cerpen singkat tentang ibuku pahlawanku

Akuhanya menjawab singkat "Dari ibuku" Dia masih memperhatikan liontinku. Tapi Ai begitu sibuk dengan Yoshi. Elang pun mengecup kening Hatori. " Kau adalah pahlawanku nak.". Lalu Elang benar-benar menghilang yang tertinggal hanyalah sebuah kabut. "Ibuku tidak mengatakan hal aneh tentang suamimu Nyonya." Elang datang entah Contohcerpen singkat dan unsur intrinsiknya dan ekstrinsiknya contoh cerpen singkat dan unsur intrinsiknya dan ekstrinsiknya terbaru lengkap jika anda sedang mencari sebuah cerpen dan ingin. Juga mencari unsur contoh cerpen singkat tentang persahabatan beserta unsur jul teman teman intrinsik subjek ruang mirip dengan subjek murni bagian CerpenSingkat Tentang Keluarga | Nenekku Pahlawanku Ada seorang remaja putri, namanya Lutfia. Dia masih duduk di kelas 2 SMA. Setiap hari dia ditugaskan oleh ibunya untuk merawat nenek yang sudah lumpuh sejak beberapa tahun lalu. Nenek hanya bisa menghabiskan waktu berada di atas kasur. ContohCeramah Singkat tentang Ibu yang Bikin Nangis, Menyentuh … 9 Contoh Cerpen tentang Persahabatan, Pendidikan, dan Kehidupan Cerpen Anak: Aku Rindu Ayah - Semua Halaman - Bobo 19 Cerita Dongeng Anak Pendek Sebelum Tidur Terbaik - Cerpen Persahabatan [x4e6zx0mryn3] Birrul Walidain: Bentuk Cinta Ananda untuk Bapakibu guru kita mengajari kita membaca, menulis, dan juga berhitung. Mereka juga memberikan semua ilmu yang mereka miliki agar kita bisa menjadi orang-orang hebat nantinya. Dengan bimbingan dari bapak dan Ibu guru, kami merasa seperti memiliki orang tua lagi. Hal ini tidak lain karena kami telah menjadli ikatan erat dengan Bapak dan Ibu guru. mình đã không yêu xin đừng tìm nhau. Catatan 5 paragraf ibuku pahlawanku ibuku, pahlawanku …Sejauh perjalanan hidup kita, adakah yang lebih berjasa kepada kita selain ibu? Saya tahu, jawaban atas soal ini pasti akan bermacam ragam. Namun saya punya keyakinan bahwa sebagian samudra jawaban atas pertanyaan ini adalah Enggak ADA! Siapapun anda, entah seorang direktur maupun pandai cukur, insinyur maupun tukang sayur, jenderal alias kopral, pengamen atau anggota dewan, guru, dosen, nayaka, kepala negara, apalagi emir atau seorang bandit sekalipun… karuan kamu terlahir berpunca seorang ibu. Karenanya, enggak dapat dipungkiri bahwa ibu yaitu bani adam paling sentral dan monumental privat jiwa dan semangat kita. Rasanya, tidaklah berlebihan seandainya aku sendiri menyebut ibuku sebagai pahlawanku, sampai-sampai tentu melebihi predikat itu. Ibuku yakni pahlawanku, bukan saja karena ia telah melahirkan dan membesarkanku. Lebih dari itu, dia yakni manusia mula-mula yang memberi segala inspirasi. Suka-gundah, terharu-gembira, tangis dan tawa, segala senang dan derita. Bakat, gairah,keringat, usia, cintadan air mata –adalah sebongkah mutiara hidup dengan segala pemaknaan, kepanikan danpengharapan– ditumpahkannya dengan mumbung kerelaan dan kasih perjalanan hidupku, karuan begitu banyak atau bahkan terlalu banyak pengorbanan dan pemberian yang telah dicurahkan ibuku untukku hingga aku tidak akan sanggup menghitungnya. Kalau pun aku harus mengingat dan menamai pengorbanan dan pemberian itu satu per satu, aku berpengharapan, apa yang kuingat dan barang apa yang kusebut karuan jauh kian adv minim mulai sejak daftar pengorbanan dan belas kasih ibuku yang tidak dapat kuingat dan tidak dapat kusebutkan. Hai, Sobat Guru Penyemangat, bagaimana kabar Ibumu hari ini?Mudah-mudahan beliau selalu sehat dan berada dalam lindungan Allah SWT, tentang Ibu, sudah