat secara perlahan, entah tanteku sadar atau tidak ketika aku memijat mataku tidak pernah lepas memandangi kewanitaan-nya yang gembul itu. Kuperhatikan semabriterus memijat. Lama kelamaan aku-pun semakin tidak kuat menahan birahiku, kulihat samar-samar bulu kewanitaannya dibali CD-nya yang tipis itu. Oughhh shittt… makin horny saja aku. Benar-benar frontal sekali tanteku itu, seakan-akan aku dianggapnya seperti anak kecil yang belum mnegerti nafsu sex. Beberapa saat aku emijat pahanya, tiba-tiba saja tanteku merenggangkan pahanya lebar-lebar, “ Ga, pijitin paha bagian dalam tante dong, yang disitu pegal sekali, ” ucapnya memintaku memijat paha dalam tepat persis dubawah vagina-nya. Fikiranku saat itu semakin liar saja, aku sempat membayangkan jika kejantanku aku gesek-gesekan dipahanya pasti akannikmat sekali. Tanteku ini walaupun sudah bernanak satu tubuhnya masih terawatt sekali. Wajahnya cantik, kulitnya putih, bahkan payudara dan pantatnya masih kencang sekali seperti gadis yang berusia 20 tahunan. Sesaat aku sempat melamun, ,elihat itu tanteku-pun segera meraih tanganku, lalu kemudian meletakkan tanganku sela kedua pahanya, Shitt… benar-benar nggak kuat aku dibuatnya, “ Melamun mulu dari tadi, buruan pijat paha dalam tante, pegel banget tuh rasanya !!!, ” Ucapnya sembari meletakan tanganku dipaha dalam bawah vaginanya persi. “ I..iii… Iya tante, ” ucapku gagap dengan tubuh gemetar lalu mulai memijatnya. “ Nah gitu dong, kalau ginikan tante jadi enak, terus disitu ya Ga pijatnya, sama digosok yah bagian situnya, ” ucapnya menikmati pijatan pada paha dalamnya. Saat itu aku benar-benar semakin tidak kuat menahan birahiku, lelaki mana yang kuat dihadapkan dengan benda seperti itu. Sekalipun itu adalah saudara jika dihadapkan dengan hal yang aku alami pasti akan horny seperti yang aku rasakan saat itu. kejantananku semakin tegang maksimal, rasanya kejantanku ingins segera aku masukan dalam vagina tanteku. Sembari terus memijat aku berkhayal jorok, fikiranku sudahtidak sehat lagi karena sudah terbakar oleh birahiku. Ketika aku melamun tiba-tiba saja tanganku menyentuh kewanitaan tanteku, “ Oughhhhhh Don, kog kamu mijatnya sampai ke memek tante, kamu tahu aja deh kalau memek tante pegal juga, hhe…, ” ucapnya tanpa basa-basi. Wah benar-benar minta dientot tanteku ini, ucapku dalam hati, “ Ma… Maaf tante yah aku tidak sengaja, habisnya aku capek sih jadi nggk sengaja deh nyentuh itu tante, maaf ya tante, ” ucapku sedikit takut karena aku sudah menyentuh kewanitaanya yang masih terbalut celana dalam. “ Udah nggk usah minta maaf, lagian kalau sengaja-pun tante nggak keberatan kog, Tante tahu kog adek kamu dari tadi udah tegangkan, tante dari tadikan perhatikan adek kamu yang ada dalm celana kamu itu, hhe, ” ucapnya frontal kepadaku. “ Enggak kog tante, anu aku enggak berdiri kog, ” ucapku mencoba mengelak. Wah gawat nih ternyata tante dari tadi sudah tahu kalau aku ereksi, ucapku dalam hati. Setelah itu tanteku-pun memintaku untuk berdiri dan mendekat kearah tanganya. Denagn sedikit rasa malu aku-pun berdiri, “ Nah ini adek kamu berdiri, gitu aja malu sama tante sendiri, tante bisa memaklumi kog cowok seusia kamu tuh nafsunya lagi meledak-meledaknya, hha…, ” ucap tanteku sembari memegang keanjantanku yang sudah tegang