pasti banyak untaian cerita singkat baik dari segi perlakuan, sikap, perjuangan, hinggalah semua itu, kita sebagai anak pun sering kali tersentuh. Terlebih ketika Ibu biasanya berjuang dalam diam, alias berusaha mempersembahkan yang terbaik untuk kita walaupun kitanya sendiri terkadang tidak beda Ibu, beda pula perlakuan dan sikap yang mereka ajarkan kepada kesempatan kali ini, bakal menyajikan cerpen tentang Ibu yang ditulis singkat dengan judul "Perbedaan Perlakuan Ibu".Okeh, langsung disimak saja yaCerpen Perbedaan Perlakuan IbuOleh Fahmi Nurdian SyahReno merupakan siswa kelas delapan. Ia sering terlihat murung ketika berada di sekolah. Kadang ketika guru sedang menjelaskan pelajaran, Reno tak sedikit pun untuk memperhatikan. Ia seperti memendam sesuatu yang sedang ia yang merupakan teman duduk satu bangkunya hanya berani sekali-kali melirik ke arah Reno yang murung, ia tak pernah punya nyali untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada hari, Reno begitu kelihatan ceria. Tono mencoba untuk memberanikan diri bertanya kepada Reno, mengapa ia sering kelihatan sedih ketimbang ceria."Ren, kenapa kamu sering kelihatan murung ketika guru menjelaskan butir-butir materi pelajaran, apakah kamu tidak suka dengan mata pelajarannya?" Tanya Tono Penasaran."Gapapa, suka mata pelajarannya kok" jawab Reno yang seperti menutupi ucapan Reno, Tono hanya mengangguk seakan percaya apa yang diucapkan oleh teman sebangkunya Baca Cerpen Tentang Ibuku Pahlawanku"Oiya, nanti sepulang sekolah, boleh gak aku main ke rumahmu?" Sambung Tono sambil menatap Reno."Main ke rumahku?" Jawab Reno yang sedikit tercengang terhadap keinginan Tono."Iya, main ke rumahmu, gak boleh ya?" Tanya Tono yang sedikit curiga terhadap reaksi Reno."Emm, bo-boleh kok" ujar Reno yang sedikit pulang sekolah telah berbunyi. Para siswa kini telah berhamburan keluar dari kelas, tak terkecuali Reno dan berjalan menuju ke rumah Reno yang letaknya tak jauh dari sekolah. Sesampainya di rumahnya Reno, Tono mengucapkan salam. Akan tetapi Reno langsung mempersilakan untuk langsung masuk ke dalam memang dididik oleh ibunya untuk selalu mengucapkan salam sebelum masuk ke rumah. Namun berbeda halnya dengan Reno, yang tak pernah diajarkan oleh ibunya untuk mengucapkan salam."Kamu duduk di sini dulu ya, bentar aku buatin minum" ucap Reno sambil melangkahkan kakinya menjauh dari menunggu temannya keluar, Tono hanya menatap dinding di sekitarnya. Dan sesekali ia melihat beberapa foto yang terpajang rapi. Ketika masih fokus melihat foto. Tiba-tiba...PRAAAKKKK...Terdengar suara gelas jatuh dari arah dalam. "Renooo! Kamu ini ya bisanya ngerusak perabotan rumah, kemarin piring sekarang gelas." Teriak seorang suara seorang wanita yang sedang marah, Tono duduk di sofa dengan kaki gemetar. Ia juga mendengar seduan orang nangis. Iya yang tak lain adalah Reno yang masih dalam keadaan marah, keluar dan mendekat ke arah Tono, melihat Ibu Reno yang mendekatinya jantung Tono semakin berdebar, ia tak tahu harus berbuat apa. Seketika Ibu Reno menyuruhnya untuk pulang, Tono hanya mengangguk pasrah dan berpamitan untuk perjalanan pulang, tersebesit di dalam pikiran Tono membayangkan betapa beratnya menjadi seorang Reno. Karena beberapa hari yang lalu ia juga pernah melakukan hal yang sama, menjatuhkan gelas di rumah. Namun ia mendapatkan perilaku yang Baca Cerpen Tentang Pentingnya Perilaku Disiplin Sejak DiniIbu Tono malah menanyakan apakah dia baik-baik saja tidak terkena pecahan gelas di rumah, Tono menanyakan hal tersebut kepada ibunya."Ibu, Tono mau tanya, kenapa ibu gak marah ketika Tono memecahkan gelas beberapa hari yang lalu?" Tanya Tono dengan lirih."Kenapa Tono menanyakan hal itu?" Ucap Ibu Tono."Karena Tono habis main ke rumah temen, dan ia memecahkan gelas di rumahnya, seketika ibunya langsung marahin.""Gini nak, ibu tidak marah ketika kamu mecahin gelas karena ketika ibu marah, maka itu akan membuatmu semakin tertekan, dan tidak bagus untuk mentalmu. Gelas yang pecah dapat dibersihkan dengan waktu yang singkat, namun mengembalikan mental anak tidak dapat dilakukan sekejap, oleh karena itu ibu gak mau marah" ujar Ibu sembari memeluk penjelasan ibunya, Tono paham bahwa Reno sering terlihat murung ketika di sekolah bukanlah karena tak suka mata pelajarannya melainkan karena sering terkena marah oleh juga bersyukur karena memiliki ibu yang baik dan benar-benar tulus dalam menyayanginya.***Nah, demikianlah tadi sajian cerpen tentang Ibu singkat yang berkisah tentang perbedaan perlakuan seorang menginspirasi, Hai Sobat Guru Penyemangat, Setujukah Kamu Jikalau Kukatakan Bahwa Salah Satu Pahlawan Terbaik yang Ada di Dekat Kita Saat Ini Adalah Ayah?Aku rasa kita semua pasti setuju, ya. Ayah, Papa, hingga Abah mungkin tidak ikut berperang melawan penjajah, tapi nyatanya beliau adalah pahlawan pejuang masa depan tidak seperti pemimpin yang banyak bicara daripada kerja, dan Ayah pula tidak seperti orang lain yang enggan menghargai perjuangan Ayah, di sini ingin menyajikan cerpen tentang Ayahku langsung disimak yaCerpen Ayahku Pahlawanku“Nak, kita makan nasi sayur sebentar yuk, di warung makan yang di sebelah sana tuh.”“Ah, enggak mau aku, Yah. Aku enggak lapar, kok. Ayah saja yang ke sana.”“Enggak lapar bagaimana. Hari ini sudah sore, sedangkan sejak pagi tadi kamu belum makan.”Dari sudut pintu warung makan, terlihat seorang saptam dan anak gadis sedang berjalan seraya menatap hidangan. Keduanya mungkin sudah sangat lapar, namun sang anak sedang belajar berasa gadis itu adalah aku. Sedangkan satpam itu adalah Ayahku. Tepatnya satpam honorer yang bekerja mengawasi keamanan minimarket yang tidak jauh dari warung makan.“Mas, berapa harga nasi sayur di sini?”“Enam ribu, Pak.”“Oke, tolong buatkan satu porsi, ya.”“Satu saja, Pak?”“Iya.”Benar. Aku sudah tahu, kok. Ayah pasti memesankan nasi sayur untukku. Padahal aku tahu beliau sejak pagi tadi belum dari dulu memang begitu. Mentang-mentang sudah lama ditinggalkan oleh Ibu ke negeri barzah, beliau begitu pontang-pantingnya menyekolahkanku. Padahal aku bisa minimal aku bisa jadi kurir, atau pelayan di rumah makan. Untuk seorang gadis sepertiku, rasanya tidak terlalu penting harus sekolah tinggi-tinggi. Untuk apa juga coba. Palingan nanti pas udah nikah, kerjaanku cuma di dapur, kasur, dan sumur. Eh, kamar mandi ya kalo sekarang.“Nakdis Ayah, ini nasinya sudah datang. Makan gih!”“Ah, enggak mau, Yah. Masa cuma nasi sayur doang. Minimal nasi telur kek, atau nasi lauk ayam gitu.”“Hemm. Kamu kan tahu sendiri, Nak. Uang Ayah cuma segini. Syukuri saja dulu, mudah-mudahan kedepannya gaji Ayah naik.”Aku sejatinya tidak pilih-pilih soal makan. Sengaja aku menolak, karena jika tidak begitu, Ayahku tidak akan pernah mau makan.“Nak, ayolah, makan. Nanti kamu sakit lho, Ayah yang repot.”“Iya, deh.”Hemm. Ayah sudah memaksaku. Mau apa lagi. Aku makan dua suapan saja rasanya sudah cukup.“Sudah ah. Bumbunya terlalu asin, Yah. Jadi enggak selera makan akunya.”“Masa sih. Coba Ayah makan. Perasaan ini warung nasi padang lho.”Aku sengaja berdusta, karena jika tidak begitu Ayahku tiada bakal mau makan.