maksimal. Saaat itu aku tidak bisa berkata apa-apa, yang aku rasakan saat itu rasa malu bercampur rasa nikmat yang luar biasa. Tanpa rasa sungkan tante-kupun mulai meremas kejantananku dengan perlahan, “ Jangan tante, Oughhhh… Sssssshhhhh…, ” ucapku mencoba menolak, namun mulutku tidak sengaja mendesah. “ Udah kamu nimatin aja, toh disini Cuma ada kita berdua, tante udah lama banget nih nggak ML, kamu maukan Ml sama tante ??? ,” ucapnya genit sembari terus meremas penisku. Saat itu aku merasa bimbang, nafsu dan akal sehatku seakan berperang didalam fikiranku. Namun karean aku sudahbterlanjur bernfasu dan tanteku-pun terus meremas-remas penisku maka aku-pun megganguk, “ Nah gitu dong keponakanku sayang, yaudah sekarang buka celana kamu yah biar tante bebas pegang dan kocokin penis kamu, ” pintanya dengan wajah girang. Tanpa sepatah kata-pun aku memelorotkan celana dan celana dalamku sampaimata kakiku, “ Wow… besar dan panjang sekali kontol kamu Ga, tante jadi Horny ngelihat kontol kamu, ” ucapnya kagum melihat penisku yang memang besar dan panjang itu. Kemudian tante-pun mulai meraba-raba mulai dari buah zakar sampai kepala penisku. Posisiku saat itu menempel dengan ranjangnya sehingga tanteku-pun dengan mudahnya meraih kejantanaku. Mulailah dikocok dengan dibasahi ludahnya sebelumnya. Dengan lembut penisku dikocoknya, “ Oughhhh tante… Enak sekali tante… Ssssssssss… Aghhhh…, ” desah nikmatku. “ Iya dong makanya kamu yang nurut sama tante, sekarang kamu bantu lepasin BH sama celana dalam tante yah, terus habis itu kamu naik keranjang, ” pintanya dengan wajah penuh nafsu. Kemudian aku-pun segera naik diatas ranjangnya, “ Nah sekarang kamu hisap putting tante, sembari kontol kamu digosok-gosokin ke memek tante yah sayang, ” ucapnya membimbingku. “ Iya tante, ” jawabku menuruti permintaan tanteku. Saat itu mulailah aku menghisap putingnya sembari kejantanku aku gesek-gesekan pada bibir vagina-nya., “ Iya sayang seperti itu, Oughh… kamupintar sekali sayang, terus sayang, Aghhhhhhhhh…, ” ucapnya mulai menikmati perlakuanku. Saat itu aku memberikan double rangsangan pada payudara dan vagina tanteku. Dia mendesah secara perlahan agar tidak terdengar dari luar kamarnya. Oh iya saat itu aku juga sempat menutup hodrden samping ranjang agar tidak terlihat dari kaca pintu rkmar tante. Tanteku mendesah kegelian, pinggangnya melenggak lenggok kekanan dan kekiri kegelian. Sesekali dia juga menaik turunkan pantatnya seiring aku gesek-gesekan penisku pada memeknya. Aku dan tanteku sama-sama merasa nikmat, lubang penisku-pun terasa ada sedikit cairan kental yang keluar, begitu juga dengan tanteku, vagina-nya juga sudah basah dengan lendir kawinya akibat gesekan penisku pada bibir vagina-nya, “ Sayang tante udah nggak tahan nih, buruan kamu masukin kontol kamu ke memek tante yah, memek tante udah basah banget nih… Aghhhh…, ” ucapnya penuh nafsu birahi. “ Iya tante, Arga juga udah nggak tahan nih pingin ngentot tante, Sssssss… Aghhh…, ” ucapku. Tanpa banyak bicara lagi aku-pun mulai membenamkan kejantanaku didalam memek tanteku, “ Blessssssssssssssssssss…… Aghhhhhhhhhh…., ” desah nikmatku seiring terbenamnya penisku didalam vagina tanteku. “ Yah sayang, enak sekali sayang penis kamu, ayo sekarang kamu sodok memek tante sesuka