“Nasinya enak kok, Nak. Sayurnya juga. Mana ada yang keasinan.”“O iya, Yah. Aku mau langsung cari kerja saja ya, Yah. Tadi aku sempat bertanya kepada teman dan melihat brosur. Ternyata uang kuliah sangat mahal. Nilai SMA-ku juga tidak bagus-bagus amat. Jadi tidak ada jalur beasiswa untukku.”“Besar, ya. Memangnya berapa, Nak?”“Biaya semesternya 3 juta/semester, Yah.”Nah, kan. Apa aku bilang! Sontak saja Ayahku tertengun. Beliau bahkan tak sempat mengernyitkan kening tanda berpikir.“Tidak apa-apa, Nak. Ayah sanggup kok! Mulai besok Ayah bakal cari lembur dua kali dalam seminggu. Atasan Ayah baik, kok. Mudah-mudahan dia mau ngasih Ayah kesempatan pekerjaan tambahan.”“Tidak perlu, Ayah. Aku mau cari kerja saja. Minimal aku bisa membantu Ayah dan meringankan beban keluarga.”“Beban keluarga apanya, Nak? Keluarga Ayah saat ini hanya kamu seorang. Tidak ada yang lain lagi, Nak. Ibu sudah lama meninggalkan kita. Biarkan dia bahagia di alam sana. Kita yang harus berjuang.”“Pokoknya aku tidak mau kuliah, Yah. Aku takut berhenti di tengah jalan.”“Ayah yakin, Nak. Kamu pasti bisa menjalani rintangan ini. Ayah mau melihatmu mengenakan topi wisuda, Nak. Jangan hancurkan cita-citamu. Dulu kamu bilang sama Ayah bahwa kamu ingin jadi Dosen, kan? Bagaimana bisa kamu melupakan inginmu yang Ayah dengar nyaris setiap malam.”Benar, Ayah. Aku ingin sekali jadi dosen. Tapi keadaannya sekarang seperti memaksaku untuk membuang cita-cita besar ini takut Ayah kerja terlalu keras lalu sakit. Sudah sejauh ini, dan nyatanya Ayah adalah pahlawanku. Sosok yang menemani sepi, sedih, dan ramaiku. Ayah sudah cukup menderita.“Pokoknya kamu harus kuliah, Nak. Ayah akan langsung lanjut kerja, nih. Kalau perlu, Ayah akan berpuasa setiap dua hari demi membayar uang kuliahmu. Berapa pun harga masa depan, Ayah akan bayar!”Aku sedih. Rasanya hati ini begitu tergores bahkan tercabik-cabik saat aku meratapi keadaan. Entah mengapa dunia ini serasa begitu kejam. Tapi biar sekejam apa pun, aku tetap mencintai Ayahku.“Baik, Yah. Sudah, Ayah makan dulu sampai selesai. Hari ini Ayah tidak perlu lembur. Kita pulang dan istirahat, ya Yah. Aku bakal kuliah kok. Aku bakal menggapai cita-citaku, dan aku bakal membuat Ayah bangga.”Aku tidak lagi bisa menolak. Padahal hati ini begitu ingin untuk menyerah, tapi Ayah selalu saja menguatkanku. Ayah benar-benar berjanji sejak hari ini dan seterusnya bakal melakukan yang terbaik. Aku tidak mau lagi bersemayam di dalam lubung keputusasaan. Aku pasti bisa membuat Ayah bangga.*TAMAT***Nah. Demikianlah sajian Guru Penyemangat tentang cerpen Ayahku Pahlawanku. Mudah-mudahan cerita singkat di atas mampu menginspirasi kita semua, Baca Cerpen Guruku Pahlawanku Hai Sahabat Guru Penyemangat, Bisakah Kamu Menyebutkan Minimal 5 Orang Nama Pahlawan?Tentu saja bisa, ya. Banyak dari kita yang hapal nama-nama pahlawan proklamasi, pahlawan revolusi, serta pahlawan di era dari mereka namanya terkenang abadi di sanubari serta bisa kita jadikan nilai-nilai perjuangannya sebagai ladang tentang inspirasi, di sini Guru Penyemangat ingin menghadirkan cerpen singkat tentang pahlawanku langsung disimak saja yaCerpen Singkat Pahlawanku InspirasikuHari itu hari Senin dan di dekat awan tampaklah seorang pria berumur senja yang sudah giat Budi. Tinggi badannya 176 cm, berat badannya 78 kg, dan saat ini umurnya sudah memasuki 54 tahun. Untuk pekerja seperti kontraktor, usia tersebut adalah tanda-tanda pensiun mau Budi adalah seorang kontraktor yang