kamu… Aghhhhhhh…, ” ucapnya sembari memejamkan mata. Tanpa banyak bicara lagi aku-pun yang sudah terlanjur bernafsu segera aku sodok memek tanteku dengan kasarnya, “ Oughhh… yeahh… Ssssss… Aghhhh… Yah enak sayang, sodok yang keras seperti itu terus… Aghhhh…, ” desahnya semakin liar meraskan sodokan penisku yang besar dan perkasa. Kusodok memek tanteku dengan cepat dan stabil. Aku memang tipe laki-laki yang suka ML dengan kasar dan cepat. Dengan gaya women on top terus aku setubuhi tanteku, sesekali tubuhnya mengelincang dan bergetar. Mungkin saja dia mendapatkan orgasmenya saat itu, dia hanya selalu menggigit bibirnya sendiri ketika aku menghentakan penisku dalam-dalam pada vagina-nya, “ Eughhhh… enak sayang… Eummm…kamu liar sekali sayag, ” ucapnya sembari terus menikmati sodokan penisku. Tidak terasa kami suah berhubungan sex selama 15 menit, aku yang sedari tadi menyodok memek tante tanpa henti, pada akhirnya kejantananku-pun terasa berdenyut-denyut. Aku tahu itu tanda bahw aku akan segera orgasme, “ Tante aku mau keluar nih… Oughhhh…keluarin dimana tante, Oughhhh…, ” ucapku dengan nafas yang memburu sembari terus menggenjot memek tanteku. “ Aghhh… Oughhh.. keluarin didalem aja sayang, tante KB kog, Aghhh… tante nggak bakalan hamil kalau kamu keluarin sperma kamu didalm memek tante… Ssss… Aghhhh…, ” ucapnya dengan nafas yang memburu juga. Mendengar itu aku merasa senang sekali, dengan sisa tenagaku aku hentakan kejantanku dengan cepatnya. Selang beberapa detik pada akhirnya, “ Crottttttttttttttttt…. Crotttttttttttt… Crotttttttttttttttttttt…., ” “ Aghhhhhhhhhhhhhhhhhhh…. Aku keluar tante…, ” ucapku puas dengan keluarnya spermaku didalam memek tanteku. “ Aghhhhhhhhh… Iya sayang, tante juga keluar… Oughhh… hangat rasanya sayang sperma kamu… Aghhhh…, ” ucapnya. Ternyata saat itu kami sama-sama mendapatkan klimaks kami. Spermaku tertumpah dengan derasnya didalam rahim tanteku. Setelah spermaku habis tertumpah di dalam memeknya, aku-pun mencabut penisku yangbberlumuran lendir kawin tanteku. Sungguh nimat sekali rasanya ngentot dengan tante sendiri. Setelah skandal sex malam itu, kemudian akupun memapah tanteku kekamar mandi untuk membersihkan sperma yang membasahi memek tanteku. Sebaliknya aku juga membersihkan kejantananku. Aku membantu tante membersihkan memeknya yang terbanjiri oleh spermaku. Setealah selesai aku-pun kembali memapah tanteku keranjangnya lagi. Setelah itu aku memakaikan BH dan celana dalamnya kembali, lalu aku-pun segera memakai celanaku kembali. Malam itu karena kami sudah merasa lelah kemudian kami-pun tidur dengan lelapnya. Tante tidur diranjang dan aku tidur disofa kamar rumah sakit itu. Semenjak kejadian itu tugasku-pun bertambah, selain membantu dia membuka celana dalamnya ketika buang air kecil, aku juga harus memuaskan nafsu birahi tanteku selamdirumah sakit. Singkat cerita 4 hari kemudian tanteku-pun diabawa pulang dari rumah sakit, dia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, namun dia juga harus rajin check up seminggu sekali untuk mengetahui peerkembangan tulanngnya. Sejak saat itu aku-pun yang menjadi asisten pribadi tanteku, kebutuhan jajan dan fashionku dipenuhi semua oleh tanteku. Hubungan kami tidak diketahuin semua keluargaku hingga sekarang. Selesai.
cerita sex di rumah sakit