kerjanya di ketinggian. Ya, beliau biasanya mengurusi sinyal dan tower di ketinggian. Maka dari itulah hidupnya saban hari sangat dekat dengan di rumah, Pak Budi adalah seorang duda yang memiliki seorang anak laki-laki kelas 5 SD. Beliau sudah ditinggal mati oleh istrinya sejak 8 tahun sebagai pemanjat menara listrik dan sinyal sudah ia lakukan sejak puluhan tahun lalu. Kini, mungkin sudah ada lebih dari dua ratus tower yang ia duduk dan sambung-menyambung kabel, Pak Budi sering melihat kisah kehidupan dan pernak-pernik emosi yang ada di bawah awan. Adapun pelajaran berharga selalu ia ceritakan kepada Adit selekas pulang ke rumah.*“Ayah, bagaimana dengan hari ini? Apakah ada kisah menarik yang Ayah temui di bawah tower?”, sapa Adit dengan raut wajah penasaran.“Waduh, bentar ya, Nak. Ayah mandi dulu.”Adit adalah anak semata wayang. Dia adalah siswa kelas 5 SD yang sangat bersemangat dan senantiasa ceria. Dirinya bersekolah di SD Negeri terfavorit di Bengkulu. Ya, tepatnya sekolah rujukan yang dulu dikenal sebagai Sekolah Bertaraf dengan namanya, sekolah tersebut dipenuhi oleh anak-anak kaya. Sehari-hari, uang jajan mereka bisa lebih dari Sedangkan Adit? Uang kertas dengan gambar Tuanku Imam Bonjol saja sudah membuatnya semringah.“Adit, tadi Ayah lihat ada nenek-nenek tukang jamu. Nenek itu meski sudah renta namun dirinya begitu semangat berjualan. Jamu yang Ayah kira berat, tapi serasa begitu enteng dipundaknya. Nenek itu mulai berjualan sejak pagi, dan sore hari menjelang Ayah turun dari tower, dagangannya ternyata lekas habis,” cerita Pak Budi dengan semangat“Wah, keren sekali ya, Yah. Adit saja tidak sanggup rasanya bila harus menggendong jamu keliling dari pagi hinggalah sore. Contohnya seperti hari ini saja. Di tas Adit ada 3 buku cetak tematik ditambah beberapa buku catatan dan kotak pensil. Padahal masih sedikit, cuman sudah terasa berat.”*Dua hari pun berlalu sejak kisah itu. Sekarang Adit sedang bersekolah dan kebetulan ada materi pelajaran dengan tema “Mengarang”.Pada waktu itu pula, Adit dan teman-teman sekelas diminta Guru untuk menulis karangan dengan tema “Pahlawanku Inspirasiku” dan wajib diselesaikan dalam waktu 20 hal tersebut, Adit pun bingung. Namun sesaat sejak menatap awan, dirinya langsung ingat bahwa judul yang cocok untuknya ialah “Ayahku Pahlawanku”.Anak laki-laki yang masih imut ini begitu semangat dan jarinya seakan takbisa terlepas dari buku. Bagi Adit, dirinya tak perlu susah-susah berpikir karena ia cukup menulis apa yang diceritakan mulai Ayah melihat tukang jamu, tukang becak, tukang parkir, dan lain sebagainya semua Adit rangkum menjadi karangan yang indah.*Dua puluh menit sudah berlalu, dan sekaranglah saatnya Guru meminta siswa untuk mengumpulkan karangan memberi nilai, Guru pun meminta satu demi satu siswa untuk maju dan menceritakan kembali kisah apa yang mereka sana, didapatlah beragam sosok inspiratif yang diangkat oleh para siswa sebagai pahlawan. Ada yang menceritakan tentang Presiden Soekarno, BJ. Habibie, Bung Tomo, hingga tiba di buku karangan Adit, Guru yang memberi nilai pun terdiam sesaat seraya mengamati teks karangan anak Pak Budi itu hingga berkali-kali. Sesaat setelahnya, Guru itu pun tersenyum.“Adit, sekarang giliranmu. Coba ceritakan kepada teman-teman tentang hasil dari karanganmu,” panggilan Guru kepada semangat, Adit mulai berdiri dari bangkunya. Ia pun segera maju ke depan dan menceritakan kisah Ayahnya dengan penuh kelas pun menjadi hening. Semua siswa tidak ada yang ribut melainkan fokus menyimak kata demi kata yang Adit akhirnya tiba di paragraf terakhir, seisi kelas pun memberikan tepuk tangan yang meriah. Bahkan beberapa dari siswa pun begitu tersentuh sampai-sampai tak sengaja meneteskan air semua siswa sudah menyelesaikan tugas bercerita, maka di akhir kelas, Guru pun sedikit memberi kesimpulan sebelum bel istirahat berbunyi.“Anak-anak sekalian. Dari cerita kalian tadi, bisa kita simpulkan bahwa pahlawan adalah orang hebat yang rela mengorbankan dirinya demi menyenangkan orang lain. Tapi, dari kisah Adit barusan, kita semestinya bisa menyadari bahwa sesungguhnya pahlawan itu ada di dekat kita. Pahlawan yang menjadi inspirasi itu bisa Ayah kita, Ibu kita, tetangga kita, atau bahkan orang-orang yang giat berjuang di sekitar kita. Maka dari itu, pelajaran berharga di sini adalah; sangat penting bagi kita untuk meneladan nilai-nilai kepahlawanan sejak dini.”*Bel pun berbunyi menandakan waktu istirahat telah tiba. Adit pun masih sama seperti hari kemarin. Dia masih bahagia, ceria, dan bangga memiliki Ayah seorang kontraktor. Karena baginya, “Ayahku adalah Inspirasiku”. TAMAT***Nah, demikianlah tadi kisah cerita pendek tentang pahlawanku inspirasiku yang bisa Guru Penyemangat bermanfaat, Baca Cerpen Hari Pahlawan Pahlawan, Bukan Mengaku Pahlawan Ilustrasi Puisi tentang Ibu Singkat, sumber foto Christian Bowen by tentang ibu singkat adalah puisi yang mengungkapkan tentang betapa besarnya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Puisi ini juga menggambarkan begitu banyak pengorbanan yang dilakukan oleh ibu dalam membesarkan dan merawat anak-anaknya hingga tumbuh tentang ibu juga bisa digunakan sebagai caption di media sosial agar lebih banyak orang yang menyadari betapa berharganya seorang tentang Ibu SingkatIlustrasi Puisi tentang Ibu Singkat, sumber foto Gaby Orcut by buku Kata-kata Menjumpa Raga oleh Sony Sukmawan 2022, puisi adalah jenis karya sastra yang digunakan sebagai bentuk ungkapan ekspresi atau perasaan tertentu. Adapun inspirasi puisi tentang ibu singkat yaitu sebagai berikut1. Bundaku SayangEngkau selalu ada untukkuMenemaniku dalam suka dan dukaMenemani hari-hari ceriaku,Engkau selalu membimbingkuMengajariku untuk berakhlak muliaEngkau bagai malaikat bagikuEngkau juga sahabat bagikuKetulusan yang ada dalam dirimuMembuat aku bangga pada dirimuJasamu tak akan pernah bisa terbalas olehkuNamun aku akan berusaha menjadi anak kebanggaanmu2. Saat Aku Menutup MataSaat ku menutup mata bundaAku tak ingin mata itu melihat ku dengan penuh airSaat ku menutup mata bundaAku tak ingin hati itu seakan tergoresSaat ku menutup mata bundaAku ingin bibir itu tersenyumAku tidak ingin engkau terlukaMungkin ini adalah lihatan yang sangat bagimuTapi aku tak ingin melihat dengan seakan tak sanggup melepaskankuAku hanya ingin engkau merelakankuDan mengantarkan aku pulang ke rumahku dengan senyumSaat ku menutup mata bundaAku bahagia bisa jadi anakmu3. Kesunyian IbuDahinya adalah jejak sujud yang panjangPerjalanan waktu membekas di pelupuk matanyaDerai air mata di pipinya telah mengeringTanpa sisa, tanpa ada yang mendugaIa memilih jalan sunyi untuk bertanyaHiruk pikuk untuk tersenyum di beranda deritaMenjerit saat lelap berkuasaBerdoa bukan untuk dirinya4. Ibuku PahlawankuKau selalu ada disampingkuKau berjanji akan menemanikuKau telah melahirkanku dengan taruh nyawaPuisi tentang ibu singkat yang disebutkan di atas sangat penuh makna dan bisa digunakan sebagai ungkapan cinta dan kasih sayang yang mendalam untuknya. DLA

cerpen singkat tentang ibuku pahlawanku